Suka duka kehidupan di asrama putri

Saat awal kuliah di Bogor, saya kost di rumah dosen. Setiap pagi om akan bertanya, “apa hari ini ada quis? Udah siap belajarnya? Semoga sukses ya?” Begitu juga saat ketemu malamnya….” Bagaimana kuliah hari ini? dst dstnya….” Perhatian yang menyenangkan, walau kadang membuat kikuk juga…

Walaupun kost menyenangkan, tapi saya harus berani masuk asrama, karena bayar kost sangat mahal untuk ukuran kantong ayah ibu, apalagi kedua adikku juga akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Untuk mendaftar masuk asrama putri, kita diminta mengisi, berapa gaji orangtua, punya saudara apa tidak di kota Bogor…dan semacam wawancara kecil2an yang mudah dilalui (maklum ekonomi pas2an, jadi mudah untuk lolos masuk asrama Putri).

Jadilah pertengahan tahun 1973 saya masuk asrama putri. Kami mengalami semacam orientasi selama 3 (tiga) bulan….lama banget ya…..kami disuruh buat taplak meja yang disulam, cempal (alat untuk mengangkat panci di dapur agar tangan tak merasa panas), lap cuci tangan yang semuanya berasal dari kain perca yang disambung-sambung. Secara bergiliran kami bertugas menjaga kebersihan asrama, merangkai bunga yang berasal dari kebun asrama , mengecek kebersihan kamar mandi dan WC.

Setelah 3 (tiga) bulan ada malam penobatan menjadi penghuni tetap, pada malam ini kami para capeng (calon penghuni) harus membuat acara lucu2an, yang harus membuat seisi asrama bisa ketawa ngakak sehingga nggak sempat marah…Bayangkan kalau nggak lucu, bisa2 kami dilempar sandal sama penghuni tetap. Acara lucu2an seperti melawak ini merupakan adat kebiasaan yang dilestarikan di asrama kami, dan ternyata kami mempunyai bakat pelawak juga. Di kemudian hari, saat ada acara di kantor, kami para alumni asrama termasuk salah satu yang menyumbang atraksi lucu2an ini.

Syukurlah acara berjalan mulus, dan diakhir acara mulailah Ketua asrama membacakan keputusan…sebelumnya dia membacakan sehelai kertas yang merupakan sifat2 capeng (buruk maupun baik) yang diisi secara rahasia oleh masing2 penghuni tetap secara anonim. Hal ini benar2 membuat hati dag dig dug…kadang2 kritikan mereka sangat pedas dan tak masuk akal, serta sangat subyektif…tapi harus kita lalui. Dengan berbesar hati masing2 capeng mendapat penilaian dari penghuni tetap, mengucapkan terima kasih, minta maaf dan berjanji untuk memperbaiki kelakuan sehingga sifat buruk sebagaimana yang tertulis pada surat penghuni tetap itu tak akan terjadi lagi. Hebat kan?….tapi disinilah saya belajar bertenggang rasa dengan orang, apa yang menurut kita baik, ternyata menyinggung perasaan orang.

O, iya di asrama tidak ada ibu asrama. Secara bergiliran dipilih 6 (enam) pengurus asrama: Ketua luar, Ketua dalam, Sekretaris, Bendahara, Inventaris dan Seksi Kesehatan. Asrama kami terdiri dari 12 kamar tidur besar (kapasitas per kamar: 4 orang, 2 tempat tidur tingkat, 4 meja belajar, 2 lemari pakaian besar, seperangkat meja kursi tamu), 2 kamar tidur kecil kapasitas 2 orang, kamar sakit dilantai satu, dapur besar, ruang tamu, ruang makan dan lain-lain. Asrama dibagi menjadi 4 RT, masing-masing RT ada 2 bibi tukang bersih-bersih, cuci, setrika. Khusus untuk mencuci dan menyetrika sprei ada satu bibi, yang mengambil sprei dari kamar2 secara bergiliran. Bibi tukang masak ada dua, dan satu penjaga malam (satu2nya pria di asrama putri). Melihat kondisi ini, asrama putri IPB ( atau APIPB) harus diatur agar setiap penghuni merasa nyaman. Aturan dibuat berdasarkan rapat seluruh penghuni asrama, yang diajukan oleh pengurus asrama saat itu. Begitu juga jika menyangkut acara dies natalis asrama atau acara2 yang akan diadakan lainnya, kadang rapat bisa bertele-tele hanya menyangkut apakah kita ada acara dansa, dan sampai jam berapa?

Penghuni APIPB terdiri dari berbagai suku di Indonesia dengan berbagai adat kebiasaan, ada yang sangat ketat dalam menjaga norma-norma (seperti tak boleh ada dansa dansi), ada juga yang moderat. Untuk menjaga keteraturan, dibuat aturan tertulis, seperti: jam bertamu, kapan kita tak boleh ribut (misalkan setelah jam 8 malam tak boleh ada suara lagi, karena masing2 penguni belajar, jika ada yang mengacau ada kotak suara yang mencatat kelakuan penghuni tadi), aturan mengeluarkan baju yang harus dicuci bibi, aturan memasak dsb nya.

Walaupun ada bibi tukang masak, kami sepakat memasak bergiliran, masing2 kamar setiap putaran mendapat jatah memasak untuk seluruh penghuni asrama (50 orang) selama 2 hari…dan kembali berulang. Kami berempat (satu kamar) berbelanja ke pasar Bogor, dan umumnya kami telah punya langganan, seperti tukang daging yang akan mengiris daging menjadi 100 buah, tukang sayur, tukang telor dll….kemudian kami akan menyewa bemo untuk mengankut belanjaan tersebut. Kemudian sayuran dimasukkan dalam kulkas, dan kami mulai memasak untuk makan pagi sampai siang dan sore hari. Jadi tugas bibi hanyalah membantu kami memasak, karena bibi datang jam 6.30 pagi dan pulang jam 3 sore…berarti untuk sarapan pagi kita harus membagi makanan sebelum berangkat kuliah. Siangnya diusahakan salah satu dari penghuni kamar bisa pulang untuk membagi makanan untuk makan siang, demikian juga sore harinya. Awalnya saya pusing (kelemahan saya adalah migren) sehabis belanja, maklum saya tak pernah belanja sebanyak itu dan berputar-putar di pasar sampai 5 jam agar mendapat bahan murah dan bergizi untuk penghuni asrama. Harap dimaklumi bahwa masing2 kamar berlomba menyajikan makanan se enak2nya, karena kalau makanan kita tak enak, akan ditinggal penghuni dan mereka rame2 makan di luar. Makanan yang dimasak harus memenuhi aturan: untuk sarapan harus ada telor setengah atau diganti daging plus sayur. Makan siang terdiri dari sayur, telor/daging, buah, sambal, demikian juga waktu makan malam.

Setiap kamar juga mendapat giliran mengelola pembagian beras, teh, kopi dan gula. Pada bulan tertentu kamar kami dapat giliran, untuk mempermudah sudah ada aturannya berapa beras yang ditanak setiap hari. Bagi penghuni yang mau menginap di luar menulis dipapan tulis, sehingga kita tinggal mencatat jumlah penghuni yang ada ditambah 10 orang kemudian dibagi konstanta tertentu (saya sudah lupa), itulah jumlah beras yang harus di masak. Penjaga malam kebagian masak beras untuk pagi2, sedang siang dan malam hari dimasak oleh bibi tukang masak. Sedangkan kopi dan gula dibuat contong2 dari kertas, sehingga tiap pagi, siang dan sore kami tinggal mengeluarkan 2 contong teh, satu contong kopi dan dua contong gula. Ilmu ini ternyata sangat berguna saat awal saya memulai hidup baru, dan sebagai sarjana baru gaji masih sangat kecil, ada adik2 yang masih harus dibiayai sekolahnya, jadi saya mengatur kehidupan rumah tangga seperti di asrama.

Karena penghuni asrama terdiri dari berbagai suku, dan menganut kepercayaan yang berbeda-beda, maka kami sering melakukan acara2 keagamaan yang wajib diikuti oleh seluruh penghuni. Demikian juga acara2 lain, hal inilah yang membuat saya harus bisa mengatur waktu…tak boleh belajar mendadak, tapi setiap kesempatan yang ada harus belajar…karena kemungkinan ada acara yang wajib dihadiri, ada tugas memasak, yang semuanya menyita energi. Di satu sisi, saya belajar hidup bersama orang2 yang temperamennya sangat berbeda, yang kadang2 bisa menjengkelkan.

Selain hal yang berat, ada juga hal menyenangkan hidup di asrama. Pada akhir tahun kepengurusan, selalu ada uang sisa…maklum kami mengatur keuangan dengan ketat…dan uang itu bisa digunakan untuk piknik, atau dibelikan tas yang dibagikan pada masing2 penghuni, atau apapun sepanjang disetujui oleh rapat penghuni.

Pada awal tahun 1975 asrama kami kedatangan tamu dari asrama putra dan putri ITB, yang kemudian diajak keliling mengunjungi istana Bogor, Kebun Raya dll. Kunjungan ini diikuti pula kunjungan dari asrama putri UI (Wisma Rini) dan asrama putra UI. Kemudian dari APIPB dan asrama putra IPB membalas kunjungan tsb ke asrama ITB dan menginap semalam di Bandung. Paginya kami keliling ITB, mengunjungi Tangkuban Prau, Maribaya, Ciater dll. Pada kunjungan inilah saya ketemu seorang pria, yang nantinya akan menjadi suamiku. Ternyata kunjungan ke asrama UI juga menghasilkan pasangan, tapi saya tak tahu apakah pasangan tsb berhasil sampai kejenjang pernikahan apa tidak, karena sejak lulus kuliah, kami terpencar kemana-mana.

Iklan

12 pemikiran pada “Suka duka kehidupan di asrama putri

  1. Wakakaka, ceritanya kaya “cintaku dikampus biru” dong bu kalau lihat film yang jadul bgt itu settingnya di Asrama Putri Sagan, deket kostnya Narpati dulu di Jogja. Dan memang punya reputasi untuk cari jodoh. Nomor 2 setelah KKN.

    Ternyata dimana-mana sama aja ya 😛

  2. Hmm…dulu pestanya APIPB selalu ditunggu-tunggu terutama oleh para penghuni asrama putra. Jika bulan puasa, diadakan sholat Taraweh, imamnya juga dari asrama putra…cara sholatnya…4-4-3… dan tentu saja dipilih yang keren-keren. Bisa ditebak kan kelanjutannya?

  3. edratna

    Sayang nya APIPB sekarang udah dibongkar…jadi Mall
    Karena memang IPB sebagian besar fakultasnya pindah ke Darmaga, termasuk asrama putra dan asrama putrinya.

  4. effi athfiyani thaib

    ass ww. Mbak Enny, kangen saya terobati. saya penghuni APIPB, waktu sementara pernah di kamar L, bersebelahan dengan kamar M. waktu penghuni tetap saya di kamar B. Mbak apa kabar? semoga sehat, udah berapa cucu?. saya berdomisili di Lenteng Agung, Pasar Minggu, sehari-hari bekerja di Sekolah Tinggi Perikanan, Jakart. Mbak Enny , sampai jumpa, kapan ya.

    Effi
    ,
    Ini Effi yang merupakan cewek pertama kali memakai jilbab di IPB ya? Wahh senengnya….udah berapa tahun ya.
    Saya belum punya cucu, si sulung baru menikah dan kemudian melanjutkan kuliah, bersama-sama isterinya di Amerika. Nggak apa-apa Effi, lha ibunya aja umur segitu masih berkeliaran dimana-mana.
    Kapan-kapan kita ngobrol ya…bikin blog dong Effi….

  5. effi athfiyani thaib

    mbak, bener saya sama Mimi yang pertama pake kerudung di IPB, sekarang IPB sudah seperti pesantren. setelah mbak Enny tamat kayaknya kita tidak pernah jumpa lagi. Mbak bagai mana kabarnya mbak Endang Purbayanti ? dan Mbak Nia Tasmania ?

    Effi,
    Saya pikir Efi….bukan yang di kamar N? Sedih ya asrama kita sudah jadi Mall.
    Endang sekarang jadi dosen di UNDIP, sedang Nia sekarang jadi pengusaha sukses di Medan.
    Kalau ada reuni asrama asyik ya….tapi asramanya udah hilang…hehehe…zaman memang sudah berubah..

  6. cacaefi

    ass. ww. Mbak Apa kabar, baru ada kesempatan nyapa mbak Eny. Tgl 26 Okober 08 ibu saya berpulang Kerahmatullah, sedih mbak. Sekarang kalau pulang dari kantor, buka pintu dan sepi . . ., tidak ada yang menyapa. Dihari ibu ini saya sangat merasakan betapa ibu sebagai labuhan hati. Mbak baru sekarang saya rasakan betapa perjuang ibu demi kami begitu besar justru saat beliau sudah tiada. Hampir satu tahun kami merawat beliau dalam keadaan tidak berdaya karena stroke, tidaklah berarti bila dibandingkan dengan yang beliau berikan untuk kami. Pesan saya buat sahabat yang masih mempunyai orang tua, rawatlah mereka dengan rasa cinta karena sebesar apapun yang kita lakukan untuk mereka belumlah bisa untuk membalas semuanya. Mbak selamat hari ibu, selamat but mbak yang telah menjadi ibu yang baik buat anak-anak tercinta. Wass.

  7. mudjiati

    Alhamdulilah ketemu juga tentang APIPB tercinta,kapan kita reuni….
    Salam kangen

    moedji kamar I lulus 1981…

    Mudjiati,
    Jika lulus tahun 1981, berarti masuk tahun 1977 ya…saya keluar dari APIPB akhir tahun 1976, jadi mungkin kita tak pernah ketemu.
    Sayang asramanya udah hancur, dulu suka reuni di asrama tsb.

  8. perkenalkan, saya saqinah nur r, KSHE47.
    baca ceritanya, seru…
    Pas saya baca, Saya fikir ini adalah asrama putri darmaga (APD) mba.. , soalnya beberapa kejadiannya hampir mirip : dies APD, MPA (Masa Perkenalan Asrama) tapi ini cuma diadain beberapa hari aja dan itu ada “lucu-lucuan” yang kami sebut pensi, piket masak tapi sekarang nggak sebanyak itu mba tugasnya, Rapat penghuni, ada beberapa taplak dan vas bunga yang dibuat para alumni APD yang kami sewakan untuk berbagai kegiatan IPB, jalan-jalan, dmbl.
    sekarang, APD dihuni oleh mahasiswa tingkat 2 keatas mba.

    Beruntung mba, saya masuk APD, kebersamaan, kesederhanaan, saling berbagi, belajar menghargai dan banyak sekali pembelajaran yang didapat.

    Asrama yang saya ceritakan APIPB di Baranangsiang…sekarang udah dirobohkan dan jadi Botanic Square 😦
    Saya pernah menginap di asrama Kehutanan Dramaga….tapi asrama yang asli sebenarnya “agak serem” juga, kamarnya luas, juga kamar mandi nya…dan bagi yang peka, bisa melihat sesuatu di sana. Saya tak tahu apa asrama ini (bangunan kuno) masih ada, atau digunakan untuk aktivitas lain…karena dulunya memang kantor administratur perkebunan Belanda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s