Restoran ala Rumah Sakit Pemerintah

Banyak orang mengatakan, berobat di rumah sakit pemerintah kurang puas apalagi kalau terpaksa dirawat inap. Pengalaman keluargaku membuktikan bahwa alasan tadi tidak masuk akal.

1. Anak bungsuku bibirnya robek.

Anak bungsuku jatuh di sekolah dan bibirnya robek, saya larikan ke rumah sakit swasta dan dijahit. Saat periksa berikutnya ke dokter bedah plastik, dokternya mengatakan, bahwa lain kali sebaiknya saya membawa anak saya ke UGD di RS Fatmawati, karena disitu tempat para dokter belajar untuk menjadi dokter spesialis, serta merupakan rumah sakit terlengkap di Jakarta Selatan, dan nomor dua di Jakarta.

2.Suami kena serangan stroke.

Lanjutkan membaca “Restoran ala Rumah Sakit Pemerintah”

Menapak karir di dunia perbankan

 

Akhir tahun 70 an

Saya bergabung dengan Bank pada akhir tahun 70 an, saat itu staf perbankan yang wanita masih sangat sedikit. Latar belakang pendidikan yang diutamakan adalah Sarjana Ekonomi dan Hukum, serta sebagian kecil Sarjana dengan latar belakang ilmu pertanian.

Sebagai pegawai baru, maka saya harus melalui pendidikan on the job training, yang dilakukan di kantor2 cabang Bank. Pada saat pertama kali melapor ke Pemimpin Cabang di daerah Jawa Timur, hampir seluruh pegawai memandang saya dengan keingintahuan yang sangat tinggi, yang semula kurang saya perhatikan. Ternyata saya adalah wanita pertama yang melakukan job training di kantor cabang tersebut. Saya amati, saat itu pegawai wanita ditempatkan di bagian teller (customer service) dan bagian administrasi. Sebagai calon analis kredit, saya harus menilai kelayakan usaha dari pemohon pinjaman, meninjau usaha2 kreditur, melakukan pembinaan agar jika terjadi permasalahan bisa segera diatasi.

Lanjutkan membaca “Menapak karir di dunia perbankan”

Perjuangan anakku melawan Demam Berdarah

Akhir-akhir ini Demam Berdarah kembali mewabah di Jakarta. Dan kalau selama ini kami bisa menjaga lingkungan dengan penyemprotan, kali ini harus diakui bahwa penyemprotan kurang efektif. Hasil penyemprotan dilingkungan tempat tinggal kami baru saja 2 minggu dilakukan, tetapi nyamuk malah terasa makin banyak.

Minggu, 29 Januari 2007

Sore hari anakku (Ari) mengeluh pegal-pegal dan minta diinjak-injak, hal yang sering saya lakukan karena badan anakku sudah besar sehingga tak kuat lagi untuk memijit. Saat satu kaki mulai menginjak badannya, anakku berteriak kesakitan. Saya terkesiap, langsung saya raba badannya, dan ternyata panas tinggi. Saya belum berpikir yang aneh-aneh, karena 2 minggu sebelumnya Ari terserang radang tenggorokan, dan karena hari Minggu, dia saya beri parasetamol untuk menurunkan demamnya.

Lanjutkan membaca “Perjuangan anakku melawan Demam Berdarah”