Mr dan Mrs Toilet

Dikeluarga, saya memang terkenal “ tukang beser” (istilah bhs Jawa untuk orang yang sering pergi ke toilet), ini dikarenakan saya sulit berkeringat. Di satu sisi hal ini menyenangkan, karena baju awet, namun sisi negatifnya harus bolak-balik kebelakang. Saya bisa keluar keringat apabila berolah raga dalam waktu melebihi setengah jam, misalnya aerobik, lari dan sebagainya.

Hal ini sebenarnya tak menjadi masalah, saya bisa menyiasati dengan ke toilet lebih dulu sebelum pergi naik kendaraan, atau mengurangi minum saat dalam perjalanan. Demikian juga sebelum tidur harus absen pergi ke toilet lebih dulu, walaupun malam-malam sering terpaksa bangun hanya untuk urusan yang satu ini.

Suatu ketika saya mendapat tugas seminar ke Eropa (London) bersama rombongan kecil teman (dua wanita dan dua pria). Perjalanan dari Jakarta sampai dengan negara yang dituju berlangsung mulus, maklum di pesawat terbang selalu tersedia toilet. Begitu sampai di negara tujuan, hal yang dilakukan pertama kali adalah antri di toilet, sebelum menukar mata uang dengan uang negara yang di tuju. Pada saat itu musim semi, matahari sudah memperlihatkan sinarnya yang terang, namun cuaca masih sangat dingin untuk ukuran saya. Kami berempat mencari taksi menuju ke penginapan sementara, yang jaraknya lumayan jauh dari Bandara. Setelah saling bertegur sapa dengan yang punya rumah, memperkenalkan diri masing-masing, langsung yang ditanyakan adalah lokasi toilet.

Hari pertama diisi mencari lokasi tempat seminar, dari penginapan kami berjalan kaki menuju stasiun terdekat, di luar rumah cuaca dingin, angin bertiup kencang, dari rumah tempat menginap ke stasiun bawah tanah terdekat jaraknya lumayan jauh.Tak urung perasaan ingin ke toilet muncul lagi. Dari kejauhan terlihat ada tulisan seperti toilet, minus gambar/tanda sepasang pria dan wanita. Kami berjalan tergesa-gesa untuk mendekati tempat tersebut……..namun apa yang terjadi? Rupanya bukan toilet….tetapi tulisan “to Let”. Hal ini terjadi beberapa kali, nampaknya dinegara tersebut banyak bertebaran tulisan “to Let” dimana-mana. Kami membayangkan, bahwa toilet pasti tersedia di stasiun Heddon yang cukup besar (sebesar stasiun Gambir), oleh karena itu kami segera menuju stasiun. Rupa-rupanya di stasiun tersebut nggak tersedia toilet. Apa boleh buat, terpaksa ditahan, dan kami meneruskan perjalanan. Baru pada stasiun berikutnya (Embankment Station) petugas di stasiun yang ditanya memberitahu, bahwa apabila ingin ke toilet, ada disebelah kiri stasiun kira-kira berjarak 20 meter dari stasiun. Kami beramai-ramai pergi ke toilet.

Perjalanan diteruskan mencari lokasi seminar yang akan dimulai besok pagi. Kami sempat berputar-putar karena setiap orang yang ditemui berusaha menolong, walaupun mereka sendiri tidak selalu tahu secara tepat dimana lokasi yang dimaksud. Setelah terjadi kekeliruan beberapa kali, dan kaki mulai terasa sakit karena menggunakan sepatu tertutup, hotel tempat seminar akan diadakan dapat diketemukan. Setelah mendapat penjelasan bahwa memang benar, seminar akan diadakan di hotel ini, kembali kami menanyakan dimana lokasi toilet. Pada saat seminar, permasalahan kesulitan mencari toilet untuk sementara dapat diatasi. Masalah mulai muncul lagi jika kami berjalan-jalan usai seminar. Maklum saat itu musim semi, siang lebih panjang, pergantian siang ke malam baru pada jam 10 malam, sehingga kami sempat berjalan-jalan usai seminar. Ternyata kesulitan mencari tempat toilet kami rasakan selama bertugas di London, tak semua pertokoan besar menyediakan, sehingga akhirnya kami betul-betul membuat perencanaan untuk memanage keinginan pergi kebelakang.

Perjalanan kami diteruskan mengunjungi Paris, dengan naik Eurostar (Kereta Api yang menghubungkan London–Paris). Pertama kali yang dilihat adalah ada/tidak gambar sepasang pria dan wanita, yang menunjukkan lokasi toilet. Kami merasa lega karena di kereta api disediakan toilet, tak terbayangkan jika tidak ada, karena perjalanan dengan kereta api dari London ke Paris memakan waktu 2 jam 50 menit. Namun sewaktu menggunakan toilet, kami harus mempelajari prosedurnya lebih dulu, di ketuk2 kok kran air tak mengucur. Setelah melihat seluruh dinding dan tak menemukan tanda-tanda, rupanya air kran akan mengucur jika tombol yang letaknya dilantai diinjak dengan kaki. Ada-ada saja….hampir-hampir tak jadi menggunakan toilet. Dan seperti di Indonesia…..kereta terlambat 1 jam 40 menit sampai di Paris. Setelah istirahat sejenak di hotel, kami bersama teman yang tinggal di Paris mencari makan malam di Chinese restaurant. Setalah makan, teman yang dari Paris pamit pulang, dia hanya memberi ancar-ancar cara kami kembali ke hotel. Di tengah jalan salah satu teman ingin pergi ke toilet, kali ini seorang bapak….dan mungkin penyakit beser saya sudah mulai menular. Kami celingukan mencari tanda-tanda adanya toilet disekitar daerah situ. Ada toilet portabel di pinggir jalan, tetapi kami dipesan oleh teman agar lebih berhati-hati karena di Paris lebih tidak aman jika dibanding London. Akhirnya kami mampir ke restaurant Mc Donald, dengan harapan menyediakan toilet. Memang benar ada toilet di lantai bawah…..ternyata untuk membuka pintu toilet harus menggunakan koin. Bergantian kami mencoba membuka pintu dengan koin yang ada, hanya ada satu koin yang dapat masuk pada lubang pintu….tetapi pintu toilet tetap tertutup. Akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel, karena untuk melanjutkan berjalan-jalan sudah tak mungkin lagi.

Keesokan harinya kami sudah dijemput untuk melihat menara Eiffel, sebelum berangkat semua sudah diingatkan untuk pergi ke toilet lebih dulu. Kami berangkat naik Metro (istilah subway di Paris) menuju stasiun Bar Harkeim, yang terdekat dengan lokasi menara Eiffel. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi Eiffel, salah satu teman belum kembali ditempat yang telah disepakati, setelah ditunggu lama tak muncul….apa boleh buat, satu2nya jalan untuk bisa menghubungi harus menggunakan hand phone. Ternyata dia sedang antri…….kemana lagi, kalau bukan ke toilet. Nah, karena masih ada satu teman yang ditunggu, kenapa kami yang wanita nggak sekalian pergi ke toilet? Siapa tahu perjalanan berikutnya juga susah untuk cari toilet ?? Akhirnya saya ikutan antri toilet, setelah menukar uang dengan koin……..akh…susahnya, jadi benar2 harus ada perencanaan, bahkan perencanaan untuk pergi ke toilet. Sejak saat ini kami paham, bahwa kita tak boleh menunggu sampai kebelet, dimanapun, asal ada tanda gambar pria dan wanita, yang menunjukkan di dekatnya ada toilet, kami beramai-ramai pergi ke toilet.

Perjalanan berikut adalah menyusuri sungai Seine dengan kapal….belum sempat duduk, salah satu teman memberi tahu…Ada toilet tuh, di bawah, nggak pakai bayar lagi. Akhirnya selama pelayaran 1 (satu) jam, kami pergi ke toilet….dan masing-masing rata-rata menggunakan toilet tiga kali selama di kapal,…… mumpung nggak bayar….ha..ha..ha… Dan anehnya, teman yang lain ikut ketularan…dan kok ya pasti keluar juga…mungkin karena hawa dingin. Besoknya kami jalan-jalan ke Musee du Louvre, melewati Plaza atau Mall….salah satu teman mulai lagi….eh, ada tanda …toilet tuh…. Semua berlarian menuju toilet…….begitulah cerita perjalanan kami, selalu diiringi ketawa kalau melihat ada tanda toilet……Akhirnya teman yang tinggal di Paris nyeletuk….Akh, benar-benar deh…jadi Mr dan Mrs Toilet……ha…ha…ha…

 

 

Satu pemikiran pada “Mr dan Mrs Toilet

  1. hahahahaha ……
    jadi setiap ngeliat tanda toilet seperti melihat ruang berisi harta karun ya Bu hihihiihih ….. seru jadinya, tapi deg2an juga, saya mah klo gitu ga bakal berani minum2 sepanjang jalan, takutnya itu tadi, pas kebelet ga ada toilet, apa ga repot? hahaha

    Iya…membayangkan saat itu lucu sekali…soalnya bingung pakai toilet dengan koin….hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s