Perjuangan anakku melawan Demam Berdarah

Akhir-akhir ini Demam Berdarah kembali mewabah di Jakarta. Dan kalau selama ini kami bisa menjaga lingkungan dengan penyemprotan, kali ini harus diakui bahwa penyemprotan kurang efektif. Hasil penyemprotan dilingkungan tempat tinggal kami baru saja 2 minggu dilakukan, tetapi nyamuk malah terasa makin banyak.

Minggu, 29 Januari 2007

Sore hari anakku (Ari) mengeluh pegal-pegal dan minta diinjak-injak, hal yang sering saya lakukan karena badan anakku sudah besar sehingga tak kuat lagi untuk memijit. Saat satu kaki mulai menginjak badannya, anakku berteriak kesakitan. Saya terkesiap, langsung saya raba badannya, dan ternyata panas tinggi. Saya belum berpikir yang aneh-aneh, karena 2 minggu sebelumnya Ari terserang radang tenggorokan, dan karena hari Minggu, dia saya beri parasetamol untuk menurunkan demamnya.

Jam 21.00 wib Ari mulai menggigil, berarti ada yang tak beres, dan tak bisa ditunda lagi. Saya menelpon suami yang sedang keluar rumah agar segera pulang, untuk membawa Ari ke UGD. Jam 23.30 wib kami membawa Ari ke UGD di RS Fatmawati. Di sana orangnya penuh sekali, terlihat sekali bahwa banyak pasien yang kawatir kena DB. Saya segera mencari tempat tidur beroda, menempatkan Ari tidur diatasnya, terus mencari dokter untuk segera memeriksa anakku. Hasil test darah, thrombosit masih 227.000 (batas normal, minimal 150.000), suhu 39,9 derajat C. Menurut dokter kemungkinan anakku kena radang tenggorokan, yang bisa menyebabkan panas tinggi dan badan menggigil.

Senin, 29 Januari 2007

Hatiku belum tenang, sore hari saya membawa Ari ke dokter spesialis penyakit dalam yang praktek di klinik dekat rumah kami. Hasil periksa darah, thrombosit 182.000 dan paratyphus negatif, serta panas tetap tinggi (39,6 derajat C). Dokter mengganti obat yang diberikan, menyuruh agar Ari beristirahat yang cukup.

Selasa, 30 Januari 2007

Hari ini saya mesti menghadiri RUPSLB jam 14.00 wib dan tak bisa diwakili. Syukurlah suami mempunyai waktu sore hari untuk membawa Ari kembali ke dokter. Sebelumnya suami dan si mbak (yang momong Ari sejak SD) mengajak Ari test darah dulu,hasilnya thrombosit turun menjadi 176.000 dan panas tetap 39,5 derajat C. Sepulang dari mengikuti RUPSLB saya segera bergabung dengan suami di tempat praktek dokter spesialis di RS Fatmawati. Melihat hasil test darah 3 hari berturut-turut, dokter setuju agar Ari dirawat inap untuk dilakukan observasi. Sejak malam itu saya ikut menginap di rumah sakit menemani Ari.

Ari langsung diberi infus Otsu-RL, dan diambil darahnya jam 21.00 wib. Hasilnya, thrombosit menurun menjadi 166.000 . Malam itu Ari tidur gelisah, keluhannya pusing dan nyeri sendi otot, serta mual, gejala yang menurut dokter merupakan ciri2 DB. Saya mengusap-usap dahinya untuk menolong agar Ari merasa nyaman, walaupun Ari tak bisa tidur nyenyak.

Rabu, 31 Januari 2007

Hasil test darah, thrombosit 110.000 dan suhu 39,5 derajat C. Dokter menjelaskan bahwa masa kritis terjadi dalam 7 hari pertama, pada saat suhu tubuh menurun maka trombosit juga akan menurun. Yang perlu dijaga turunnya tak terlalu parah, dan jangan ada perdarahan agar bisa segera recovery, untuk itu harus minum air putih sebanyak-banyaknya.

Teman2 mengirim sms, menyarankan memberi minuman teh angkak, yang dibuat dari 2 sendok beras angkak dimasak sampai mendidih dengan 3 gelas air, sampai airnya tinggal menjadi satu gelas. Diminumkan sehari 3 kali, untuk meningkatkan thrombosit, selain juga diminumkan jus jambu biji yang berwarna merah. Saat sore itu temenku (p.Nengah dan bu Noor) menengok, Ari masih pusing dan minta matanya ditutup kain.

Karena panas tinggi, berkali-kali badan Ari berkeringat, sehingga ganti baju 2 jam sekali. Pukul 10 pagi Ari mulai muntah, yang syukurlah tak berkelanjutan. Namun Ari menjadi pusing karena bau teh, bau nasi dan tak doyan makan. Minum air putihpun terasa pahit. Hari itu dia saya paksa minum segelas teh angkak.

Kamis, 1 Februari 2007

Hasil test darah, thrombosit semakin menurun menjadi 94.000 dan suhu tubuh juga menurun menjadi 38,3 derajat C. Ari sulit menghabiskan makan pagi, saat p.Nengah dan bu Nengah mengunjungi membawa makanan, dia tak mau menyentuh makanan tersebut.

Hari ini Ari mulai muntah, pipis terus dan buang air besar sampai 7 kali sehari. Akhirnya diberi imodium (anti disentri) dan agar tak makan/minum yang asem2. Susupun distop, padahal Ari sudah tak berselera makan. Baju sering basah kuyup, dan panas mulai menurun, bahkan keluar keringat dingin. Saya deg2an, berdoa agar thrombosit tak turun terlalu rendah. Saya menilpon suami agar adiknya Ari ke Jakarta untuk menengok kakaknya. Sore hari temannya Ari di Fasilkom UI datang, namun Ari sudah tak banyak bicara karena lemas. Suster melarang Ari turun dari tempat tidur, dan jika kencing agar di pispot.

Kamis malam om, tante dan sepupunya menengok, tapi Ari hanya merem saja dan tak kuasa bergurau. Tengah malam Ari mengeluh sesak nafas, dan sakit di dada sebelah kanan, dokter jaga memberi pernafasan melalui oksigen. Malam itu berlalu dengan berat. Syukurlah malam itu saya ditemani si mbak, karena saya kawatir kalau terjadi apa-apa dan hanya sendirian.

Jumat, 2 Februari 2007

Suhu tubuh Ari menurun menjadi 37 derajat C, dan thrombosit drop menjadi 18.000. Saya panik tapi berusaha tenang. Ari rupanya juga mulai berpikir bahwa ada kemungkinan tak tertolong, jadi dia pesan ke ibu apa2 yang harus saya lakukan seandainya dia tak tertolong.

Dokter menyarankan minum air putih minimal 5 liter sampai besok pagi. Dokter juga menjelaskan bahwa sebetulnya obat DB hanya daya tahan tubuh, dan dengan minum air putih sebanyak-banyaknya, diharapkan racun akibat gigitan nyamuk yang mengandung virus Db dapat keluar bersama air kencing. Obat-obat yang ada untuk mengurangi symptomnya, seperti imodium untuk anti diare, parasetamol untuk obat penurun panas, Vomaran untuk anti mual dsb nya.

Disini saya sadar, bahwa kami harus berjuang untuk membuat Ari minum air putih sebanyak-banyaknya. Tiap 10 menit sekali Ari harus minum segelas air, kemudian keluar pipis, minum lagi begitu seterusnya. Untuk menjaga agar tak banyak gerak, saya membeli popok, sehingga Ari merasa nyaman. Tak terasa kuku saya sudah agak panjang dan sempat menggores kulit Ari, saya deg2an sekali, syukurlah tak apa-apa. Juga karet celana pendeknya membuat kulitnya mengelupas, karena thrombosit yang rendah, menyebabkan darah menjadi encer kekurangan butir darah merah, akibatnya mudah sekali perdarahan. bekas tusukan jarum suntik untuk ambil darahpun, melebar di kulit Ari. Saya membujuk Ari mau menggunakan sarung, dengan alasan lebih mudah bagi ibu jika mengganti popok, syukurlah Ari setuju. Saya bahu membahu dengan si mbak, bergantian tidur, menjaga Ari agar minum air putih terus menerus.

Suster mengajarkan cara relaksasi, dengan menarik nafas panjang, kemudian dihembuskan pelan-pelan untuk mencegah rasa mual ingin muntah. Dengan thrombosit rendah, muntah dapat menyebabkan iritasi, yang merangsang perdarahan. Syukurlah Ari menurut, dan berlatih pernafasan bersama suster.

Malamnya bu Ratih sekeluarga menengok, dan memberi berbagai vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Saya sangat berterimakasih atas dukungan rekan-rekan, agar kami bisa mengatasi DB. Hasil test darah jam 18.00 menunjukkan peningkatan thrombosit menjadi 43.000, saya bernafas lega, walaupun masih di bawah 50.000, batas risiko tinggi.

Sabtu, 3 Februari 2007

Hasil test darah jam 6.00 wib menunjukkan thrombosit turun lagi menjadi 27.000 dan suhu tubuh 37 derajat C. Saya tertegun, tapi saya harus membesarkan hati Ari. Siangnya sahabat Ari saat kuliah di UGM datang bersama istrinya. Ari sudah mulai makan sedikit dan tetap minum air putih dengan target 5 liter per hari.

Syukurlah test darah sore hari (pukul 18.00 wib) thrombosit naik menjadi 30.000 dan suhu tubuh 36 derajat C. Tetangga rumah, pak Suindiyo bersama nyonya datang, dan menceritakan bagaimana saat putranya kena DB, dan mendorong Ari untuk terus minum air putih.

Minggu, 4 Februari 2007.

Hasil test darah jam 6 pagi, thrombosit menurun kembali menjadi 29.000, suhu tubuh 37 derajat C dan tekanan darah 130/80. Saya merasa kecil hati, tapi berusaha tetap tegar. Siang hari temen adiknya, dan teman-teman Ari saat SMA datang menengok. Entah karena memang sudah merasa “agak enak” atau bagaimana, siang itu Ari mulai makan agak banyak.

Sorenya p.Junanto datang menengok, dan Ari minta dicarikan daun jambu yang katanya paling banyak khasiatnya untuk mencegah diare, karena kami masih kawatir terjadi risiko penurunan thrombosit lagi. Hasil test darah jam 18.00 wib, thrombosit meningkat menjadi 54.000. Kami bersyukur dan berdoa semoga tidak terjadi penurunan lagi.

Senin, 5 Februari 2007.

Dokter sangat gembira melihat hasil thrombosit yang meningkat, kartu bulatan merah (tanda bagi suster dan dokter bahwa pasien harus mendapat perhatian khusus) yang digantung didekat infus mulai dicabut . Dokter memperkirakan, kalau Ari tetap minum air putih 5 liter perhari, besoknya thrombosit diperkirakan naik di atas 110.000 dan lusa sudah akan mencapai diatas 150.000 dan boleh pulang.

Hasil test darah jam 6 pagi menunjukkan thrombosit meningkat menjadi 87.000. Ari sangat gembira, dia makan banyak, minum jus, makan buah, dan mulai bisa tidur nyenyak. Saya juga mulai bisa beristirahat, walaupun acara ganti popok 5 menit sekali tetap berjalan.

Sore hari saat temannya menengok, Ari sudah bisa bercanda bersama temannya. Ibu Yuni datang menengok, dia mendapat kabar dari teman-teman saya di Diklat.

Selasa, 6 Februari 2007

Hasil test darah benar-benar mengejutkan, thrombosit meningkat menjadi 180.000. Dokter saat memeriksa malah balik bertanya, resepnya apa mas kok bisa meningkat sepesat ini. Kata dokter, Ari sudah boleh pulang dengan pesan istirahat satu minggu dulu, dan tetap minum air putih sebanyak-banyaknya.

Kami lega dan bersujud memuji Nya, terimakasih ya Allah…Engkau telah memberikan perkenan Mu untuk memberikan kesempatan anakku meneruskan kehidupan di dunia ini.

Iklan

14 pemikiran pada “Perjuangan anakku melawan Demam Berdarah

  1. Saat saya nulis komentar ini, adik ipar saya di Jkt sedang berjuang melawan DB. Terimakasih ibu sudah menulis secara runut keadaan anak ibu selama terserang DB termasuk jumlah trombositnya, suhu badannya, dll. Saya jadi bisa membandingkan dengan keadaan adik ipar saya. Yg penting minum banyak air, ya…
    Saya sekarang jg sedang berdoa, supaya adik ipar saya berhasil mengalahkan DB.

  2. Mbak Ritha,

    Semoga adik iparnya cepat sembuh. Dengan penanganan yang tepat (minum air banyak, minimal 5 liter) , Insya Allah bisa mempercepat naiknya thrombosit, dan racun2 yang dibawa virus keluar bersama air kencing.
    Memang perlu perjuangan bagi si pasien untuk mau minum air banyak sekali. Dokter di Indonesia semakin mengenal penyakit DB, sehingga sepanjang tak terlambat dirawat di rumah sakit, sebagian besar pasien tertolong.

    Saya bersyukur ada tetangga yang mendorong semangat anak saya (keponakannya pernah kena DB dan tak tertolong), agar mau minum segelas air putih setiap 10 menit sekali . Dorongan keluarga dan teman2 juga sangat membantu. Menurut dokter sebetulnya minum pocari sweat sangat membantu, jika pasien tidak punya penyakit maag serta terserang diare seperti anak saya.

  3. rulianti

    Luarrrrr bias mba….perjuangan mb Eny. Alhamdulillah semua telah berlalu, tapi pesen saya….selalu antisipasi untuk semua penyakit, dan terutama…..kembali pada DIA. Salah satu terapi sehat yang Insya Allah saya lakukan (umur over sek), mencoba selalu bangun malam untuk memohon pada DIA, bangun pagi untuk memuja pada DIA, puasa senin kamis, untuk mengistirahatkan organ tubuh kita, kalau sholat coba tepat waktu, dan jangan mikir duniawi kebanyakan…seimbang. Olah raganya sederhana, jalan dimana saja, tmsk di mall…he..he.
    Untuk anak2 saya, saya punya kebiasaan, saya elus kepalanya, minimal seminggu sekali (saya biasanya lebih), kepalanya dipangkuan saya sambil saya bacain Al Fatihah……., saya doakan apa yang jadi hajat saya dan dia, dan dia mengaminkan. Mudah2an bisa share….bukan menggurui lho.Nwn.

  4. Sangat berguna mbak ceritanya…. saya heran kenapa sampai saat ini belum dapat mematikan atau minimal melemahkan pengaruh virus dengue…. Saya sendiri pernah kena dengue dan dirawat hampir 2 minggu di RS. Kakak saya juga pernah kena dan bahkan sampai ditransfusi sampai 70-an kantung darah. Keponakan istri saya meninggal karenanya. DB memang masalah besar!

  5. Mas Dono,

    Sama seperti typhus, Demam Berdarah Dengue belum ada obatnya, selama ini yang diobati adalah gejala sampingannya seperti panas, mual, diare, atau lainnya. DBD juga menyerang pasien dengan gejala yang tidak sama, ada yang diserang ususnya (seperti anak saya sehingga diare), ada yang livernya (anak tetangga saya), ada juga ginjalnya (suami mantan anak buah saya).

    Sepanjang gejala dapat dideteksi sejak awal dan tidak telat dibawa ke RS, pada umumnya dapat sembuh. Berapa lama di RS? Tergantung kekuatan daya tahan tubuh pasien, serta semangat hidupnya (tentu takdir juga). Jadi yang perlu adalah meningkatkan antibodi tubuh (vitamin), sedang racun yang berasal dari virus DBD dikeluarkan bersama air kencing. Oleh karena itu sangat disarankan minum air putih sebanyak-banyaknya minimal 5 liter/hari. Selain itu juga mesti menjaga agar pasien tidak turun dari tempat tidur, tidak muntah (anak saya thrombosit turun drastis karena muntah dan diare), tidak batuk. Disini saya bersyukur karena perawat membantu melatih anak saya untuk melakukan relaksasi, sehingga setiap kali mau batuk minum air putih sedikit, tarik nafas panjang dan dikeluarkan pelan-pelan. Begitu berulang-ulang, dan ternyata ini sangat berguna, karena sejak dilatih ini anak saya tidak muntah lagi.

  6. Ibu, apakah anak yang dimaksud ini adalah Narpati? *saya mengenalnya saat kami kuliah di Jogja dulu meski kami beda universitas*. Terus terang saya mendapatkan link blog milik ibu dari siggy anak anda di salah satu portal tempat biasa dia mangkal. Ada kekaguman dan rasa hormat yang diamdiam menyelinap di hati saya. Betapa tidak. Saya jadi membayangkan seandainya yang menuliskan ini mama saya, maka saya akan jadi tahu tentang apa yang ada di dalam benak yang selama ini mungkin tersembunyi. Tidak semuanya memang, tapi setidaknya jadi tahu tentang sisi lain atau pemikiranpemikiran yang mungkin selama ini tidak diduga sebelumnya. Dan anda mampu mengartikulasikannya dalam bentuk tulisan.

    Kemajuan teknologi ini juga anda manfaatkan sebaikbaiknya, share pengalaman anda melalui blog ini. Kagum saya dengan adanya lini tentang keterbukaan seorang ibu (orang tua dengan anaknya) yang mungkin saat ini agak sulit di dapatkan baik melalui dunia nyata ataupun sebentuk tulisantulisan di blog ini. Semoga kehidupan ibu dan keluarga senantiasa dipenuhi berkatberkatNya. Senang dapat membaca blog ibu dari seorang kawan saya. Tuhan memberkati.

  7. Etca,

    Iya betul, memang Narpati. Saya menulis di blog juga atas dorongan Narpati, belajar dari dia apa aturan main menulis diblog….mungkin Narpati kawatir ibunya stres setelah tidak aktif bekerja.

    Ternyata menulis di blog memang mengasyikkan, dan saya menjadi belajar, membuka buku manajemen, finance jika ingin menulis yang rada serius. Saya juga menulis, jika ingin berbagi cerita dengan anak dan teman2nya, maklum kadang walau satu rumah susah untuk mengobrol. Dan saya belajar YM agar bisa ngbrol dengan adik Narpati yang kuliah diluar kota. Serta menuliskan pengalaman jika ada tugas keluar kota…yang selama ini hanya disimpan dimemori otak saja.

    Dengan blog, banyak juga diskusi dengan teman2 yang hanya kenal didunia maya…sangat menarik. Etca sendiri sekarang tinggal di kota mana?

  8. Kok kita malah jadi ngobrol gini ya? 🙂
    Saya sekarang berada di Jakarta. Belum genap setahun, terhitung sejak Juli tanggal 3 kemarin. Maklumlah jadi buruh di sini. Sebenarnya saya juga tidak terlalu suka dengan Jakarta. Tetapi setelah srudaksruduk ke sana ke mari, mungkin memang inilah ladang yang Tuhan telah persiapkan untuk saya olah.

    Jogja hanyalah tempat saya kuliah sekaligus tempat yang punya andil besar untuk membentuk karakter saya. Mungkin sekitar tahun 2002 saya bertemu dengan putra anda dalam rangka kopi dadar. Hehehehe ini hanyalah istilah anakanak dunia maya. Lalu selama sekian tahun lamanya, baru beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dengan putra anda, atau tanggal 31 Maret 2007 lalu. (Saya sampai mengambil kalender duduk di atas meja kerja saya sambil mengingat² tanggal merah itu).

    Tahu gak? Betapa terperajatnya saya?! Hahahahahha, putra anda sangat jauh beda dengan waktu saya kenal tahun 2002 lalu. 5 tahun berlalu rupanya mampu merubah bentuk fisik sedemikian rupa. Sehatkan dia?
    Eniw, syukurlah, sejauh ini setidaknya karakternya tidak berubah dengan yang saya kenal dulu.

    Hmm, ibu. Untuk anak sesmart Narpati, kok belum lulus juga? 🙂

  9. rainy

    setelah diingatkan etca kalo narpati belum juga lulus, bu edratna menghajar habis2an hahaha… bercanda… maaf ya..
    nama saya rainy, saya termasuk orang yg juga pernah terkene DBD, sangat mengharukan, saat itu bulan ramadhan, keadaan tdk begitu jauh dg narpati yg selalu menunggu kabar mgnai naik atau turunnya thrombosit, dan juga jadwal pengambilan sample darah jam 4 pagi..
    tapi itu belum seberapa, hal yang lebih terasa sakit ialah melihat adik dan ibuku yang selelu menemani aku disisi tempat tidur, sahur dan buka puasa di rumah sakit, bahkan kapanpun saya merintih, ibu selalu sigap, kadang dengan mata yang terlihat berat,..
    udah deh mataku kini berat mnahan air mata, hehe….

    makasih ya bu… terima kasih banyak…

    Rainy,
    Berbahagialah mama dan adikmu, karena akhirnya Rainy selamat dari terjangan demam berdarah. Syukurlah, akhirnya Narpati lulus, dan sekarang sedang menunggu hari bahagianya

  10. ANDI HURIANDI

    Sungguh saya bangga dan kagum pada perjuangan Ibu utk berusaha menyelamatkan anak dari DB karena anak saya 10 thn meninggal karena DB tgl 28 Ags 2007. Utk hal tsb, kiranya mohon doanya agar anak saya diterima Iman & Islamnya oleh Alloh SWT. Amien. (Andi – 0812-2015764)

    Andi Huriandi,
    Kita harus percaya pada takdir, karena rumah sakit, dokter dan perawat hanyalah sarana. Ini yang ditekankan perawat dan dokter saat anak saya dirawat.
    Semoga putra bapak diterima arwahnya oleh Allah swt, dan dimudahkan dalam perjalanannya.

  11. hermina

    perjuangan yang hebat melawan DB.Saya dan 3 anak saya kena DB barengan. Saya bersyukur diberi kelangsungan hidup. semoga artikel ini menjadi salah satu pengetahuan buat siapapun yang blm tahu gejala DB. Semoga tertolong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s