Deret kehidupan, seperti apakah?

Pernahkah mendengar, bahwa kehidupan manusia diibaratkan seperti perputaran matahari? Apabila kita telah berumur 25 tahun, artinya kita telah sampai pada jam 12 siang, dan jika telah mendekati setengah abad, maka kita sudah masuk senja hari, yang diibaratkan semakin dekat kemungkinan dipanggil oleh Allah swt. Dengan memahami kemungkinan perputaran seperti tersebut, diharapkan manusia dalam kehidupannya yang singkat dapat memberi warna terhadap kehidupan disekelilingnya, agar lebih baik.
Di bawah ini ada kutipan pendapat dari teman-teman anggota IISB ( Indonesian Islamic Society of Brisbane), yang menurut pendapat saya sangat relevan dengan kehidupan kita, dilihat dari berbagai pandangan.

Dari segi matematika, Alhadi Bustaman mencoba membuat rumusan sebuah deret yang diberi nama deret kehidupan, sebagai berikut:

A(0) = 0

A(n) = 2 A(n-i)+1; n=1,2,3…….,7

Apabila kita mencoba menjalankan deret tersebut, lalu direnungkan dan dihubungkan dengan tahapan perjalanan hidup manusia di muka bumi, maka dari deret tadi dapat diturunkan angka-angka yang menandakan 7 (tujuh) tahapan maksimal yang bisa dilalui umat manusia di muka bumi, yaitu:

  • A(1) = 1 Tahapan janin di dalam rahim ibu
  • A(2) = 3 Tahapan bayi yang telah sempurna berjalan dan berbicara
  • A(3) = 7 Tahapan anak-anak, telah sempurna untuk sekolah dan bersosialisasi
  • A(4) = 15 Tahapan remaja, baligh, mulai cinta pada lawan jenis
  • A(5) = 31 Tahapan dewasa, berkarir dan berkeluarga
  • A(6) = 63 Tahapan matang/tua, siap untuk kembali ke sisi Nya
  • A(7) = 127 Tahapan terakhir, kembali ke sisi Nya

Secara matematis, sesuai deret di atas, hidup manusia di bumi hanya melalui 7 (tujuh) tahapan, oleh karena itu kita seharusnya berhati-hati dalam mencari makna dan mewarnai kehidupan yang hanya sebentar tadi. Mengapa? Karena kita mempercayai, bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini, yang kualitasnya akan ditentukan dari apa yang kita lakukan selama kita hidup di dunia.

Dari sisi statistika, Perdinan Rakuso menjelaskan, bagaimana sebuah hipotesis bisa diterima dan kemungkinan terjadi error atau bias, serta bagaimana cara mengurangi biasnya bisa digunakan melalui berbagai pendekatan . Bila sebuah pernyataan benar, maka terima Ho pada taraf tertentu yaitu pada selang kepercayaan berapa, 85% sampai 99% atau bahkan sampai 99,99999…% tetapi tidak boleh sampai 100%, sebab kalau sampai 100% apalagi sudah dapat dipastikan, telah terjadi kesalahan dalam menguji hipotesa tersebut.

Artinya kita tidak pernah bisa benar 100%, hanya mendekati, itupun hanya sebagai pendekatan ilmiah saja, sementara kehidupan di alam mungkin tidak demikian. Kita hanya mencoba membuat berbagai parameter dan model untuk mendekatinya.

Mazur (2002) menyatakan, bahwa seorang ilmuwan harus menguji dengan beberapa kriteria, apakah sebuah teori telah memenuhi kriteria. Walaupun belum ada standar umum untuk menguji suatu teori, tetapi ada beberapa kriteria penting yang perlu diperhatikan, sebagai berikut

  1. Testability (Falsifiability). Terdapat ketidakpastian dalam prediksi memungkinkan terjadinya kesalahan pada suatu teori. Seorang ilmuwan harus membuat prediksi, serta memberikan adanya ruang untuk menginterpretasi kembali dan memodifikasi prediksi tadi.
  2. Simplicity. Jika dua teori dinilai sama dalam penilaian, teori dengan hipotesis yang lebih sederhana yang diutamakan.
  3. Generality. Teori dengan range observasi yang lebih besar, akan dinilai lebih baik daripada teori yang menggunakan area observasi terbatas.
  4. Fruitfulness. Hal penting dalam teori seorang ilmuwan adalah kemampuan untuk menstimulasi riset lanjutan dan pemikiran lebih lanjut tentang topik khusus yang dibahas tersebut.
  5. Agreement with the data. Jika sebuah teori kontradiksi dengan kenyataan yang ada, harus dapat dimodifikasi atau dibuang.

Dari kriteria di atas, maka seorang ilmuwan yang baik harus menyadari keterbatasan ini dan tidak berupaya menutup-nutupi kemungkinan teorinya terbukti salah. Sifat falsifiability (siap untuk dibuktikan salah) harus melekat pada teori baru tersebut.

Selanjutnya Perdinan menjelaskan, bahwa Newton yang terkenal dengan Hukum Gravity nya, pernah mengatakan bahwa ada 2 hal yang belum dapat dan sulit untuk diketahui manusia secara ilmiah dimana batasannya, yaitu: ruang dan waktu. Artinya dunia begitu luas, dan waktu sebuah variabel yang dinamis.

Sedang pendekatan klasik dari usaha dalam fisika adalah

W = F*S

W = usaha, F= gaya, S= perpindahan

Artinya, dalam kehidupan, apabila kita telah bekerja dan memberikan kemampuan, tetapi tidak ada perpindahan yang terjadi, maka sebetulnya kita belum cukup untuk berusaha.

Dari uraian di atas, maka kita bisa melihat bahwa waktu manusia hidup di dunia sangat terbatas. Di satu sisi kita harus melakukan upaya agar mencapai taraf kehidupan yang semakin baik, dan bila belum mencapai kehidupan yang baik, maka sebenarnya kita belum cukup berusaha.

Tentu saja dalam hal rumusan, ada biasnya dan tidak mungkin 100%, oleh karena itu kita harus menggunakan ilmu secara bijaksana, dan selalu mengingat Allah swt. Dan semoga renungan pak Alhadi Bustaman suatu ketika dapat ditindaklanjuti dan di explore untuk menghasilkan suatu teori baru tentang Deret Kehidupan. Mudah-mudahan renungan pak Alhadi ini membuat kita juga ikut merenung, dalam waktu yang terbatas ini, bagaimana membuat sumbangan bagi kehidupan di sekitar kita agar lebih baik kualitasnya.

Sumber data:

1. Alhadi Bustaman. Deret Kehidupan. Advanced Computational Modelling centre (ACMC). Dept of Mathematics, Univ of Queensland. St. Lucia, Brisbane QLD 4072 Australia.

2. Perdinan Rakiso, Juli 2006. Univ of Queensland, Brisbane, Australia.

3. Mazur. The Psychology of Learning Behavior . PSYC 2050. Learning and Cognition. Compiled from:Learning Behavior by Mazur and Cognitive Psychology by Solso. Pearson Custom Publishing. University of Queensland, St.Lucia, Brisbane, 2002

8 pemikiran pada “Deret kehidupan, seperti apakah?

  1. fido212us

    pengertian ibu mengenai kehidupan, sangatlah matang. DAn semoga ini semua membuat kita sebagai manusia untuk mau selalu berusaha dan bekerjasama, mengingat tidak ada seuatupun di dunia ini yang sempurna. Pencarian demi pencarian harus terus dilakukan agar setiap waktu kita dapat berpindah dari 1 deret ke deret yang lain..jangan sampai semasa hidup hanya fisik saja yang masuk ke deret berikut, sementara mental dan jiwa tetap diam di tempat…

  2. kenapa dari 15 langsung lompat ke 31 bu? bukankah yang paling fundamental itu justru masa-masa muda. Kata orang masa muda kan masanya pembentukan jati diri

    mmm, kalau dari pengalaman bu enny bagaimana? berarti antara 31 sampe 63 berarti hidup bakal datar2 terus dong

  3. Fido212us,
    Thanks. Tulisan pak Alhadi memberikan inspirasi bagi kita untuk ikut merenung, walaupun saya baru kenal beliau di dunia maya.

    Anjar,

    Bukan melompat…artinya tahap demi tahap menyambung, dan ini bukan hanya meningkat pengetahuannya saja, tetapi juga kematangan jiwa dan rohaninya. Tahap umur 15 s/d 31, walaupun bergejolak, tapi pada umumnya masih untuk mengembangkan pribadi masing-masing, bersekolah, kuliah, mulai jatuh cinta pada lawan jenis…juga ada yang sudah memulai hubungan serius, serta menikah. Karir masih pada tahap awal, kalau saya bilang, jika ada reuni, biasanya yang banyak hadir adalah dibawah umur 30 tahun (udah lulus dan diterima kerja…lagi seneng2nya), serta yang di atas 50 tahun (udah jadi top executive dan ingin ketemu teman-teman lama).

    Tahap 31 s/d 63 tahun…bukan datar. Disini justru tantangan karir yang sesungguhnya, ada yang pindah kerjaan, atau ada yang sudah puas dan tinggal meningkatkan kompetensinya. Bahkan ada yang bangkrut atau keluar dari pekerjaan dan mulai dari nol lagi. Tahap ini benar-benar tahap perjuangan, di satu sisi anak-anak yang dilahirkan juga semakin tumbuh dan berkembang. Disinilah diperlukan manajemen waktu yang akan menentukan kualitas hidup kita…kita mau kemana…apa tujuan hidup kita? Juga disini kita tidak hanya memikirkan hidup untuk keluarga sendiri, tapi juga bagaimana mengembangkan masyarakat di komunitas kita…bahkan ada yang lebih luas lagi. Umur 63 tahun adalah usia yang masih bisa berprestasi jika dalam keadaan sehat walafiat…bukankah dosen setingkat lektor kepala baru pensiun pada umur 65 tahun?

    Coba lihat lagi deretnya pak Alhadi…..dari sisi matematika, ternyata sesuai dengan tahapan kehidupan manusia didunia ini. Berarti antara ilmu dan keimanan ada relevansinya.

    Tukang ketik,

    Kenapa pusing…..? Ayoo…marilah kita merenung….

  4. Pertama: rumus

    A(n) = 2A(n-1) + 1; n = 1, 2, 3,…

    Sepertinya ini diinterpretasikan sebagai umur.

    Kedua: rumus ini masih induktif, bukti secara deduktifnya belum teruji…(baru conjecture). Namun, sangat bagus sebagai bahan renungan. Saya suka ini, memandang dari sudut matematika. Hehe… 😀

    Ketiga: fase ke 7 alias A(7) terlalu jauh (jarang-jarang ada orang yang usianya sampai segini). Seringnya, orang hanya sampai ke fase A(6).

    Btw, saya juga suka penjelasan yang W = F*S, menarik… (gaya menarik benda sehingga ada perpindahan, itulah usaha… hehe… :D).

  5. Tomy

    Sdr Alhadi Bustmana kalau tidak salah dosen Matematika UI. Tentunya dia sangat memahami bahwa sebuah TEOREMA yang dia sebut sebagai deret kehidupan HARUS dibuktikan kebenaran secara matematis. Kalau hanya membuat sebuah deret lalu mengklaim dan memberi nama saya kira tidak perlu Mahasiswa S3 Matematika juga bisa. Yang buta huruf juga bisa membuat sebeuah deret lalu menamai dengan nama yang “aneh”

    Mas Tomy,
    Tulisan pak Alhadi memang belum dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, dan itu baru obrolan di milis… saya ijin untuk menulis di blog dan beliau memberi ijin. Jadi kalau ada yang salah, adalah kesalahan saya. Dan menurut saya blog adalah wadah kita boleh bermimpi atau punya ide apa saja.

    Jadi tolong jangan diperdebatkan, karena memang bukan untuk mendapatkan S3. Atau mas Tomy sendiri mau menambah atau ada usulan lain?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s