Oleh: edratna | Agustus 13, 2007

Mengajar secara maraton di Papua

Anda telah terbiasa mengajar? Apa daya tarik mengajar? Mengajar merupakan pekerjaan yang menarik, serta harus merupakan panggilan jiwa, karena instruktur tak hanya dituntut untuk bisa melatih agar para peserta memperoleh pengetahuan, baik secara teknik maupun konsep, namun juga harus dapat memotivasi dan mendorong, agar mereka nantinya menjadi seorang yang dapat mengembangkan ilmunya, menggunakan untuk mendukung pekerjaan sehari-hari, serta agar ilmu tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Kali ini kami bertiga yang merupakan satu tim, mendapat kehormatan untuk melatih para fresh graduate yang telah lolos seleksi, dan nantinya akan bekerja di salah satu Bank terkemuka di Papua, untuk menjadi Analis kredit. Peserta yang telah lolos seleksi, di bagi menjadi 3 (tiga) kelas dan secara paralel mendapatkan berbagai pengetahuan Perbankan secara klasikal.

Untuk membuat seorang fresh graduate menjadi seorang Analis Kredit yang handal, paling tidak harus melalui penggodokan secara klasikal (di kelas) sekitar 3 (tiga) bulan dan job training 6-9 bulan. Setelah selesai job training, peserta masih perlu mendapatkan bimbingan dari senior, untuk mengetrapkan ilmunya dilapangan. Secara rata-rata (berdasarkan pengalaman sebagai Project Officer Analis Kredit), paling cepat peserta dapat diterjunkan langsung setelah 3 bulan ditempatkan di Unit Kerja. Namun bimbingan mentor masih sangat diperlukan, karena kondisi di lapangan akan sangat berbeda dengan yang diperoleh dalam simulasi di kelas.

Kali ini yang dilatih adalah para fresh graduate, dan ini adalah pertama kalinya mereka mendapatkan pelatihan setelah diterima masuk dalam Perbankan. Pendidikan dimulai tanggal 16 Juli sampai dengan 5 Oktober 2007. Disini peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan (teknik, hukum, ekonomi, pertanian, peternakan dll) dididik untuk menjadi calon Analis Kredit yang handal.

Sebelum masuk dalam materi Analisa Kredit, pada umumnya telah diberikan materi pendahuluan, antara lain: Etika Bankir Indonesia, Arsitektur Perbankan Indonesia (API), Sistem Moneter & Sistem Perbankan, Kebijakan Moneter dan dampaknya pada industri Perbankan, Dasar-dasar Manajemen, Perilaku Organisasi, Dasar-dasar Akuntansi Umum, Teknik Pemecahan Masalah,Teknik Presentasi, Teknik Komunikasi, dan lain-lain.

Khusus untuk Analisa Perkreditan, materi yang diberikan adalah: Filosofi Kredit, Aspek Hukum, Aspek Pemasaran, Aspek Teknik dan Manajemen Produksi , Aspek keuangan, Penilaian Agunan, Data Collection, Memorandum Analisa Kredit, Analisis Sensitivity, Financial Recasting, Penilaian Kebutuhan Kredit, Monitoring & Pembinaan, Deteksi dini Kredit bermasalah, Penyelamatan dan Penyelesaian Kredit Bermasalah.

Karena sesi yang diperlukan cukup banyak, minimal 40 sesi atau 7 (tujuh) hari kerja, maka setiap langkah harus diberikan Case dan latihan-latihan sesuai keadaan sebenarnya yang terjadi dilapangan. Untuk bisa mengajar Analisa Kredit, seseorang harus pernah bekerja di Perbankan di bidang perkreditan, serta memahami, antara lain: Ekonomi makro dan mikro, Laporan Keuangan (Neraca dan Laba/Rugi), Hukum, Teknik/Lingkungan/Pertanian (karena usaha debitur terdiri dari berbagai sektor ekonomi), teknik komunikasi, kepemimpinan…..dan yang tak kalah penting, adalah dapat memotivasi peserta.

Saya akan bercerita bagaimana pengalaman saya mengajar di Papua. Sebelumnya, saat ditilpon untuk mendapat penugasan mengajar 40 sesi, saya sempat terperangah. Bisakah? Mampukah saya? Apalagi selama ini, saya mengajar dalam bentuk tim, dan paling lama 2 (dua) hari berturut-turut atau 14 sesi, yang kemudian diselang seling dengan pengajar lain. Saya memaklumi, jarak tempuh Jakarta Papua yang sangat jauh, tak memungkinkan membuat tim pengajar dalam jumlah banyak. Setelah diskusi dengan sesama tim pengajar, mulailah kami bekerja menyiapkan materi, serta membuat latihan soal banyak sekali, agar nantinya para peserta tak sempat mengantuk. Di satu sisi kendala bahasa juga merupakan pemikiran, walaupun sama-sama berbahasa Indonesia, dialeknya sangat berbeda. Dialek orang Papua mirip dengan Ambon, meninggi pada akhir kalimat, sehingga pada awalnya harus mengerahkan pendengaran dan konsentrasi untuk memahami apa yang ditanyakan. Saya kira merekapun mengalami kesulitan ini, akibatnya setiap kali harus diulang-ulang, syukurlah dengan berjalannya waktu, akhirnya semua bisa diatasi.

Kesulitan lain, jadual pelatihan diadakan di Kotaraja, dengan jarak tempuh sekitar 30 menit, melalui jalan yang berbukit-bukit, dikiri jalan terlihat pemandangan laut lepas, melalui Sky Land (daerah tertinggi), yang dipinggirnya banyak penjual kelapa muda. Jalan di Jayapura selalu mengelilingi bukit, karena tanah yang landai sempit, jadi setiap kali berpindah dari area satu ke area lain, selalu menanjak dan menurun berkelak kelok, indah sekali. Mengapa peserta tak ditempatkan di kota Jayapura, yang dekat pantai? Karena peserta cukup banyak (97 orang), dibagi 3(tiga ) kelas, dan yang bisa menampung kapasitas sebesar itu adalah gedung LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) yang terletak di Kotaraja, dilengkapi dengan asrama, lapangan tennis, dan lapangan Futsal, serta perumahan disekitarnya yang dapat disewakan.Bersama ibu guru di depan gedung LPMPGedung LPMP di Kotaraja, Jayapura

Hari pertama mengajar adalah berupa filosofi kredit, disini perlu banyak cerita pengalaman, dan apa tujuan pemberikan kredit, serta apa fungsi Bank. Dengan pemberian kredit kepada orang yang layak, maka sebetulnya Analis Kredit dapat berperan serta dalam meningkatkan perekonomian orang tersebut. Apabila usaha makin baik, maka akan menyerap tenaga kerja, anak-anak nya akan memperoleh pendidikan, dan pada gilirannya akan membantu menumbuhkan perekonomian di wilayah tersebut. Analis Kredit juga dapat berperan sebagai konsultan, karena untuk usaha skala kecil, debitur belum bisa membuat laporan keuangan, namun mereka mempunyai bahan-bahan/dokumen yang dapat diolah menjadi laporan keuangan. Pada dasarnya, analisa harus dapat dipertanggungjawabkan, harus tercatat, tertulis dan didokumentasikan, karena hasil analisa yang tertuang dalam bentuk Memorandum Analisa Kredit (MAK) nantinya akan menjadi pegangan atau buku suci mengapa suatu kredit layak untuk diberikan atau ditolak.

Setiap hari kami wajib memberi Pekerjaan Rumah pada peserta yang dikumpulkan keesokan harinya, sehingga dari laporan peserta kami memahami apakah pelatihan sehari sebelumnya telah dimengerti atau tidak. Laporan ini berfungsi sebagai sinyal bagi kami, dan bila sebagian besar belum paham, maka keesokan harinya akan di review dan diberikan pelatihan lain yang akan lebih memudahkan pemahaman. Ada hal yang membuat hati saya tersentuh, ada beberapa peserta, yang pada akhir laporannya menulis pesan , dan salah satu saya kutipkan disini:

“Ibu, terimakasih telah mengajari kami. Kami berjanji akan membangun negara ini, dan memajukan Papua. Walaupun kami belum mampu mengerti semuanya, saya akan belajar keras ibu, karena sebagai putra daerah, kami berkewajiban membangun daerah ini.

Betapa hati saya terharu, inilah yang melecut kami bertiga, agar terus berjuang diantara panasnya cuaca Jayapura, apalagi harus sering main akrobat, karena seringnya listrik

padam. dscn2297_resize.jpg

Apabila listrik padam, maka infokus tak berfungsi, maka saya akan menulis dalam kertas kerja yang telah dipasang (ditempel dengan selotip) memanjang pada dinding, dengan tulisan besar-besar agar terlihat bagi peserta yang duduk dibelakang . Syukurlah karena materi Analisa Kredit adalah materi yang riil dilapangan, maka dapat dibuat banyak latihan, sehingga setiap kali materi selalu ada latihannya.

Hal yang penting lagi, agar peserta tidak bosan, tim mengajar bergantian, dua hari pertama saya mengajar di kelas B, dua setengah hari kemudian dikelas C dan selanjutnya berpindah ke kelas A.Kelas B, dengan pengajar lainnya

Kelas APengajar atau instruktur juga harus memahami, apabila saat menerangkan pandangan mata beberapa peserta telah kosong/menerawang, maka jurus-jurus untuk membuat mata terbuka lebar harus dikeluarkan. Teman saya ada yang mengajak peserta menyanyi, meneriakkan yel-yel, sedangkan saya lebih banyak menceritakan hal-hal lucu pengalaman saya selama menjadi Analis Kredit dalam kaitannya menghadapi berbagai tingkah laku debitur.

Orang Papua terkenal pintar menyanyi, maka jika siang hari panas, atau mau pulang kelas ditutup dengan menyanyi bersama. Entahlah, saat mereka menyanyikan lagu perpisahan dan beberapa lagu dalam bahasa Papua (walau saya tak tahu artinya), saya harus berusaha keras untuk tidak menangis. Belum pernah saya merasakan ikatan yang sedemikian emosional dengan peserta , betapa polosnya mereka, dan betapa semangatnya mereka dalam menyerap hal-hal baru.

Terimakasih teman-teman, kalian semua membuat hari-hariku di Papua terasa indah. Kita bersama melalui berbagai kesulitan, listrik yang bolak balik padam, sehingga kalian terpaksa membuat PR dengan nyala lilin dan batere sampai jam 2-3 pagi, sulit air untuk mandi, cuaca panas menyengat, tapi kalian tetap tersenyum dan menyambut uluran tanganku dengan ramah. Di antara keterbatasan fasilitas ini, kalian tetap semangat, dan berjuang keras…kalian lah nanti yang akan menjadi pendorong teman-teman lain di Papua untuk maju, semoga Papua semakin maju.

Jika ada teman-teman peserta yang membaca blog ini, kalian telah banyak memberi inspirasi bagi saya, dan saya mohon maaf jika belum dapat memberikan yang terbaik. semoga jika ada hal-hal yang masih perlu didiskusikan, seperti janji kita bersama, perpisahan kemarin bukanlah akhir segalanya, karena kita masih bisa saling berhubungan, melalui email dan lainnya.

Iklan

Responses

  1. Salut!, kalau masa-masa pendidikan/kuliah semangat memang paling besar.

  2. Andjar,

    Semangat mereka lah yang membuat saya kuat, dan malah sedih ketika waktu berakhir.

  3. membaca tulisan Ibu, sepertinya ikatan batinnya memang cukup kuat. Jarang2 loh bu, seorang guru dan murid bisa connected seperti itu. Salut!

  4. Semoga papua bisa maju. Amin.

  5. Ihedge,
    Saat saya pulang ke Jakarta, di Bandara Sentani ada cowok jangkung menghampiri…Ibu, saya murid ibu…bla..bla…bla…, sekarang udah 2 tahun ditempatkan di Jayapura. Saya mengantar pimpinan yang mau pindah ke Batam, juga ada teman mau nikah di Madiun.

    Mana tiket ibu dan temannya, biar saya yang mengurus….Hmm…akhirnya sampai Jakarta pun kami berdua (dengan pak JS) tinggal terima barang.

    Kamipun ngobrol, mantan murdipun cerita bagaimana dia menapak karirnya di Jayapura….senang sekali dia bisa cerita dengan antusias, dan sangat menikmati kota Jayapura.

    Tukang ketik,
    Saya berharap demikian, potensi ekonominya (belum sempat ditulis) begitu besar. Menunggu uluran tangan investor dan tangan-tangan orang Papua untuk membuat semuanya menjadi nyata. Teman saya pengajar yang asal Denpasar, bolak-balik menghela nafas…Ohh …Tuhan Maha Besar, bagaimana ada keindahan seperti ini?….Jayapura benar-benar indah.

  6. Hiks..hiks…tersentuh baca kutipan salah satu peserta di akhir pelatihan itu. Salut bgt sama Bu Enny dengan semangat & staminanya!

  7. Mirna,
    Thanks telah mampir. Sebetulnya pengajar dan yang diajar, harus mempunyai interaksi yang positif, hal ini memudahkan hasil pembelajaran. Syukurlah teman-teman di Papua penuh semangat, walau dalam kondisi yang penuh keterbatasan (listrik sering mati, air sulit, cuaca panas menyengat)…ini yang menggugah semangat tim pengajar.

  8. luar biasa semoga kesejahteraan untuk bangsa ini bisa dirasakan dan di dapat oleh segenap rakyat indonesia dari sabang sampai meroke,salam sukses selalu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: