Oleh: edratna | November 22, 2006

Monitoring, selalu diperlukan

Monitoring

Istilah ini selalu ada dalam setiap kegiatan, terutama kegiatan yang terkait dengan perbankan, dalam hubungannya dengan kegiatan usaha debiturnya. Sebagaimana dimaklumi, usaha Bank mengandung risiko, dan tidak ada kemungkinan menghilangkan risiko ini, tetapi yang bisa dilakukan adalah meminimalkan risiko. Apabila suatu debitur mendapat pinjaman dari Bank untuk kegiatan usahanya, maka dalam loan agreement selalu dipersyaratkan adanya monitoring. Monitoring diperlukan untuk bisa memantau kinerja usaha debitur, karena hal ini dipersyaratkan dalam aturan Bank Indonesia (PBI 7 tahun 2005). Dengan melakukan monitoring, maka Bank dapat segera melakukan langkah-langkah penyelamatan apabila kinerja usaha debitur menunjukkan penurunan. Apabila debitur mengalami penurunan usaha, maka Bank dan debitur wajib berusaha memperbaiki kondisi tersebut, agar debitur tetap dapat menjalankan usahanya dan Bank dapat meminimalkan risikonya. Perbaikan kondisi ini lazim disebut dengan restrukturisasi.

Restrukturisasi atau reengineering, merupakan hal yang umum terjadi pada perusahaan-perusahaan di Amerika dan Eropa. Restrukturisasi, sering juga disebut sebagai downsizing atau delayering, melibatkan pengurangan perusahaan di bidang tenaga kerja, pengurangan unit kerja atau divisi, ataupun pengurangan tingkat jabatan dalam struktur organisasi perusahaan. Pengurangan skala perusahaan ini diperlukan untuk memperbaiki efisiensi dan efektifitas (David, F. 1997;226).

Strategi restrukturisasi digunakan untuk mencari jalan keluar bagi perusahaan yang tidak berkembang, sakit, atau adanya ancaman bagi organisasi, atau industri berada diambang pintu perubahan yang signifikan. Pemilik umumnya melakukan perubahan dalam tim unit manajemen, perubahan strategi, atau masuknya teknologi baru dalam perusahaan. Selanjutnya sering diikuti dengan akuisisi untuk membangun bagian yang kritis, menjual bagian yang tidak perlu, guna mengurangi biaya akuisisi ecara efektif. Hasilnya adalah perusahaan yang kuat, atau merupakan transformasi industri. Strategi restrukturisasi memerlukan tim manajemen yang mempunyai wawasan kuat untuk melihat kedepan, kapan perusahaan berada pada titik under valued atau industri pada posisi yang matang untuk melakukan transformasi. Wawasan yang sama diperlukan untuk melakukan turn around pada unit usaha, bahkan pada bisnis yang tidak familiar (Mintzberg & Quinn, 1966:732).

Untuk memudahkan monitoring, perlu dibuat aturan secara tertulis, serta dipahami oleh pihak-pihak yang membuat kesepakatan. Dalam kegiatan restrukturisasi pinjaman, apabila telah tercapai kesepakatan antara Bank dan debitur, agar restrukturisasi berjalan lancar, perlu dipahami oleh kedua belah pihak pentingnya unsur monitoring.
Mengapa hal ini diperlukan? Restrukturisasi akan dapat berjalan lancar jika dilakukan monitoring cash flow, yang merupakan gambaran dari kemampuan membayar debitur. Cash flow dibuat berdasarkan asumsi, sehingga pada implementasi dilapangan, ada kemungkinan pelaksanaannya berbeda dengan asumsi yang dibuat, atau ada hal-hal yang tak dapat dihindari dilapangan yang menyebabkan target sesuai cash flow tidak tercapai. Oleh karena itu Bank perlu melakukan pemantauan kinerja usaha debitur dari waktu ke waktu berdasarkan laporan keuangan dan kunjungan on the spot. Apabila monitoring cash flow dapat berjalan baik, selain adanya kepastian pembayaran kewajiban, juga akan memudahkan debitur dalam menyusun laporan keuangan setiap bulan.

Beberapa persyaratan dan langkah yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan monitoring cash flow, antara lain sebagai berikut;

a. Seluruh penerimaan, baik dari kegiatan operasional maupun non operasional harus ditampung dalam escrow account (pengeluarannya atas persetujuan bank).

b. Untuk memastikan tersedianya dana guna membayar kewajiban Bank yang akan jatuh tempo pada akhir bulan (bunga, angsuran pokok dsb nya) maka Bank dapat menetapkan sweeping date (beberapa hari kerja sebelum akhir bulan) untuk memindah bukukan sejumlah dana ke rekening Cadangan Pembayaran Kewajiban.

c. Debitur menyiapkan budget bulanan atau tiga bulanan yang mengacu pada proyeksi cash flow, yang telah disampaikan kepada Bank.

d. Bank mengevaluasi setiap usulan budget yang disampaikan kepada debitur. Hal yang perlu dievaluasi adalah apakah asumsi yang dipakai itu logis, dan rencana pengeluaran telah menggunakan prinsip efisiensi. Budget yang telah disetujui Bank menjadi dasar bagi debitur untuk mengeluarkan dana dari escrow account tersebut.

e. Membandingkan realisasi penerimaan dan pengeluaran dengan budget yang telah disetujui. Hasil analisis ini dapat dipergunakan untuk mengkaji usulan budget periode berikutnya.

f. Apabila debitur akan mengajukan rencana pengeluaran diluar budget, maka debitur dapat mengajukan revisi budget.

Dari hasil diskusi dengan teman-teman Bank-bank (BUMN dan BUSN) , maka disusun mekanisme monitoring cash flow,sebagai berikut:

1. Waterfall System

Mekanisme ini pada dasarnya merupakan suatu struktur rekening berjenjang, seluruh penerimaan (baik operasional maupun non operasional) terlebih dahulu masuk kedalam suatu rekening penampungan. Dana yang telah tertampung pada escrow account ini kemudian akan mengalir secara berjenjang mengisi berbagai rekening yang telah disepakati untuk dibentuk, misalnya secara berurutan masuk rekening operasional, kemudian rekening pembayaran kewajiban, pembelian capex dll.

Sebagai contoh, penerapan sistem ini pada PT “A”. Dana yang diperlukan untuk membayar kewajiban Bank yang jatuh tempo pada akhir bulan dipindahbukukan dari rekening penerimaan beberapa hari kerja sebelum akhir bulan. Jika saldo yang tersedia tidak mencukupi, maka Bank mendesak pemegang saham untuk segera menyetorkan kekurangannya.

2. Modified Waterfall System

Sistem ini pada dasarnya sama dengan Waterfall System, hanya dengan modifikasi pada letak rekening penampungan pembayaran kewajiban, yang langsung berada di bawah rekening Penampungan Penerimaan. Dengan demikian, sebelum “dialirkan” ke rekening operasional, Bank terlebih dahulu “membelokkan” aliran dana ke rekening Cadangan Pembayaran Kewajiban, sehingga ada kepastian di depan bahwa kewajiban Bank yang jatuh waktu pada akhir bulan yang akan datang telah tersedia pada awal bulan atau awal periode budget.

Sebagai ilustrasi, seluruh penerimaan PT “X” disetorkan ke satu rekening khusus (escrow account). Penggunaan dana tersebut terlebih dahulu diprioritaskan untuk pembayaran kewajiban bunga berjalan. Jika saldo yang ada tidak mencukupi, maka penarikan-penarikan untuk operasional lain tidak dapat dilaksanakan sebelum pemegang saham menyetorkan kekurangannya. Apabila ada kelebihan dana pada rekening escrow, dana dapat digunakan dengan urutan prioritas sebagai berikut;

  • Rekening Escrow Operasinal Perusahaan: untuk keperluan operasional sehari-hari dan penarikan dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Bank berdasarkan budget operasional 6 bulanan.
  • Rekening EscrowPembayaran Angsuran Pokok: dalam rekening ini dana disiapkan untuk pembayaran angsuran pokok 3 bulan yang akan datang. Pembayaran pokok sesuai perjanjian restrukturisasi dilakukan setiap 3 bulan.
  • Rekening Escrow untuk cadangan pembayaran bunga dan angsuran pokok
  • Rekening Escrow untuk cadangan operasional
  • Rekening Escrow kelebihan dana yang akan digunakan untuk pre payment

3. Full Control System

Sistem ini menggunakan satu rekening escrow account. Ada beberapa variasi dalam melakukan sistem ini. Cara pertama adalah seluruh penerimaan maupun pengeluaran biaya operasional perusahaan langsung dilakukan dari rekening escrow tersebut. Variasi lainnya adalah menggunakan rekening penampungan lain yang disebut “rekening operasional”. Dengan cara kedua ini, pada awal periode Bank akan memindahkan sejumlah dana sebesar budget yang disetujui dari rekening escrow penerimaan dan dimasukkan dalam rekening operasional. Selanjutnya, sebagaimana cara pertama, penarikan dari rekening penampungan atau rekening escrow operasional ini dilakukan atas dasar budget yang disetujui Bank.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, monitoring sangat diperlukan terutama agar perjanjian yang telah disepakati antara para pihak dapat berlangsung sesuai yang diperjanjikan. Apabila debitur mengalami permasalahan dalam usahanya, Bank wajib segera melakukan langkah-langkah perbaikan, antara lain dengan melakukan restrukturisasi. Keputusan untuk melakukan restrukturisasi perlu diambil, untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, yaitu untuk menggerakkan sektor riil maupun menyehatkan bank yang bersangkutan. Mengingat langkah ini juga masih mengandung peluang untuk membaik atau memburuk, maka prosesnya harus dilaksanakan dengan cara yang benar, tertib, dan mempergunakan pertimbangan yang bersifat win win solution. Apabila Bank memaksakan persyaratan yang hanya menguntungkan pihak bank, dan tak dapat dilaksanakan oleh debitur, maka chance untuk gagal akan semakin besar.

Catatan:

Monitoring cash flow ini tenyata dapat digunakan juga untuk manajemen keuangan rumah tangga.

Referensi:

  1. Surat Edaran Bank Indonesia No. 7/3/DPNP terbit 31 Januari 2005, bisa dibaca di http://www.bi.go.id/web/id/Peraturan/Ketentuan+Perbankan/se+7305dpnp.htm
  2. David, Fred R. Strategic Manegement. New Jersey: Prentice-Hall International, Inc, 1997
  3. Henry Mintzberg and James Brian Quinn. The Strategy Process: Concepts, Contexts, Cases (Third Edition). New Jersey: Prentice-Hall International Inc, 1996

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: