Oleh: edratna | Juni 11, 2007

Pulau Jeffman, Bandara kota Sorong

Pada tahun 1995, saya mendapat tugas meninjau perusahaan di kota Sorong. Saya hanya tahu bahwa perjalanan ke kota Sorong, yang terletak di kepala burung di Pulau Papua, sangat jauh, namun hanya itu info yang saya peroleh. Sebelum berangkat, saya sempat menilpon teman yang akan menjemput di Sorong, pesannya pakailah celana panjang (saat itu pakaian dinas kantor untuk wanita belum boleh memakai celana panjang, kecuali dalam rangka on the spot), serta bawa baju secukupnya, dan koper jangan dimasukkan bagasi. Bila telah sampai di bandara Hasanudin dan akan boarding agar tilpon ke Sorong, agar dia siap menjemput. Saya agak mengabaikan pesan tersebut, karena Sorong tak menjadi satu dengan Kantor Wilayah, saya memang berniat memakai celana panjang, karena tak perlu lapor ke Kanwil terlebih dahulu. Dan karena tahu bahwa perjalanan cukup jauh, transit dua kali (di Makassar dan Ambon), maka memang lebih baik bawa koper kecil dan tak perlu dimasukkan bagasi, agar koper tak nyasar kemana-mana saat transit.

Pesawat Garuda dijadwalkan berangkat pagi dari Jakarta, ternyata delay sampai satu jam. Akibatnya pesawat terlambat sampai Makassar dan penumpang yang dari Surabaya, dengan tujuan Sorong sudah lama menunggu di bandara Hasanudin. Terjadilah suasana yang seru dan lucu seperti di terminal bis, saat pesawat sampai di bandara Hasanudin, Makassar.

Penumpang dari Jakarta tujuan Sorong tak boleh masuk terminal, tapi langsung dipindahkan ke pesawat yang siap berangkat ke Sorong. Petugas saling berteriak…Sorong…Sorong…benar-benar mirip di terminal bis. Pesawat yang akan berangkat ke Sorong pesawat kecil, jenis Fokker 28…wahh saya udah merasa kurang tenang, …benar saja…koperku tak boleh dibawa masuk ke pesawat. Setelah ngotot, koperku langsung disimpan di bagasi…saya kawatir juga, jadi petugas yang bawa koper saya buntuti…dia ketawa, dan bilang: “Ini lho kak, kopernya benar-benar udah disimpan di bagasi”. Saya tetap menunggu dulu, dan setelah siap semua, dan pintu bagasi ditutup, baru naik ke pesawat. Disini saya baru ingat harus menilpon teman…ditegur pramugari, tapi saya bilang tunggu dulu, nanti nggak ada yang menjemput.

Akhirnya pesawat mengudara juga, dan tak lama kemudian transit di bandara Ambon. Disini diumumkan akan lama, sekitar satu jam. Penumpang masuk ke ruang tunggu…tahu-tahu diumumkan pesawat segera berangkat…jadilah saya lari-lari lagi masuk ke pesawat. O, iya di Bandara Ambon, penumpang yang transit disuruh turun bawa koper … saya agak bingung, kalau memang tujuannya ke Sorong dan cuma transit, mengapa koper mesti turun?

Akhirnya…pesawat mendarat di bandara Jeffman jam 18.30 WIT (waktu Indonesia Timur). Cuaca sudah gelap, dan turun hujan rintik-rintik……saya melongo, bandaranya kecil berada di pulau, yang langsung dibatasi laut lepas. Pantas…andaikata bawaan penumpang terlalu banyak, sering tidak dibawa pesawat saat itu, ditinggal di bandara Makassar atau Ambon, dan baru diterbangkan esok harinya. Pantesan…temanku wanti-wanti hanya membawa baju secukupnya. Kalau bawaan pesawat terlalu penuh, bisa-bisa saat mendarat, pesawat akan langsung kecebur ke laut. Kata temanku, pernah ada pesawat yang gagal mendarat dan langsung masuk laut. Juga diperlukan menilpon saat pesawat sudah mau boarding di Makassar, karena dia akan segera naik kapal motor yang kadang-kadang tergantung cuaca ….kalau tak menilpon, maka kita bisa menunggu lama di bandara, karena perjalanan dari kota Sorong ke bandara Jeffman melalui laut cukup jauh.

Teman yang menjemput membantu membawa koper kecilku, dan kami meloncat-loncat diantara perahu-perahu yang diparkir dipinggir pantai pulau Jeffman. Kami berempat naik perahu motor…ombak bergulung-gulung, mencapai 1-2 meter, baju kami basah semua. Perjalanan dari bandara Jeffman ke kota Sorong perlu waktu 20 menit jika naik perahu motor, namun jika menggunakan feri (yang sudah berhenti saat jam 18.00 WIT) perlu waktu 30 menit. Dan jika memakai perahu biasa bisa dicapai dalam waktu 45 menit s/d 1 (satu) jam. Staf saya sudah pucat pasi, karena kami berada diperairan Pasific, yang kalau terjadi apa-apa bisa terbawa ombak jauh sekali. Syukurlah pengemudi kapal motor sewaan sangat lincah, sehingga kami bisa sampai di pelabuhan Sorong dengan selamat. Bandara di pulau Jeffman di buat sejak Perang Dunia ke II, bersamaan dengan bandara di Biak. Saya tak tahu apakah saat ini bandara Sorong masih di pulau Jeffman, atau sudah dipindahkan ke daratan Papua. Pada saat kunjungan saya, ada informasi bahwa pemerintah akan membangun bandara di daratan kota Sorong.

Kota Sorong terletak di teluk, dan makanan khasnya adalah sea food. Kotanya indah, paduan antara dataran rendah (pantai) dan bukit, mirip seperti kota Semarang. Kota Sorong saat itu relatif masih sepi, bisnis yang banyak dilakukan adalah pembangunan infrastruktur jalan, dan jembatan. Saat itu Telkomsel telah membangun menara (BTS) di puncak bukit, sehingga saya bisa berkomunikasi dengan anak. Saat malam hari banyak dijual durian di pinggir pantai, sayangnya di pantai banyak yang suka mabuk…jadi kami membawa durian itu untuk dimakan di hotel. Syukurlah manager hotel membolehkan kami menikmati durian di hotel.

Oleh-oleh yang khas berupa kain batik. Batik Sorong mempunyai motif yang khas, mirip dengan ukiran suku Asmat. Pembatiknya ternyata dari pulau Jawa, hanya motif batik nya yang khas Sorong. Hal ini disebabkan orang lokal kurang menyukai kegiatan membatik.

Diantara tugas, saya mempunyai kesempatan meninjau daerah transmigrasi, yang terlihat makmur, rumahnya rata-rata berdinding tembok, dan saat masuk ke wilayah tersebut sayup-sayup terdengar klenengan. Tanaman padi dan palawija tumbuh subur, menghampar hijau, menyenangkan hati yang memandangnya.

Dari klien yang lahir dan dibesarkan di Sorong, saya mendapat cerita bahwa orang lokal agak kurang semangat dalam bekerja, sehingga dia terpaksa melakukan mixed dibidang tenaga kerja dengan orang-orang dari pulau Jawa dan NTB, agar proyek dapat diselesaikan sesuai jadual. Dari pengamatan saya, ada hal yang bisa membuat konflik, karena para transmigran cenderung mengelompok, dan hidup lebih baik dibanding masyarakat lokal . Hal seperti ini yang perlu mendapat pemikiran bersama, bagaimana agar antara masyarakat lokal dan pendatang bisa saling tukar pengalaman, transfer of knowledge, serta ada pemahaman untuk menerima perbedaan.

Saya mengunjungi kota Sorong 12 tahun yang lalu, semoga dengan adanya Otoda, semakin banyak kemajuan yang telah dicapai oleh masyarakat Papua di Sorong.

Iklan

Responses

  1. usul mbak (atau bu? hehe): sebaiknya kl T & W ada oleh2 foto-fotonya, terus dipublish di blog. jadi kan, pembaca masih bisa menikmati.. πŸ™‚

    jadi, sedang mau ke sorong lagi?

  2. Waduhh Trian, waktu saya kesana belum zamannya blog…terus fotonya udah nyebar tak karuwan….hehehe nyesel juga ya.
    Juga saat itu belum zaman nya kamera digital.

    Kayaknya nggak mungkin deh kesana lagi…entah kalau dapat tugas ke Jayapura…inipun tergantung situasi dan kondisi.

  3. Apakah benar Otoda bisa membawa kemajuan?

  4. Mas Adi,
    Saya berharap begitu, kita tak boleh pesimis. Dari pembicaraan dengan teman-teman BPD, mereka antusias menyambut otoda, dan semangat untuk membangun daerahnya.

  5. wow…..
    Sorong….
    Sekarang seh bandaranya sudah pindah dari pulau Jefman ke Daratan Sorong. Namanya Bandara Domine Eduard Osok biasanya di singkat Bandara DEO.
    Dan juga perlu diketahui, sekarang jenis pesawat yang masuk sudah berbadan lebar jenis boeing 737. Dan kalau mau ke sorong lagi, gak usah kuatir….Sudah gak perlu pakai celana panjang lagi, heheheheh….Rok pun jadi….
    Makasih…..

  6. Andi,

    Thanks infonya. Terus bandara di pulau Jeffman dipakai apa ya? Karena dulu satu pulau udah penuh hanya untuk bandara.

    Berarti sekarang kalau pergi ke Sorong relatif lebih nyaman, tak takut terbawa arus lautan Pasifik.

  7. Iya Mbak… Lebih nyaman sekarang…dan juga sudah ada beberapa penerbangan yang melayani rute sorong dengan pesawat boeing mereka…
    Setau saya seh, sekarang bandara jefman dah di tutup…dan kayaknya begitu-begitu saja…

    makasih…

  8. Uh… Sorong ya bu ? Itu kota kelahiran saya (dan juga besar disitu). Tahun 1995 memang bandaranya masih Jeffman, tapi sekarang sudah ada bandara Sorong Daratan (Sorong DEO)

    Dari beberapa kota yang pernah saya jalani di Papua (Sorong, Biak, Serui, Jayapura, Manokwari, dan Merauke) menurut saya sorong yang paling strategis dan paling indah. “Kota Minyak” itu sering julukannya.

    *suatu saat saya akan balik kesana* πŸ™‚

  9. Fertob,
    Betulkah Sorong paling indah?
    Menurut saya memang indah sih, berbukit-bukit di latar belakangnya, cuma sayangnya nggak sempat kesana lagi…..pengin sih….

    Kata temanku, dari wilayah Papua (tugas dia keliling cabang2 di wilayah Papua, mis. Manokwari, Merauke, Timika, Sorog dll)…yang paling indah adalah Manokwari, tapi tiap orang boleh berbeda pendapat kan? Pergi ke Papua memang ngangeni….berarti Fertob suka makan Papeda? Kuah ikannya uenakk sekali…

  10. Staf saya sudah pucat pasi, karena kami berada diperairan Atlantik, yang kalau terjadi apa-apa bisa terbawa ombak jauh sekali.

    Maaf bu, bukan di perairan Atlantik. Sorong dan Pulau Jeffman itu dibatasi selat kecil yang terpengaruh oleh Samudra Pasifik yang terletak di atasnya.

    thanks… πŸ™‚

  11. Fertob,
    Thanks koreksinya…sudah saya perbaiki

  12. sorong ke kiri sorong ke kanan,.hehehe,..
    met kenal yach mba,.
    sorong makin sorong makin maju,.hikz awas ke sandung batu,..heheheh,.
    sorong skng dah kren mba,.
    beda deh ma sorong tempo jadule..

    cayo mba,…

  13. Aku lahir dan besar di sorong, walaupun masih tetap dikatakan pendatang, walaupun leluhur aku dah lama bgt tinggal disana Walaupun kota kecil, tapi gaya hidup sebagian penduduknya dah metropolis, loh..aku dah niggalin sorong hampir 10 thn, aku kangen tembok berlin, papeda, tanjung kasuari, naik kole-kole…

  14. Sorong skarang tambah mantap bu…

  15. Sorong, bandara DEO masih tradisional kayak terminal bus hanya pake kipas angin.
    Jalan raya dalam kota lumayan bagus, tapi keluar kota pasti rusak misalnya jalan ke tanjung kasuari rusak berat.
    Kebersihan kurang banget, sampah dijalan raya, kubangan lumpur dimana2..
    Andaikan hal2 diatas diperhatikan pemerintah kota sorong, maka Sorong akan jadi kota terindah dan ternyaman di Papua Barat.

    Salam yg lg tugas disorong,
    Vicky

  16. Sebelumnya salam kenal dari saya, Bu. Dulu saya pernah tinggal di Sorong selama satu tahun sekitar satu setengah dekade yang lalu, sama seperti ketika Ibu datang ke sana. Ketika itu saya masih kelas 1 SD.

    Sebelum membaca blog Ibu, ingatan tentang Jeffman itu masih buram, dan berkat cerita Ibu saya jadi ingat kembali bagaimana dulu saya beserta ibu dan adik saya mendarat di Jeffman sore hari, dijemput oleh ayah di Jeffman dan menuju daratan dengan menumpang perahu sewaan. Membaca pengalaman Ibu bagaikan membaca pengalaman saya sendiri.

    Senang rasanya bisa teringat kembali akan kenangan masa kecil. Terima kasih, Bu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: