Tana Toraja nan indah permai

Sejak selesai mengunjungi Wamena, saya sudah ingin melihat Tana Toraja, dengan ibu kotanya Makale. Sepulang dari Wamena, kedua staf ku melanjutkan perjalanan ke Toraja, tetapi saya harus langsung pulang ke Jakarta, karena besoknya putri bungsuku ulang tahun.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Saat bertugas di Makasar, kebetulan permasalahan yang harus diselesaikan cukup banyak, sehingga kepulangan kami terlambat. Ternyata sehari setelah kami bisa menyelesaikan tugas, besoknya liburan hari Raya Paskah, dan jika digabung dengan hari Sabtu dan Minggu kami punya waktu cukup untuk melihat Tana Toraja, maklum perjalanan Makassar Tora memerlukan waktu 8 (delapan) jam.

Lanjutkan membaca “Tana Toraja nan indah permai”

Iklan

ABG zaman dulu

Istilah ABG populer beberapa tahun belakangan ini, tapi disini saya akan cerita ABG di tahun 65 an. Ketika saya ABG (umur 12-15 tahun) bersamaan dengan kondisi bangsa Indonesia yang makin sulit. Penduduk sulit memenuhi kebutuhan pokok, kalaupun punya uang barang-barang kebutuhan pokok sangat langka. Saat itu saya mulai memasuki SMP, setiap penghuni rumah mendapat jatah kartu untuk mendapatkan bahan kebutuhan pokok: minyak tanah, minyak goreng, beras (yang dicampur jagung), gula dsb nya.

Kami harus berhemat untuk memakainya dan harus pandai mengatur menu makanan agar tercukupi menu sehat keluarga. Setiap antri untuk mencairkan kupon makanan, saya diajak oleh kakak sepupu (saya hanya tiga bersaudara, tetapi ayah ibu selalu menerima keponakan yang sekolah di kota kecil kami, dan menumpang di keluarga kami), pulangnya membawa barang2 kebutuhan pokok, kadang2 minyak tanah yang saya bawa menetes…dan tetesan minyak ini akan berwarna pelangi jika terkena bekas air hujan yang belum kering di jalan tanah yang becek, membuat kami senang bermain-main…dan baru berhenti jika dimarahi kakak sepupu.

Lanjutkan membaca “ABG zaman dulu”

Suka duka pasang telepon kabel

Sebelum th 90 an di Indonesia belum ada handphone, dikompleks rumah dinas tempat kami sekeluarga tinggal, yang punya hanya pak RT, dan bisa dipergunakan oleh seluruh penghuni kompleks. Untuk kenyamanan, telepon diletakkan pada garasi, dan kami tinggal memasukkan koin jika akan mempergunakan telepon.

Awal tahun 90 an beredar rumor, bahwa PT Telkom akan membuat jaringan baru yang dapat diakses oleh para penghuni kompleks, tapi kami harus bayar lebih mahal. Karena telepon memang penting, saya termasuk yang ikutan bayar iuran…cukup mahal juga. Ternyata… saat diumumkan di koran (saat itu jika PT Telkom sudah siap membuka jaringan baru, diumumkan di koran, dan yang berminat mendaftar dikantor telepon yang ditunjuk)…saya pas tugas keluar kota….hmm sedihnya. Syukurlah ada tetanggaku yang baik hati, saya sekeluarga boleh menggunakan telepon dia, pas awal bulan kami melihat nomor-nomor yang tersambung, dan membayar sebesar biaya yang tercantum dalam tagihan telepon. Temanku ini memang baik hati, kami sekeluarga kadang2 menganggu pada jam2 tidur, maklum suami di Bandung sehingga seringkali berita mendadak terpaksa disampaikan lewat telepon tetangga.

Lanjutkan membaca “Suka duka pasang telepon kabel”