Pariwisata dan keamanan, berbanding lurus?

Saat mendapat kesempatan mengajar di Nusa Tenggara Barat (Pulau Lombok) tanggal 25 April 2007, saya bersama teman-teman berkeliling dan mengamati kondisi kota Mataram. Kodya Mataram terdiri dari: kota Ampenan (merupakan kota pelabuhan lama), kota Mataram yang merupakan ibu kota propinsi dan Cakranegara (yang dulunya merupakan kerajaan). Kodya Mataram lumayan ramai, banyak pepohonan dikiri kanan jalan, serta telah ada Mall di tengah kota.

Ini kedua kalinya saya mengunjungi Mataram, yang pertama tahun 2003. Saat itu saya tidur disebuah hotel di pantai Senggigi, dari kapasitas 500 kamar hanya ada 10 orang tamu….benar-benar sepi sekali. Kali ini saya dan teman-teman satu tim lainnya tidur di hotel yang lokasinya tepat dibelakang Mall, ditengah kota. Occupancy rate diperkirakan mencapai di atas 80%. Ruang meeting penuh digunakan untuk training, seminar, baik dari lembaga pemerintah maupun lembaga pendidikan lainnya. Selain itu ada beberapa grup rombongan wisata, sehingga saya perkirakan pariwisata di Lombok telah pulih kembali.

Saat selesai makan malam di Rumah makan Dua M, yang khusus menjual makanan khas Lombok, saya bersama teman memutari kota Mataram sampai sekitar jam 9.30 WIT, dan terlihat kota masih ramai. Esok harinya saya menyempatkan diri melihat Batu Bolong dan kemudian ke pantai Senggigi, hanya ketemu satu dua turis asing yang membawa peralatan surfing. Dari hasil ngobrol dengan penjual cindera mata di pantai, para turis belum kembali seperti semula dibanding sebelum terjadi kerusuhan tahun 2001. Padahal di pantai Senggigi banyak sekali hotel yang telah dibangun, dan saat ini beberapa hotel terpaksa mengurangi pegawai, bahkan ada yang terpaksa tutup. Kerusuhan terjadi di kota Mataram, dan pantai Senggigi berjarak 10 km dari kota, tapi bagi turis keamanan adalah nomor satu.

Betapa kita harus memperhatikan masalah ini, apalagi kadangkala timbulnya masalah karena dipicu oleh hal yang sepele, tapi akibat yang terjadi benar-benar tak terbayangkan. Pemda NTB perlu bekerja keras untuk lebih mempromosikan keindahan alam, dan hasil seni, serta menjamin keamanan daerahnya, agar pariwisata di NTB segera bangkit kembali.

2 pemikiran pada “Pariwisata dan keamanan, berbanding lurus?

  1. Jenis kerusuhannya berbeda. Kota Solo memang segera pulih, karena tidak tergantung pada turis mancanegara, karena turis domestik pun senang berkunjung ke Solo (makanannya enak, dan kota Solo hidup selama 24 jam). Seperti Bali, segmen pasar yang dituju di Lombok sebagian besar adalah turis mancanegara. Sebelum kerusuhan, bahkan dibilang, turis lebih menyukai pantai Senggigi yang masih asli, bersih, suasana tenang…dan jelas yang lebih menyukai adalah turis mancanegara. Wisata di Lombok menawarkan wisata alam, sedang turis domestik cenderung lebih suka wisata belanja.

    Konon untuk Gili Trawangan saat ini sudah kembali semula, karena turis tertarik dengan diving, dan karena merupakan pulau yang terpisah, keamanan lebih terjamin. Ini mirip dengan Wamena, yang banyak adalah turis dari Eropa dan Jepang, karena mereka senang melihat situs dan budaya. Sedang turis Amerika dan Australia, lebih suka keramaian, berselancar , di cafe dll….sehingga Bali dengan pantai Kuta sangat menarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s