Menikmati liburan dengan naik busway

Rasanya sudah lama sekali tidak naik bis, padahal saat awal mulai kehidupan di Jakarta, bis kota selalu menemani hari-hariku, sejak berangkat dan pulang kantor, berjalan-jalan maupun kegiatan lain selalu dengan naik bis kota. Maklum pegawai baru, walaupun saat itu mencari pekerjaan tak sesulit sekarang, tapi sebagai sarjana baru gaji masih kecil sekali. Setiap habis terima gaji, harus sudah di pilah2, mana untuk bayar kost, untuk pergi bekerja (sudah disisihkan dalam dompet kecil), untuk rekreasi dll.

Pada pertengahan tahun 79 saya bersama adik pernah keliling Jakarta menggunakan bis kota, berangkatnya dari terminal ke terminal, dan kami turun di beberapa daerah yang dirasa menarik. Ide mencoba busway sebetulnya sudah sejak lama, tapi setiap kali waktunya tak tepat. Biasalah…kalau direncanakan sering malah tidak jadi.

Anak sulungku telah selesai UAS dan sementara libur. Kenapa kita nggak mencoba naik busway? Kalau cuma sekedar jalan2 ke Mall udah terlalu sering. Jadilah kami berangkat untuk mencoba busway. Dari rumah naik bajay ke Blok M…hehehe masih males naik Kopaja, maklum badan mulai tua, takut kecapaian. Sampai di blok M, saya beli karcis jurusan Blok M-Kota untuk dua orang. Ternyata dari Blok M sudah antri, dan seperti biasanya, antrinya nggak teratur, bolak balik saya disodok dari sebelah kiri. Saya udah agal males, tapi anakku mengigatkan untuk bersabar…syukurlah dia lagi sabar hari ini…dan saya mengingatkan diri sendiri, bahwa niatnya santai, mencoba busway dan kendaraan umum lainnya. Maklum udah sekian puluh tahun, kemana-mana diantar mobil, belakangan dapat fasilitas mobil dinas plus sopir, akibatnya badan menjadi malas.

Akhirnya sampai juga giliran kami untuk memasuki busway. Anakku mengingatkan, lain kali kalau bersama orang lain, kita harus benar2 berdekatan, karena petugas akan menyetop penumpang untuk masuk busway, jika dianggap penumpang sudah penuh, dan rombongan bisa terpisah. Saya mendapat tempat duduk dan anakku berdiri. Ternyata nyaman juga naik busway, ber AC, dan setiap pemberhentian ada pemberitahuan dalam bahasa Indonesia, maupun bahasa Inggris.

Kami turun di halte Jakarta Kota,yang merupakan halte terakhir. Anak saya memotret stasiun Jakarta Kota, yang bangunannya masih kuno, kemudian saya tanya sama petugas kalau mau ke Museum sebaiknya naik apa? Dia mengatakan, kalau berjalan cukup jauh, sebaiknya naik bajay dengan membayar Rp.3.000,- (dalam hati saya berpikir, apa masih ada sopir bajay yang mau dibayar Rp.3000,-). Ternyata sang sopir meminta Rp.7.000,- dan disepakati Rp.6.000,-

Museum Fatahillah yang dapat dilihat terdiri dari dua lantai, walaupun dari luar seolah olah empat lantai …ternyata masing2 lantainya ada dua jendela bertingkat, maklum langit2nya sangat tinggi. Di belakang gedung museum tersimpan meriam si Jagur, yang sangat terkenal itu. Di depan museum juga ada dua meriam yang lebih kecil. Yang menarik, di dalam museum, ada meriam dari kesultanan Cirebon, yang di ukir. Ternyata penduduk Cirebon senang mengukir, senapan, meriam yang dipamerkan, semuanya bergagang berukir.

Kami juga melihat ruangan tempat Dewan Kota bersidang, kalau dilihat sepintas kursinya seperti ukiran Jawa….tapi setelah dari dekat, ukirannya berbeda. Almari tempat menaruh buku juga penuh ukiran, dikiri kanannya ada patung dewa kebenaran dan dewa keadilan. Di ruang bawah kami melihat penjara, tempat orang2 pribumi atau China menunggu sebelum diputuskan hukuman yang akan dijatuhkan. Dari lobi diatas, para penguasa zaman dulu bisa melihat pelaksanaan hukuman, yang dilaksanakan di halaman depan museum yang sangat luas. Sayangnya di museum ini tak disediakan brosur, semestinya dipintu depan pengunjung bisa membeli brosur sehingga bisa mengetahui riwayat dari benda-benda yang dipajang. Kami akhirnya mampir di souvenir shop, dan membeli buku2: Kelenteng-kelenteng dan masyarakat Tionghoa di Jakarta, Mesjid-mesjid tua di Jakarta dan Gereja-gereja tua di Jakarta. Malamnya buku ini di baca…ahh seandainya kita baca dulu baru masuk museum, tentu akan lebih menarik.

Tak terasa kami sampai 2 (dua) jam lebih melihat isi museum,selanjutnya kami menuju museum wayang. Yang dipamerkan bermacam-macam, ada wayang ukiran Yogya, ada wayang KB (digunakan untuk penyuluhan KB), wayang golek Sunda…bahkan saya melihat mirip wayang golek yang berasal dari Jawa Timur. Gedung museum wayang dulunya berasal dari gereja.

Hari telah menunjukkan pukul 15.00 wib , kami menuju Cafe Batavia yang letaknya berseberangan dengan museum Fatahillah. Pengunjung cafe sebagian besar orang asing, interior cafe dipenuhi dengan foto-foto bintang film tempo dulu. Anakku memesan Greek salad , dia ingin merasakan Greek salad yang banyak sayurannya, karena saya pernah bercerita, saat saya bersama rombongan sespibank pergi ke Athena, makan salad yang hanya berisi dedaunan. Dan temen2 yang dari Sunda nyeletuk……”gila, kalau cuma makan ginian sih, di Bandung mah banyaak”…dan kami serombongan tertawa berderai. Karena sudah lewat jam makan siang, saya hanya pesan pancake….untunglah saya tak pesan makanan berat….ternyata kuenya besar sekali.

Pulang dari cafe batavia, kami berjalan lurus kearah stasiun Kota, dan ternyata dekat sekali…mungkin petugas busway tadi kawatir melihat tampang saya, yang dinilainya tak kuat berjalan jauh. Di halte Jakarta Kota penumpang tak terlalu banyak, bahkan saya sempat tertidur di Busway dalam perjalanan ke arah blok M. Sampai di blok M badan udah terasa pegal…dan pulanglah kami naik…taksi…hehehe, ternyata masih banyak yang belum dilihat. Tapi saya udah tahu, dan udah berniat, kapan-kapan akan jalan-jalan lagi melihat museum keramik, dan museum wisata Bahari di Pasar Ikan. Ternyata wisata dengan naik kendaraan umum sangat mengasyikkan, apabila kita melakukan dengan santai, tidak terburu-buru dan fleksibel.

8 pemikiran pada “Menikmati liburan dengan naik busway

  1. narpen

    muter2 kota emang seru ko, apalagi klo ada temen. klo sendiri sih ya rada garing. kecuali klo naik mikrolet (kaya angkot bandung gtu) bs ngobrol ama sopirnya. sebetulnya naik bus jg enak bu, tapi ibu emang mesti hati2 waktu turun. mungkin memang baiknya naik bajaj/taksi saja, khawatir klo jatuh berabe euy ^_^ (inget umur.. he3).
    aduh jadi pengen pancake… apa bs bikin sndiri ya di bandung?

  2. wah tampak mengasyikkan, hmm.. bisa tidak ya menikmati liburan dengan naik angkot ? (semua jalan di Bandung adalah angkotway 😀 )
    @ narpen, oh kamu suka ngobrol sama sopir angkot tho ? udah bisa bahasa Batak juga dong? 😛

  3. Narpen

    Naik bis tetap enak, asal kita selalu naik diterminal, jadi kalau mau turun ditengah perjalanan, disambung dulu dengan bajay, supaya selalu dapat tempat duduk. Bapak kesannya naik busway nggak enak, karena dari Mangga Dua langsung ke Blok M, jadi nggak dapat tempat duduk, mestinya ke Jakarta Kota dulu, baru balik ke Blok M.

    Pancake? Mudah kok bikinnya, itu kan semacam kue dadar aja. Bahan: tepung terigu, telor, susu, gula secukupnya, dikocok jadi satu…kemudian didadar. Makannya bisa pake selai atau madu, bisa juga ditambahkan es cream. Gampang kan? Cobalah, mumpung libur, hasil uji coba bisa dibawa ke Cl.

    Andi,

    Kami bertiga (saya, Narpen, Ditta) pernah mencoba mau jalan2 lihat gua Jepang. Menurut teman yang pernah kerja di Telkom Bandung, naik angkot ke Dago sampai mentok, terus belok kiri. Kita udah naik sampai mentok, tanya kanan kiri nggak ada yang tahu, terus dicoba masuk kekiri jalan…jalannya menurun, terus naik, dikiri kanan masih banyak hijau pepohonan……asyik juga sih lihat pemandangan…ehh kok tahu2 nyampe ke perumahan didekat rumah pak Wiranto (mantan Rektor ITB)…hehehe. Akhirnya balik turun lagi…dan untuk mengobati lelah kita makan d geulis.

    Bagaimana kalau Andi bikin rute naik angkot ke daerah yang menarik? Museum, Gua Jepang (katanya menembus Maribaya) dll. Waktu libur Natal kemarin, saya menemani adik dan keponakan yang dari Semarang jalan2 naik angkot dari Bubat ke Dago…ehh ternyata mereka senang sekali, karena kalau diantar pake mobil jadi nggak tahu jalan…dengan naik angkot sekaligus bisa nostalgia , karena adikku pernah ambil S2 di Unpad, dan putrinya lahir di Bandung (kemarin baru aja baru lulus Teknik Lingkungan Undip)

  4. bima saputra

    >saya kagum dengan blog anak ibu yg menceritakan museum jakarta dengan sangat detai apa lagi dalam bentuk seperti itu sangat menari untuk di baca.oiya kapan2 kita bisa hunting heee…saya juga salah satu pemerhati museum khususnya kota tua jakarta terimakasih

  5. Bima Saputra,

    Thanks mas Bima, emailnya udah saya forward ke anak saya. Kebetulan dia ikut milis, kalau tak salah namanya “sahabat museum”.
    Memang menarik, dan saya sendiri masih banyak museum di jakarta yang belum sempat dikunjungi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s