Lagi, kaitan intuisi dalam pengambilan keputusan

Masih ingatkah anda artikel mengenai intuisi?

Dari tanggapan teman-teman, baik yang secara langsung memberi komentar pada blog ini, maupun yang berkirim email lewat japri, saya ingin menambahkan catatan, yang saya peroleh dari email mbak Rayini Dahesihsari PhD. Perkenalan saya dengan mbak Rayini, karena sama-sama anggota milis iisb (Indonesian Islamic Student of Brisbane) dan Uqisa (University of Queensland Indonesian Student Assosiation). Pada suatu ketika terjadi diskusi yang menarik pada milis tersebut, yang membahas tentang integritas (yang garis besarnya menjadi ide tulisan saya tentang integritas). Gara-gara tulisan tersebut yang saya tayangkan di blog, saya menjadi bisa berhubungan lagi dengan mbak Rayini, yang saat ini telah kembali ke Indonesia, dan menjadi Dosen di salah satu Universitas di Jakarta.

Dan karena psikologi industri merupakan keahlian beliau, saya cerita kepada beliau tentang tulisan saya mengenai intuisi, dan beliau bersedia menanggapi tulisan saya tadi melalui email, yang antara lain saya kutip di bawah ini.

———————————————————————————–

Mengenai intuisi, saya setuju sepenuhnya dengan apa yang ibu tulis, meskipun saya sendiri bukan orang yang tajam intuisinya, mungkin karena terlalu banyak berkecimpung di bidang akademik, jadi kurang terasah dalam hal ini. Alasan mengapa intuisi saya anggap penting, karena logikanya, pada saat kita membuat keputusan atau memecahkan masalah, tidak mungkin kita memiliki informasi dan data yang sangat lengkap. Dengan segala keterbatasan info dan data itu toh kita harus tetap membuat keputusan, entah karena desakan waktu, urgensi masalah dll, pada saat itu intuisi bisa memainkan peran yang penting.

Menurut Malcolm Gladwell di bukunya yang berjudul Blink (2005), terkadang terlalu banyak data bisa membuat kesimpulan yang kita ambil jadi menyimpang. Ia memberikan beberapa contoh kesuksesan mempercayai insting (bahasa lain dari intuisi, mungkin ya?). Salah satu contohnya, seorang konselor pernikahan hanya memerlukan beberapa menit mengamati percakapan antara suami dan isteri, dan kemudian memprediksikan apakah pasangan tersebut akan langgeng sampai sekian tahun kedepan atau tidak. Ia mempergunakan intuisinya dengan mengamati gesture dan kata yang dipakai suami isteri tersebut, bahkan walaupun mereka tidak sedang bertengkar, dan hanya memperbincangkan hal-hal yang umum saja. Jadi, kekuatan intuisi memang hebat.

Tapi, di sisi lain kita juga harus berhati-hati dengan intuisi ini, karena bisa saja apa yang kita anggap sebagai intuisi ternyata adalah kecurigaan atau favoritism kita yang bersumber pada stereotipe yang kita kembangkan pada suatu situasi atau kelompok orang tertentu. Misal, dalam memberikan penilaian berdasar penampilan fisik seseorang, warna kulitnya, asal daerahnya, sifat-sifatnya yang cocok atau tidak cocok dengan kita, dll. Jadi selain ketajaman intuisi perlu diasah, juga perlu kritis mengenali mana yang intuisi dan mana yang bukan.

Walau saya tidak mengikuti perkembangannya, tapi saya rasa (IMHO) intuisi mendapatkan peran yang besar juga dalam studi psikologi. Apalagi sekarang, konsep-konsep baru terus bermunculan, misal Neurolinguitic [sic] Program (NLP) yang terapannya sedang populer sekarang dalam bentuk hypnotherapy dll. Konsep-konsep psikologi banyak berperan juga disini sebenarnya, walau sepintas sering dipandang tidak ilmiah.

Saya tidak tahu banyak tentang studi mengenai intuisi ini, tapi setidaknya bahasan tentang tipe kepribadian menyebutkan tipe-tipe orang tertentu yang memang memiliki ketajaman intuisi, peka dalam menangkap detil yang penting dalam suatu situai, yang kemudian mengarahkannya dalam memberikan reaksi yang efektif. Saya juga setuju kalau hal ini bisa dilatih, dan memang sangat penting dalam bidang psikologi industri, terutama dalam bidang yang telah disebutkan dalam tulisan tentang intuisi.

———————————————————————————–

Demikianlah, email tanggapan mbak Rayini tentang tulisan saya. Yang menarik, hubungan saya dengan mbak Rayini sangat dekat, walau sebenarnya kami berdua belum pernah bertatap muka, dan baru berteman di dunia maya. Betapa besarnya kekuatan pertemanan di dunia maya, karena kita bisa sharing pengalaman dan pengetahuan dengan orang-orang yang ahli di bidangnya.

Terimakasih mbak Rayini, atas tanggapannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s