Oleh: edratna | September 6, 2007

Perlukah melakukan analisis sensitivity?

Apabila kita berkecimpung dalam perencanaan keuangan, sebagai analis keuangan, ataupun sebagai analis kredit, maka dalam setiap pengajuan proposal selalu harus dinilai kembali apakah proyek tersebut sensitif apa tidak, apabila terjadi perubahan-perubahan. Perubahan yang terjadi bisa disebabkan oleh kenaikan biaya, tidak tercapainya target penjualan dsb nya.

Meskipun perusahaan saat ini mempunyai ROE (Return on Equity) yang cukup bagus, serta beroperasi diatas Break Event Point (BEP), tidak ada jaminan bahwa apabila terjadi gejolak dimasa yang akan datang, perusahaan masih mampu beroperasi secara normal. Untuk mengetahui apakah dalam kondisi tertentu perusahaan masih dapat bertahan dan beroperasi dengan normal, dapat dilakukan analisis sensitivity.

Analisis sensitivity, antara lain dapat dilakukan dengan melihat dampak perubahan terhadap BEP, apakah:

  • Perubahan (kenaikan) biaya variabel akan mengakibatkan perubahan laba operasional dan BEP?
  • Perubahan (kenaikan) harga per unit akan mengakibatkan perubahan laba operasional dan BEP?

Contoh 1 : Kinerja PT XYX dapat dilihat sebagai berikut (Rp)

  • Penjualan 306.000
  • Variabel cost 113.000
  • Laba operasional 193.000
  • Fixed cost 181.000
  • Laba 12.000

Apabila;

  • Terjadi kenaikan biaya tetap sebesar Rp.5000,- berapa tambahan penjualan yang diperlukan untuk menutup kenaikan tersebut?
  • Biaya Variabel/Penjualan = 113.000 : 306.000 = 0,37 sehingga laba operasional menjadi = 1,0 – 0,37 = 0,63
  • Penjualan = (181.000 + 12.000 + 5.000) / 0,63 = 314.286
  • Jadi, untuk menutup tambahan biaya Rp.5000,- penjualan harus mencapai Rp.314.000,- yang berarti naik sebesar Rp.314.000,- – Rp.306.000,- = Rp.8.000,-

Contoh 2 : Terjadi perubahan pada Variabel Cost

  • Kenaikan variabel cost akan berdampak pada perubahan laba operasional
  • Jika variabel cost (diluar biaya gaji) naik, maka cost /margin juga naik, misalkan laba operasional menjadi 61% (sebelumnya 63%)…..maka tingkat penjualannya menjadi
  • Penjualan : (181.000 +12.000)/0,61 = 316.393
  • Jadi untuk menutup kenaikan biaya variabel sebesar 2%, perusahaan harus menaikkan penjualan sebesar Rp.316.000,- – Rp.306.000,- = Rp.10.393,-

Permasalahan;

  • Menaikkan volume penjualan untuk merespon kenaikan biaya tetap dan variabel tidak selalu dapat dilakukan
  • Hal yang paling umum dan sering dilakukan adalah perusahaan mengorbankan tingkat keuntungan yang mungkin diperoleh sampai level BEP atau lebih rendah lagi.
  • Penting untuk dilihat apakah struktur biaya perusahaan masih memungkinkan perusahaan mengurangi tingkat keuntungan yang dapat diperoleh (efisiensi)?

Bagaimana penilaian dari pihak penyandang dana?

Apa yang dilihat dari pemilik dana, jika ingin membiayai kekurangan modal pada perusahaan tersebut? Analis akan menilai proyeksi laporan keuangan perusahaan sampai beberapa tahun kedepan (misalkan 5 tahun), umumnya sampai dengan perkiraan umur proyek.

Setelah dibuat proyeksi keuangan, maka Analis akan melakukan analisis sensitivity dari berbagai segi, misalkan:

  • apabila target penjualan tak tercapai,
  • apabila terjadi kenaikan biaya,
  • apabila terjadi kenaikan suku bunga Bank (bila proyek tersebut akan dibiayai Bank),
  • apabila terjadi kenaikan selisih kurs dan sebagainya.
  • kombinasi dari beberapa kemungkinan di atas.

Selanjutnya Analis akan menilai kelayakan proyek dari masing-masing kemungkinan tersebut, apakah proyek masih tetap layak walaupun terjadi beberapa perubahan yang terjadi. Disini akan diketahui proyek layak pada situasi dan kondisi tertentu, serta tidak layak pada kondisi yang lain. Dari sini pemilik proyek akan berusaha mengelola proyeknya, agar tak terjadi risiko yang dapat menyebabkan proyek tersebut terhenti, dan menyebabkan gagal bayar. Dari sisi penyandang dana, penyandang dana akan bisa memperoleh informasi yang cukup, pada perubahan apa yang dapat membuat proyek tersebut berisiko gagal membayar kembali kewajibannya.

Iklan

Responses

  1. Bagi Investor/ Kreditur, mestinya masih membutuhkan yang namanya analysis sensitivity, bahkan ada yang memasukkan asumsi paling ekstrim, sehingga disebut sebagai Stress Test analysis. Dengan demikian investor/ kreditor dapat mengukur tingkat solvabilitas perusahaan dalam kondisi yang paling ekstrim.

  2. Analisis sensitivitas biasa digunakan dalam penyusunan Bussiness Plan.

    tapi kalau dalam Project Management, sensitivitas lebih practical ketika membedakan antara planning dan actual-nya.

    *bu enny, harus komen di blog-ku. ttg Saham bu. 🙂

  3. Harrie,

    Memang sebaiknya dilakukan stress test, terutama untuk pinjaman yang besar dan risikonya tinggi. Dalam analisis sensitivity sebetulnya bisa dilakukan analisa dari berbagai segi, yang pada prinsipnya dilihat dari sisi apa saja, untuk lebih meyakinkan apakah proyek tsb aman…walaupun tetap saja masih ada risiko (bukankah tak ada risiko nol?)

    Trian,
    Benar, analisis sensitivity, stress test…dll umumnya digunakan dalam Business Plan….juga dalam membuat feasibility study, due dilligence…atau bisa juga untuk menilai hal-hal yang terkait dengan analisis keuangan lainnya.

  4. Bu, saya pernah belajar analisis sensitivitas dari buku Brigham (Foundation Financial Management). Benar adanya analisis tersebut selain untuk menganalisis BEP juga dapat digunakan dalam capital budgeting. Data untuk analisis capital budgeting adalah data estimasi, tidak ada jaminan pada saat proyek dijalankan data tidak berubah, sehingga output analisis kelayakan proyek ( misal: NPV, IRR) juga sangat rentan terhadap presisi data estimasi. Analisis sensitivitas diperlukan untuk mengetahui apakah NPV dan IRR tetap dalam range yang layak atau tidak jika terjadi perubahan dalam variabel kunci pembentuk NPV & IRR.

  5. Ibnukhajar,

    Pendapatmu benar, bayangkan saat krisis moneter, suku bunga pinjaman dari 18% naik menjadi 36%…sedang suku bunga Deposito sampai 54%…jadi Bank pasti bleeding walau semua nasabah membayar lancar karena ada negatif spread 18%.

    Masalahnya, dalam analisis sensitivity, jarang orang menggunakan ukuran melebihi 10%, karena pasti proyek tidak layak.

  6. Yth. Ibu Enny,
    Saya tertarik dengan tulisan ibu mengenai analisis sensitivity dan ingin mendalami mengenai analisis ini. Bu, metode apa saja yang diperlukan dalam analisis ini ? dan ratio-ratio keuangan apa saja yang digunakan ? dan bagaimana cara analisis dari masing2 metode tsb? dan bagaimana penerapannya dalam analisis kenaikan harga bbm baru2 ini ?

    Terima kasih atas bantuan & penjelasannya.
    Piter (peter.alexs@gmail.com)

    Pieter,
    Sensitivity analysis bisa digunakan untuk setiap ratio keuangan. Contoh gampangnya begini. Seorang kepala keluarga mempunyai gaji Rp.10 juta, mempunyai seoirang isteri dan dua anak usia sekolah. Maka setiap bulan, dia mengatur keuangannya. Kalau BBM naik, dan diperkirakan harga naik…maka hitung berapa kira-kira biaya untuk makan dan transport (ini yang terpengaruh langsung). Kemudian buat berbagai alternatif…maka agar uangnya cukup dan masih ada sisa tabungan, maka harus melakukan efisiensi, yang biasanya seminggu sekali makan di luar diganti dengan hanya makan sekali di luar, rekreasi juga dikurangi.

    Itu contohnya…dalam perusahaan, berbagai alternatif ini digunakan untuk menghitung apakah suatu proyek investasi layak apa tidak. Karena untuk melakukan investasi, biasanya pinjam uang ke investor (Bank atau perorangan), yang tentunya ada bunganya, yang bisa naik atau turun tergantungbunga pasar (dipengaruhi inflasi). Nahh jika terjadi berbagai kenaikan harga, atau target tak tercapai, apakah proyek tadi masih layak?
    Agak sulit memang cerita disini, kalau ingin sekali tahu, bisa baca buku tentang “manajemen proyek” atau ikut kursus singkat yang diselenggarakan diberbagai lembaga pelatihan.

  7. trims ya mbak infonya..
    salam kenal dan main2 ke mp saya..

    Adit,
    Salam kenal juga….

  8. Saya sangat tertarik dengan pembahasan ini. Saya kebetulan punya masalah dalam hal ini, soalnya saya mahasiswa matematika yang ingin mengadakan penelitian di bidang manajemen ekonomi.. Saya ingin mengetahui bagaimana cara melakukan analisis sensitivitas itu. Apakah ada persamaan-persamaan tertentu yang digunakan?
    Kalau ibu punya penjelasan berupa file bisakah saya minta dikirimkan ke alamat e-mail saya? Alamatnya: jalaluddin_math03@yahoo.co.id
    Terima kasih atas perhatiannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: