Mengajar itu sama dengan belajar

Ada korelasi positif terhadap peningkatan kompetensi bagi seorang pengajar yang sering memberikan ceramah pada seminar, atau mengajar pada pendidikan di berbagai perusahaan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

1. Pengajar berperan sebagai fasilitator
Mengajar orang dewasa tentu berbeda dengan mengajar pada anak kecil, maupun mengajar pada mahasiswa. Pendidikan bagi orang dewasa, harus dibuat sedemikian rupa, sehingga situasi kelas tidak membosankan, dan ada komunikasi dua arah. Di satu sisi pengajar harus menguasai materi yang disampaikan, dan bertindak sebagai fasilitator, dan harus pandai menangkap sifat kelas yang diberikan pengajaran pada saat itu. Ada kelas yang partisipannya begitu menonjol, aktif dan banyak diskusi, disini peran pengajar hampir mirip fasilitator atau moderator, namun kita juga harus mampu mengarahkan kelas agar tak terjadi debat kusir. Pada kelas yang aktif, banyak pertanyaan tak terduga, dan kadang-kadang pengajar sendiri belum mengetahui jawaban yang tepat. Jika ini terjadi, diperlukan seorang pengajar yang bijaksana, sehingga tidak terkesan bahwa pengajar tidak mampu menguasai kelas.

Lanjutkan membaca “Mengajar itu sama dengan belajar”

Iklan

Di suatu pagi hari

Pagi-pagi….

Habis bangun pagi, sholat Subuh, …ehh…kok perasaan ada yang aneh ya. Tas si sulung tergeletak di meja, isinya sebagian berhamburan. Apakah itu, benda putih-putih menyerupai bubuk? Saya mulai deg-degan, berjalan mengendap-endap agar tak ada yang terbangun…mencium-cium benda putih tadi…tak ada baunya. Hati tambah deg-degan….jangan-jangan….aduhh…langsung migrenku kambuh.

Setelah ambil nafas, pelan-pelan saya menguatkan hati, dan mulai membangunkan si sulung.

“Mas….mas, bangun mas, udah siang”
“Hmm…….”
“Mas,…..bangun doong….”, udah makin kenceng

Dia mulai mengucek-ucek matanya.
“Mas, ibu mau ngomong dulu….”
“Ada apa bu,” …..sambil matanya bertanya-tanya
“Mas, ibu tetap sayang sama mas…apapun yang terjadi, mas tetap anak ibu”….bingung mulai dari mana.
“Iya, bu…” sambil kelihatan bingung
“Mas, apa sih yang ada diplastik dan berwarna putih? Mas nggak perlu takut, ibu nggak marah kok…manusia kan bisa berbuat salah, kita cari jalan keluarnya ”
” Ibu ngomong apa?”…sambil pelan-pelan bangkit
” Ini lho nak, benda apakah ini?”

“Oooo…. itu rinso bu”
????….agak-agak bingung
“Ibu tak percaya? Coba aja di test”‘…sambil jalan ke arah wastafel

“Ini bu, lihat…airnya berbusa,” katanya
“Mengapa ada rinso disitu, nak?”
“Kemarin dibawa kesekolah, bu”
“Kenapa?” …masih tak begitu mengerti, apa hubungan rinso dan sekolah
“Ceritanya panjang bu…..saya mencoba kayak spiderman, dan ternyata ada bekas telapak kaki saya ada didinding sekolah. Terus Ibu Kepala Sekolah nanya, siapa yang latihan spiderman disini? Saya mengaku bu, dan oleh beliau disuruh membawa rinso untuk dibersihkan….udah beres kok bu, kemarin temboknya udah saya bersihkan.”

Aduhh leganya…saya pikir narkoba.
(yang tidak pernah tahu bentuk narkoba seperti apa).

Apakah lingkungan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku?

1. Mengapa memahami perilaku sangat penting?

Untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan bantuan berbagai macam ilmu pengetahuan. Ilmu fisiologi, mempelajari tingkah laku manusia, dengan menitik beratkan sifat-sifat yang khas dari organ-organ dan sel-sel yang ada dalam tubuh. Sedangkan sosiologi, mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku dan perbuatan manusia dengan menitik beratkan pada masyarakat dan kelompok sosial sebagai satu kesatuan, dan melihat individu sebagai bagian dari kelompok masyarakat ( keluarga, kelompok sosial, kerabat, clan, suku, ras, bangsa). Di antara dua kelompok ilmu pengetahuan ini berdiri psikologi, yang membidangi individu dengan segala bentuk aktivitasnya, perbuatan, perilaku dan kerja selama hidupnya (Kartini, K., 1980). Selanjutnya Kartini menyatakan, bahwa fisiologi memberikan penjelasan mengenai macam-macam tingkah laku lahiriah, yang sifatnya jasmani. Sedangkan manusia merupakan satu totalitas jasmani-rohani. Psikologi mempelajari bentuk tingkah laku (perbuatan, aktivitas) individu dalam relasinya dengan lingkungannya.

Lanjutkan membaca “Apakah lingkungan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku?”