Oleh: edratna | Juli 11, 2007

Kenyamanan=biaya mahal?

Selama ini saya kurang peka saat si mbak (pembantu) “agak malas” ditawari menabung di bank.

“Ah, bu, saya sudah punya rekening tabungan dikampung, dekat Magelang”, kata Mbak

“Tapi kalau ada apa-apa kan kamu ambilnya sulit, sedang kalau tabungan yang ada ATM nya, kamu bisa ambil dimana-mana,” kata saya

“Nggak apa-apa bu, saya perlunya kan cuma saat pulang Lebaran,” jawab si Mbak lagi.

Saat si sulung kuliah di Bne, praktis rumah Jakarta penghuninya hanya saya dan si Mbak, karena suami bekerja di Bandung, dan anak bungsuku juga kuliah di Bandung. Ternyata diam-diam suami kawatir atas keselamatan saya, takut saya ada apa-apa. Maklum saat itu mobilitas saya cukup tinggi, lebih banyak keluar rumah dibanding ada dirumah, di samping itu juga banyak tugas keluar kota, keluar pulau, bahkan kadang seminar ke luar negeri.

Oleh suami, si Mbak dibukakan buku Tabungan, yang diisi setiap bulan, di luar gaji bulanan yang saya bayarkan pada si Mbak. Setelah saya tidak aktif, rutinitas kehidupan berubah. Saya hanya kadang-kadang keluar kota, untuk mengajar, juga tugas di salah satu perusahaan tak mengharuskan saya datang setiap hari.

Kemarin suami menunjukkan buku Tabungan yang dibukakan atas nama si Mbak, dari saldo yang terakhir sebesar Rp.2.500.000,- bunga yang diperoleh Rp.4000,- namun biaya administrasinya Rp.5000,- berarti apabila tanpa ditambah, maka lama kelamaan tabungan akan habis. Bahkan sekarang, biaya administrasi menjadi Rp.7.500,- per bulan, ada atau tanpa menggunakan ATM. Di Bank BCA lebih mahal lagi, biaya administrasi Rp.10.000,- per bulan.

Biaya yang mahal tersebut disebabkan Bank harus membangun jaringan ATM, yang memerlukan biaya operasional cukup besar, sehingga biaya nya dibebankan kepada penabung. Di satu sisi adanya ATM mempermudah transaksi, namun sisi lainnya biaya yang dibebankan meningkat.

Akhirnya saya dan suami mencoba mencari alternatif lain, dan kemungkinan akan dipindahkan ke bank Syariah…tapi jika ada ATM nya biaya akan besar pula. Masalahnya Bank Syariah yang dekat rumah, atau dapat diakses dengan kendaraan umum yang mudah dari rumah tidak ada, dan paling dekat harus ganti bis dua kali.

Karena masalah tadi, saya menginventarisir buku tabungan saya…yang ternyata cukup banyak, dan jangan-jangan sudah bersaldo nihil karena ada beberapa buku tabungan yang tidak aktif lagi. Dulunya buku tabungan digunakan untuk berbagai keperluan, untuk cadangan yang jika saldo telah mencukupi dipindah kerekening deposito rupiah/valas, untuk keperluan operasional sehari-hari, dan masing-masing si Mbak dibukakan buku tabungan ( atas nama saya, karena kalau dia butuh tinggal instruksi ke majikan untuk diambilkan uang), dan buku tabungan masing-masing untuk anak saya. Oleh karena saat ini anak-anak telah besar, cukup mempunyai 2 (dua) buku tabungan, untuk biaya operasional (menampung gaji), serta untuk cadangan.

Iklan

Responses

  1. cihuy pertamaaaa….

    komen dulu baru baca.. hehehe. jangan diapus ya bu…

  2. bu, saya bikin tabungan trus minta diisiin tiap bulan boleh ga?

    becanda deng, hihihi

    bu, kopdar yuk… bu vitta(the boss) mau ketemuan katanya. Kalo iya, konfirmnya japri aja yah ke email saya: adiwirasta[at]lycos com

  3. Boleh…boleh….kapan?

  4. hahaha… bunga minus… saya juga sadar akan hal itu, dan kalau diperhatikan “celah” itu banyak dipakai oleh orang2 asuransi / investasi kayak prudential, astra, manulife, dsb. they said “bunga di bank kecil lho, dan kalau tabungannya “sedikit” pasti makin berkurang…” pinter juga ngerayunya yah… 🙂

    Saya sendiri buka tabungan hanya pernah di 3 bank, BCA, Mandiri & Lippo, dulu Lippo saya buka karena di tempat kerja lama gajiannya di transfer lebih cepat 3 hari… :p sekarang hanya BCA dan Mandiri.

    Karena semakin sadar bunga bank tidak bisa “diandalkan”, saya coba mengalihkan dana ke yang lain, asuransi + investasi di Astra CMG Life, ju2r saya bego masalah hitung2an / pajak / angka2 masalah duit… karena itu tidak tahu kelebihan dan kekurangan masing2 produk seperti ASTRA, PRUDENTIAL, MANULIFE dsb. :p saya pilih berdasarkan background company saja, yang secara logika kalau ASTRA kayaknya lebih “kuat”…

    Lalu sisanya investasi dalam bentuk property… 🙂 *bukan investasi denk lha wong baru punya 1… eh 2 sama dikampung warisan… hahaha…

    Terus habis deh uang “bulanan”nya… 😦 harus berpikir dan berusaha lebih keras nih untuk meningkatkan pemasukan uang “bulanan”…

    KopDar nya kapan? dimana? pengin join kalau bisa… 🙂

  5. Orangemood,

    Iya nih, setelah pensiun, mesti menghitung lagi dengan teliti cara investasi uang. Karena uang pensiun kecil, pekerjaan saat ini kontrak 3 tahun (s/d 2010), tak harus kekantor tiap hari…., sedang sambilan lain kadang-kadang mengajar atau jadi tim ini itu yang tak pasti…

    Harus semangat ahh, paling tidak kalau menganggur jadi sering nulis…hehehe, kata anakku produktivitas=pengangguran (maksudnya kalau produktif nulis di blog…artinya ibu lagi ga banyak tugas alias menganggur).

    Kopdarnya aku tanya Adi ….ntar aku cek email, apa dia udah jawab.

  6. aku kok susah nabung ya, habis terus 😦

  7. Salam kenal…(Indonesia)
    Numpang promosi nih!
    Ada yg mau kuliah dengan beasiswa? Belajar Wirausaha?
    Main ke blog kampusku – Makasih ya!

  8. bu, daripada ibu nanya kapan, karena ibu yang jadi bosnya alias saya pribadi juga sering dapat banyak pencerahan dari ibu, gimana kalau dari ibu aja yang set waktu ketemuannya kapan nanti biar yang lain kita-kita pada ngikut, saya juga pengen lho ikutan ketemuan kalau ibu hadir 🙂 kasih kabar lewat email saya ya bu kalau nanti ibu sudah set janjian ketemuan (kalo bisa ketemuannya di Jakarta juga bu ya). Tq.

  9. Pakai Shar-e aja dari bank Muamalat, ga ada ceritanya tuh bunga minus. Bebas riba lagi.
    Bisa transfer otomatis lewat telepon dan ga perlu buku tabungan.
    Plus gratis tarik tunai dimana saja. Bisa juga dipakai di debit BCA.
    Sekarang setiap gajian, saya selalu transfer ke Shar-e dari BCA, entah kenapa saya ga suka hasil jerih payah saya mengendap lebih dari satu hari di BCA. Andai perusahaan tidak maksa, dari dulu sudah mau saya kubur itu rekening BCA.

  10. Oya, Shar-e tidak memungut biaya administrasi apapun. Tidak ada biaya pemeliharaan rekening, ATM dll dsb.
    Satu-satunya yg bisa dibilang rugi adalah harga perdananya 25.000 (125rb-100rb saldo).

    Anggap aja itu beli dompet cantiknya (satu paket dgn kartu shar-e nya).

  11. Saya juga sama dengan Anda, cuma punya 2 tabungan. Satu untuk transaksi/operasional sehari-hari, yang lain untuk cadangan dan investasi. Terlalu banyak rekening memang ribet, apalagi kalau saldonya tak seberapa.

    Mengenai fenomena “bunga minus” ini, sejauh pengamatan saya kok cuma terjadi di Indonesia ya? Ini tak terjadi di bank-bank luar; kendati bunga yang mereka tawarkan tak sebesar bank-bank di Indonesia.

    Lagipula, bukankah BCA sudah lebih 15 tahun ini berinvestasi di ATM yang harusnya sudah BEP. Bank-bank lain juga kebanyakan outsource atau masuk ke jaringan ATM bersama. Harusnya, biaya-biaya tersebut (kalau ada) hanya dibebankan ke pengguna ATM saja.

  12. saya termasuk orang yang pernah ‘niat’ berhitung menghadapi bunga defisit, artinya saya menghitung berapa saldo tabungan minimal untuk bisa ‘menghidupi’ tabungan (membayar biaya2 administrasi-nya), istilah saya: autoself-living.
    apalagi itu karena tekad untuk perlahan-lahan beralih ke syariah.

  13. ***
    Thanks telah mampir. Mosok ga bisa nabung? Ajaran ibu, kalau punya beras, tiap hari ambil sejimpit (satu kepal tangan, disimpan) untuk tabungan agar cukup sampai akhir bulan.

    Kang Tutur,
    Saya udah lihat blognya, siapa tahu anakku berminat dapat beasiswa. Thanks.

    Arie,
    Iya nih, enaknya kapan? Kalau hari kerja kan pulang kantor udah malam, hari Sabtu ada acara…atau Minggu? Penginnya sih dekat2 rumah…hehehe..(Citos, PIM, Blok M Plaza).

    Fadli,
    Iya, mau coba ke Bank Syariah, cuma belum sempat.

    Nofie Iman,
    Thanks telah mampir. Mungkin itu juga merupakan strategi pemasaran, karena BCA ingin meningkatkan segmen pasarnya. Bisa dimaklumi jika semakin banyak penabung namun saldonya kecil-kecil, biaya overheadnya besar.

    Dan biaya tsb kan masuk dalam fee based, karena penyaluran pembiayaan saat ini juga tidak mudah karena sektor riil belum berjalan lancar.

    Trian,
    ….Selalu…emailnya ke bulk. Dulu teman kuliah saya yang berkecukupan dibukakan deposito oleh ortunya, bunga deposito mencukupi untuk biaya per bulan, karena bunga berkisar 18-20%. Saat ini kan bunga deposito, tabungan dibawah 10%…Di satu sisi tingkat suku bunga rendah, menunjukkan ekonomi negara tsb membaik…Lihat negara lain, saat Indonesia bunga masih diatas 10%, di Malaysia hanya 6%, demikian juga di Hongkong, Jepang dan Singapura.

  14. Kan di indonesia bu, mau enak, bagus ya mahallll
    hanya satu yang belum tentu enak n bagus, yaitu sekolah di indonesia,

    bayarnya pada mahal…. tapi kualitasnya ??? belum tentu….

  15. Mas gOeN,

    Saya masih percaya pendidikan di sekolah negeri, murah dan sistem pengajarannya baik. Memang fasilitasnya berbeda, gedungnya sangat sederhana. Anak2ku semua sekolah negeri, dari SD-SMP-SMA-PTN…..

    Bahkan saat SD istilahnya SD inpres, tapi guru2nya…woo…perhatian banget, saya setiap bulan selalu menyempatkan diskusi dengan Kepala Sekolah dan guru2nya. Dan saya lihat PR anakku,berat-berat…dan anakku seperti saya masa kecil dulu, karena teman2nya bukan dari golongan “The Have”…maka permainannya ya sederhana. Hanya saya menambahkan les piano, dan bahasa Inggris…sedang pelajaran lain cukup dari sekolah.

  16. Kalau biaya adm sebuah rekening mahal, kenapa ya banyak orang bisa suka-suka punya banyak rekening? Ngejar hadiah..?
    [saya tak pegang satu rekening pun, isteri saya… 4 rekening 🙂 ]

  17. Anang,

    Karena orang tsb uangnya banyak, jadi biaya administrasi tak terasa karena lebih banyak kemudahannya. Sayapun baru sadar karena udah MPP, jadi jarak rumah ke Kantor Bank semula (yang dulu hanya diseberang kantor) jauh, serta ada keluhan si Mbak tadi. Dan rekening banyak karena agar kegunaan masing2 rekening bisa dimonitor.

  18. Negeri memang lebih murah dari swasta, tapi untuk negeri di kota besar sepertinya tetep termasuk mahal ya, saya ada sodara sekolah smp negeri di jakarta, yang katanya gratis, nyatanya tetep tiap bulan ortunya ngeluarin uang sekitar 200 ribuan,

    saya jadi kepikiran pas anak saya sekolah nanti berapa musti bayarnya ya 😀

    mudah-mudahan anak saya bisa pinter terus dapet beasiswa amin. he … he .. he

  19. Mas gOeN,

    Yang mahal uang kost2an nya, uang kuliah mahal pas awalnya. Tahun kedua kalau nilainya baik, banyak beasiswa dari perusahaan, atau kalau di ITB ada IOM ITB (Ikatan Orangtua Mahasiswa) yang memberi bantuan asal nilainya bagus.

    Juga bisa sambil kerja, entah jadi asisten atau banyak hal lainnya yang masih bisa dilakukan sambil kuliah. Yang penting disiapkan sejak sekarang, agar mendapat tempat di PTN yang bagus.

  20. belum baca sih, tapi salam kenal

  21. anggara,
    Salam kenal juga pak, saya udah sempat mengunjungi blog bapak. Saya jadi tahu, kalau ada masalah hukum tanyanya kemana. Thanks

  22. @ ****
    Saya juga susah buat diajak nabung, duitnya suka diambil mpe abis….

  23. @bu edratna,

    kalau nanya balik ke saya lagi, walah saya lihat schedule saya akhir bulan ini weekend nya kosong tuh, tapi saya masih belum berani janji juga lho ya, biasanya kalau udah dekat-dekat hari H nya biasanya kisaran 2 minggu sebelumnya baru bisa confirm lagi emang betul-betul kosong/bisa keluar ato nggak. jadi kisaran tanggal 29 juli ini atau 5 agustus. tentang tempatnya saya OK banget tuh kalo di PIM, Citos dari tempat saya juga dekat (kalo citos, banget malah) 🙂
    Confirm selanjutnya lewat email email an aja ya di ariekusumaatmaja@gmail.com
    Tq

  24. Neen,

    Memang harus latihan. Saat awal kerja, uang gaji saya pas2an, setelah diambil untuk bayar kost, uang saya pisah2kan di amplop, untuk transport (naik bis, dan maksimal 3x naik bajay), untuk makan siang dikantor, untuk belanja bulanan (sabun, pasta gigi dll)…dan tetap harus ada cadangan kalau sewaktu-waktu sakit.

    Saya satu kost dengan teman. Nahh yang pegang uang saya….suatu ketika dia merengek minta naik bajay dari kantor di jl. Veteran ke Jl.KH Mansyur. Saya ngotot ga bisa, karena jatah untuk naik bajay udah habis….Bisa bayangin kan, kesulitan saya awal kerja? Jadi wajar kok, uang pas2an, tapi tetap aja harus ada cadangan, dan kurangi pos yang kurang perlu.

    Arie,
    Ok, ntar dibuat jadualnya ya. Saya akan kirim via japri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: