Oleh: edratna | Mei 4, 2007

Mengajar itu sama dengan belajar

Ada korelasi positif terhadap peningkatan kompetensi bagi seorang pengajar yang sering memberikan ceramah pada seminar, atau mengajar pada pendidikan di berbagai perusahaan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

1. Pengajar berperan sebagai fasilitator
Mengajar orang dewasa tentu berbeda dengan mengajar pada anak kecil, maupun mengajar pada mahasiswa. Pendidikan bagi orang dewasa, harus dibuat sedemikian rupa, sehingga situasi kelas tidak membosankan, dan ada komunikasi dua arah. Di satu sisi pengajar harus menguasai materi yang disampaikan, dan bertindak sebagai fasilitator, dan harus pandai menangkap sifat kelas yang diberikan pengajaran pada saat itu. Ada kelas yang partisipannya begitu menonjol, aktif dan banyak diskusi, disini peran pengajar hampir mirip fasilitator atau moderator, namun kita juga harus mampu mengarahkan kelas agar tak terjadi debat kusir. Pada kelas yang aktif, banyak pertanyaan tak terduga, dan kadang-kadang pengajar sendiri belum mengetahui jawaban yang tepat. Jika ini terjadi, diperlukan seorang pengajar yang bijaksana, sehingga tidak terkesan bahwa pengajar tidak mampu menguasai kelas.

2. Buat perencanaan yang matang
Persiapan yang matang akan sangat menunjang keberhasilan dalam menyampaikan pengajaran. Pengajar yang baik, akan mempersiapkan bahan ajar, dengan kedalaman materi sesuai tujuan yang akan dicapai. Pengajar juga harus menguasai teknologi agar penyampaian bahan ajar menarik. Apabila bahan ajar telah siap, pengajar mempersiapkan berbagai alternatif kemungkinan. Misalkan, dengan menyiapkan berbagai jenis latihan, dengan tingkat kedalaman berbeda, sehingga kelas seperti apapun bisa dikuasai. Merupakan hal yang biasa, bahwa saat kita ditunjuk sebagai pengajar, persepsi di awal sangat berbeda dengan keadaan/kenyataan yang ada di kelas, sehingga pengajar harus bisa menyesuaikan diri. Pengajar juga harus mandiri, karena jika ditunjuk sebagai pengajar, apalagi jika pendidikan dilaksanakan diluar kota, maka pada umumnya lembaga yang didatangi hanya menyediakan fasilitator, yang berfungsi mengatur dan mengontrol terselenggaranya pendidikan di kelas. Sedangkan hal-hal lain, seperti mempersiapkan bahan ajar, sampai penayangan di depan kelas, benar-benar harus dapat dilaksanakan oleh pengajar itu sendiri tanpa bantuan pihak lain.

3. Evaluasi
Pada umumnya honor pengajar “sangat memadai” sehingga pihak penyelenggara ingin mendapatkan hasil sebaik-baiknya. Apabila hasil evaluasi dari para partisipan di kelas, ternyata kurang memenuhi harapan, maka pengajar tadi tidak akan dipakai lagi. Oleh karena itu pengajar harus berusaha sebaik-baiknya agar dapat menyampaikan pengajaran sesuai yang diharapkan pihak penyelenggara.

4. Bertambah teman, serta pengalaman.
Mengajar orang dewasa, risikonya memang mereka mudah bosan, namun ada sisi enaknya, karena rata-rata partisipan telah mempunyai jabatan tertentu, sehingga akan menambah kenalan. Dan apabila kita sering diundang mengajar diberbagai kota, maka kita akan mempunyai teman-teman yang berkesinambungan, karena dengan adanya alat komunikasi yang semakin canggih, hubungan tadi akan dapat berjalan terus baik melalui sms, email, telepon dan lain-lain.
Yang paling menyenangkan bagi pengajar, kita akan mendapat pengalaman yang berharga, menjadi kenal budaya/kultur perusahaan para partisipan tersebut, budaya daerah yang kita datangi, dan sering kita mendapat kesempatan mengunjungi daerah wisata selepas kegiatan mengajar.

5. Mengajar memaksa kita untuk belajar terus menerus.
Ada keuntungan yang tak terlihat apabila kita sering mengajar. Apabila mengajar, pada umumnya satu kelas terdiri dari 20 orang dengan latar belakang yang berbeda. Kemungkinan pengajar hanya memberikan satu materi pelajaran, namun akan mendapat feed back dari 20 orang. Pada saat istirahat, pengajar dapat terlibat diskusi yang hangat dengan peserta, bahkan dengan peserta yang paling pendiam. Dari pengalaman mengajar, pertanyaan sering datang hanya dari beberapa partisipan saja, namun begitu istirahat, yang belum bertanya akan mengerumuni pengajar. Jika waktu kurang, pembahasan bisa terjadi diluar kelas, kemungkinan di lobi gedung pendidikan/hotel, dan disinilah kita banyak memperoleh masukan yang sangat berharga.

Iklan

Responses

  1. apa lagi kalau si pembelajar disiapkan untuk mengalami quantum learning dan si pengajar membekali diri dengan metode quantum teaching. tentu hubungan positif mengajar-belajar-mengajar itu akan lebih dahsyat. ya, ngga, bu? 🙂

    saya bukan praktisi keuangan. saya praktisi “kemasan”. seorang teman (akuntan) pernah merasa pusing diserahi tugas memahamkan cara mengelola keuangan ornop (sesuai psak 45) kepada para pengelola keuangan ornop yang–hampir semuanya!–tak punya basis pendidikan keuangan. saya (tepatnya, kami) membantu mengemas pelatihannya “secara quantum”: mulai dari membongkar mental belajar sampai cara menyajikan modul pelatihan. so far, hasilnya memuaskan. artinya, para pembelajar merasa “fun” dan karenanya relatif lebih mudah menyerap materi-ajar yang, sebelumnya, terkesan rumit dan membosankan.

    mau saya bantu mengemas kegiatan belajar-mengajar di perusahaan ibu? *iklanbangeet*

  2. Dz,

    Kadang mengajar adalah bagaimana menyederhanakan masalah yang berat, serta bagaimana membuat peserta tertarik. Metoda mengajar untuk orang dewasa, harus dikemas agar terdiri dari berbagai hal, ada permainan, ada roll play, diskusi kelompok dsbnya.

    Bahkan dengan pelatihan, kita sebetulnya bisa melihat beberapa soft kompetensi dari peserta. Yang menarik dan bikin surprise adalah malam-malam ditelepon atau sms tentang hal-hal lain yang ingin dimengerti peserta…akhirnya hubungan jadi seperti teman.

    Wahh Dz…sayang kenalnya telat ya…dulu memang saya jadi Kepala Divisi di Pusat pelatihan bank BUMN…sekarang udah tidak aktif (MPP) dan mengajar hanya untuk mengisi waktu agar otak masih bisa diajak berpikir. Inipun jika kebetulan waktu dan materinya match dengan kemampuan saya.

  3. Salam sejahtera.

    Mengajar orang dewasa memerlukan kesesuaian cara bagaimana pengajar berkomunikasi dengan para pelatih. Suka saya berkongsi pengalaman dalam dunia pembelajaran terutama bagi mereka yang berada didunia “mengajar” ini….

    1. Bagi pendapat saya, komunikasi dalam konteks mengajar boleh di alihkan kepada beberapa aspek. Antaranya bagaimana seseorang fasilitator itu mampu MEMBABITKAN atau how get them involve in your presentation dengan pelatih dalam sesi latihan kerana sudah tentu fasilitator pernah menghadapi masalah seperti peserta merasa bosan dan ada jua yang tertidur dalam kelas…tahap kritikal!!!

    2. Komunikasi yang seterusnya ialah bagaimana seseorang fasilitator itu berhubung dengan pelatih yakni how you interact with your student? Orang dewasa lebih cenderung kepada apakah yang pernah mereka lalui. Oleh kerana itu, mereka cenderung kepada ‘pengalaman yang mereka perolehi”….oleh itu, fasilitator haruslah pandai menggunakan mencungkil pengalaman dari diri pelatih agar fasilitator dapat berkongsi bersama. Dengan ini, interiaksi antara fasilitator dan pelatih akan lebih aktif dan mampu mengelakan kebosanan.

  4. mengajar terkadang membosankan kerena para guru kekurangan perangkat dan metode pembelajaran yang komunikatif. para guru sering menggunakan metode mengajar yang konvensional di mana guru tampil sebagai orang yang segala tahu dan sering mengunakan komunikasi monolog di kelas sehingga murid kurang mengeri dengan bahan yang disajikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: