Bagaimana membagi waktu sebagai ibu dan isteri, agar karir dan rumah tangga bisa berjalan bersama?

Pada abad 21 ini semakin banyak wanita yang berkarir di luar rumah. Dari pengalaman sebagai assessor saat wawancara dengan calon staf yang mau masuk ke perusahaan, hasil seleksi pendahuluan melalui lembaga konsultan, menunjukkan bahwa jumlah wanita yang berhasil lulus seleksi lebih banyak dibanding dengan pria.

Tulisan di bawah ini akan mencoba membahas bagaimana agar wanita pekerja, yang juga seorang ibu, antara karir dan keberhasilan membina rumah tangga dapat sejalan. Keberhasilan yang dimaksud disini, adalah karir ibu tetap meningkat, demikian juga karir ayah, sedang anak-anak sekolahnya juga berhasil.

a. Pembagian wewenang dan tanggung jawab

Bila ibu berkarir di luar rumah, tak perlu menjadi super woman dan semua tugas kantor maupun tugas rumah tangga dilakukan sendiri. Buatlah daftar, apa yang bisa didelegasikan kepada asisten (atau bisa juga keluarga/sepupu yang ikut tinggal di rumah), dan tak perlu segan meminta bantuan pada suami. Pada dasarnya tugas rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama suami isteri dan bukan hanya tanggung jawab isteri.

Lanjutkan membaca “Bagaimana membagi waktu sebagai ibu dan isteri, agar karir dan rumah tangga bisa berjalan bersama?”

Iklan

Meniti tangga karir

Banyak orang bertanya, pekerjaan apa yang cocok untuk saya? Mencari pekerjaan yang cocok sama seperti mencari jodoh, dan kita sering tidak tahu apa sebetulnya yang menjadi kekuatan dan kemampuan kita. Pada kondisi sekarang ini, kita bisa mengikuti tes psikologi, untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan kita, setelah itu baru kita mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat kita.

Setelah kita mendapatkan pekerjaan, bagaimana agar kita bisa meniti tangga karir sampai ke puncak? Di bawah ini saya kutipkan tulisan, yang dimuat di harian Kompas tgl. 25 Februari 2007, hal 37.

Lanjutkan membaca “Meniti tangga karir”

Bersahabat dengan anak, bisakah?

Saat saya masih seorang staf, saya ngobrol-ngobrol dengan isteri Direktur. Pada waktu itu kedua anak saya masih balita, sulit makan, dan juga mudah jatuh sakit. Saya bertanya kepada beliau, apa resepnya mendidik anak agar berhasil? Kebetulan, suami beliau karirnya bagus, dan putra-putrinya (3 orang) semua kuliah di universitas negeri, yang saat itu termasuk dalam Center of Excellent (UI, IPB, ITB,UGM, UNAIR). Beliau cuma tersenyum dan menjawab: “Jeng, yang penting harus selalu menjadi teman dan sahabat bagi anak. Kalau anak-anak masih kecil, masalahnya hanya sulit makan dan mudah sakit, tapi kalau anak sudah remaja kita harus banyak berdoa dan menjadi teman mereka”.

Lanjutkan membaca “Bersahabat dengan anak, bisakah?”

Jakarta tahun 1970 an

Pertama kali datang di Jakarta bersama ibu dan adikku tahun 67, Jakarta masih sepi sekali. Hotel Indonesia masih baru, juga Wisma Nusantara. Kedua kalinya pada pertengahan tahun 1970, karena awal tahun saya mulai mengikuti kuliah di Bogor.

Dari Bogor saya naik bis ke Jakarta. Jarak Jakarta- Bogor ditempuh dalam waktu 1 (satu) jam. Terminal bis saat itu di lapangan Banteng. Karena mau menginap di saudara sepupu yang menjadi WARA (Wanita Angkatan Udara), saya turun di perempatan Cawang, kemudian naik becak Rp.50,- ke kompleks Halim Perdana Kusuma, dan berhenti di pasar Ciplak (pasar yang berdiri persis disebelah kanan kompleks perumahan Halim Perdana Kusuma).

Lanjutkan membaca “Jakarta tahun 1970 an”

Bagaimana mengelola keuangan rumah tangga ?

Judul tulisan di atas sering dibahas di berbagai media, namun saya akan mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain.

Rumah tangga, yang di dalamnya ada suami, isteri dan anak-anak, merupakan unit keuangan yang terkecil. Pada dasarnya mengelola keuangan rumah tangga sama seperti mengelola keuangan di perusahaan. Pada umumnya saat awal menikah, sering terjadi kesulitan mengatur keuangan rumah tangga, yang berakibat terjadi deficit cash flow pada akhir bulan, karena pengelolaan keuangan belum tertata dengan baik, dan belum ada perencanaan secara komprehensip.

1. Buat perencanaan setahun ke depan.

Lanjutkan membaca “Bagaimana mengelola keuangan rumah tangga ?”

Stadion “Wilis” di kotaku

Jika kita bepergian di kota-kota di pulau Jawa, ciri khas yang ada adalah pada pusat kota terdapat alun-alun yang ditengahnya tumbuh pohon beringin kembar (sekarang sudah tak banyak lagi), terus dipinggir alun-alun berdiri bangunan Kabupaten, kantor Bank, pertokoan maupun gedung bioskop. Alun-alun merupakan pusat kegiatan, tempat dilakukan upacara, tempat pasar malam di waktu-waktu tertentu.

Bagaimana halnya dengan stadion? Stadion dikotaku terletak diujung timur kota, dijalan kearah Dungus (tempat sanatorium dilereng gunung Wilis), hanya berjarak 100 m dengan SMA I. Berbeda dengan alun-alun yang hanya saya sambangi sekali-kali, tidak begitu halnya dengan stadion Wilis. O, iya nama Wilis ini kemungkinan berasal dari gunung Wilis, karena kota Madiun berada diantara gunung Wilis disebelah timur dan gunung Lawu disebelah barat.

Lanjutkan membaca “Stadion “Wilis” di kotaku”

Perlunya bersikap assertive di dunia kerja

Assertive berasal dari bahasa Inggris, yang berarti tegas. Assertion= pernyataan yang tegas.Dalam kamus KBBI, tegas diartikan sebagai tentu dan pasti (tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar lagi).

Di dunia kerja, kita menghadapi berbagai macam sifat manusia, yang harus dapat kita kelola. Tidak terkecuali, kita juga akan mengalami berbagai macam sifat atasan yang memimpin kita. Mengapa kita perlu bersikap assertive? Agar siapapun akan memahami sikap dan perilaku kita dengan jelas dan tanpa ragu-ragu. Sikap assertive ini tak hanya diperlukan kita sebagai bawahan, tetapi juga sebagai atasan perlu bersikap assertive agar anak buah tidak mengartikan hal yang lain.

Lanjutkan membaca “Perlunya bersikap assertive di dunia kerja”