Oleh: edratna | Januari 4, 2007

Sehari keliling Sumbar

Saat saya masih mahasiswa, saya mempunyai seorang sahabat yang berasal dari kota Bukittinggi. Dia banyak bercerita tentang keelokan daerah asalnya, yang sayangnya sampai saya berpisah dengannya, saya belum punya kesempatan untuk berkunjung ke kotanya.

Saat saya ditugaskan ke Padang, kebetulan suami ada tugas ceramah di Padangpanjang, jadilah kami bersama teman2 dari Padang menikmati keindahan Sumbar (Sumatra Barat). Pengalaman ini membuat saya ingin mengajak anak2 untuk melihat kesana.

Kesempatan itu datang, saat saya bertugas lagi ke Sumbar, dan melihat ada hari libur yang kalau digabung hari Sabtu dan Minggu menjadi libur 3 (tiga) hari. Saya mengajak anak2, walaupun sempat kawatir juga kalau mendadak hari Sabtu ada kuliah tambahan. Keragu-raguan ini membuat pesan tiket terlambat, dan kami baru bisa berangkat jam14.00 wib hari Jumat dari bandara Sukarno Hatta.

Syukurlah kawan2 di Padang sudah lebih siap, mereka membuat jadual yang ketat, sehingga liburan satu hari bisa mendapatkan pengalaman meninjau berbagai daerah dan mengesankan. Pengalaman ini dapat digunakan bagi teman2 jika pada suatu kesempatan dapat mengunjungi kota Padang dan tak punya waktu banyak.

Hari Jumat, 14 April 2006

Pukul 16.00 wib, pesawat mendarat di Minangkabau International Airport (MIA). Hujan rintik-rintik mengiringi kedatangan kami dari Jakarta. Kami berombongan 2 (dua) mobil langsung meninjau lokasi Universitas Andalas, yang sayangnya hanya sempat berfoto-foto sebentar karena hujan semakin deras. Dari sini rombongan menuju Guest House kantor, mandi, sholat, dan siap berangkat lagi untuk melihat pantai Air Manis. Disini terdapat batu yang dipercaya sebagai batu Malin Kundang. Kami tiba saat matahari hampir tenggelam, sehingga tak terlalu banyak foto yang dapat dibuat. Perjalanan dilanjutkan menuju masjid terdekat untuk sholat Magrib (yang sebetulnya direncanakan akan dilakukan di masjid Ganting, masjid tertua di Padang). Akhirnya masjid Ganting hanya dilihat dari luar, dan kami meneruskan perjalanan ke jembatan Siti Nurbaya. Yang khas disini, disisi jembatan kanan kiri terdapat banyak penjual makanan, dan banyak cewek cowok yang menikmati makan sambil melihat keindahan sungai diwaktu malam.

Rombongan melanjutkan perjalanan untuk makan malam di rumah makan Pagi Sore…hmm ayam gorengnya renyah sekali. Dari sini kami menuju tepi pantai, dan sempat melihat debur ombak yang semakin meninggi, kemudian makan durian dipinggir jalan…..wahh sedaaap…syukurlah saat makan sudah dipesan agar makannya tidak banyak, agar masih ada yang tersisa untuk diisi durian. Malam ini kami tidur dengan nyenyak, dan sebelumnya telah dibagikan jadual yang harus ditepati, agar acara hari Sabtu benar2 bisa terlaksana.

Sabtu, tgl. 15 April 2006.

Rombongan berangkat jam 7.20 wib dari Guest House menuju danau Singkarak, pemandangan disepanjang jalan sangat indah, dikiri kanan jalan kehijauan sejauh mata memandang dengan pegunungan Bukit Barisan di latar belakangnya. Ternyata kami tergoda beberapa kali berhenti untuk berfoto, karena pemandangan benar2 bagus sekali, udara bersih tanpa polusi, kendaraan yang berlalu lalang hanya sedikit. Benar2 nyaman rasanya. Kami memasuki kota Solok, yang ditandai dengan patung ayam jago yang siap berkokok. Danau Singkarak diwaktu pagi sangat indah berwarna kehijauan, disini terkenal dengan ikan bilihnya. Walaupun kepengin, tapi kami tak berani mencoba naik perahu mengelilingi danau karena acara yang padat sekali.

Dari danau Singkarak kami mengunjungi istana Pagaruyung. Istana Pagaruyung merupakan tiruan dari istana aslinya, karena istana yang asli telah dibakar oleh Belanda saat perang kemerdekaan. Disini masing-masing rombongan mencoba berpose memakai baju ala pangeran dan putri Pagaruyung. Dari sini kami menuju ke Batu Angkek-angkek, yang konon katanya, barang siapa mempunyai permintaan dan dapat mengangkat batu tersebut, maka permohonannya akan dikabulkan Tuhan. Walahuallam. Walaupun demikian kami mencoba untuk mengangkat batu tersebut, ada yang bisa dan ada yang tidak. Bagi teman yang tak bisa mengangkat batu tersebut, kami beramai-ramai menggoda…Habis, yang diinginkan jadi Presiden sih, terang aja nggak bisa…. Jam telah menunjukkan waktu makan siang, kami melanjutkan ke rumah makan Flora, yang terletak dipinggir sawah. Disini ikan bakarnya ueenak banget.

Perjalanan dilanjutkan ke kota Bukittinggi, mengunjungi gua Jepang, yang terletak di atas Ngarai Sihanok. Gua Jepang saat dikunjungi kali ini telah mengalami renovasi dibanding kunjungan setahun yang lalu, dengan diberi lampu2 ditengahnya, sehingga tak terlalu menyeramkan. Namun rasanya masih terasa magis jika dibiarkan tanpa lampu, sehingga guide hanya menggunakan lilin saat menjelaskan…hmmm serem membayangkan bagaimana para romusha itu dibunuh dan dilemparkan melalui lubang kecil kearah ngarai saat sudah tak diperlukan. Menurut cerita guide, tanah penggalian, dan orang2 yang terbunuh tak pernah terdeteksi, karena penduduk yang tinggal disekitar gua tersebut tak pernah menemukan gundukan tanah, yang kalau dilihat pasti sampai ber ton-ton tanah yang dibuang. Apalagi konon katanya, gua-gua seperti ini berada disepanjang dan luas kota Bukittinggi. Kota Bukittinggi tanahnya terdiri dari bebatuan, hawanya sejuk karena terletak dipegunungan.

Kami kemudian menuju ke taman di depan Kantor Cabang Bukittinggi dan Pasar atas dan Pasar bawah, pasar yang terkenal dengan baju2 sulamannya. Bagi rekan2 yang ingin mengunjungi Bukittinggi jangan lewatkan Pasar Diatas dan Pasar Di bawah ini, dan kita akan memperoleh baju sulaman yang bagus-bagus asalkan pandai menawar. Ditengah taman menjulang tinggi, terletak jam Gadang, yang selalu diceritakan oleh sahabatku sejak saya masih mahasiswa. Di ujung berlawanan dengan Pasar terletak museum Bung Hatta dan Hotel Novotel. Kami sepakat tak masuk Pasar karena kalau sudah kesini, akan memakan waktu lama.

Rombongan melanjutkan perjalanan ke Danau Maninjau, melalui kelok ampek-ampek (kelok 44). Kami menuju hotel Nuansa Maninjau untuk check in dulu agar nantinya kamar tak ditempati orang lain, maklum saat itu ada libur 3 hari sehingga tamu-tamu penuh. Dari halaman hotel Nuansa Maninjau kami bisa melihat Danau Maninjau nun jauh di bawah, dan kami sempat memotret danau ini…syukurlah karena saat sampai ke Danau Maninjau kabut telah turun dan menutupi seluruh permukaan danau. Kemudian rombongan meneruskan menyusuri kelok 44, dan antara kelok 4 sampai delapan,banyak sekali monyet jinaknya. Kami beramai ramai memberi makan monyet2 tadi. Pemandangan kearah danau Maninjau sangat indah, kelok2nya sangat tajam, bahkan lebih tajam dibanding di Puncak. Syukurlah jalan tak terlalu ramai, sehingga kami tak terlalu kawatir. Untuk menolong pengendara, di setiap kelokan diberi kaca bulatan, agar pengemudi bisa melihat apakah ada kendaraan dari arah berlawanan. Sampai danau Maninjau hari telah mulai gelap, kami mencari tempat untuk sholat Magrib dan pesan makanan kecil serta minuman panas di rumah makan dipinggir danau Maninjau. Beberapa keramba (untuk menangkap ikan) terlihat di pinggir Danau Maninjau.

Setelah puas melihat keindahan danau Maninjau diwaktu malam yang semakin tertutup kabut , rombongan kembali ke hotel Nuansa Maninjau. Setelah masing-masing mendapat kamar, kami menuju ruang makan. Ruang makan penuh sekali, banyak anak kecil berlarian, sebagian besar pengunjung merupakan keluarga yang sedang melihat obyek wisata di Sumatra Barat. Malam ini saya mengingatkan anak2 untuk bangun pagi esok harinya, karena jam 6.30 rombongan dipecah menjadi dua. Rombongan pertama, terdiri dari kedua anakku, teman yang dari Bandung, calon menantu ku akan berangkat pagi2 ke Padang,karena pesawat Garuda akan take off jam 10 pagi. Perjalanan kemudian akan dilanjutkan ke Bandung, tempat anak bungsuku kuliah.

Minggu, 16 April 2006

Pagi jam 4 saya telah membangunkan anak-anak, pesan sarapan untuk dibawa ke kamar. Jam 6.30 rombongan anak2ku telah siap berangkat ke Padang, melalui Padangpanjang, dan Lembah Anai (terdapat air terjun) .

Rombongan kedua sarapan pagi di restoran hotel, dan jam 9 pagi check out dari hotel. Rombongan kemudian menuju kota Bukittinggi, dan belanja di Pasar Atas dan Pasar bawah. Sudah dapat diperkirakan, belanja memakan waktu setengah hari sendiri . Setelah puas belanja, maka rombongan makan siang di Istana Mie. Ternyata waktu sudah menjelang sore, rombongan langsung pulang ke Padang. Rencana mau makan sate Padang di sms (Sate Mak Syukur) batal, karena masing2 ingin segera balik ke Padang dan istirahat. Akhirnya rombongan langsung ke Padang, dan sepakat untuk makan di Guest House saja, agar bisa istirahat karena besoknya saya dan beberapa teman harus mulai bekerja.

Catatan:

Saat masih di Padang, saya sempat diajak teman untuk makan di Bungus, lokasinya dipinggir sawah. Dari kota Padang, kita menyusuri pantai kearah Painan, dari pantai ini terlihat pelabuhan Teluk Bayur yang sibuk. Dari jalan sepanjang pantai ini, nanti ada belokan kekiri.

Kedai Kepala ikan di Bungus ini sangat sederhana, bahkan menyerupai warung2 tempo dulu, AC nya angin, dan sangat alami. Tapi gulai kepala ikannya dan daun pakisnya benar2 enak sekali.

Iklan

Responses

  1. Dear frind,
    saya sangat senang sekali membaca perjalanan saudara didalam ini webside,sungguh sangat menarik sekali,apalagi saya baru kembali dari sumatra Padang bulan januari 2007
    ini,hanya sayang saya tak sempat pergi ke maninjau atau bukkittinggi dan solok atau danau atas dan danau bawah,karna kebetulan orang tua sakit waktu itu.
    dan harapan saya kalau lain kali ada fotonya ya jadi saya bisa lihat pemandangan minang kabau,biar rindunya jadi lepas dari rantau orang,soalnya di rantau orang pemandanganya hanya gedung melulu saja,atau lapangan sepak bola.dan hawanya slalu dingin.
    Salam kenalan Yati dan Musa van der knaap

  2. Mbak Yati,

    Thanks sarannya. Sementara mbak Yati dapat melihat keindahan Minangkabau dari sudut pandang anakku di

    http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2006_04_01_archive.html

    Memang daerah Minangkabau indah sekali.

  3. SALUT…..
    itu kata2 pertama setelah membaca artikel anda tentang perjalanan ke Aceh/Banda Aceh khususnya, daerah saya.
    Sangat detail dan lengkap sekali sesuai kenyataan yang ada. Mudah2an anda dapat kembali berkunjung dan membuat ulasan seperti itu pasca BRR tahun 2009 nanti…. bagaimana banda aceh setelah itu…. Kami sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti… Apakah banyak orang2 yang stress setelah tidak lagi bisa hidup mewah seperti selama ada BRR dan NGO…
    Sekali lagi, saya salut dengan ulasan anda… Trims

  4. Adi,
    Thanks kunjungannya
    Doakan ya saya mempunyai kesempatan kesana. Kekawatiran anda sama dengan saya, tapi saya masih berpikir positif, karena dari percakapan dengan para pedagang di pasar sebelah masjid Baiturrachman, mereka adalah orang-orang yang suka kerja keras.

    Kebetulan saya membeli oleh-oleh, rencong Aceh, dan tenunan/sulaman khas Aceh, penjualnya mempunyai tenaga penjahit untuk menyulam tas dan kain, dia sudah berusaha selama 20 tahun. Walau kena tsunami, tetapi bangkit kembali.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: