Suka duka pasang telepon kabel

Sebelum th 90 an di Indonesia belum ada handphone, dikompleks rumah dinas tempat kami sekeluarga tinggal, yang punya hanya pak RT, dan bisa dipergunakan oleh seluruh penghuni kompleks. Untuk kenyamanan, telepon diletakkan pada garasi, dan kami tinggal memasukkan koin jika akan mempergunakan telepon.

Awal tahun 90 an beredar rumor, bahwa PT Telkom akan membuat jaringan baru yang dapat diakses oleh para penghuni kompleks, tapi kami harus bayar lebih mahal. Karena telepon memang penting, saya termasuk yang ikutan bayar iuran…cukup mahal juga. Ternyata… saat diumumkan di koran (saat itu jika PT Telkom sudah siap membuka jaringan baru, diumumkan di koran, dan yang berminat mendaftar dikantor telepon yang ditunjuk)…saya pas tugas keluar kota….hmm sedihnya. Syukurlah ada tetanggaku yang baik hati, saya sekeluarga boleh menggunakan telepon dia, pas awal bulan kami melihat nomor-nomor yang tersambung, dan membayar sebesar biaya yang tercantum dalam tagihan telepon. Temanku ini memang baik hati, kami sekeluarga kadang2 menganggu pada jam2 tidur, maklum suami di Bandung sehingga seringkali berita mendadak terpaksa disampaikan lewat telepon tetangga.

Pada tahun 1992 an (saya agak lupa tahunnya), di koran dimuat bahwa ada jaringan telepon yang akan melewati kompleks Bukit Cengkeh, Cimanggis. Saya segera menelepon adik suami, yang menempati rumah saya di Cimanggis, agar besok pagi2 segera antri di kantor telepon di Jakarta Timur. Entahlah perasaan saya kurang nyaman, akhirnya saya mengajak suami pagi-pagi sekali berangkat antri, dan terpaksa membolos dari kantor. Kami sampai di kantor telepon jam 7 pagi, ternyata antrian udah panjang sekali. Entah kenapa, loket baru dibuka jam 10 dan dua orang yang antri dibelakang saya sudah nggak dapat nomer telepon. Syukurlah saya berangkat pagi-pagi, karena adik suami baru datang jam 9 pagi, yang antrian nya sudah sampai diluar pagar kantor telepon. Begitulah susahnya mendapatkan nomor telepon zaman itu.

Kemudian mulai muncul era handphone.…harga handphone Rp.17.500.000,- dan kalau bag phone Rp.7.000.000,- Saya berunding dengan suami, memang bag phone kurang mobile , tapi tetap berharga untuk dibeli daripada kita nggak ada telepon sama sekali. O, iya saat itu yang namanya handphone belum kecil seperti sekarang, masih sangat besar…..sebesar uleg an ibu-ibu di dapur. Akhirnya kami beli bagphone, merk nya motorola, dan agar bisa digunakan untuk menerima sinyal dengan baik, kami melengkapi dengan antena di atas atap rumah seharga Rp.1.000.000,- Saat itu bagphone benar2 berharga, dan sinyalnya cukup baik, saya sempat mencoba menelepon dari Wamena dan bisa diterima dengan baik.

Pertengahan tahun 90 an saya punya teman yang bergerak dibidang properti, dia heran waktu saya cerita tentang masalah sulitnya pasang telepon, karena selama ini dia lancar-lancar aja. Terus dia nanya, mau nggak diuruskan? Tentu saja mau, dan saya memberikan syarat-syarat yang diminta, seperti : KTP, Kartu Keluarga dll. Lama tak ketemu, akhirnya dia mengaku kalau daerah Cipete memang udah penuh, tapi temannya di PT Telkom bilang, bahwa tak lama lagi akan dibuka jaringan baru. Benar juga, sekitar tiga bulan kemudian, saya mendapatkan nomer telepon untuk dipasang dirumah…rasanya legaaa sekali. Enam bulan kemudian, PT Telkom membuka jaringan lagi di kompleks tempat tinggalku, akhirnya setiap penghuni kompleks mendapatkan satu line telepon, sehingga nomor telepon dikompleks terdiri dari 3 jenis angka depan, berdasar waktu pemasangannya…750xxxx, 765xxxx dan 766xxxx.

O, iya sebelum mendapat telepon, kami juga berkomunikasi menggunakan pager. Banyak sekali kejadian lucu…saya pesan ke starko agar anak2 siap untuk dijemput untuk test di psycholog…ternyata pesannya menjadi…anak2 diminta datang ke dokter Polo…… Pager ini dulu sering digunakan oleh dokter kandungan, untuk memudahkan panggilan kalau sewaktu-waktu ada pasiennya yang akan melahirkan. Era pager sudah berakhir, kalah dengan adanya handphone, terutama setelah adanya handphone pra bayar yang bisa menjangkau masyarakat luas.

Saat ini harusnya kami sudah meninggalkan rumah dinas, namun karena rumah kami belum selesai dibangun, kantor kami masih membolehkan sementara tinggal dikompleks dengan membayar sejumlah tertentu. Karena rumah sudah selesai 80%, saya sudah tanya-tanya ke teman, siapa yang pernah pasang telepon dirumahnya di sekitar Cipete, ternyata tak satupun dari temenku yang pernah pasang telepon setelah tahun 2000, karena kalaupun mereka beli rumah sudah lengkap berikut telepon. Saya datang ke kantor telepon diselatan pasar Mede, ternyata bangunannya sedang diperbaiki dan belum ditempati…syukurlah kami diberitahu kalau untuk sementara tempatnya dipindah ke Jl. Fatmawati sebelum ITC Fatmawati.

Saya sudah bersiap-siap kalau prosesnya pasti sulit dan bertele-tele.Saat saya dipanggil giliran, dan menjelaskan kalau mau pasang baru telepon, si petugas nanya nomor telepon tetangga untuk mengecek. Saya bingung, kan belum pindah rumah dan tentu saja belum tahu nomor telepon tetangga, tapi saya punya nomor hp nya pak RT dan RW karena sebelum mulai membangun rumah, saya lapor dulu ke pak RT/RW dan meminta persetujuan tetangga sekitar rumah yang dibangun. Saya mencoba menelepon Agus, anak asuh kami yang sedang menunggu proses pembangunan rumah, untuk minta dicarikan no.RT, no. RW dan no telepon tetangga. Syukurlah saya teringat kalau saat kerumah pak RW, saya diberi kartu nama, dan ternyata ada nomor telepon rumahnya. Kemudian si mbak menelepon, untuk mengecek apakah ada nomor yang kosong dst nya…kemudian balik lagi…”Ibu, nomornya ada yang kosong, ibu tinggal memenuhi persyaratan, seperti: copy Kartu Keluarga, KTP, dan copy akte rumah (karena KTP masih dirumah lama), dan bayarnya Rp.429.000,-. Dalam 2x 24 jam telepon akan sudah terpasang.” Saya bengong tak percaya, tapi segera melengkapi persyaratan yang diminta. Syukurlah, akhirnya dapat nomor telepon. Suami dirumah juga tak percaya saat diberitahu bahwa urusan telepon udah beres. Bayangkan, untuk rumah di Cimanggis saya membayar resmi Rp.1.100.000,- tapi 14 tahun kemudian saya membayar jauh lebih murah, dan hanya hitungan menit semua sudah beres. Terimakasih Telkom, semoga pelayanan Telkom makin baik.

Mengapa masih perlu memasang telepon kabel? Ada beberapa alasan:

  1. Bila sewaktu-waktu koneksi internet dari Kabel Vision atau Indosatnet bermasalah, bisa langsung menggunakan Telkomnet. Bila koneksi bermasalah, kita perlu menghubungi customer care, yang akan memandu melakukan langkah2 perbaikan. Jika ini dilakukan dengan handphone, biaya akan mahal dan seringkali handphone suaranya kurang jelas jika cuaca buruk.
  2. Untuk pesan taksi, seperti blue bird. Mereka akan selalu menanyakan nomor telepon rumah, dan tidak mau diberikan nomor handpone.
  3. Untuk memonitor kondisi rumah. Dengan telepon kabel biaya lebih murah, dan jelas telepon akan selalu “on”…berbeda dengan handpone yang seringkali baterei nya low sehingga tak bisa dihubungi.
  4. Berbicara melalui telepon kabel tetap lebih nyaman, suara lebih jelas, terutama jika kita melakukan pembicaraan jarak jauh (luar kota, luar negeri)
Iklan

6 pemikiran pada “Suka duka pasang telepon kabel

  1. mbakyu, fleksi home juga oke punya lho. dan mobile, kalau pindah rumah ndak perlu bingung. dipake berinternet ria juga bisa kok … 😀 harga yah, sejuta seratusan sih hehehehhe 😀

  2. edratna

    Papabonbon,

    Iya, cuma karena banyak yang nulis keluhan di surat pembaca tentang fleksi, jadi agak kawatir juga. Sebetulnya telepon kabel penting kalau untuk pesan2 ke mbak yang dirumah, kebetulan dilingkungan rumahku ada jaringan kabel vision, jadi internetnya lumayan….mudah, murah, bisa dipake 24 jam terus menerus dengan membayar Rp.197.450,- (net) dan indosatnet (Rp.553.000,-).

    Tapi saran pake fleksi perlu dicoba, thanks

  3. dessy

    saya juga baru terharu sama telkom…cepet juga ya skrg kalau pasang baru. Bulan agustus 2008 ini saya malah cuma kena Rp. 250.000 untuk pasang baru. Baru seminggu sih bisa kring tapi tetap angkat topi untuk kerja mereka…

  4. daniel

    kalau 250 ribu itu mahal, skrg resminya cuma 100 lebih dikit. tapi lamanya minta ampun. 3 bulan ngak ada respon. kalau lewat petugas 200 ribu emang cuma 1 minggu.

    Daniel,
    Sekarang lebih murah karena memang adanya persaingan yang ketat, banyak orang yang memilih menggunakan hape. Zaman saat pertama kali tinggal di Cipete, tarif pasang baru Rp.1.100.000,-….dan ini resmi, karena semua tercatat dan ada tanda terima resmi dari PT Telkom. Saya tidak pernah menggunakan jasa calo dsb nya dalam berhubungan untuk hal seperti pasang listrik, telepon, mengurus IMB dan semua ada kuitansi resmi.

  5. echa

    Ibu Edratna maaf kalau ‘respon”nya berbeda dr topik. sebenarnya saya lagi bingung,…ngung…., ngung….. bolehkan saya sharing sama ibu. saya baru pindah bagian ke bagian AO yg pernah ibu bahas. pengalaman saya nol besar dibidang ini tp saya nekat dan berharap bisa berhasil tp mau gak mau saya kepikiran jg apalagi kalo ingat keputusan saya nanti yg akan menentukan lancar atau tidak debitur yg saya berikan pinjaman. triknya dong bu biar tetap semangat tdk jadi deg-degan begini apalagi untuk saya yg pemula. terima kasih sblmnya

    Echa,
    Sebaiknya banyak diskusi dengan seniormu deh…karena memang untuk yang bekerja sebagai AO harus melalui pelatihan. Saya tak paham dengan bagian AO (atau bukan berarti sebagai AO?), apa maksudmu?
    Dan mengingat tiap Bank berbeda, tergantung segmen bisnis nya, akan lebih tepat jika belajar dari senior langsung…jika kita bertanya secara baik-baik pasti dikasih tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s