Oleh: edratna | Juni 7, 2007

Apa yang harus diperhatikan oleh seorang investor

Mengingat banyaknya pertanyaan, baik secara langsung (melalui sms, email) maupun lewat blog, di bawah ini saya mengutip tulisan dengan judul “Optimisme Baru Reksa Dana Setelah BI rate turun” karangan Ninuk Saskiawardani, yang di muat di majalah Impresario no.1 tahun 2007 pada halaman 44. Pada shortbox dengan judul, “Pentingnya Pembelajaran untuk investor” tertulis sebagai berikut :

Aksi penarikan dana secara besar-besaran atau rush bukan hanya terjadi di industri perbankan. Produk reksadana pun pernah mengalami hal serupa. Sekitar September-Oktober 2005, penarikan dana atau biasa disebut dengan redemption secara besar-besaran terjadi di industri reksadana. Menurut catatan Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam), nilai aktiva bersih (NAB) reksadana anjlok hingga Rp.32,287 triliun pada Oktober 2005. Padahal, pada Agustus 2005, NAB reksadana masih bertengger pada posisi Rp.65,683 triliun.

Redemption ini seharusnya menjadi cermin bagi industri reksadana. Sudah bukan rahasia lagi, cara berpikir sebagai deposan masih melekat pada masyarakat kita. Ketika berinvestasi di reksadana, mereka pun tidak mau tahu saat NAB turun.

Untuk mengatasi gejolak di industri reksadana, pemerintah mengizinkan penerbitan reksadana terproteksi. Reksadana terproteksi seakan dewa penolong saat itu. Padahal, penurunan NAB sebagai akibat kenaikan suku bunga perbankan dan turunnya harga obligasi, adalah fenomena sesaat.

Tak semua dana di reksadana terproteksi diinvestasikan di instrumen berisiko tinggi. Dana tersebut diinvestasikan di Zero Coupon Bond atau obligasi tanpa bunga dan sebagai kompensasinya, obligasi ini dijual dengan harga diskon. Bila diskonnya 30%, artinya, manajer investasi hanya membayar 70% nya. Selanjutnya, sisa dana yang 30% diinvestasikan pada instrumen pasar modal yang berisiko tinggi, seperti opsi saham, saham, dan waran. Jadi, berinvestasi di reksadana terproteksipun bukan berarti tidak berisiko sama sekali. Dibanding dengan reksadana pendapatan tetap, faktor risiko reksadana terproteksi memang lebih kecil.

Tantangan bagi pelaku industri reksadana memang memberikan pembelajaran bagi calon investor. Termasuk untuk Bank yang bertindak sebagai agen penjual reksadana. Sebab, tak jarang Customer Service menawarkan reksadana ini sebagai produk perbankan.

Komentar:

Dari artikel di atas, investasi di reksadana merupakan salah satu pilihan, namun mengandung risiko. Jika kita berinvestasi di deposito, maka sepanjang termasuk dalam jangka waktu yang telah disetujui deposan dan Bank, maka pendapatan bunganya sudah pasti. Kondisi bunga deposito yang rendah, membuat orang ingin memperoleh penghasilan yang lebih tinggi. Pilihannya adalah ber investasi di reksadana, walaupun hal ini bukan tanpa risiko. Oleh karena itu, jika kita memiliki kelebihan dana, sebaiknya lakukan diversifikasi dalam investasi, sehingga bila ada keuntungan, dan ada kerugian, paling tidak hasil totalnya masih mendapatkan keuntungan.

Iklan

Responses

  1. ???

    Pusing. Untung saya ga punya duit buat di deposito.

  2. Mas Adi,

    Jangan pusing…nikmati aja. Saat masih muda, sepanjang sumber dan penggunaan dana match, ini sudah merupakan karunia. Sejalan dengan berkembangnya waktu, kita semakin pandai mengelola kebutuhan (need…dan bukan want), jadi pasti ada yang bisa disisihkan. Pada saat inilah diperlukan kepandaian mengelola uang, agar tak kesulitan saat masa tua.

  3. saya sedang mikir-mikir, gmn belajar investasi di lembaga keuangan. mungkin memang lebih ‘menarik’, tapi ada kendala pengetahuan, plus, plus… πŸ˜€

    dan sementara ini, saya masih langsung di sektor riil, misal di usaha kawan. lebih banyak resiko saya pikir, tapi bener-bener menggerakan sektor riil!

  4. betul mbak, TI ITB 02 yg aseli Magetan, πŸ™‚ kenal Malik, Anto juga (anak bungsu-nya?).

    betul (juga), Magetan terkenal dengan kulit-nya. masih sampai sekarang, Alhamdulillah.
    oh, sy malah baru tau kalo di Telaga Wurung pamali ‘dunia milik berdua’ (pantes..! hehe)

    *salam kenal (lebih dekat)

  5. Trian,

    Sektor riil menurut saya lebih menarik, hasilnya lebih nyata…juga risiko lebih bisa diperhitungkan. …hehehe (saya termasuk yang ingin mendorong sektor riil, karena lebih produktif, menyerap banyak tenaga kerja, dapat meningkatkan ekspor untuk menambah pendapatan devisa negara).

    Mungkin ada beberapa kursus pendek….cuma saya belum tahu tempatnya (di UI? atau di lembaga pendidikan bisnis). Kalau mau belajar formal di dalam negeri, bisa masuk program bisnis (Magister Manajemen), dan ambil finance.

  6. Trian,

    Malik dan Anto teman anakku di Comlab, anak bungsuku cewek, Elektro 2003

  7. intinya kl ngga mau ngambil resiko yg tinggi taruh di deposito aja ya bu? πŸ˜€
    tapi bukannya sekarang deposito pun hanya terjamin maksimal di 100jt (LPS), apakah ini resiko yang harus di lihat juga?

  8. weleh si trian nyasar kesini juga he3 pa kabar ? usaha opo saiki?

  9. kalau deposito dollar dan rupiah lebih baik mana bu, aku belum pernah nyoba reksadana… karena ga ngerti

  10. Bagus,
    Iya nih Trian nyasar…ujung2nya tetangga, dia dari Magetan dan saya dari Madiun…dan ternyata teman Malik dan Anto, mungkin juga kenal Narpen. Dan kenal Bagus juga…jadi ujung-ujungnya dunia nih sempit ya…hehehe
    LPS memang sejak Maret 2007 hanya menjamin Rp.100 juta ke bawah, serta yang suku bunga dibawah suku bunga penjaminan. Hal ini memaksa masyarakat untuk menilai Bank yang sehat. Selama ini banyak nasabah yang ingin bunga tinggi…padahal jika bunga tsb di atas rata-rata bunga perbankan, serta di atas penjaminan, maka sebetulnya kita pantas bertanya…jangan-jangan Bank tsb kesulitan likuiditas. Bank yang fundamentalnya kuat, yang dananya tergantung dari ritel, dan menyebar…itulah Bank yang aman…dan biasanya akan memberikan suku bunga rendah, karena likuiditasnya kuat. Likuiditas adalah kemampuan menyediakan aktiva lancar (uang tunai) jika sewaktu-waktu timbul kebutuhan atau harus melunasi hutang lancarnya. Kan tiap triwulan ada laporan keuangan…bisa dimulai belajar membaca laporan keuangan (apalagi Bagus mau wirausaha)…yang penting2 aja (seperti pertumbuhan laba, CAR=Capital Adequacy Ratio di atas 8%, NPL=Non Performing Loan di bawah 5%, komposisi pendanaan dll).

  11. Mbak Evy,

    Untuk kondisi Indonesia saat ini, sebaiknya kita punya deposito dalam rupiah dan dolar, atau deposito dolar dan tabungan rupiah, apalagi saat ini suku bunga antara tabungan dan deposito hampir sama. Prinsip pengelolaan uang adalah mendiversifikasi risiko.

    Tabungan dolar, keuntungannya tak terkena risiko selisih kurs, namun jika diambil saat jatuh tempo, selain kena biaya administrasi (relatif kecil), ada risiko pada selisih kurs beli dan kurs jual dolar dibanding rupiah, kecuali jika diambilnya tetap dalam bentuk dolar.

    Deposito rupiah lebih safe, tapi nilai akan menurun jika terjadi pergerakan kurs dolar dibanding rupiah. Jadi akhirnya dimanapun kita berinvestasi, selalu ada risiko. Selain ini, juga harus hati-hati memilih Bank jika simpanan di atas Rp.100 juta, karena tak ada penjaminan (juga harus diingat yang dijamin adalah simpanan di bawah Rp.100 juta, serta suku bunganya di bawah bunga penjaminan).

  12. Bu Enny, jangan lupa pula selain pameo ‘don’t put your eggs in one basket’ berlaku juga pameo ‘high risk high return’. saya memang tipe yg suka & pengen coba hal-hal baru. pengalaman saya dulu coba-coba belajar bermain reksadana terbilang kurang sukses πŸ™‚ waktu itu saya mencoba 2 jenis reksadana (campuran dan pendapatan tetap). ternyata dalam jangka waktu 2 tahun itu return dari RD campuran menurun terus namun nett profit masih bisa ditalangi return dari RD obligasi (pameo diversifikasi). walaupun itu sudah nyaris cut loss dan seandainya di deposito kan sebenarnya return nya masih lebih tinggi dari off-set RD. akhirnya saya putuskan stop bermain di RD dan saya pindah ke deposito lagi plus linked insurance (saham). tp intinya saya sudah mencoba dan sudah mengalami sendiri. pelajaran yg bisa saya ambil : pertama diversifikasi itu sgt penting dalam investasi dan kedua bila memang horison investasi kita cuma jangka pendek dan ga tahan dgn naik-turunnya IHSG sebaiknya jgn bermain di RD tp lbh aman di deposito atau di linked insurance..high risk high return πŸ™‚

  13. Osinaga,
    Setuju……banget. Walaupun saya sering diajak diskusi nasabah yang akan go public, dan dulu ikut serta juga keliling-keliling, tapi saya punya saham hanya dari ESOP dan MSOP, itupun langsung dijual begitu harga naik…untuk beli tanah dan rumah..hehehe. Soalnya kalau mau bermain di situ, rasanya jantung saya kurang kuat dan nafas kurang panjang.
    Investasi apapun selalu mempunyai risiko untung maupun risiko rugi. Reksadana, yang berpenghasilan tetap, kenyataan juga ada risikonya. Begitu juga yang terproteksi, karena apapun, reksadana adalah portfolio dari saham dan obligasi, yang nilainya naik turun.
    Tapi kalau punya dana berlebih, nggak apa coba-coba, ada kok orang yang berbakat disini dan selalu untung. Tentu harus membatasi risiko, artinya kita udah menghitung kalaupun rugi, ya hanya segitu aja.

  14. 1. “don’t put your eggs in one basket”. => setuju kalau diversifikasi itu bermanfaat sampai batas tertentu. semakin banyak diversifikasi juga gak begitu bagus. it ties one of your leg. Warren Buffet bilang: “Diversification is a tool for the fool”

    2. “high risk high return” => mungkin lebih tepatnya gini: “high returns usually found in high risks environment. exposing yourself to high risks does not automatically give you high returns.”

  15. Pendapat Bahar benar…makanya sekarang digalakkan manajemen risiko. Artinya risiko itu tak perlu dihindari, tapi bagaimana kita mengelola risiko, dan memitigasi risiko.

    Jadi untuk memitigasi risiko ada beberapa tool yang digunakan, tetapi semua kembali pada unsur manusianya. Sebagus apapun alatnya, tergantung kemampuan dan kehandalan manusia yang mempergunakan alat tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: