Oleh: edratna | Juni 13, 2007

Bagaimana cara “memasarkan diri” agar sukses meniti karir?

Hari Minggu saya beres-beres rumah, menemukan buku kecil diantara tumpukan buku-buku lainnya. Memang sejak pindah rumah, urusan beres-beres rumah nggak ada habis-habisnya, dan ternyata banyak sekali buku yang belum sempat di baca.

Bukunya kecil, dengan sampul berwarna biru kekuningan, dan buku tersebut merupakan hadiah langsung dari pengarangnya pada tanggal 19 Juli 2005. Bukunya berjudul “Marketing Yourself” , Kiat Sukses Meniti Karir dan Bisnis, karangan Hermawan Kertajaya. Setelah saya baca, saya sepakat dengan pak Hermawan, bahwa agar sukses dalam meniti karir, kita perlu “memasarkan diri”. Istilah ini jangan dilihat dari sisi negatif, memasarkan diri disini adalah bagaimana agar atasan dan rekan-rekan kita melihat kemampuan yang ada pada diri kita, sehingga kalau kita akhirnya mendapat promosi, maka semua akan berpendapat “memang sudah waktunya”.

Istilah teman saya, kalau diibaratkan seekor ayam, maka saat bertelur, ayam akan berkotek…. petok….petok…tok…tok….yang artinya semua ayam di dunia ayam tahu, bahwa ayam tadi bertelur, sehingga tahu bahwa dia sudah berprestasi. Nahh.. bagaimana kalau ayam tadi tak berkotek (petok…bhs Jawa),maka tak ada yang tahu, ayam mana yang bertelor.

Secara ringkas saya akan mengutip, apa yang dikatakan oleh Hermawan Kartajaya (selanjutnya disingkat menjadi HK) dalam buku karangannya. HK menyatakan bahwa core strategy untuk memasarkan diri, dapat dilihat sebagaimana perusahaan melakukan pemasaran, yaitu didasarkan pada segitiga PDB (Positioning, Differentiation dan Brand)

  • Positioning: Bagaimana memposisikan diri dengan jelas dibenak pelanggan, atau target market. Positioning ini merupakan janji kepada pelanggan. Siapakah pelanggan anda? Tentu saja jika Anda bekerja di perusahaan, pelanggan anda adalah bos anda. Atau Human Resources Manager yang berencana akan merekrut anda. Agar janji memiliki kredibilitas dan dipersepsi positif oleh pelanggan, maka harus didukung oleh diferensiasi yang kuat.
  • Diferensiasi: Bagaimana menopang positioning yang tepat dengan diferensiasi yang kokoh. Apa sumber daya anda? Yang paling dasar adalah waktu, karena waktu dapat dimanfaatkan untuk hal baik maupun hal buruk. Kemampuan atau talenta yang unik, akan membedakan diri anda dengan orang lain. Sumber daya anda yang dimiliki tersebut harus diolah dan dikembangkan untuk dipasarkan kepada target market dan stake holder kita. Agar sukses dipasaran, maka sumber daya harus diolah sehingga mempunyai value. Apa value yang akan ditawarkan kepada bos? Misalkan, kepandaian anda dalam menulis dan menganalisa yang menyebabkan bos mudah mencerna laporan keuangan. Atau kemampuan instink bisnis anda dalam menilai nasabah, yang membuat target bos anda dalam menambah nasabah tercapai. Sumber daya yang dimiliki tersebut harus ditransfer menjadi kompetensi, yang akhirnya menjadi keunggulan bersaing anda, dibanding rekan-rekan yang lain.
  • Branding: Bagaimana anda membangun ekuitas merk diri anda secara berkelanjutan. Positioning yang didukung oleh diferensiasi yang kuat akan menghasilkan brand integrity yang kuat. Bila proses PDB berjalan terus menerus dengan baik, akan menciptakan proses penguatan terus menerus pada unsurPDB.

Sebagai contoh, C adalah penyanyi legendaris di Indonesia.

  • Positioning C: a) Ikon artis Indonesia.b) Lagu-lagu pop manis yang berkualitas.c) Nuansa romantis.
  • Diferensiasi : C adalah seorang entertainer, tidak sekedar menjadi penyanyi.
  • Brand C : Dimata masyarakat Indonesia, C adalah legenda, dan seorang Diva.

Melihat kemampuan C tadi, maka kita bisa melihat bahwa C mempunyai keunggulan bersaing, dan mempunyai ciri khas serta unik, yang membedakan C dengan penyanyi lain.

Selanjutnya HK menjelaskan bahwa untuk membangun keunggulan bersaing dan memasarkan diri, setelah memahami segitiga PDB, maka kita dapat masuk ke dalam konsep lengkap dalam Sembilan Elemen Pemasaran.

Sumber:

Hermawan Kartajaya. “Marketing Yourself”. Kiat Sukses meniti Karir dan Bisnis. MarkPlus & Co. PT Ikrar Mandiriabadi. Jakarta, 2005

Iklan

Responses

  1. wah .. ini nih masalah saya yang utama. tidak percaya diri dan selalu minder buat selalu memperlihatkan prestasi. banyak kemampuan tapi selalu segan melakukan. takut untuk gagal di dalam pekerjaan. jadinya ya di mana-mana tidak sukses.

    ada keinginan untuk belajar sesuatu dan mendalaminya. tapi kalau tidak akan membuat perusahaan melirik saya rasa jadinya sia-sia. tapi kembali masalah memasarkan diri yang sebenernya menjadi masalah utama.

  2. Hallo Sandy, makasih telah mampir. Udah lama ya nggak ngobrol di dunia maya, padahal saya sering melihat Sandy lagi OL. Ini saya masih nulis terusannya, ntar saya mampir deh di blogmu.

    Udah baca tentang self confidence building? Semua bisa dilatih kok Sandy…maju terus dan semangat.

  3. jadi ingat istilah 4P marketing yang sudah berkembang menjadi 7P: Place, Promotion, Price, ….. (apa ya bu, harap lengkapi.. hehehe).

    btw, kalo sambil beberes trus baca buku dulu, kapan selesainya tuh bu?? atau anggap saja; positioning: beres2, differensiasi:sambil baca2, branding:enjoy your life.. 🙂
    *yg biasa gitu juga

  4. Trian,

    Ini sesama teman kampung gajah dengan Sandy ya. Juga sama Bagus Kd .
    Sabaar…cerita di atas masih ada lanjutannya, masih dalam draft, dipersingkat dulu biar bacanya ga bosen.

    Yang ada 4 P + 2 P + 1 C….ini untuk perusahaan jasa atau bank, yaitu: Product, Price, Place, Promotion, People, Process…dan Customer Service.

  5. Saya denger dari temen, pegawai sampurna, pak hermawan itu bagus di teori doang. Betul ga bu?

    – tukang ketik

  6. Mas Adi,
    Kalau soal bagus apa tidak saya kurang tahu, tapi saya melihat bahwa kekuatan beliau adalah dari teori yang sulit, disederhanakan sehingga memudahkan bagi orang yang mendengar. Sebetulnya teori marketing perubahannya tak banyak, tapi ada inovasi atau membuat detil dan istilah, yang memudahkan penyerapan.
    Kalau saya naik Garuda, biasanya ada tulisannya HK ( lihat post saya di <i>View from the Top<i>), sayangnya 3 bulan terakhir ini saya terbang dengan Garuda, di majalah Garuda tak ada lagi tulisan beliau, mungkin kontraknya sudah habis. Saya pernah mengenal dekat beliau, karena dulu sering berhubungan dalam tugas, juga kadang2 beliau menjadi dosen tamu di Diklat perusahaan saya.

  7. bu Enny, kalau di dunia kerja sendiri (atau menurut pengalaman ibu) bagaimana ya kira-kira penerapan prinsip2 diatas (positioning, diferensiasi dan branding)? mengingat dunia kerja itu sendiri kan relatif homogen dan sudah ada rules/aturan yg agak rigid sehingga terkadang susah utk berekspresi/berinisiatif. mohon pencerahannya bu 🙂

  8. Osinaga,
    Segitiga PDB didunia kerja, apalagi yang targetnya jelas, memang bisa memperlihatkan beda satu orang dan lainnya. Memang di kantor aturan kepangkatan jelas, namun tiap manusia selalu ada keunikannya. Banyak kan ditemui , ada orang pandai menganalisis, tapi kurang bisa mengemukakan pendapat, atau tak berani mengambil keputusan. Justru kalau di perbankan, skill dan konwledge seseorang sangat mudah terlihat, apalagi jika dikaitkan dengan content dan context.

    Mengapa si A terlihat lebih berani mengemukakan pendapat, berani mengambil risiko dsb nya. Saya dulu punya atasan, yang selalu mempersiapkan diri, jadi kalau ada pertemuan dengan BoD selalu ada bahan yang bisa didiskusikan. Jadi kuncinya…persiapan-persiapan..persiapan. Jadi beliau diposisikan orang yang selalu punya persiapan, memahami masalah, dan tempat bertanya.Brandingnya apa? Beliau ahli kredit, namun juga touch terhadap masalah ke SDM an. Di bawah beliau, saya ikut dipaksa kerja keras, menjadi koordinator Project Officer pendidikan AO seluruh Indonesia.

    Pasti osinaga juga udah dipersepsikan tertentu oleh atasan atau teman. Brand nya apa? Osinaga yang ahli IT atau apa….kalau ada apa2 tanya dia deh…banyak kan kita mendengar ucapan seperti ini. O, kalau mau tanya masalah devisa ke A deh…kalau masalah IT ke B, kalau bidang risk management ke C dst nya. BoD juga biasanya udah tahu, kalau perlu sesuatu, siapa yang layak dihubungi.

    Kayaknya kapan2 kita perlu kopdar ya…kayaknya diskusi begini asyik juga…

  9. kata pak Hermawan segitiga itu insipirasinya pas dia kul di elektro loh….. ilmu matematik gitu…. 🙂

  10. @edratna:
    terima kasih untuk saran dan tipsnya bu Enny. ternyata apa yg bu Enny kemukakan benar adanya hanya saya kurang menyadari saja. sisi positif branding / uniqueness memang bisa sebagai jalan utk lebih dikenal atasan yg artinya akan berimpact kepada prestasi/penilaian kondite dan ujung2nya ke karir. cuma terkadang sisi positif tersebut terkadang menjadi kelihatan sia-sia manakala sudah berhadapan dengan sistem birokrasi. sehebat/seunik apapun si karyawan tetap harus menunggu giliran utk bisa naik jenjang karir/promosi. dan yg saya takutkan hal ini bisa jadi sumber demotivasi bagi karyawan2 muda/baru yg sebenarnya punya branding/uniqueness. bu Enny pernah baca/nonton iklan A-Mild : yang muda yang tidak dipercaya ? nah mirip2 itu deh bu 🙂

    ngomong2 soal kopdar ide bagus juga tuh bu cuma minggu-minggu ini mungkin saya belum bisa join bu Enny … soalnya dah masuk hari-hari siaga-1 di rumah he.he.he 🙂

  11. Arul,

    Saya tak tahu latar belakang pak Hermawan, selain pernah jadi Direktur di perusahaan rokok..
    Tapi mungkin juga, antara ilmu satu dan lainnya saling mempengaruhi.

    Osinaga,
    Kadang kita tak menyadari kelebihan kita, justru disinilah peran mentor atau seorang atasan, untuk menemukan karakteristik kemampuan anak buah, serta ditingkatkan. BI juga mengatur bahwa lembaga keuangan (Bank) harus memberikan pendidikan bagi para karyawannya, minimal 5% dari biaya OHC…berarti para karyawan harus belajar terus menerus. Jika kurang dari itu, maka harus dikembalikan kepada BI atau LPPI (Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia). Kalau ditempat kerjaku dulu, awal tahun atasan sudah membuat planning, agar masing2 karyawan di bawah tanggung jawabnya minimal setahun sekali harus ikut pendidikan, atau seminar dan sejenisnya.
    Jadi, baik karyawan maupun atasan bersama-sama bisa membuat perencanaan, kita mau kemana, kompetensi apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan…atau kita mau pindah jalur…

  12. Teori itu penting, tapi realita dilapangan harus flexibel sesuai kepentingan manajemen untuk memutuskan sesuatu, demi kelancaran operasional sesuai target yg telah disepakati bersama.

  13. Botax,

    Thanks telah mampir. Teori itu penting, tapi yang lebih penting adalah mengaplikasikan di lapangan. Saya setuju, tak ada gunanya pandai berteori… dilapangan akan dibuktikan apakah seseorang tersebut mampu mempraktekkan teorinya. Dan dalam praktek, kita selalu berhadapan dengan orang lain yang sifatnya bermacam-macam, serta ada dead line untuk mencapai target, jadi kombinasi semuanya pada dasarnya adalah untuk mencapai target organisasi/perusahaan. Dan target ini telah disepakati bersama pada saat membuat rencana kerja anggaran.

  14. thank yu……..sangat membantu……padahal dah banyak aq baca buku sukses dalam karir dan kehidupan ampe mati or tewas ternyata masih ada juga ya yang terlewatkan?
    wkakakakakak……..

  15. bu, kayanya perlu sering nih dalam dunia marketing bisnis. Soalnya antara teori dengan aplikatif kadang berbeda, kita juga harus bisa menyikapi situasi dan kondisi dalam aplikatifnya……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: