Mengunjungi kota Banda Aceh setelah 2 tahun 3 bulan pasca tsunami (bagian ke-2)

masjid-raya-baiturrahman.jpgMasjid Baiturrahman.

Masjid Raya Baiturrahman merupakan pusat kegiatan masyarakat Banda Aceh. Persis disebelah kiri masjid, terdapat lokasi pasar Aceh, yang tidak pernah terhenti kegiatannya. Teman-teman yang datang duluan menceritakan, sampai jam 2 pagi kegiatan didepan Masjid Raya masih ramai dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual berbagai barang dagangan. Masjid Raya terlihat lebih indah di malam hari, dengan lampu yang terpendar-pendar. Saya janji dengan teman untuk sholat Isya di masjid Raya, sholat Isya dimulai jam 20.05 wib, kemudian bertemu dengan teman-teman yang mendapat tugas di Banda Aceh. Seusai sholat, kami mencoba makan malam khas Aceh di Lambaro, makanan khas nya adalah ayam tangkap (atau kata teman-teman ayam sampah). Ayam dimasak bersama dengan daun tumuru…hmmm rasanya enak sekali. Juga ada makanan khas lain, seperti kuah asam keeung (daging atau ikan dimasak dengan kuah dan pedas), sambal belacan (yang mirip dengan ”semayi” di Jawa) yang dibungkus daun pisang, serta Pleuk-u (semacam sayur lodeh khas Aceh, terdiri dari: daun melinjo, nangka muda, tomat, kikil yang dicampur jadi satu). Makanan jajanan yang umum dijual adalah kueh bolu berbentuk ikan (pernah dimuat di harian Kompas).

 

sulthan-hotel-yg-selamat-dari-tsunami.jpgSulthan Hotel.

Saya menginap di Sulthan Hotel, yang letaknya di jl. Sulthan Hotel no.1, berbatasan dengan jalan Panglima Polem. Lokasi ini dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman, sehingga setiap kali waktu sholat, orang lebih suka sholat berjamaah di masjid. Sulthan Hotel dibangun tahun 80 an, saat terjadi tsunami, gelombang air yang besar memukul ruko-ruko yang mengeliling hotel, sehingga saat memasuki hotel air tak terlalu deras. Lanjutkan membaca “Mengunjungi kota Banda Aceh setelah 2 tahun 3 bulan pasca tsunami (bagian ke-2)”

Mengunjungi kota Banda Aceh setelah 2 tahun 3 bulan pasca tsunami (bagian 1)

 

 

Mendapat tawaran mengajar di Banda Aceh merupakan suatu karunia, karena sejak bertahun-tahun yang lalu saya sudah bermimpi ingin berkunjung ke Aceh. Menurut teman-teman yang pernah ditempatkan di wilayah Aceh, propinsi paling ujung utara barat di Indonesia ini daerahnya sangat indah, pantainya hijau kebiruan, diseling dengan tanaman hijau menghampar. Saya telah mengunjungi propinsi dari Medan sampai Manado dan Jayapura, justru propinsi Aceh yang belum mendapat kesempatan. Bisa dibayangkan betapa hati ini langsung berdebar, ingin segera sampai kesana.

Saya berangkat naik pesawat Boeing 737-400 Garuda GA 184 jam 9.00 wib dari bandara Sukarno Hatta, dan transit 30 menit di Medan. Perjalanan menyenangkan, cuaca cerah, pramugari dan awak kabin lainnya ramah.Terasa ada perbedaan setelah kecelakaan Garuda di Yogya bulan Maret 2006 yg lalu, saat check in penumpang harus menunjukkan kartu identitas, dan sebelum pesawat take off pemberitahuan agar semua hand phone dan barang elektronik lain agar dalam posisi off, dilakukan ber ulang-ulang. Demikian juga awak kabin memberi perhatian khusus dan menjelaskan pada penumpang yang duduk didekat jendela darurat, bagaimana prosedur membukanya jika ada kejadian darurat. Penumpang juga lebih tenang, dan berdoa agar penerbangan ini selamat sampai ke tujuan. Perjalanan dari Jakarta ke Medan memerlukan waktu 1 jam 59 menit, serta dari Medan ke Banda Aceh 45 menit.

Lanjutkan membaca “Mengunjungi kota Banda Aceh setelah 2 tahun 3 bulan pasca tsunami (bagian 1)”

Apa perbedaan dan kegunaan pembiayaan untuk investasi dan modal kerja?

Pernahkah memperhatikan arus proses bisnis di suatu perusahaan?

Misalkan A berusaha dibidang perdagangan kelontong. Pada awalnya A membeli barang persediaan dari uang yang berasal dari modalnya sendiri, kemudian barang tsb dijual. Apabila barang laku, dan dibeli secara tunai, maka akan kembali berputar menjadi kas. Sedangkan jika dibayar secara angsuran, maka terjadi piutang. Satu siklus dari kas……persediaan…piutang… kembali menjadi kas …disebut sebagai satu siklus perputaran usaha.

Lanjutkan membaca “Apa perbedaan dan kegunaan pembiayaan untuk investasi dan modal kerja?”