Impian tak selalu sama dengan kenyataan

Setiap manusia punya impian. Semasa remaja saya ingin punya rumah bertingkat, tak perlu besar, jendela, pintu dan semuanya bercat putih, dikelilingi halaman yang luas, halaman depan untuk bertanam anggrek, dan bunga-bunga yang bermekaran lainnya, sedangkan halaman belakang untuk menanam buah-buahan dan tanaman bumbu dapur. Saya bisa bekerja, dan sorenya berkebun bersama anak-anak, serta setelah anak-anak menyelesaikan PR nya, malam hari bisa mendongeng untuk pengantar tidur. Ach..indahnya suatu impian.

Setelah lulus IPB akhir tahun 1976, saya mulai berburu pekerjaan, antara lain melihat perkebunan teh (kebetulan teman kakak sepupu kerja disana). Saya menumpang ke kamar mandi keluarga tsb, airnya dingiiin banget, anak-anaknya sekolah ke kota terdekat (Bogor) dan mesti di antar jemput. Saya mulai ragu atas pilihan saya…benarkah saya ingin bekerja diperkebunan, apakah tak merasa kesepian? Memang indah, seluas mata memandang, terlihat kehijauan…..benarkah ini yang saya cari?

Akhirnya nasib membuatku terdampar untuk bekerja di sebuah Bank BUMN, yang saat itu gajinya paling rendah, pegawainya paling banyak, dan kantor cabangnya sampai dipelosok tanah air. Saya mulai berpikir……andai suatu ketika saya menikah, mungkin saya tetap dapat bekerja dan mengikuti suami. Akhirnya saya mendaftar di perusahaan ini, dan setelah melalui job training selama 2 (dua) tahun, saya dinyatakan lulus dan ditempatkan di Kantor Pusat. Sebagai pegawai baru, dengan gaji kecil, saya setiap hari berlari-lari mengejar bis kota. Saya satu kost dengan teman sesama alumni, gaji setelah dikurangi uang untuk kost, maka disisihkan uang untuk makan siang dan uang untuk naik bis. Masih tersisa sedikit untuk keperluan pribadi. Untuk naik bajay (apalagi taksi), anggaran hanya mampu mendukungku naik bajay 2(dua) kali sebulan. Suatu ketika pulang kantor, saya duduk-duduk di bangku dipinggiran Lapangan Banteng (dulu masih merupakan terminal bis) dekat hotel Borobudur, dan bermimpi…”Kapan ya kita tak perlu menguber bis lagi?”

Waktu bergulir, Juni 1984 diumumkan deregulasi perbankan. Suku bunga simpanan maupun pinjaman yang selama ini ditentukan oleh Bank Indonesia, boleh bebas ditentukan oleh masing-masing Bank. Namun Bank juga harus mencari dana untuk menyalurkan pinjaman (selama ini setiap tahun Bank mengusulkan pagu kredit ke Bank Indonesia) komersial, dan BI memberikan kredit likuiditas hanya untuk kredit program. Situasi langsung berubah, Bank dituntut menjadi wirausaha dan profesional. Pekerjaan tak sesantai dulu, kami setiap hari rapat untuk menentukan strategi mendapatkan dana murah dan bagaimana penyaluran kredit berhasil. Adrenalin seperti dipompa…dan herannya ternyata saya sangat bergairah. Begitulah hari-hariku selanjutnya, pergi pagi dan pulang lebih malam. Syukurlah pada akhir tahun 1983 saya mendapat fasilitas rumah dinas, yang membuatku dapat ikut antar jemput bersama-sama rekan satu kompleks.

Pada suatu ketika tante (adik alm ibu) berkunjung kerumah dinas, beliau berpesan, agar mulai memikirkan rumah, karena pada umumnya orang lupa jika telah mendapat rumah dinas. Saya menghargai saran tersebut, tapi ternyata untuk mengumpulkan uang muka memerlukan waktu yang cukup lama. Dan karena suami bekerja sebagai dosen di Bandung, maka rumah pertama kali kami di Bandung. Pertimbangan apa yang menentukan kami dalam memilih rumah? Karena kami berdua bekerja, maka rumah yang dipilih adalah yang memiliki akses kemana-mana (dokter anak, terminal, stasiun dsb nya)…dan ini benar-benar menjadi bahan tertawaan suami, karena saya sejak dulu mencari kost yang dekat terminal, agar mudah mendapatkan bis. Dengan pilihan tsb, kami hanya mendapatkan rumah kecil, namun kami sangat berbahagia. Dan rumah kedua kami, karena kondisi keuangan, tak memungkinkan bisa membeli rumah di kota Jakarta. Dan dengan pertimbangan, siapa tahu anak kami nanti kuliah di UI, kami mengambil kredit KPR BTN untuk membeli rumah di Depok.

Pada masa 5 (lima) tahun sebelum pensiun, kami mulai mencari lagi rumah yang akan kami tinggali semasa pensiun. Sahabat keluarga kami, yang juga pernah menjadi bos ku di Bank, menyarankan agar membeli rumah di Jakarta walaupun kecil, agar bila anak-anak bekerja di Jakarta tak harus indekost. Saya mulai menghitung keuangan kami…wahh jauh sekali kurangnya…karena rata-rata tanah di Jakarta Selatan Rp.4 juta per m2. Teman saya ngotot, coba kita hitung uangmu, kalau perlu saya mau meminjamkan Rp.300 juta. Ha? Saya langsung melongo. Betapa baiknya dia. Tapi kepalaku makin pening…kalaupun dia mau meminjamkan, bagaimana saya bisa mengembalikannya? Tapi karena bujukan dia, saya berani berkeliling menanyakan harga rumah sekitar Jakarta-Depok. Rumah yang bagus di Depok, berharga Rp.750 juta dengan tanah seluas 200 m2. Sopir saya bilang (saat itu masih dapat mobil dinas, tapi sopir bayar sendiri)…” Bu, kalau harga segitu sih, di Jakarta juga ada…” Masalahnya untuk beli tanah di Jakarta, kita harus berhati-hati, mengecek dulu di tata kota bagaimana planning DKI. Karena semangat, suami berkeliling mengecek, di Tata Kota DKI, Kantor BPN dan mengurus IMB. Benar-benar semua kami lakukan sendiri. Saat itu uang hanya cukup untuk beli tanah dan rumah sederhana, dengan harapan kalau tak ada uang cukup, tinggal direnovasi kecil-kecilan dengan sistem tumbuh.

Rejeki benar-benar tak pernah bisa diramalkan. Perusahaan tempat saya bekerja go public sejak tahun 2003 dan kami para karyawan mendapatkan ESOP (Employee Stock Option) dan para manager ke atas mendapat MSOP (Management Stock Option). Walaupun bekerja di Bank, saya bukan di bidang Treasury, sehingga tak terlalu tahu masalah opsi saham tersebut. Teman-teman sudah banyak yang mengeksekusi sahamnya, saya masih tenang-tenang aja. Ternyata harga saham BBRI bergerak naik dari Rp.875,-/saham (saya mendapatkan harga Rp.962,5/saham)…dan kemudian MSOP ke II Rp.1750/saham, dan pada saat saya membutuhkan telah bergerak naik menjadi Rp.3000/saham…dan pada saat saya eksekusi terakhir Rp.5500/saham. Syukur Alhamdulillah…..gara-gara temanku tadi, saya berani berburu rumah…dan mendapat rumah mungil di daerah Cilandak.

Jadi impianku punya tanah dengan halaman luas telah terhapus, namun kami bersyukur mendapat rumah di Cilandak……yang kami dapat setelah berkeliling berburu rumah yang melelahkan (ada sekitar 30 rumah yang saya lihat). Karena halaman tak luas, terpaksa ditutup dengan paving, dan diantara paving tadi ditanami rumput, selain cukup hijau bisa digunakan untuk parkir mobil. Terpaksa saya hanya menanam bunga-bunga an di pot….tapi semuanya bahagia. Anak-anakku bahagia, karena ada jaringan Kabel Vision, yang membuat internet bisa on line 24 jam ( cuma harus dimatikan jika hujan dan petir, karena modemnya pernah rusak kena petir), dan biaya per bulan fixed rate. Juga dekat kemana-mana, hanya 10 menit ke Citos (Cilandak Town Square) dengan jalan kaki, dekat RS Setia Mitra dan RS Fatmawati…..hmm syukurlah, minimal hobi membaca dan nonton masih terpenuhi. Dan karena saya sudah MPP, maka anak-anak menganjurkan ibu mulai ngeblog…begitulah hari-hariku sekarang…..jika ada waktu mulai menulis, kadang-kadang ada kesempatan mengajar di berbagai wilayah…yang hasilnya dituliskan pula disini.

20 pemikiran pada “Impian tak selalu sama dengan kenyataan

  1. cita2 saya punya rumah di cilandak bu, hehehehe…. 😀
    enak banget tuh, akses ke tol juga gampang banget, mo kemana2 enak, ke kantor juga ga terlalu jauh… hehehe tapi kayaknya kok pagernya tinggi2 semua ya…

  2. Barry,
    Betul, apalagi beli rumah untuk pensiunan, yang bakalan lebih sering kontrol ke dokter. Jadi yang penting mudah akses ke rumah sakit, dokter, apotik, juga pasar.

    Nunung,
    Saya doakan cita-citamu tercapai….tempat tinggalku kan banyak orang pensiunan, pagar tinggi ternyata karena yang tinggal dirumah hanya berdua, kadang ditemani satu pembantu. Masalahnya memang disitu, karena dekat dengan Citos dan jl. Fatmawati, pemulungnya banyak banget…ini mirip rumahku di Bandung (daerah Buah Batu), padahal saat beli dulu masih sepi .

  3. wah, obsesi saya ‘pingin nulis kejadian seperti ini nanti kalau dah tua’, jadi kebayang heroiknya masa perjuangan bu enny waktu muda.

    ayo bu, nulis terus, beri inspirasi buat kita -yang masih hijau-hijau ini-

  4. Anjar,
    Mana janjimu mau main ke Cilandak dengan Nunung? Ntar kita makan-makan di Citos (jalan kaki 10 menit) atau ke Pizza Hut (jalan kaki 5 menit). Kalau masakan rumah, minimal ada Indomie rebus …hehehe

  5. wah Bu, salut sama semangatnya. Terharu membacanya.

    Kadang-kadang, kami yang masa muda-nya mungkin tidak seberat kebanyakan orang, malah mengeluh…

    Ayo cerita terus Bu. 🙂

  6. Tini

    menarik ya bu….. setelah pensiun ibu punya kegiatan menulis dan mengajar, dimana mengajar itu adalah suatu kegiatan yang selalu berkembang karena itu kita harus banyak membaca.

    Apa yang harus saya lakukan setelah pensiun ya bu????

  7. Ihedge,
    Bersyukurlah, anak muda sekarang mendapat kesempatan lebih baik, namun persaingan ketat. Dan tentu harus tetap membuka diri serta menambah wawasan.

    Tini,
    Awalnya bos mengajak saya untuk membantu mengajar, dan karena saya bukan orang ekonomi, maka saya membayangkan para staf baru yang latar belakangnya non ekonomi tentunya kayak saya, tak tahu apa itu laporan keuangan. Saya mengajarkan dengan logika…anehnya nilai evaluasinya tinggi. Sejak itu saya membantu sebagai staf pengajar, walaupun tetap ditempatkan di Divisi Bisnis.

    Apa yang harus dilakukan setelah pensiun? Sekarang mulai dipikirkan, sebaiknya sesuai dengan hobi kita, karena kalau hobi akan membuat hati senang. Saya mengajar karena ada bakat, ayah ibu guru, suami dosen, kedua adikku dosen, jadi cuma saya yang menyeberang tak berkarir sebagai dosen.

    Teman saya yang senang fashion, membuat butik, ada juga yang menanam bunga (beli kebun didaerah Puncak), membuat kolam dll. Yang penting hobi kita apa, dan sebaiknya kegiatan setelah pensiun adalah kegiatan yang menyenangkan, karena sebetulnya otak kita masih encer tetapi fisik tentu jauh berkurang…tapi kemarin saya mencoba dan ternyata masih bisa mengajar 40 sesi non stop, bahkan lebih karena teman-teman peserta sangat antusias, sehingga jam nya sering bertambah sampai Magrib.

  8. Ketika 2 bulan lalu saya memutuskan membeli rumah di BSD cukup banyak pertimbangannya juga, dari mulai lihat rumah baru, second dan diberbagai lokasi dan juga model, akhirnya saya memutuskan membeli sebuah rumah yang memang cukup beruntung ketika mendapatkannya.
    -Beruntung karena harganya bagus.
    -Beruntung karena lokasinya dekat dengan 3 kakak saya dan 1 adik ibu, semuanya hanya berbeda blok jadi kita bisa saling bertemu hanya berjalan kaki.
    -Beruntung karena lokasinya di depan sebuah taman, jadi kelihatan lebih private dan exlusive.
    -Beruntung karena bangunannya baru diperbaiki kecil, meski tetap akan di renovasi sedikit.

    Impian sebelumnya? seperti sekarang ini, rumah yang tidak begitu besar, tidak di tengah keramaian kota, daerahnya maju pesat, dekat dengan keluarga.

    Impian saya terus berubah, terus terang dulu saya sempet cemas apakah saya bisa benar-benar mandiri, memikirkan harga rumah, mobil, dsb membuat saya sempat tidak percaya diri, untunglah pengalaman menguatkan saya.

    We must stand up for our self, because exactly no one will fight for you forever.

  9. Puspa

    Kurang lebih 2,5 thn yang lalu kami memutuskan membeli rumah didaerah condet. Keputusan yg agak nekat mengingat harganya yg tinggi dan isi tabungan kita saat itu. Kita memilih rumah itu karena lumayan dekat dg. kantor suami yg saat itu di Jl. Gatot Subroto, karena dia merasa stress klo harus kena macet tiap hari.
    Jadi, keputusan diambil dengan konsekuensi yg lumayan berat, 40% dari gaji suami harus direlakan utk membayar cicilan…
    Tapi, karena itu kita jadi lebih struggle, selalu mencari oportunity2 yg lebih bagus, dan alhamdulillah dulu yg kita sama sekali nggak terpikir bekerja di LN sekarang kita ada di UAE.
    he.. he.. jadi ingat kata dosen saya dulu, ” Orang itu maju dg 2 cara, karena kemauan dia sendiri atau karena terpaksa”.
    Sekarang selain mikirin nglunasin rumah secepatnya + pendidikan anak, juga mulai mikir pensiun mo ngapain.
    Susah bu… karena kita dari kecil nggak pernah tahu, dan mencari tahu hobby kita apa…
    Do’ain kita ya bu…

  10. Orangemood,
    Pilihanmu sudah tepat, kita mencari rumah sesuai dengan impian kita, atau impian suami isteri jika sudah berkeluarga. Untuk orang yang sudah menikah, impiannya harus disesuaikan, dibicarakan berdua, agar rumah yang dipilih menyenangkan bagi suami maupun isteri. Demikian juga kalau sudah punya anak, maka sebelum memutuskan, kami juga bertanya pada kedua anakku.

    Impian memang selalu berubah, dulu saya puas setelah lulus S1 mendapat pekerjaan, dan menikah, rasanya berbahagia sekali. Setelah itu ada yang kurang, dan saya berusaha melanjutkan ke S2 (baca; Not Every dream is golden) karena rasanya pikiranku kok nggak nyampe ya mikir persoalan yang saya hadapi di kantor…..kemudian ingin rumah yang berada di DKI, agar anak-anak nggak mengalami kesulitan cari kost kalau kerja di Jakarta…ini benar2 hanya berani mimpi, mengingat harga rumah dan tanah yang sangat mahal, apalagi uang tabungan sudah untuk membiayai si sulung kuliah di LN (kuliahnya di Int’l, jadi mesti ada waktu harus kuliah di LN)…syukurlah akhirnya impian punya rumah di Jakarta terpenuhi.

    Puspa,
    Tahun 1970 an Condet adalah daerah yang sangat asri, kakak sepupuku rumahnya di situ. Dan dekat kemana-mana, dekat terminal Cililitan. Bagi orang yang sudah berkeluarga, pilihan rumah adalah yang mudah akses ke kantor, kalau saya yang mudah kendaraan umumnya, atau gampang memanggil taksinya (karena saya tak berani nyetir, dekat dengan dokter atau rumah sakit jika sewaktu-waktu ada yang sakit, dan dekat pasar agar pembantu mudah untuk disuruh belanja…tapi ini bagi saya lho, yang sangat tergantung pada kendaraan umum, dan sering diketawain teman-teman karena tak berani menyetir. Jadi prinsipnya, pilihan rumah tinggal bagi masing-masing orang akan berbeda tergantung dari preferensinya….

  11. Puspa,
    Saya udah lihat Fs mu, bagus sekali Puspa udah berpikir jauh kedepan. Sambil menunggu anak kedua, Puspa bisa mulai berpikir, apa ya hobi nya Puspa, dan apa kompetensi yang dimiliki Puspa selama ini…ini akan menunjang pemilihan karir berikutnya. Ingat bu Martha Tilaar? Dulu beliau menemani suami melanjutkan studi ke AS, diantara waktu yang ada beliau ambil kursus kecantikan yang bersertifikat dan setelah pulang ke Indonesia, itulah yang dirintis oleh beliau.

    Teman saya dulunya kerja di Bank, suaminya di PTP…setelah anak satu2nya besar, anaknya kuliah di Amerika. Dia bosan kerja, keluar dan memutuskan mengisi kesibukan. Awalnya hanya pergi ke Panti Asuhan, dia ingin kerja sosial, di Panti dia melihat anak-anak cacat mendapat pendidikan menjahit dan menyulam…dia jadi berpikir untuk membuat tempat jahit dan sulaman. Dengan modal Rp.10 juta, dia beli mesin jahit dan mulai buka jahitan di garasi rumah dinas suaminya, dengan penjahit anak-anak lulusan Panti. Usahanya berkembang dan sekarang dia telah menjadi eksportir.

    Begitulah Puspa, banyak usaha atau kegiatan di mulai dari hobi. Jika hobi baca buku, mulailah mencoba menulis, awalnya bisa menulis di blog, nanti lama-lama menulis cerpen…apalagi Puspa sekarang di luar negeri mengikuti suami, cobalah menulis pengalamanmu di blog, siapa tahu nanti akan muncul ide.

  12. ah saya ngga suka tinggal di jakarta.. Bandung is the best lah.. tapi lama-lama bandung juga kayak jakarta 🙂

    wah saya ngga pernah mikir punya rumah, punya keluarga dan punya segalanya. duit aja ndak punya. pekerjaan mapan juga tak ada. tak pernah berhasil meskipun dah mati-matian memanfaatkan kesempatan (ini di dalam pekerjaan). kayaknya ada yang salah.

    jadinya kabur lagi ke sekolah lagi. kata temen saya “dengan kamu sekolah s2 sebenernya kamu lari dari tantangan bekerja… sampai kapan kamu akan lari terus …”

    wah ada benarnya juga….tapi biarlah .. saya bukan tipe orang yang berpikir …

  13. Sandy,
    Bermimpilah, karena impian itu yang membuatmu bersemangat untuk mencapai cita-citamu dan mengejar impianmu. Bukankah kuliah di Jepang juga merupakan impianmu? Bukankan itu yang pernah kita diskusikan saat kita sering chatt? Bangun Sandy, bersyukurlah…engkau telah diberi kesempatan oleh Allah swt. Pakailah kesempatan itu dengan belajar sebaik-baiknya.

    Setelah itu? Ikuti aliran air, kuliah lagi, menikmati kehidupan Jepang, melihat budayanya…tulis di blog ya supaya kami di Indonesia mengikuti perjalananmu. What next? Nanti Sandy akan tahu jawabannya. Jangan mikir rumah dulu, kan sekarang cuma perlu kost atau asrama selama kuliah kan? Pelan-pelan semuanya akan terurai. Pernah baca blog nya Narpen…jalan kedepan masih tertutup kabut? Dia juga bingung awalnya, syukurlah pelan-pelan kabut itu telah tersingkap.

    Maju terus ya Sandy…dan semangat untuk meraih mimpimu. Sementara bermimpilah lulus S2, lanjutkan S3…jungkir balikkan dan lawan odd mu (kata om Yanto)….dan harus yakin pasti bisa.

  14. Belajar di Jepang memang impian saya. Selama ini kan tidak pernah berpikir apakah jalan yang ditempuh sudah benar atau belum.

    Apakah dinikmati saja ? Mengikuti aliran air ya.. tapi aliran air kadang juga berakhir di jurang/air terjun, ya meskipun air di bawah sana akan sangat indah.

    Abis Bu ratna kan lagi ngebahas rumah dan masa depan yang indah-indah. jadi kawatir aja apakah jalan yang ditempuh sekarang tidak berakhir dengan indah :).

    Terima kasih atas nasehat dan dorongan semangatnya Bu. 🙂

  15. Sandy,
    Wahh maaf kalau bahasan rumah jadi membuatmu sentimentil…tapi itu kan setelah umurku 55 tahun. Coba baca cerita awalnya, dulu ngejar bis, naik bajay aja anggarannya cuma 2 kali sebulan, saking gajinya keciiiil banget.

    Dulu juga sempat mikir, bagaimana kalau menikah, punya anak…apa cukup? Nggak cukup juga Sandy, setelah uang habis untuk kontrak rumah, maka sisa uang hanya cukup beli kasur jadi tidur di bawah, makanpun gelar tikar…aduhh kalau ingat waktu itu. Saat ibu menengok ke Jakarta, beliau menitikkan air mata…tapi ibu dulu kan juga memulai hidup baru dengan mengontrak rumah setengah papan, itupun satu rumah buat 3 keluarga.

    Tapi pelan-pelan gaji meningkat seiring meningkatnya karir…jika kehabisan uang…saya sholat dua rakaat (tiap hari sholat Dhuha) dan berdoa…”Ya, Allah berikan hamba MU ini rejeki yang cukup, minimal tak berhutang untuk makan.”….Jadi dulu juga tak terbayang punya rumah di Jakarta…(tapi impian remaja keren kan, punya rumah bercat putih, berhalaman luas…gara-gara baca novelnya Marga T yang orang Bogor itu)…tapi justru adanya impian itulah kita semangat mengejar cita-cita. Udah baca blognya Lis kan, bagaimana sulitnya kehidupan dia, tapi dia bersemangat mengejar impiannya…dan berhasil, minimal udah mulai melangkah ke tujuan tertentu.

    Apa yang ada di depan kita? Kita tak pernah tahu, justru itulah gunanya berdoa, semoga Allah swt memberikan kita kehidupan yang lebih baik untuk kita sekeluarga, juga bagi masyarakat (kalau cuma kita yang baik, kan lingkungan juga ga aman?) sekitar.

  16. ah senangnya diceritain bu eny, saya juga lagi mengejar-ngejar cita-cita saya bu, bagian ngejar-ngejar bus udah pernah saya lalui (mungkin nanti terulang lagi) hehehehehhe, saya juga baru nyicil rumah di cilandak, banyak ya persamaannya **smoga sama suksesnya dengan bu eny kelak, amin* 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s