Oleh: edratna | Februari 24, 2007

Bersahabat dengan anak, bisakah?

Saat saya masih seorang staf, saya ngobrol-ngobrol dengan isteri Direktur. Pada waktu itu kedua anak saya masih balita, sulit makan, dan juga mudah jatuh sakit. Saya bertanya kepada beliau, apa resepnya mendidik anak agar berhasil? Kebetulan, suami beliau karirnya bagus, dan putra-putrinya (3 orang) semua kuliah di universitas negeri, yang saat itu termasuk dalam Center of Excellent (UI, IPB, ITB,UGM, UNAIR). Beliau cuma tersenyum dan menjawab: “Jeng, yang penting harus selalu menjadi teman dan sahabat bagi anak. Kalau anak-anak masih kecil, masalahnya hanya sulit makan dan mudah sakit, tapi kalau anak sudah remaja kita harus banyak berdoa dan menjadi teman mereka”.

Cerita di bawah ini merupakan pengalaman saya, selain hasil diskusi dengan teman, dosen anak-anak, psycholog serta membaca dari buku-buku. Semoga ada yang bermanfaat. Pembahasannya dibagi dalam beberapa tahapan sesuai dengan perkembangan umur dan jiwa anak.

1. Anak pra sekolah

Pada usia pra sekolah, segala kegiatan anak dilakukan dengan bermain. Mendidik anak sebaiknya juga melalui permainan, sambil bermain, misal: mengajar mewarnai buku bergambar sekaligus menjelaskan jenis warna, mengajar berhitung dengan lagu. Atau bisa melakukan penambahan, pengurangan, dengan menggunakan alat bantu seperti balok kayu, atau kelereng.

Melatih anak berbicara bisa melalui dongeng saat mau tidur, membacakan buku cerita, mendengarkan kaset cerita. Jika anak sudah bisa menceritakan kembali isi cerita yang ada di kaset, kita baru membelikan kaset yang baru. Pada saat nonton televisi, sebaiknya ada yang menemani, dan membantu menjelaskan isi cerita yang ada di TV. Apalagi acara di televisi sering tidak layak ditonton oleh anak-anak kecil. Untuk menghindari hal ini, saya merekam acara yang bagus di TV (seperti Hi Man, Mahabarata dll), yang nantinya buat ditonton anak. Pada malam hari, sebelum tidur saya menyempatkan mendongeng atau mengobrol dengan anak, apa saja yang dilakukan hari ini. Anak pertama saya menyenangi cerita wayang, dia hafal sampai ke psikologi masing-masing tokohnya, adiknya sangat berbeda, lebih menyukai film kartun Jepang.

Setiap anak pada dasarnya mempunyai bakat di bidang seni (saya lupa, seingat saya baca di Kompas, mengutip pendapat pelatih paduan suara anak-anak dari negeri Austria), jadi kalau memungkinkan pada umur sekitar 3-4 tahun anak sudah bisa diperkenalkan dengan musik. Anak pertama saya latihan musik umur 6 tahun, sedang adiknya mulai berlatih piano umur 4 tahun karena ikutan kakaknya yang juga latihan piano. Apabila orangtua nya senang dengan olah raga, umur balita merupakan umur yang sangat mudah untuk dididik apabila sesuai dengan bakat dan minat anak.

Bagaimana jika anak melakukan kesalahan? Ajaklah anak berbicara, untuk mengetahui mengapa dia melakukan hal tersebut. Jangan menghukum anak melewati hari saat dia melakukan kesalahan, karena anak akan bingung, dan telah lupa kesalahan apa yang telah diperbuat. Di dalam setiap hukuman, upayakan agar anak memahami bahwa orang tua tetap sayang dengan mereka.

2. Anak pra remaja (SD-SMP)

Pada saat anak pertama saya kelas 1 SD (umur 6 yahun), sepulang sekolah dia bermain tanpa kenal waktu. Kemudian saya membelikan setumpuk buku bacaan, yang saya perkirakan baru habis dibaca selama seminggu. Ternyata dia sudah selesai membaca 2 (dua) hari dan terus bermain dengan teman-temannya. Majalah “Bobo”, “Tomtom” selesai dibaca dalam beberapa jam.

Akhirnya saya dan suami sepakat membelikan organ, dan mendaftarkan kursus di Yamaha. Karena saya tidak bisa memainkan alat musik (suami bisa main gitar, dan pandai untuk musik karawitan), dulu saya lebih suka menari, maka saya ikut berlatih membaca not balok. Saya ikut merasa stres, jika anak saya mau belajar musik dirumah dan hafal PR nya, saya memberi hadiah segelas minum teh atau sirup, serta kepalanya di elus-elus. Jika selesai kursus, saya mengajak anak mampir ke toko buku dan dia bebas memilih buku (setelah saya seleksi, tentunya) bacaan yang akan dibeli. Jadi dia rajin bermain musik, karena ada harapan ditraktir makan ibu dan dibelikan buku.

Kemudian saya bilang saya suami: “Mas, saya dulu senang latihan menari, karena mengharap ikut tampil jika ada gebyakan (pagelaran). Bisa nggak, anak kita ditampilkan dalam sesi sore hari, didepan mahasiswa?” Jadi suami menyelipkan anak pertama kami agar tampil di seksi kesenian mahasiswa, ternyata dia senang sekali, karena dipeluk dan digendong oleh para mahasiswa. Untuk adiknya saya lebih mudah karena sang kakak termasuk rajin mengajarkan ilmu ke adiknya. Saya kaget sepulang kerja, karena adiknya pamer sudah bisa membaca, latihan piano juga diajar oleh kakaknya. Jadi pada umur 4 tahun akhirnya sang adik ikut latihan piano. Sejak ada kegiatan musik, acara bermain anak saya ada batasnya, di waktu-waktu tertentu secara periodik mereka ikut konser di Yamaha. Jika libur sekolah, di Bandung sering ada lomba piano yang diadakan oleh Women International Club, kedua anak kamipun ikut. Kami mendiskusikan bersama anak jadual kegiatan dia sehari-hari, yang kemudian ditandatangani oleh orang tua dan dia sendiri. Acara TV apa saja yang ditonton, dan kapan jam bermain, ikut kursus dan kegiatan lainnya.

Karena suami menjadi dosen di Bandung dan saya bekerja di Jakarta, jika liburan sekolah tiba, anak-anak dikirim ke Bandung, dan boleh memilih akan ikut kegiatan apa saja. Bisa latihan musik, piknik atau latihan berenang. Jika kami pulang kampung atau ber wisata, anak-anak dibekali peta dan buku cerita tentang legenda tempat yang akan dikunjungi. Juga saat anak-anak telah belajar batuan, di gunung kami mendiskusikan batuan apa yang ditemui dijalan, terjadinya gunung, dsb nya.

Kedua anak saya sekolah di TK Negeri, yang kemudian dilanjutkan ke SD Negeri, maka setiap sore hari mereka ikut sekolah Madrasah di Al Iqlas. Kegiatan ini menyita waktu anak-anak kami, tapi karena sebelumnya sudah didiskusikan dan disepakati bersama, mereka mengerjakan dengan riang. Di satu sisi memudahkan saya, karena sepulang Madrasah, tak lama kemudian saya juga pulang kantor.

Ada hal yang menarik saat anak pertama kami sekolah di SD Negeri. Ibu Kepala Sekolah mengatakan kepada saya, bahwa saya harus membuat anak-anak mandiri (membiarkan mereka membuat PR tanpa ditemani dan biarkan sesekali berbuat salah, agar mereka mampu berpikir mana yang benar, dan mana yang salah), agar apabila saya tugas keluar kota atau sakit, anak-anak tak merasa kehilangan dan tetap dapat melakukan tugasnya dengan baik. Saran ibu Kepala saya ikuti, dan saya harus bisa menerima kalau kadang-kadang anak saya dihukum karena tidak membuat PR.

3. Anak remaja (remaja muda s/d dewasa)

Orang menyatakan bahwa masa remaja adalah masa yang paling menyenangkan dan tak terlupakan. Namun bagi para orang tua masa anak kita remaja adalah masa yang membuat hati dag dig dug, karena banyaknya godaan disekitar anak, dan yang paling berbahaya adalah narkoba. Pada masa-masa ini sebulan sekali saya menghadap Kepala Sekolah, hanya untuk menanyakan apakah anak kami tak melakukan hal-hal di luar batas.

Hubungan orangtua yang dekat dengan anak merupakan kunci agar anak tak terjerat dengan narkoba. Pada dasarnya anak ingin dihormati, dihargai dan disayangi. Lebih baik teman-teman anak yang bermain kerumah, dan kita bisa menyediakan makanan, dibanding bila anak kita yang bermain kerumah mereka. Syukurlah saya mengenal baik teman-teman anak, beserta alamat rumah dan nomor teleponnya. Saya juga menganggap teman anak seperti anak sendiri, sehingga mereka tidak segan untuk datang kerumah.

Saat anak-anak masuk SMA, sekolah sering mengadakan pertemuan dengan orang tua murid, disini saya berkenalan dengan para orang tua, dan mengobrol bagaimana agar kita bisa mengenali secara dini bila anak mulai menunjukkan gejala yang tidak biasa. Syukurlah anak kami pada dasarnya tidak terlalu suka keluar rumah, karena lebih suka membaca. Acara keluar rumah pada umumnya hanya ke toko buku, makan di luar dan menonton, itupun sering dilakukan bersama ibu atau mbak nya, yang momong dia sejak kecil. Saat belum waktunya menonton film dewasa, namun begitu inginnya dia menonton karena teman-temannya sudah menonton, disepakati bahwa dia boleh menonton ditemani ibu, namun pada adegan tertentu yang dia belum boleh melihat, matanya ditutup oleh tangan ibu.

Anak-anak bebas cerita tentang teman di sekolah, apa saja yang dikerjakan, dan disini diperlukan kematangan orang tua agar kita tak menunjukkan kekagetan bila dalam cerita tadi ada hal-hal yang diluar dugaan kita. Bila kita merasa anak-anak sudah “agak jauh”, buatlah acara keluar kota bersama keluarga, yang bisa merekatkan kembali hubungan ayah ibu dan anak-anak.

Tak terasa anak-anak mulai masuk dunia mahasiswa dan tidak bisa di monitor kegiatan nya sehari-hari. Untung pada saat ini telah ada hand phone dan fasilitas sms. Pada waktu anak mulai senang main internet, saya ikut belajar internet dan berlangganan internet di rumah, agar kami bisa saling berkirim email, atau chatting melalui YM. Saat anak kedua (wanita) mulai kuliah di ITB, dan anak sulung di UI, pentingnya internet sangat terasa. Saat anak sulung saya melanjutkan kuliah di UQ, dia mengundang ibu untuk ikut milisnya, saya ikutan milis Uqisa (University of Queensland) dan iisb (Indonesian Islamic Student of Brisbane), sehingga saya dapat memantau kegiatannya, malah mempunyai teman2 dari dunia maya yang sedang melanjutkan kuliah S2-S3 di Bne. Demikian juga saya ikut milis IOM ITB, beberapa orang tua yang tinggal di Jakarta, melakukan pertemuan dan menjadi sahabat, serta sharing pengalaman bagaimana agar anak-anak berhasil di Perguruan Tinggi. Saya ikut juga menjadi anggota friendster, menjadi temannya anak, agar bisa melihat apa komentar teman-temannya terhadap anak kami. Pada akhirnya saat saya sudah mulai tidak aktif lagi bekerja seperti dulu, anak kamilah yang mendorong saya untuk memulai menulis blog ini.

Sangat menyenangkan berteman dan bersahabat dengan anak, kita menjadi merasa masih muda dan ketawa-ketawa bersama anak. Dan anak sulung saya yang menjadi kritikus atas tulisan-tulisan yang saya tulis di blog.

Terimakasih Tuhan, saya telah diberi karunia anak-anak yang manis, yang membuat dunia ini makin terasa indah. Tulisan ini dimaksudkan untuk sharing dengan pembaca, bahwa berteman dengan anak adalah “sangat indah” dan membahagiakan.

Iklan

Responses

  1. Waaaaa… makasih Bu, request langsung dikabulkan begini :).

    Kalau pengalaman saya sendiri (sebagai anak, belum sebagai orang tua), saya baru bisa benar-benar dekat dengan orang tua setelah saya jauh (hehe.. bingung). Maksudnya setelah saya kuliah dan tinggal terpisah dari orang tua, baru kerasa deh enaknya punya orang tua :D. Mungkin juga karena saya sudah lebih dewasa (dan mungkin mereka menganggap saya sudah dewasa juga), jadi bisa nyambung deh ngomongnya.

    Tapi saya berharap untuk anak kami nanti, ga perlu sampai tahap harus ‘jauh’ dulu baru bener-bener dekat seperti saya ini :).

    Love my mom and dad. * duh, jadi kangen πŸ™‚ *

    Eh iya Bu, tentang hukuman yang bisa tetap menunjukkan kalau orang tua sayang, jadi penasaran dulu Narpen dan Narpati bentuk hukumannya apa aja? πŸ˜€ [kalau sekarang dah gede gini, baru sadar emang kalau dulu orang tua marah2 atau ngasih hukuman, itu karena kesalahan kita sendiri, dan maksudnya memang untuk membuat kita lebih baik. Tapi pas dulu dimarah2in.. boro2 mikir gini :D]

  2. Zalfany,
    Bersahabat dengan anak bisa dimulai sejak anak lahir. Bahkan secara ilmu pengetahuan, sejak nyawa bayi ditiupkan, orang tua sudah bisa mulai memperdengarkan musik, berdoa untuk calon bayinya (hmm..ngomong-ngomong apa nyonya sudah mulai berbadan dua?)

    Kebetulan ayah ibu sangat demokrat ke anak-anaknya, ini yang saya terapkan kepada anak-anak. berikan hukuman sesuai kesalahan anak, bisa dicubit, di jewer, atau hukuman nggak boleh main. Yang penting jangan sampai memukul kepala, karena bisa berakibat fatal. Juga yang penting orangtua harus konsisten dalam mendidik, melarang maupun menghukum, sehingga anak tidak menjadi bingung.

    Menjadi orangtua juga tidak lepas dari kesalahan-kesalahan, dan kita wajib minta maaf kepada anak, atau kalau anak telah cukup memahami menanyakan sesuatu yang kita tak tahu jawabnya, maka kita harus jujur pada anak. sejak SD anak-anak saya sudah tahu bahwa bapak ibunya bukan yang ter……., sehingga kalau dia butuh jawaban, jawaban saya sering dimintakan second opinion ke tetangga dekat yang adik kelasku (anaknya pandai, dan akhirnya menjadi salah satu Direktur Bank BUMN)

  3. wah memang asik kalau kita bs jd teman bg anak-anak kita sendiri. Sy jg biasa menerapkan hal tsb di keluarga saya, jg terhadap murid-murid saya .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: