Oleh: edratna | Februari 9, 2007

Perlukah mengambil kredit dari Bank?

Banyak orang yang mempunyai prinsip, bahwa jika mempunyai usaha sebaiknya hanya menggunakan modal sendiri. Hal ini tidak salah, tetapi perlu disadari bahwa keuangan perusahaan terbatas, dan pertumbuhan perusahaan tak bisa berlangsung pesat. Mengapa? Karena laba yang diperoleh perusahaan, pada umumnya sebagian besar diputar kembali dalam bentuk modal kerja , serta hanya sedikit yang dapat digunakan untuk investasi atau meningkatkan kapasitas produksi.

Dengan pengelolaan keuangan yang tepat, kredit Bank dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas usaha, selain mempunyai kegunaan lain, antara lain sebagai berikut:

1. Pembagian risiko

Dengan pembiayaan sebagian ditanggung oleh Bank ( umumnya sharing kredit Bank: untuk kredit investasi 65% dan kredit modal kerja 70%), maka apabila terjadi risiko maka pengusaha hanya menanggung risiko sebesar sharing dananya. Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan memisahkan antara harta perusahaan dengan harta pribadi, sehingga kalau terjadi sesuatu, debitur bisa bangkit kembali.

2. Transparansi

Dengan mendapatkan pembiayaan dari Bank, pengusaha dipaksa untuk secara rutin melaporkan posisi keuangan perusahaan, termasuk laporan piutang dan persediaan minimal setiap triwulan. Dengan membuat laporan keuangan, pengusaha dipaksa untuk belajar memahami kondisi perusahaan day to day, sehingga mengetahui secara persis jalannya perusahaan. Misalkan, mengapa perputaran piutang melambat, berarti ada piutang macet, sehingga perlu digalakkan penagihan piutang agar uang dapat diputar kembali.

Petugas Bank, umumnya diwakili oleh Account Officer, akan membantu pengusaha memahami laporan keuangan, mendiskusikan prospek usaha, karena Bank juga dituntut untuk melaporkan kolektibilitas kredit yang diberikan kepada Bank Indonesia. Dalam hal ini antara nasabah kredit dan Bank ibarat suami isteri, yang kalau perusahaan nasabah sakit, akan berakibat pada Bank. Oleh karena itu merupakan kewajiban Bank untuk memantau perkembangan usaha nasabah, agar baik nasabah maupun Bank sama-sama memperoleh keuntungan.

3. Meningkatkan disiplin

Pengusaha/perusahaan dipaksa untuk disiplin membuat perencanaan, mengatur keuangan sesuai anggaran, menyisihkan sebagian uang untuk membayar angsuran, membuat laporan keuangan, mengasuransikan barang2 yang mempunyai risiko, terhadap kebakaran, kebanjiran, gempa serta risiko lainnya.

Pengusaha juga disiplin mengatur capex (Capital Expenditure) , merencanakan secara jangka menengah atau panjang, perbaikan/investasi yang diperlukan perusahaan untuk meningkatkan produksi.

Bank akan memantau kondisi nasabah minimal 3 (tiga) bulan sekali (yang dilihat adalah kemampuan cash flow untuk membayar, dan prospek perusahaan). Karena uang Bank digunakan untuk mengembangkan perusahaan, Bank bertindak sebagai pengawas, konsultan maupun sebagai dokter bila perusahaan menunjukkan tanda-tanda penurunan, agar dapat segera dilakukan penyelamatan.

4. Peluang untuk mendapatkan networking

Bank memiliki nasabah yang bergerak diberbagai bidang usaha. Setiap periodik, Bank mengadakan “gathering” atau temu nasabah, yang dapat merupakan ajang saling kenal, dan mempertemukan antara supplier dan demand.

5. Peluang untuk meningkatkan pasar

Selain melakukan pemantauan, Bank juga akan membantu nasabah yang dinilai layak untuk mengembangkan usahanya, misalkan meningkatkan pasar keluar negeri. Disini peran Bank adalah membantu nasabah untuk memahami seluk beluk transaksi devisa dan menjaga agar pengiriman barang keluar negeri melalui transaksi L/C ( Letter of credit) sehingga dijamin pembayarannya, karena dari Bank to Bank.

Iklan

Responses

  1. Tentang “Pembagian Resiko”, saya masih kurang jelas maksud “pengusaha hanya menanggung resioko sebesar sharing dananya” itu bagaimana ya?

    Kalau usahanya kurang berhasil sampai dengan bangkrut dan kredit tidak bisa dibayarkan kembali, bisa mengajukan semacam “pemutihan”? * mungkin ini yang dimanfaatkan pengusaha nakal untuk sengaja ngemplang kredit ya? *

    Hehehe, jadi banyak nanya. Tapi banyak nanyanya karena saya mendapat banyak ilmu dengan membaca artikel-artikel ibu 🙂 Makasih ya.

  2. Mas Zalfany,

    Misal: A ingin membuat industri sulaman, perlu modal 4 mesin jahit senilai Rp.10 juta. Maka nasabah minimal harus mempunyai sharing dana Rp.3,5 juta sehingga kredit Bank Rp.6,5 juta.
    Apabila terjadi resiko, dan bangkrut, maka bila agunan dijual, Bank maksimal hanya mendapat pokok kredit yang belum lunas plus bunganya. Kalau Bank Syariah menghitung berdasar margin yang dihitung didepan (saat perjanjian kredit), misal 10 % fixed, sehingga kalau bangkrut akan ada pembagian risiko sebesar yang dikeluarkan masing-masing, risiko nasabah = 65% x (pokok+margin 10%).

    Mengapa 65%? Karena nasabah sharing dananya 35%, sehingga risiko dari pinjaman 65%. Disinilah perlunya pengusaha memisahkan harta perusahaan dengan harta pribadi, supaya rumah tinggal tidak ikut terjual.

    Hal tsb hanya dilakukan, jika benar-benar usaha tak dapat dijalankan lagi. Bagi Bank, terutama Bank BUMN, pada saat usaha nasabah menunjukkan penurunan, maka akan dilakukan restrukturisasi dengan 3 R (restructuring, reconditioning, rescheduling), agar usaha bangkit lagi. Mengapa demikian? Bank tetap menginginkan perusahaan bangkit kembali, yang berarti bisa men-generate cash flow dan menyerap tenaga kerja.

    Pemutihan tak dapat dilakukan, karena untuk membebaskan piutang bahkan walau hanya sebesar Rp.1,- Bank harus izin Menkeu sebagai pengelola keuangan negara, dan selama ini tak pernah disetujui. Yang bisa dilakukan adalah melimpahkan piutang macet ke BUPLN (Badan Urusan Piutang dan Lelang negara), kemudian BUPLN yang akan melelang piutang tersebut. Jika hasil lelang tak dapat menutup piutang macet, akan diterbitkan PSBDT (Piutang yang Sementara tidak dapat Ditagih), artinya di pengusaha tetap tercatat sebagai pengutang sampai utangnya lunas.

    Yang perlu disadari, tugas Bank hanya sampai meminta nasabah untuk menjual agunan/jaminan secara damai, yang harganya disepakati kedua belah pihak, dan hasilnya untuk menurunkan hutang serta sisanya untuk nasabah. namun sebelum kesini, masih banyak jalan perbaikan dengan 3 R, ada keringanan-keringanan sepanjang tidak menyentuh keringanan pokok pinjaman karena wewenang Menkeu.

  3. Sebentar deh, Bu..
    Kalau ada pembagian resiko seperti itu, berarti usaha kita yang dibiayai pinjaman oleh bank, sebagian sahamnya berarti dimiliki oleh Bank yah? Berarti Bank juga melakukan investasi pada usaha yang diberi pinjaman?

  4. Kund,

    Bisa diartikan seperti itu. Jika perusahaan besar, dan kemudian hutangnya bermasalah, Bank akan melakukan restrukturisasi agar perusahaan dapat berjalan kembali. Caranya antara lain, Bank bisa menempatkan salah satu managernya menjadi Direktur keuangan perusahaan tsb (disebut sebagai – equity participation . Atau bisa juga Bank mengambil alih saham sementara (disebut sebagai –convertible bond/share , apabila hal ini yang dilakukan artinya Bank ikut sebagai pemegang saham sementara. Dalam aturan Bank Indonesia hal ini dapat dilakukan, sampai dengan perusahaan mendapatkan laba.

  5. Oooh, begitu ya Bu. Tadi saya terpikir seperti Mas Kund, jadi bank seperti melakukan investasi ke usaha yang diberi kredit.

    Kalau boleh nanya lagi, secara konkrit bagaimana cara pemisahan harta pribadi dengan harta perusahaan itu ya? * pernah dengar cerita karena kredit macet rumah harus dijual 😦 *

    Makasih ya Bu. Ditunggu sharing-nya untuk masalah-masalah perbankan dengan bahasa yang “membumi” seperti ini. Sangat bermanfaat untuk orang awam seperti saya yang sangat mungkin akan perlu berhubungan dengan masalah-masalah seperti ini di kemudian hari.

  6. Mas Zalfany,

    Ada dua cara:
    1. Apabila mungkin, sejak awal keuangan perusahaan terpisah dari harta pribadi. Hal ini hanya mungkin bila lokasi usaha nasabah dapat dipisahkan dari rumah tinggal. Dengan pemisahan laporan keuangan, nasabah akan bisa memantau kondisi perusahaannya.

    2. Bila lokasi nasabah terpaksa menjadi satu dengan dengan rumah tinggal, maka nasabah harus benar-benar disiplin, caranya adalah membuat dua pembukuan yang berbeda, pembukuan perusahaan dan pembukuan rumah tangga. Ini yang sulit untuk nasabah UMKM, karena yang sering terjadi keuangan perusahaan tercampur dengan keuangan rumah tangga. Disini nasabah tak boleh mengganggu keuangan perusahaan untuk kebutuhan rumah tangganya, karena jika keuangan perusahaan terganggu akan mempengaruhi modal kerja yang berguna untuk meningkatkan omzet penjualan.

  7. saya yg agak pesimis adalah kemampuan bank untuk menjadi konsultan bisnis ketika bisnis sedang goyang.

    dalam perusahaan sendiri sudah ada tarik menarik kepentingan diantara share hoder, sehingga posisi konsultan biasanya hanya dibatasi sampai titik, gimana pinjaman nantinya bisa dikembalikan lagi.

  8. Papabonbon,

    Bank sebagai pihak ketiga dapat berperan aktif untuk menyelamatkan perusahaan, karena jika perusahaan tetap berjalan, selain pembayaran bunga Bank lancar, banyak tenaga kerja yang terserap.

    Sepanjang debitur masih menjadi nasabah Bank, maka Bank bertanggung jawab agar usaha nasabah makin lancar dan meningkat, karena kredit modal kerja diperlukan sepanjang usaha debitur masih berjalan dan kredit semakin besar bila usaha juga semakin besar.

    Jika kita mengamati kredit2 yang diberikan pada usaha mikro dan ritel, peran petugas Bank adalah mendidik debitur untuk membuat laporan keuangan sederhana, membuat perencanaan. Peran ini tetap berjalan sampai dengan pinjaman lunas, namun yang diharapkan oleh Bank apabila usaha debitur semakin besar. Apabila dicermati, debitur besar berawal dari usaha kecil, yang awalnya berasal dari debitur mikro dan ritel.

  9. Syarat untuk bisa pinjam/kredit di Bank untuk seorang mahasiswa yang mau memulai usaha itu bagaimana ya Bu? Jaminannya apa ?
    Terima kasih

  10. Ade,

    Credit berasal dari kata credere, yang artinya kepercayaan. Jadi intinya, pemberian kredit adalah memberikan kepercayaan, cuma harus sesuai dengan azas kepatuhan dan diperiksa oleh auditor, maka kepercayaan tadi harus dianalisis sehingga memenuhi kriteria terhadap kelayakan usaha (Five C’s).

    Dalam perbankan ada pemberian kredit kelayakan tanpa agunan, disini yang dinilai adalah kelayakan usahanya, dan pada umumnya diberikan kepada pengusaha kecil (maksimal Rp.50 juta), yang belum bankable, tapi usahanya layak sesuai kriteria perbankan.

    Jadi kalau Ade mau memulai usaha, tentunya harus punya modal usaha dulu, dimulai kecil2an, nanti kalau memang udah memenuhi kriteria perbankan baru dapat diajukan. Pada Bank BRI, ada kredit mikro, yang diberikan pada pengusaha kecil, dari warung soto, dagang pracangan, dan sering kreditnya dimulai dari Rp.5 juta. Tapi jika mereka memang bagus, dan layak, secara bertahap usaha makin membesar, dan nantinya naik kelas menjadi kredit ritel, kredit menengah dan banyak juga yang akhirnya masuk ke kategori kredit koperasi.

    Jadi memang harus ada share modal duluan. Selamat mencoba.

  11. Bu, bisa gak sertifikat rumah dijadikan anggunan untuk mengambil kredit bank?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: