Pilihan investasi bagi pemilik dana

Kontan,no.33-XI minggu ke-III, Mei 2007 hal.34-35 menyoroti perpindahan penempatan dana Jamsostek dan Dana Pensiun, dari deposito ke obligasi dan reksadana. Inikah tanda-tanda bisnis perbankan menuju senjakala?

Sebelum kita terpengaruh oleh kalimat di atas, marilah kita menilai, apa dan bagaimana kebijakan penempatan dana, andaikata Anda adalah seorang Direktur Investasi dari Dana Pensiun atau Jamsostek. Atau yang lebih sederhana, apabila Anda seorang Direktur Utama (CEO) suatu perusahaan besar, yang mempunyai manajer treasury tersendiri, bagaimana Anda akan menempatkan dana yang idle?

Bagi orang-orang yang bersifat konservatif , maka penempatan dana umumnya dilakukan di deposito. Mengapa? Bunga lumayan tinggi, pendapatan fixed, risiko rendah. Tapi…itu dulu. Saat ini bunga deposito bergerak turun, yang seharusnya hal ini mencerminkan kondisi perbankan di Indonesia telah membaik. Bandingkan…saat saya ke Malaysia tahun 2001, bunga rata2 deposito yang ditawarkan perbankan di Indonesia saat itu di atas 17% dan suku bunga pinjaman di atas 20%. Berapa bunga deposito saat itu di Malaysia? Ternyata di bawah 5% per annum dan bunga pinjaman 6%.

Bagi manajer investasi di Dana Pensiun dan Jamsostek, wajar harus menghitung ulang investasinya, karena mereka bertanggung jawab agar hasil bunga/keuntungan penempatan dana dapat mencukupi pembayaran para pensiunan. Jika bunga deposito melorot terus, maka bisa-bisa uang untuk membayar para pensiunan tak cukup.

Apakah penempatan dana di Obligasi dan Reksadana menjamin hasil yang tinggi? Jawabannya adalah tidak. Kita harus mengingat pemeo…”high risk high return“…. Penempatan dana pada obligasi, harus dilakukan secara selektif, dan hanya pada obligasi dimana perusahaan yang mengeluarkan obligasi mempunyai rating tinggi. Demikian juga penempatan pada Reksadana, harus memilih saham-saham pada portofolio dengan nilai rating yang tinggi. Disini Manajer investasi dari Penyandang Dana, harus memahami dan memonitor terus menerus tentang pergerakan nilai obligasi dan nilai saham yang diperdagangkan. Karena, jika tidak demikian…bukannya untung tetapi malah buntung. masih ingat kasus reksanana berpendapatan tetap?

Bagaimana cara mengatasinya?

Buatlah beberapa diversifikasi dalam penempatan dana, berapa persen ditempatkan pada deposito, berapa persen ditempatkan pada obligasi dan saham, serta berapa persen ditempatkan dalam bentuk aktiva tetap (seperti: hotel, Manajemen Properti, lembaga asuransi, lembaga pembiayaan dsb nya). Kemudian buat beberapa perhitungan, serta sensitivity analysis, dan hitung ROI (Return on Investment) masing-masing. Dari berbagai perhitungan ini, nanti akan dipilih investasi yang menghasilkan ROI tinggi, namun penilaian ini harus dilakukan secara kontinyu, terutama jika yang dipilih adalah investasi dalam bentuk obligasi dan saham, karena perubahannya sangat cepat.

Iklan

15 pemikiran pada “Pilihan investasi bagi pemilik dana

  1. Bagus,

    Wahh..itu jelas nggak ada….kalau mau return tinggi, harus mau mengambil risiko. Walau mantan orang Bank, saya juga termasuk konservatif, investasi hanya di tabungan dan deposito…paling-paling deposito dolar. Saham punya karena mendapat ESOP dan MSOP saat perusahaan go public…dan untungnya emang lumayan……tapi langsung buat beli rumah yang ditempati sekarang.

  2. sapa tau ada bu he3
    kalo risk management sendiri penerapannya gimana ya bu? apa hanya diversifikasi seperti yang disebut di atas?

  3. Bagus,
    Manajemen Risiko adalah bagaimana melakukan pengelolaan agar dapat meminimalkan risiko. Bagaimana agar risiko nol? Jika ingin risiko nol, jangan melakukan apa-apa….tapi sebetulnya ini juga ada risikonya, karena kehilangan kesempatan.

    Untuk orang-orang seperti kita, antara lain dengan melakukan diversifikasi…atau istilahnya, jangan menaruh telor dalam satu keranjang, kalau keranjang jatuh ada kemungkinan pecah semua. Penempatan dana yang konservatif hasilnya kecil, tetapi risiko juga rendah…jadi jika kita punya uang cukup banyak, tentu bisa memulai coba-coba melakukan investasi dalam bentuk saham, obligasi (jarang dilakukan perorangan), yang pergerakannya cepat, hasilnya tinggi jika bisa meramal dengan cermat (apa sih yang tak dilakukan peramalan…Bagus kuliah sekarang kan juga dengan memperhitungkan nantinya akan kerja di tempat yang nyaman, atau wirausaha dengan hasil yang baik). Bagus bisa mulai latihan dengan membuka http://www.etrading.co.id….nanti masukkan nama dan pasword…..kemudian ketik nama saham (mis.BBRI,BBCA)….akan terlihat pergerakan sahamnya.. dalam sehari terjadi beberapa perubahan. Ini free kok…memang biasanya nanti Bagus akan dihubungi mau nggak belajar transaksi saham…bisa latihan kecil-kecilan, modal Rp. 5 juta…..jadi kalau rugi nggak berat. Di situ bisa mulai menganalisa, bagaimana kira-kira pergerakan beberapa saham unggulan…..tentu nilai saham sebetulnya dipengaruhi oleh kinerja perusahaan yang menerbitkan saham, walaupun di Indonesia banyak juga dipengaruhi faktor pasar.

  4. Saya PNS dan umur sekarang 44 dengan 3 anak yang paling besar baru kls 5 SD. Karena melihat waktu yang masih panjang buat membesarkan mereka saya ikut program DPLK di BNI dan asuransi di AXAlife. Yang menjadi pertanyaan saya adalah ; pada bidang apalagi saya dapat berinvestasi dengan aman dan capital gain yang tidak terlalu rendah sepeerti deposito

  5. Pak Arsil Azim,
    Pilihan bapak sudah tepat, program DPLK akan menolong kita saat pensiun, maklum uang pensiun PNS sangat kecil (suami saya juga PNS).

    Bapak bisa mencoba memilih investasi di Reksadana, tapi harus memilih manajer investasi yang tepat…karena jika hanya mengandalkan deposito bunganya rendah. Reksadana juga mempunyai risiko, bisa untung, bisa rugi, tetapi dengan manajer investasi yang baik, dia bisa memilihkan kumpulan saham dan obligasi mana yang relatif aman, sehingga tetap menghasilkan keuntungan.

    Terus terang saya juga belum melakukan ini, tapi teman2 saya sudah banyak yang menanam uangnya di reksadana.

  6. sukamto

    bu,mau tanya ni.saat ini saya bingung antara mau membeli rumah atau apartemen untuk berivestasi,mana yang lebih menguntungkan untuk saat ini?trims

  7. Sukamto,
    Wahh maaf, saya lama menjawabnya. Rumah atau apartemen? tentu harus diteliti lagi, karena yang penting, jika beli rumah/apartemen untuk investasi, faktor penting adalah…lokasi…
    lokasi….lokasi… Juga mau membidik segmen mana? Kalau apartemen tentu lebih tepat ditengah kota, serta untuk kelas menengah, yang betul-betul membutuhkan rumah tinggal. Jika rumah tinggal, bisa agak dibatas kota, sepanjang akses jalan ke kota sangat mudah.

    Rumah atau apartemen, pilihannya adalah segmen mana yang akan dibidik…..

    Forum Reksadana,
    Thanks informasinya, akan bermanfaat bagi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s