Oleh: edratna | Juli 18, 2007

Kawatir, Hati-hati, atau Manajemen Risiko Kredit telah berjalan baik?

Halim Alamsyah, Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, yang dikutip oleh Kompas tanggal 18 Juli 2007, menjelaskan sebagai berikut:

“…Undisbursed loan naik Rp.6, 9 triliun pada triwulan ke II/07. Total kredit yang belum ditarik hingga akhir semester II/07 mencapai sekitar Rp. 172 triliun atau 20% dari total kredit. Kenaikan signifikan terjadi pada Kredit Modal Kerja (KMK), yaitu mencapai Rp.4,3 triliun. Sektor perdagangan yang terbesar dengan nilai Rp. 6 triliun. Secara total, pangsa undisbursed loan sampai triwulan II/07 tetap didominasi Kredit Modal Kerja sebesar 70,7 %….”

Kompas juga mengulas bahwa penurunan suku bunga kredit belum secara langsung mengakibatkan peningkatan Kredit Modal Kerja. Suku bunga KMK dalam 13 bulan terakhir turun 229 basis poin, namun pertumbuhan KMK justru melambat.

Apa yang ada dipikiran kita membaca berita tersebut ? Kesimpulan sementara, perbankan dan pengusaha sama-sama masih saling menunggu. Untuk mengetahui mengapa banyak KMK yang belum ditarik (undisbursed loan), saya akan mencoba menyampaikan ilustrasi sebagai berikut:

PT “X” mendapat fasilitas KMK sebesar Rp.50 miliar dari Bank Maju. Salah satu pasal dalam Loan Agreement (Perjanjian Kredit) berbunyi: a) Mutasi R/K harus aktif, dan sebagian besar transaksi keuangan harus disalurkan melalui R/K di Bank. b) PT “X” wajib mengirimkan laporan keuangan setiap triwulan, lengkap dengan rincian persediaan, piutang dan hutang dagang.

Mengapa Bank Maju mensyaratkan mutasi R/K harus aktif dan sebagian besar melalui Bank Maju, serta PT “X” harus mengirim laporan triwulan?

  • Apabila Bank Maju adalah Bank yang memberikan fasilitas KMK kepada PT “X”, maka Bank Maju harus dapat memonitor cash flow PT “X”. Disadari, adanya persaingan Bank yang semakin ketat, serta untuk memudahkan transaksi keuangan dengan pelanggan, adalah wajar bilamana seorang pengusaha mempunyai rekening koran di berbagai Bank. Karena pada dasarnya penilaian kredit adalah kelayakan usaha, dan yang menjadi first way out adalah cash flow usaha, maka wajar bilamana Bank Maju mensyaratkan hal tersebut. Apabila PT “X” mutasi R/K nya aktif, maka hal ini mengindikasikan bahwa usaha PT “X” masih lancar, dan PT Bank Maju sementara bisa berlega hati, karena risiko kegagalan usaha relatif kecil.
  • Dari laporan keuangan, Bank Maju akan bisa melihat dan memonitor, apakah kinerja PT “X” sesuai dengan perkiraan yang disusun pada worksheet dan cash flow, yang dibuat saat pengajuan pinjaman? Jika ternyata kinerja PT “X” sesuai target, bahkan lebih baik, maka Bank Maju dapat mengharapkan bahwa kredit akan dibayar lancar sesuai jadual yang telah disepakati.

Bagaimana pandangan dari sisi pengusaha (PT “X”)?

  • Berdasar pengalaman saat terjadi krisis ekonomi, dimana suku bunga meningkat pesat, maka PT “X” cenderung berhati-hati dalam menggunakan plafond pinjaman yang telah disetujui. Setiap pembayaran dari pelanggan, akan disetor ke Bank Maju paling lambat keesokan harinya, sehingga rata-rata saldo debet rendah, dan dalam hal ini penghitungan bunga didasarkan atas saldo debet. Jika PT “X” rata-rata saldo debet hariannya rendah, maka bunga yang dibayar kepada Bank Maju juga akan lebih rendah, dan ini mengamankan cash flow perusahaan.
  • PT “X” hanya akan menarik rekeningnya jika ada biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan modal kerja, misalkan : untuk pembelian persediaan bahan baku, bahan pembantu, membayar hutang dagang dsb nya

Dari ilustrasi tadi, maka risiko kegagalan pembayaran kredit akan rendah, namun pendapatan Bank juga akan rendah. Di satu sisi Bank tidak dapat mempergunakan uang yang telah diperjanjikan (undisbursed loan) kepada pihak lain. Mengapa pengusaha tetap memohon fasilitas kredit dalam jumlah besar, dan kenyataannya tak semua digunakan? Karena proses pemberian kredit cukup memakan waktu, di satu sisi pengusaha ingin mempunyai cadangan jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan kebutuhan konsumen yang mendadak.

Masih banyaknya undisbursed loan juga menunjukkan, ada kemungkinan pasar belum terlalu bergairah, sehingga pengusaha “agak mengerem” tingkat produksinya, agar tak terjadi penumpukan barang jadi yang terlalu lama. Krisis moneter memang menjadi pelajaran berharga bagi pengusaha, jika sebelumnya pengusaha berlomba-lomba mendapatkan tambahan kredit, dan meningkatkan kapasitas produksi, saat ini pengusaha akan berhitung terlebih dahulu apakah memang kapasitas produksi sudah waktunya ditingkatkan.

Mengapa saya katakan, ada kemungkinan Manajemen Risiko Kredit telah berjalan baik?

Karena Bank lebih ketat dan selektif dalam memilih nasabah, serta memonitor cash flow dengan ketat, agar Bank tidak kecolongan karena tiba-tiba nasabahnya telah bangkrut. Di satu sisi, saat ini pada setiap Bank telah menerapkan “four eyes principles” dalam penilaian kredit, yang memisahkan antara Relationship Manageement dengan Credit Risk Management. Hal ini sesuai yang disarankan dalam aturan BI, untuk menjaga tingkat kehati-hatian Bank.

Sumber data:

“BI Kaji Aturan Penyertaan Bank” Nilai kredit yang belum ditarik debitur kian membesar. Kompas, 18 Juli 2007, hal.8

Iklan

Responses

  1. duh, mumet bacanya bu.. harus baca dasar-dasar perbbankan dulu kayanya mah, karena ilmu bank ga nurun kayanya.. hehe

    *makanya jarang yang komen ya.. ๐Ÿ™‚

  2. pengamatan yang jeli Bu. Setuju dengan hipotesanya.

  3. huhuhu… bagus dan ga ngerti semuanya… boleh request ngga yah bu, bahas penjelasan soal reksadana buat orang awam financial dan investasi seperti saya… thanks a bunch! ๐Ÿ™‚

  4. mmhh..
    *mundur teratur*
    *kurang ngerti*
    ๐Ÿ™‚

    regards,

  5. Ihedge,
    Thanks komentarnya. Memang tak mudah kan? Supaya kita juga tak asal menyalahkan saja….jadi di satu sisi undisbursed loan adalah hal baik dari sisi risiko (nasabah dan Bank hati2), di sisi lain tak efisien karena plafond loan tadi udah dicadangkan, dan tak bisa digunakan untuk keperluan lain.

    Trian, Orangemood dan Rickisaputra,

    Saya satukan ya. Memang blog saya maksudnya untuk sharing, bagi teman2 yang tak paham ilmu ekonomi (kayak saya dulu), juga anak2ku, pacar anakku…..agar pelan2 belajar dimana posisi kita kerja, juga posisi Indonesia dalam perekonomian. Pelajaran ini akan membuat kita waspada, hati-hati dan lebih pandai mengelola karir kita..kan ujung2nya menyangkut uang juga. Juga kita tahu keuangan perusahaan dimana kita bekerja, agar tak terjebak…ternyata perusahaan udah nyaris bangkrut, dan kita ter kaget-kaget.

    Dan yang penting, agar kita tak mudah menghakimi, mengeluarkan pernyataan tak perlu, padahal kita tak tahu apa-apa. Belajar finance mudah kok, apalagi jika latar belakangnya eksakta, karena seperti matematik.

    Sebetulnya Three Musketeer (julukan kakak angkat anakku saat di Comlab ITB), yaitu: Malik, Bayu dan Anto…El dan Ti ITB…pengin main kerumah, sekaligus diskusi dan belajar bareng. Cuma waktu yang lagi padat. Setelah capek wisuda anak bungsuku, saya ada RUPSLB di perusahaan, setelah itu kalau ga ada halangan apa2 mau mengajar di Papua seminggu.

    Kapan2 kita ketemu ya, bagaimana kalau kirim email ke saya, dan tuliskan no hpnya..biar bisa dihubungi dan ketemu jika ada waktu?

    Orangemood…soal reksadana bagaimana jika Bahar yang bahas, saya hanya paham kulitnya…ntar kalau dia bahas, saya bisa menambahkan sesuai pengetahuan saya. Kompetensi saya disisi asset pada neraca (Loan), dan Bahar lah ahlinya untuk reksadana, dan investasi. Setuju???

  6. bu Enny ikutan nimbrung ya ๐Ÿ™‚

    sedikit OOT tp masih nyambung : saat ini sindrom takut nyalurin kredit juga dah menjalar ke daerah (baca : BPD). apa pasal? ternyata setelah jaman reformasi ini banyak pejabat pemda takut merealisasikan anggaran / menjalankan proyek-proyek pembangunan karna takut jadi tersangka korupsi sejak adanya KPK. nah akibatnya dana-dana APBN/APBD banyak yg nganggur. nah nganggurnya dimana? karna dananya dana pemda maka mayoritas disimpanlah di BPD. efek ikutan nya adalah BPD kebanjiran dana murah/dana APBD. BPD sendiri sudah terkenal susah nyalurin kredit (terlalu prudent?) dibanding bank komersil lainnya. akibatnya mereka ambil jalan aman di’eramin’ di SBI. tinggal ongkang-ongkang kaki dapat return sebesar bunga SBI. efek ikutannya apa? dana anggaran banyak yg tidak terealisasi, projek banyak yg mandeg, pembangunan mandeg, pertumbuhan ekonomi stagnan, ujung-ujungnya inflasi.. ujung2nya BI lagi deh yg disalahin ๐Ÿ™‚ nasib..nasib.. ๐Ÿ™‚

  7. Osinaga,
    Memang antara menginjak rem dan gas harus seimbang. Kalau sekarang Bank diomelin terus, kalau menyalurkan kredit harus lancar (padahal bisnis tak semudah itu), disatu sisi pemeriksa dan yang mengerjakan, banyakan yang periksa. Saat di Divisi Bisnis, pemeriksaan tak pernah henti, BI datang belum sampai pulang, BPK datang, belum pulang audit intern datang, terus BPKP, terus auditor independen…dan semua minta dilayani (dalam arti diskusi), buka-buka barkas, yang kadang isinya bisa tercecer…udah deh…kalau udah begini kapan kerjanya?

    Ada salah satu BPD yang uangnya besar sekali dan disimpan di Bank, atau jadi SBI. Bukan hanya kawatir menyalurkan kredit, tapi juga pembangunan tersendat, karena pimpro kawatir diperiksa. Jadi orang akhirnya memilih aman saja, tak melakukan apa-apa.

  8. bank tidak bisa menggunakan uangnya karena sudah dijanjikan ke pengusaha, sementara pengusaha tidak menggunakannya karena blum butuh(padahal sebelumnya minta), jadi uangnya nganggur dunk? kalo begini menpengaruhi rating bank/pengusaha ga ya dimanta lembaga pemeringkat (eh ini ada ga sih??)

  9. Iway,

    Rating perbankan, dinilai dari berbagai ratio. Jika sumber dana jauh lebih besar dari pembiayaan, maka terlihat dari angka Loan to Deposit Ratio (LDR), yang merupakan perbandingan loan:deposit. LDR perbankan di Indonesia belum mencapai 70%, yang wajar adalah 90%.

    Namun masih ada penilaian lain, seperti BOPO (Biaya Operasional dibanding Pendapatan Operasional), semakin rendah BOPO perusahaan makin efisien. Juga CAR=Capital Adequacy Ratio.

    Perbankan tetap akan memilih menyalurkan kredit pada pengusaha yang berhati-hati, dengan risiko LDR rendah. Ini lebih aman dibanding sekedar angka LDR tinggi, tapi kualitas kredit rendah (dilihat dari Non Performing Loan yang tinggi), karena perbaikan kredit yang bermasalah memerlukan waktu lama dan melelahkan.

  10. Di satu sisi, saat ini pada setiap Bank telah menerapkan โ€œfour eyes principlesโ€ dalam penilaian kredit, yang memisahkan antara Relationship Manageement dengan Credit Risk Management.

    Makanya sekarang saya banyak proyek nyari senior relationship manager ๐Ÿ™‚ Ayo-ayo pada kirim CV ke saya dong, hehehe

  11. Andri,

    Betul juga…berarti ada lowongan baru. Tapi di Bank, sebelum konsep RM &CRM, dulunya sudah terpisah antara Account Officer (AO) dan Financial Analyst (FA), produknya konsultan BAH (Booz, Allen & Hamilton), jadi sebetulnya “agak mirip” juga…cuma sekarang fungsi CRM, adalah menilai kembali semua analisis RM, dilihat dari unsur risikonya.

  12. Secara teori bila tingkat suku bunga turun harusnya permintaan akan kredit naik. Ini akan menggerakkan sektor riil. Namun kenyataannya, sektor riil masih masih saja jalan di tempat. Kenapa ya bu??

    Kalo kata teman saya yang bekerja di bank, sejak gencar-gencarnya pemberantasan korupsi bank menjadi lebih ‘takut’ untuk mengucurkan kredit. Karena bila terjadi kredit macet maka orang-orang yang terlibat dalam pemberian kredit tersebut bisa dituntut dengan tuduhan memperkaya orang lain. Walah!!!!

    Atau mungkin juga karena banyak alternatif lain untuk pembiayaan perusahaan seperti melalui pasar modal.

  13. rx

    Thanks telah mampir. Sebetulnya tak ada istilah takut, tapi sudah seharusnya Bank menganut azas prudential banking. Karena fungsi Bank sebetulnya sebagai financial intermediary, dana yang dikumpulkan dari penabung, disalurkan lagi kepada usaha yang memang layak.

    Setelah krisis ekonomi, banyak usaha yang tutup, ada beberapa yang masih berjalan, atau kalaupun usahanya bagus mereka sudah belajar banyak dari krisis dan mengelola uang secara hati-hati. Akibatnya undisbursed loan tinggi…ini adalah dana yang sudah dicadangkan oleh Bank kepada debitur (yang telah menandatangani Loan agreement), tetapi tidak ditarik oleh debitur…atau debitur benar2 memanage cash flow secara hati-hati, sehingga semua transaksi melalui Bank.

    Jadi ini agak berbeda dengan cerita orang bank yang takut memberi kredit…disini justru kredit telah diberikan, tapi karena mitigasi risiko telah berjalan baik, maka banyak undisbursed loan atau kelonggaran tarik.

  14. Bu Enny, ikutan nimbrung ya…

    Selama ini saya sering menganggap istilah undisbursed loan sebagai kegagalan bank dalam menyalurkan kredit karena ketatnya persyaratan, sehingga banyak yang tidak memenuhi syarat sehingga ditolak. Persyaratan menyerahkan laporan keuangan triwulan bagi usaha tertentu ini juga sebuah pekerjaan berat padahal secara cashflow /likuiditas bisa jadi mereka memenuhi syarat. Tetapi jika ketemu nasabah dengan pelaporan keuangan yang sudah rapi, manajemen resiko lebih baik malah mereka tidak mengambil penuh plafon kredit yang dijanjikan.

    Tapi bukankah semakin besar undisbursed loan membuat kinerja perbankan akan turun. Apa yang dilakukan oleh bank dengan kondisi seperti ini?
    Apakah tetap saling menunggu?
    Apa tidak lebih baik menyalurkan porsi kredit ke nasabah lain (UKM barangkali) yang biasanya lemah dalam pelaporan keuangan tetapi biasanya mereka sangat likuid. Plafon kredit lebih rendah tetap dengan prinsip kehati-hatian misalnya mencari alternatif lain untuk tetap tahu kinerja keuangan nasabah.?
    Makasih

  15. Mbak Idrianita,
    Inilah susahnya jadi Bank, kalau nasabah baik, hati2, semua mutasi masuk rekening koran, maka akan semakin besar undisbursed loannya. Ke UKM? Salah satu Bank BUMN, justru kredit nya 80% masuk ke UKM…tapi UKM yang baik, dan pada umumnya bentuk pinjaman annuitet, akan selalu membayar tepat waktu. Bahkan untuk kredit mikro, karena ada IPTW (Insentif Pembayaran Tepat Waktu), mereka senang membayar lebih cepat jika panen atau usaha berhasil, karena akan dapat diskon bunga…ujung2nya outstanding turun.

    Sebetulnya jika Bank ekspansi kredit, yang dihitung dan dilaporkan ke BI adalah nilai outstanding…padahal Bank sudah menyetujui kredit yang nilai plafond nya jauh di atas nilai outstanding tsb.

    Sebelum krisis, nasabah begitu yakinnya dengan ekonomi Indonesia, sehingga kelonggaran tarik Kredit Modal Kerja ditarik full, malah kadang2 sebagai jaminan untuk mendapat fasilitas kredit di Bank lain. Begitu ada masalah, maka kewajiban semakin berat…tak terbayar, serta menjadi kredit bermasalah (Non Performing Loan).

    Sebetulnya Bank bisa menerapkan compensating balance, jumlah plafond yang tak ditarik dibebani bunga, tapi ini semakin memberatkan nasabah. Inilah dunia bisnis mbak…yang benar adalah bagaimana meningkatkan ekspansi, agar LDR (Loan to Deposit Ratio) di atas 80%…karena rata2 LDR di Indonesia sangat rendah.

    Masalah lain, ekspansi juga tidak mudah, karena perusahaan tinggal tertentu, bahkan banyak yang tutup atau menurun karena ga bisa berproduksi lagi, atau lisensi dicabut (kasus Nike, Reebock baru2 ini).

    Untuk nasabah UKM, bahkan AO Bank yang membantu membuat laporan keuangan didasarkan atas bukti2 kas, juga untuk nasabah mikro….jadi sebetulnya laporan keuangan yang bisa dibuat nasabah adalah untuk menengah keatas. Nasabah ritel pun banyak yang nggak bisa buat laporan keuangan, jadi selama ini Bank benar2 masuk ke usaha nasabah, tahu kondisi manajemennya, melihat bukti2 kas, membantu menyusunkan, malah berfungsi juga sebagai konsultan kalau dilihat bahwa perkembangan usaha nasabah dapat ditngkatkan. Bank juga membantu nasabah jika akan mulai menjual secara ekspor, agar nasabah tak tertipu, diajari bagaimana membaca L/C, dan prosedur2 ekspor import lainnya.

  16. Ibu, saya juga asli madiun, tetapi ke barat dikit, klagen, karangmojo, magetan. Saya kagum pada Ibu, wong IPB kok ahli perbankan, berarti IPB itu memang Institut Pleksibel Banget ya BU, maaf……just joke, tetapi betul ulasan ibu sangat bermanfaat tuk bank pihak

  17. Ibnukhajar,
    Thanks jika isi blog saya bermanfaat. Saya akan mencoba sharing lebih banyak.

    Untuk bekerja di Perbankan, latar belakang pendidikan apapun bisa, sepanjang kompetensi nya cocok. Gubernur BI adalah alumni Pertanian Unpad, juga Laksamana Sukardi (dulu meneg BUMN, dan sebelumnya Direktur Lippo) adalah alumni ITB, Dirut BCA juga alumni Perikanan IPB.

  18. Terima kasih, sudah memberi tambahan informasi untuk disertasi saya. Kalo bisa (siapa saja) yang bisa kirim artikel/journal (indonesia/english) terkait pengaruh manajemen risiko, kebijakan dividen, dan struktur modal terhadap kinerja bisa dikirim ke alamat saya cris.kuntadi@gmail.com. Terima kasih.

  19. salam kenal bu,
    saya mau tanya…kalo untuk menganalisa lapoKeu perbankan, parameter apa saja yg harus kita lihat (yang paling spesifik)?
    terima kasih.

    Gung Ayu,
    Agak sulit menjelaskan disini…lha pelajarannya perlu beberapa sesi, dan tak cukup sehari. Anda bisa membaca di Peraturan Bank Indonesia…cari sendiri di web site….apa saja yang dinilai dari kesehatan Bank.

  20. Saya cuma mau tanya apa bedanya kredit annuitet dan non annuitet ?
    Terima kasih sebelumnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: