Membangun keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.

Apa yang terpikir pada saat kita memutuskan untuk menerima lamaran si “Dia”? Seperti apakah keluarga yang kita idam-idamkan? Banyak yang membangun sebuah keluarga hanya berdasarkan “cinta” atau mengikuti aliran air, namun tak jarang pasangan yang membuat planning jauh sebelumnya, seperti apakah bentuk keluarga yang diinginkan nantinya.

Setelah beberapa waktu berjalan, sudahkah apa yang dicita-citakan tercapai? Atau bahkan mungkin kita sudah beberapa kali melakukan penyesuaian disana-sini, mengingat begitu banyaknya perubahan yang terjadi disekitar kita.

Saya akan mencoba meringkas hasil diskusi dengan beberapa teman, serta pengamatan sehari-hari, apa yang diperlukan agar kita dapat membangun keluarga yang harmonis.

1. Bangga atas peran kita di dalam keluarga.

Kita harus bangga atas peran kita di dalam keluarga, baik peran sebagai suami, sebagai isteri, juga peran sebagai ayah ibu. Apabila kita mempunyai kebanggaan, maka kita akan melakukan segala sesuatunya dengan sukarela dan happy.

2. Introspeksi dan saling mengingatkan

Kata ini mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dipraktekkan. Sering terjadi salah satu pasangan merasa dominan, merasa lebih berperanan, dan mengabaikan pasangannya, yang akhirnya akan menyebabkan konflik. Keluarga harmonis adalah keluarga yang saling mendukung, serta tak boleh ada satupun yang merasa mempunyai peranan lebih tinggi. Sebagai contoh, keberhasilan karir suami adalah karena dukungan seorang isteri, demikian juga seorang isteri yang sukses berkarir adalah juga karena dukungan suaminya.

Ada kalimat dari Retno Iswari Tranggono (Kompas, 4 September 2007 hal 16), Presiden Direktur PT Ristra Indolab, sbb : “Bapak mengajukan pensiun dini tahun 1983 dan kami mendirikan Ristra tahun itu juga.” Retno adalah lulusan FKUI, demikian juga suami Retno, yang kemudian menjadi dokter AURI. “Bapak (Tranggono), bekerja di bagian manajemen dan saya berkutat di research and development nya”, kata Retno. Nama Ristra adalah akronim dari Retno Iswari dan Suharto Tranggono. Berkali-kali Retno mengakui, dukungan keluarga dan suami adalah hal penting dalam hidupnya. Perkembangan Ristra pernah mengalami pasang surut, tetapi sampai saat ini Ristra tetap eksis.

Pasangan suami isteri haruslah menjadi suatu tim yang solid, dan berani mengingatkan pasangan, agar tak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan.

3. Meluangkan waktu untuk selalu membaca

Agar bisa saling mendukung, saling mengingatkan, dan menambah wawasan, maka pasangan harus meng up date pengetahuan dengan membaca. Hal ini juga berguna, agar kita bisa menjadi sahabat dan teman dari anak-anak. Dengan meng update pengetahuan orangtua diharapkan juga dapat mengikuti pembicaraan anak-anak, karena saat ini kemajuan ilmu pengetahuan begitu pesatnya. Dengan membaca, kita bisa mengimbangi pasangan dalam mengobrol, dan pasangan akan menganggap kita sebagai sahabatnya di kala suka dan duka.

4. Kaya bukanlah segalanya

Bersyukurlah atas rejeki yang diterima saat ini, dan berdoa agar kita mendapatkan rejeki yang berkelanjutan. Saya masih ingat saat masih lajang, dan indekost di daerah Tanah Abang, ibu kost berkata …”Jeng, nanti kalau sudah menikah, dan suami memberikan uang belanja pada kita, jangan sampai meminta tambahan ya, usahakan kita bisa memenuhi kebutuhan keluarga dari uang yang diberikan suami. Apabila kita meminta tambahan, pasti suami ingin memberikan karena sayang pada kita, tetapi kita dapat mendorong suami untuk melakukan perbutan yang kurang baik.”

Alm ibu, memberikan pesan pada saat saya mulai berkeluarga. ” Nduk, karena kamu sama-sama bekerja, buatlah catatan apa yang kamu belanjakan, supaya suamimu akan membaca sendiri apa saja yang telah engkau beli. Hal ini akan menyebabkan suami tak perlu menduga-duga kemana saja uang telah dibelanjakan.”

Saya memenuhi anjuran ibu kost dan alm ibu, dengan mencatat pengeluaran, saya jadi mempelajari, bagaimana cara membuat perencanaan belanja sebulan, dan menilai kembali apakah bulan ini saya boros apa tidak. Memang tak perlu dicatat semuanya, minimal kita tahu berapa biaya untuk belanja bulanan, berapa untuk investasi anak, berapa biaya operasional rumah tangga (iuran sampah, keamanan, listrik, telepon dll). Berdasarkan catatan itu, pasangan bisa mendiskusikan rencana untuk kedepan, dan karena direncanakan bersama, maka masing-masing pasangan akan merasa dihargai.

5. Bekerja keras

Tujuan hidup kita adalah untuk bekerja keras dan berkeringat. Tanpa bekerja keras, kita tak memperoleh apa-apa, dan jangan mendapatkan rejeki tanpa bekerja keras terlebih dahulu. Disamping itu, setelah kita bekerja keras, barulah berdoa, agar apa yang kita kerjakan memberikan manfaat bagi keluarga dan sesama .

6. Berbuatlah sebanyak-banyaknya untuk berpikir positif

Berpikir positif membuat kita tidak mudah iri, dan membuat kita selalu menikmati apa yang telah kita peroleh, dan bergairah untuk mencapai hasill yang lebih baik lagi. Berpikir positif juga membuat kita tak mudah menyalahkan orang lain, apabila kita menemui kegagalan, tetapi kegagalan membuat kita berpikir bahwa usaha kita kurang keras.

Iklan

23 pemikiran pada “Membangun keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.

  1. Kemarin waktu di KL, saya berbicara ringan dengan orang level top management microsoft, mereka suami istri yang super sibuk, dalam 1 bulan mungkin hanya bisa bertemu 1 minggu total, kenapa? karena mereka selalu melakukan business traveling ke seluruh penjuru dunia, tetapi mereka tampak enjoy dan harmonis, terlihat suaminya yang menyempatkan diri singgah ke KL untuk bertemu 1 malam, doing dinner, etc. sebelum besoknya pagi2 benar harus terbang lagi entah kemana… salut sekali.

  2. Orangemood,
    Keharmonisan dan kebahagiaan seperti apa yang diinginkan, harus disepakati oleh masing-masing pasangan. Ada pasangan yang inginnya tiap hari dijemput pulang kantor, dan pulang bersama-sama, karena kesempatan ngobrolnya hanya saat berduaan di jalan pulang ke rumah, kadang langsung clubbing bareng…dan saat dirumah adalah waktunya memperhatikan anak.

    Ada juga yang santai (saya termasuk yang ini)…yang penting kita tahu kemana pasangan saat ini. Saat anak saya di Yogya (si bungsu masih di Jakarta, suami di Bandung). Dalam suatu tugas ke Makassar, saya lewat Surabaya, terus terbang ke Yogya. Suami berangkat dari Bandung naik KA dan ketemu di Yogya, untuk ketemu anak sulung di Yogya. Pulang dari Yogya, saya ke jakarta dan suami ke bandung…hahaha.

    Kadang suami ke Jakarta, saya sibuk rapat, hanya sempat ketemu makan siang di Daisho dekat kantor, dan suami langsung balik ke Bandung.

    Prinsipnya, kita harus menyesuaikan kemauan kita dan pasangan. Saat anak-anak masih kecil, saya lebih banyak di rumah, kalau terpaksa tugas keluar kota, suami jaga di Jakarta, dan mengajarnya di dobel. Mahasiswanya senang karena saat memberi kuliah, para mahasiswa ditraktir pisang goreng dan kopi, kadang supermie…karena mengajarnya seharian. Jika suami tak bisa ke Jakarta, saya pesan ke tetangga, agar ikut bantu melihat kalau-kalau terjadi sesuatu, dan karena saya tinggal di kompleks yang orang2nya saling tolong menolong, hal ini tak masalah.

    Setelah giliran anakku besar, rumahku ganti jadi penitipan anak tetangga yang masih kecil, yang pembantunya pulang kampung, atau ibunya harus keluar kota. Intinya, kita harus punya back up, prosedur pengamanan, tapi juga menikmati hidup…berkarir dan bersantai.

  3. wah bu, sekarang sering posting yang kaya gini ya..
    cocok jadi orang tua yang baik bu.. buat anak-anak di dunia blog hehe

    *siap jadi nenek nih bu kayanya 😛

  4. Trian,
    Mau juga sih jadi nenek dan momong cucu, tapi yang mau beri cucu masih asyik sekolah. Nggak apa-apa, mumpung masih muda…kan masih ada Trian, dan yang lain-lain…juga cocok buat Malik yang udah dekat-dekat setelah Lebaran

  5. Tini

    Ibu, artikel ini cocok untuk ibu-ibu muda seperti saya ya bu.

    Krn kita masih panjang untuk menjalaninya dan mendidik anak2 kita.

    Setuju dengan ibu bahwa membaca itu perlu walaupun kita sudah tidak sekolah, saya punya pengalaman menarik mengenai membaca bu…

    Pada saat itu saya tertarik dengan buku “Keistimewaan shalat Subuh”. Setelah saya baca kemudian saya berikan kepada suami, wah luar biasa, suami saya memahaminya dan melakukan apa yang ada dalam buku tersebut dan sekarang suami saya menularkannya pada anak2 kami.

    Sejak itu setiap bulan saya membudgetkan minimal membeli satu buku untuk kami baca dan setelah kami selesai kami pinjamkan bergilir kepada tetangga atau teman supaya mereka juga bisa membaca.

    Bermanfaat juga untuk orang lain kan bu.

  6. Tini,

    Syukurlah kalau bermanfaat. Membaca memang mengasyikkan, kalau bacaannya lucu, kita bisa ketawa sendiri….dan kalau ditanya,”ada apa?” Kita nggak jawab, karena asyik meneruskan tertawa…

    Ada juga bacaan yang membuat kita terinspirasi, …dengan bacaan kita mendapatkan ilmu yang tak ada habisnya.

  7. Mas Iway,

    Justru no. 4 itu yang perlu digaris bawahi…atau mungkin karena sejak kecil saya juga tak dibiasakan untuk mengejar hal itu (maklum lingkunganku dosen, yang notabene tak ada yang kaya), hanya sekedar hidup layak. Karena kalau menguber kaya, nanti tak akan pernah puas, yang penting sisihkan untuk memberi dan beramal…dan ini yang membuat kita bahagia.

  8. wah…lama gak nengok, postingan ibu bertambah buanyak sekali.
    yang ini…ni..tambahan pelajaran baru lagi….
    Membangun keharmonisan dan kebahagiaan keluarga?
    Sebagai keluarga muda, saya merasa harus banyak belajar, baik dr baca buku, diskusi juga dari pengalaman2 dari orang tua (seperti tdk sedikit postingan ibu jg menjadi pelajaran buat saya). tips2nya keren, penjelasannya detail, rasanya saya kok diingatkan semua.

  9. Wienur,
    Yang sulit kan maintenance nya…dan harus terus dipupuk. Semoga Wienur sukses membangun keluarga kecilnya.

    Iko,
    Jangan terlalu sedih, Tuhan pasti tahu apa yang terbaik bagi Iko. Semoga Iko cepat dapat pengganti yang memang sesuai dan membuat Iko tersenyum lagi.

  10. D Anto

    waduh belum terlintas klo saya udah berkeluarga 😀

    tapi saya tertarik dengan 1 kata di tulisan Bu En, bersyukur…suliiittt banget untuk kita bersyukur, harus belajar banyak emang ^^

  11. riko

    ibu, terkadang masalah muncul ketika harapan pd pasangan tidak sesuai kenyataan. Karena memang karakter yang berbeda. Sekarang kami dalam proses adjustmen. Mohon sarannya agar saya dapat lebih sabar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s