“Learning organization” Bank Syariah

Sebagaimana halnya manusia, Bank juga organisasi pembelajar, karena sebagai organisasi, aset utama Bank adalah manusia. Dan mengapa organisasi atau perusahaan perlu terus menerus belajar? Dan apa rahasianya sehingga organisasi mampu berumur panjang? Charles Darwin mengatakan, “bukan yang terkuat yang mampu berumur panjang, melainkan yang paling adaptif”. Yaitu mereka yang selalu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan (Kasali, R.,2007)

Syarat untuk selalu menyesuaikan diri adalah adanya proses belajar yang terus menerus, dan semua orang dalam organisasi adalah manusia-manusia pembelajar. Bank Syariah saat ini tengah berupaya memperluas jangkauan untuk juga membiayai sektor infrastruktur, manufaktur dan properti. Namun di satu sisi ratio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing, atau NPF) Perbankan Syariah dari data publikasi Bank Indonesia pada akhir Mei 2007 berada pada 6,17% atau senilai Rp.1, 353 triliun dari total pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp.21,92 triliun (Republika,29 Juli 20027:24).

Total pembiayaan Perbankan Syariah tersebar pada (posisi Mei 2007): a) Konstruksi Rp. 1,741 triliun (7,94%);b) Pertambangan & Industri Rp. 301, 711 miliar (1,38%); c) Listrik, gas, air Rp. 8, 691 miliar (0,04%): d) Lainnya, tersebar pada: pertanian, perdagangan, restoran, hotel, transportasi dan jasa dunia usaha

Mulya Siregar dari DPbsBI, menjelaskan bahwa cukup tingginya NPF Bank Syariah, antara lain disebabkan:

  • Perbankan Syariah tengah menjajagi sejumlah sektor pembiayaan baru. Sektor baru tersebut dikenal sebagai sektor korporasi, diantaranya mencakup pembiayaan manufaktur, infrastruktur dan properti .
  • Di sisi akad, Perbankan Syariah tengah meningkatkan pembiayaan dengan akad non murabahah (non jual beli), seperti mudharabah atau bagi hasil.
  • Sebelumnya Perbankan Syariah hanya melaksanakan pembiayaan non korporasi dan saat itu NPF paling tinggi berada pada level 4,2 -4,3 %. Pola pengembangan bisnis model lama kurang optimal dalam perkembangan industri Perbankan Syariah. Oleh karena itu Perbankan Syariah masih belajar, dan ini yang membuat NPF meningkat. Dan ini harus dilalui, agar kedepan Perbankan Syariah memperoleh pengalaman yang lebih baik.

Kondisi tersebut juga diakui oleh Juwono, dari Bank BNI Syariah, yang sebelumnya hanya bermain di ritel dan UKM (Usaha Kecil dan menengah). Juwono menjelaskan, bahwa sektor ritel di BNI Syariah mencapai 60% dari pembiayaan BNI Syariah.

NPF pada akhir tahun 2007 bisa berkisar pada angka 5% bahkan dibawahnya , kata Mulya Siregar, Peneliti Eksekutif Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Posisi NPF sebesar Rp.1,353 triliun (dari total pembiayaan Rp.21,920 triliun) di rinci sebagai berikut: a) Macet (M) Rp. 560,394 miliar (2,56%); b) Diragukan (D) Rp. 312,610 miliar (1,43%); c) Kurang Lancar (KL) Rp. 479, 713 miliar (2,19%); d) DPK (Dalam Perhatian Khusus) Rp. 1,266 triliun (5,77%)

Bagaimana agar NPF bisa menurun? Untuk menurunkan NPF diperlukan orang-orang yang qualified, pantang menyerah, mempunyai daya analisis yang kuat, serta negosiator yang ulung. Kualitas ini diperlukan untuk meyakinkan nasabah, bahwa diperlukan restrukturisasi perusahaan (tak sekedar restrukturisasi di bidang finansial) untuk menyelamatkan perusahaan, dan meningkatkan produktivitas perusahaan.

Restrukturisasi hanya dapat dilakukan jika nasabah bersedia bekerja sama dengan Bank, karena setiap unit operasional perusahaan harus dilihat secara komprehensip, dimana letak permasalahannya. Bank hanya bisa membantu dalam restrukturisasi finansial, dengan memberikan kesempatan melakukan negosiasi pembayaran. Namun nasabah juga harus mengevalusi kembali, apakah unsur dalam operasional perusahaan ada titik lemahnya, dan perlu mendapatkan perbaikan. Restrukturisasi pembiayaan hanya dapat dilakukan, jika nasabah bersama Bank melakukan penilaian pada setiap aspek dalam operasional perusahaan, kemudian menentukan langkah-langkah perbaikan.

Telah disadari bahwa meningkatnya NPF Bank Syariah, adalah karena Bank Syariah mencoba melakukan pengembangan bisnis dengan memberikan pembiayaan pada sektor korporasi. Perlu diperhatikan bahwa penilaian usaha pada sektor korporasi berbeda dengan penilaian pada sektor ritel atau menengah. Pada sektor korporasi, pada umumnya operasi perusahaan lebih kompleks, sehingga diperlukan analisis yang lebih tajam, serta memasukkan berbagai varian dalam analisis, misalnya: inflasi, perbedaan nilai tukar (apabila nasabah melakukan ekspor impor), serta hal-hal lain yang sangat terkait dengan operasi perusahaan korporasi.

Mengingat hal di atas, Perbankan Syariah perlu memberikan pendidikan kepada para staf (account officer) yang menangani pembiayaan, terutama di bidang analisis pembiayaan, agar dapat memberikan pelayanan bagi perusahaan korporasi yang membutuhkan pembiayaan, namun tetap selektif dan penuh kehati-hatian.

Daftar Pustaka:

  1. Republika, 29 Juni 2007 halaman 24
  2. Kasali, Rhenald. “Change”. Tak peduli berapa jauh jalan salah yang anda jalani, putar arah sekarang juga (Manajemen Perubahan dan Manajemen Harapan). PT Ikrar Mandiriabadi . Jakarta, 2007
Iklan

8 pemikiran pada ““Learning organization” Bank Syariah

  1. “bukan yang terkuat yang mampu berumur panjang, melainkan yang paling adaptif”

    setuju sekali bu. Ini juga hal yg sangat ditekankan di tempat saya bekerja.

    Total pembiayaan Perbankan Syariah tersebar pada (posisi Mei 2007): a) Konstruksi Rp. 1,741 triliun (7,94%);b) Pertambangan & Industri Rp. 301, 711 miliar (1,38%); c) Listrik, gas, air Rp. 8, 691 miliar (0,04%): d) Lainnya, tersebar pada: pertanian, perdagangan, restoran, hotel, transportasi dan jasa dunia usaha.

    Itu datanya benar gak Bu? Total ke-3 sektor pertama gak ada 10%. Kecuali kalau yang di (d) salah satunya lebih besar dari 15%.

    Kalau perbankan yang konvensional, kira-kira sekarang berapa yah NPL nya?

    Dulu waktu masih di BRI, biasanya ngasih loan nya ke sektor mana Bu? Pernah menangani kasus strukturisasi nasabah yang loan-nya macet Bu?

    Kalau memang naiknya NPL sekarang karena sedang dalam proses belajar, mudah2an gak butuh terlalu lama. Tapi, bukannya bank2 syariah di Indonesia itu subsidiari dari bank2 konvensional yah? Kenapa gak minta transfer ilmu dari bank konvensionalnya yah?

    Maap kebanyakan pertanyaan Bu. 🙂

  2. Ihedge,
    Baca lagi dengan teliti, yang butir d) lainnya tersebar pada….jadi artinya 90% pembiayaan Syariah masih kepada jenis usaha trading dan teman2nya. Artinya apa? Investasi disektor riil belum berjalan sempurna, karena jika hanya trading, maka pembiayaan hanya untuk working capital, tidak untuk meningkatkan kapasitas.

    Loan Bank BRI tersebar ke semua sektor, karena Bank tsb misinya diutamakan untuk segmen mikro ritel dan menengah (ini tertuang dalam Corplan, dan minimal 80%), serta untuk korporasi maksimal hanya 20% dari total loan.

    Saat masih aktif bekerja di Bank, sejak awal saya ditempatkan di bidang pembiayaan kredit ritel dan menengah, kemudian tahun 97 dipindah ke Desk Penyehatan Kredit Korporasi yang nantinya menjadi Divisi Restrukturisasi. Sesuai ketentuan BI, kredit yang masuk kategori Non Performing Loan (NPL) harus dipindahkan ke Divisi tersendiri. Bekerja di Divisi Restrukturisasi memerlukan stamina yang kuat, serta membutuhkan dukungan dari staf yang analisisnya kuat. Namun hal yang paling membahagiakan adalah jika restrukturisasi berhasil, dan perusahaan bisa sehat kembali, produksinya mulai meningkat, yang berarti membutuhkan tenaga kerja lebih banyak.

    Dan agar restrukturisasi dapat berjalan, antara debitur dan Bank harus berjalan berdampingan, karena Bank hanya bisa masuk/membantu di strategi finansial…tapi untuk bisa membantu, maka harus dilihat keseluruhan operasional perusahaan. Sama seperti kerjasama antara dokter dan pasien.

    SDM Bank Syariah, sebagian ada yang berasal dari Bank Konvensional, makanya saya sependapat dengan pak Mulya (saya sempat ketemu saat seminar Islamic Banking di Singapura, dan beliau salah satu pembicaranya), bahwa NPF ini bisa diperbaiki, apalagi kan sebagian pembiayaan masih pada kredit ritel dan UKM. Kalaupun PS bergerak ke sektor korporasi, tentu masalahnya belum kompleks, sejalan dengan perkembangan Syariah di Indonesia.

    Hmm iya, dalam pendidikan, SDM Bank Syariah juga dilatih untuk dapat melakukan restrukturisasi pembiayaan…dan ini termasuk tanggung jawab Divisi Diklat. Saya pindah ke Divisi Diklat setelah 7 (tujuh) tahun membantu penanganan untuk menyehatkan perusahaan yang sakit. Tugas Divisi Diklat adalah membantu strategi Divisi MSDM, menyiapkan SDM yang berkualitas, agar dapat mencapai target bisnis sesuai yang ditetapkan.

  3. Oh gitu yah Bu, biasanya kalau membuat list, kita masukan dari yang paling besar. Lalu sisanya yang kecil-kecil di belakang dan gak disebut nilainya. 😀

    Makasih buat jawabannya yang detail. 🙂

  4. Ihedge,

    Karena data tadi kutipan dari “Republika”, jadi saya tak merubah apapun…saya hanya menambah pada analisis, berdasar pengalamanku dibidang restrukturisasi, serta pelatihan untuk perbankan.
    Thanks

  5. wisnu

    Ass…wr wb
    Seneng juga lihat perkembangan Perbankan syariah di Indonesia. Kalo perkembangan risk managementnya gimana ya bu? Soalnya setahu saya Perbankan Konvensional 2008 sudah pake Basel II, kalo bank syariah gimana ya?
    Maklum, masih minim pengetahuan perbankan syariah.
    Thanks, and wass…

  6. Ass ww,

    Mas Wisnu, Perbankan Syariah juga harus mengikuti aturan Basel II, karena kalau tidak maka tak dapat bertransaksi antar perbankan. Aturan Basel II, oleh Bank Indonesia telah ditulis dalam bentuk aturan PBI yang harus diikuti oleh seluruh Bank yang beroperasi di Indonesia, baik konvensional maupun Syariah, swasta nasional, asing maupun BUMN.

    Aturan Besel II, antara lain adalah Risk Management, dan kalau kita perhatikan sebetulnya sejak awal mula Bank didirikan telah dilakukan risk management. Misalkan credit risk, mengapa harus dinilai kelayakan suatu usaha nasabah, mengapa harus dimonitor cash flownya. Cuma dalam Basel II, risk management harus lebih ditata lagi. Demikian juga tentang market risk….Risk mgt yang baru adalah operasional risk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s