Rumah baru

Rumah baru di dusun Ngrowo besar dan tinggi sekali (untuk ukuran anak kelas 4 SD), tapi saat baru pindah, rumahnya belum jadi. Jendela sebagian masih ditutup oleh gedeg (anyaman bambu). Dari rumah kecil berdebu di desa Boboran, maka di Ngrowo terasa nyaman sekali. Di kiri kanan rumah masih berupa tegalan, tegalan dikanan rumah milik sahabat ayah, yang sehari2nya dikelola oleh keluargaku. Tegalan tadi ditanami kacang panjang, labu siam, bayam, kangkung, jagung dll. Saya dan adik2 punya ayam, kucing dan kelinci yang dipelihara. Setiap pagi dan sore tugasnya membersihkan kandang, memberi makan ternak, dan masing2 ayam/kelinci/kucing punya nama…anehnya kami bisa membedakan masing2, hal yang sulit diingat oleh ayah ibu.

Kalau siang hari banyak kupu2 hinggap di tanaman bunga, burung2 gereja dan burung lainpun rajin hinggap di tanaman kami. Saya senang bermain pasaran (mainan anak kecil untuk wanita) sepulang sekolah, banyak dedaunan yg bisa dimodifikasi. Kami juga punya tanaman mangga, pisang, belimbing, jeruk nipis, pepaya, kelapa hijau. Kalau ingin beli tempe atau tahu, ada tetangga yang suka bikin tempe tahu, untuk dijual di pasar. Saya pernah mencoba membuat tempe sendiri, tapi tak pernah berhasil baik. Ibu juga suka membuat tape ketan hitam, ilmu yang juga tak bisa kukuasai dengan baik, syukurlah menurun pada adikku.
Tetangga didekat rumah masih sedikit sekali, bahkan dari jarak 3 km (dari stadion Wilis, Madiun) rumahku terlihat karena tinggi sekali. Yah…ayah ibu menginginkan rumah yang segar, jendela berkaca agar terang, dan angin2 yang cukup sehingga perputaran udara di rumah bagus.

Kira2 satu blog (atau 0,5 km) dari rumahku ada tegal semangka…harga semangka hanya 50 sen saat itu…panas2 makan semangka…hmm….sedaap.Juga tegal krai (buah sejenis semangka, bentuk seperti mentimun), enak dimakan langsung atau direbus, kadang2 dimasak sebagai campuran untuk sayur bening.

Walaupun masih dusun, karena terletak dipinggir timur kota Madiun, Ngrowo udah dialiri listrik. Jalan tidak berdebu karena jalan berupa tanah berbatu-batu (becak sulit lewat karena batunya besar-besar), tapi kalau musim hujan becek. Saat itu rumah tangga yang punya radio masih sedikit sekali, jadi saat itu pengetahuan didapat dari sekolah dan hasil bersosialisasi teman. Apalagi langganan koran, wahh bener2 langka. Ayah ibuku seorang guru, jadi kehidupan kami sederhana, tapi ayah ibu selalu memperhatikan untuk peningkatan gizi maupun pelajaran bagi anak2nya. Setiap pagi kami berjejer diberi sesendok livertran (benerkah menulisnya), vitamin dari minyak ikan. Juga kami dibiasakan minum susu kambing segar minimal sehari sekali. Buah2an cukup banyak, yang diambil dari kebun. Betapa rindunya kan kehidupan tenang seperti masa saya SD dulu, waktu lama berputar, dan sebagian besar waktu untuk bermain.

Karena ibu seorang guru, setiap malam beliau selalu menulis dibuku pedoman apa-apa yang akan diajarkan besok pagi. Kami punya meja besar, meja yang satu dipakai untuk makan, tapi meja yang satunya untuk bekerja. Setiap malam ibu menulis, selain rencana pengajaran besok paginya, juga mencatat pengeluaran hari ini (satu2nya kebiasaan ibu yang menurun ke saya sampai sekarang). Anak2 belajar, dan karena adikku masih TK mereka belajar menggambar dan coret mencoret yang lain. Jika anak2 udah selesai belajar, maka kami mulai bersiap tidur, sebelumnya ibu mendongeng dulu, dari mulai: timun emas, kedono kedini, cinderella dan ada beberapa karangan ibu sendiri. Dongeng yang tak pernah selesai, karena sebelum ibu menyelesaikan dongengnya, anak2 udah mulai tidur.

Saat itu model tempat tidur berkelambu, jadi tak pakai disemprot nyamuk. Kadang2 ada masa anak2 sulit tidur, tapi ibu dengan tegas menyuruh kami udah ditempat tidur jam 9 malam. Alhasil kami bertiga bermain ditempat tidur, saling cerita disekolah dan apa kenakalan kami hari itu. Orang tua kami sangat terbuka, kenakalan yang terjadi hari itu selalu kami ceritakan secara terbuka, dan herannya ayah ibu tak marah, tapi menasehati agar kami tak melakukan langkah2 yang berbahaya, disertai alasannya.

6 pemikiran pada “Rumah baru

  1. poppy

    first of all, pd kalimat ini:
    “Kira2 satu blog (atau 0,5 km) dari rumahku ada tegal semangka…”
    mungkin harusnya blok y? :p
    tapi mungkin dgn pake “g” bs lebih medok 😀
    jadi inget ejekan temen2 kuliahku…yg suka rese ngata2in -saat aku berucap anak-anak ato apaun yg belakangnya berakhiran dg huruf K- “pake K, pop! bukan pake G!”
    sial…padahal menurutku biasa aja..tp knapa kok menurut mereka janggal 😦
    -dalam kamus mereka itu medok istilahnya-
    huh…I love my pronunciation, you know! :p
    lho2…maap2 kok jd curhat ya…hehehe.
    the last but not least….its Interesting story!! jd inget masa kecilku dulu yg suka maen “pasaran” hihihi
    lho kok curhat lagi :p

  2. edratna

    Ehh….betul…seharusnya blok…..tapi gak apa2 deh, sekaligus untuk ngecek yang baca teliti apa nggak.
    Ntar cerita tentang “my life” agak banyak, kayaknya kita punya pengalaman serupa….sayangnya anakku pengalaman hidupnya di Jakarta…dari toko buku satu ke toko buku lainnya.

    Kemarin jalan2 ke Solo-Yogya melalui Semarang, lewat jalan2 alternatif…ternyata pulau Jawa tak kalah indahnya dengan Minang. Masih banyak pohon2an, jalannya sepi dan lancar. Benar-benar menikmati perjalanan….ongkosnya…tiduuuur….sehari semalam….

  3. Adi,

    Kenapa kaget? Bukankah 1 km=1000m…jadi 0,5 km=500 meter…yahh namanya dikampung satu blok kan kecil, antara jalan satu dan lainnya, hanya 3-4 rumah…wajar kan? Karena walaupun di kampung, tepatnya dipinggiran kota (karena sekarang udah termasuk kota), tanahnya sudah dikavling, jadi kecil-kecil, nggak seperti dikampung beneran yang tanahnya luaaaas.

  4. simbah

    Bu Edratna, waktu saya masih kelas 3 SD, sekolah SD Modjoredjo-I masih kelihatan dari tempat tinggal saya. Kelihatah tembok putihnya dan cat berwarna Hijau pada kayu2 nya. Tahu tempat tinggal saya? itu sebelah selatan asrama tentara Jl. Kasatrian, waktu itu. Sekarang namanya Jl. Pringgondani, kalau diukur langsung ya kurang lebih satu kilometer. Jadi kalau memandang ke arah Timur pada waktu sore, sangat jelas.

    Simbah,
    Iya saat itu SD Mojorejo masih dikelilingi oleh ladang, dan belum banyak perumahan. Sepulang sekolah masih bermain di kebun…..sekarang udah padat banget ya…

  5. Membayangkan…
    Menyenangkan Bu. Rumah orang tua Ibu rasanya menyenangkan.

    Dulu waktu kecil, almarhumah nenek buyut sering mendongeng, tapi belum pernah dengar dongeng kedono kedini…

    Hmmm…;))

    Yoga,
    Mungkin keturunan, ibu suka mendongeng…sayapun suka mendongeng…demikian juga anak-anak….
    Rumahku dulunya di kampung, sekarang udah jadi kota dan rame…dulu bisa berlarian bebas, pagarnya pagar tanaman…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s