Mengapa kaum remaja menjadi target industri rokok?

Pernahkan anda melihat sekelompok remaja yang sedang bergerombol, dengan asap mengepul dan rokok di tangan? Keadaan ini telah menjadi pemandangan sehari-hari di sekeliling kita. Walaupun sebetulnya para remaja sebagian ada yang tahu bahayanya merokok, mengapa mereka tetap melakukan kegiatan merokok, bahkan ada yang sudah kecanduan? Begitu dahsyatkah tekanan atau pengaruh dari luar yang mempengaruhi dunia remaja kita?

Apabila anda memperhatikan, siapakah sebetulnya target market industri rokok? Jika melihat iklan-iklan rokok, walaupun tak boleh secara terang-terangan di televisi, namun target market nya adalah anak muda. Pada kenyataannya, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia, pada tahun 2006 yang dilakukan terhadap remaja berusia 13-15 tahun, sebanyak 24,5 persen remaja laki-laki dan 2,3 persen remaja perempuan merupakan perokok, dan 3,2 persen diantaranya sudah kecanduan. Bahkan, yang lebih mengkawatirkan, 3 dari 10 pelajar mencoba merokok sejak mereka di bawah usia 10 tahun ( Kompas, 9 Nopember 2007).

Selanjutnya, Kompas menjelaskan, mengutip dokumen “Perokok remaja: Strategi dan Peluang” , R.J. Reynolds Tobacco Company Memo Internal, 29 Februari 1984, yang dipresentasikan anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak, Dina Kania, dikatakan, perokok remaja telah menjadi faktor penting dalam perkembangan setiap industri rokok dalam 50 tahun terakhir, karena mereka adalah satu-satunya sumber perokok pengganti. Jika para remaja tidak merokok, industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tak melahirkan generasi penerus akan punah.

Mengapa remaja menjadi target industri?

Ciri-ciri remaja adalah keinginan untuk bebas, mandiri, ingin mencoba hal-hal baru, memudahkan remaja dimanfaatkan oleh berbagai industri untuk target pasar mereka. Selain industri rokok, kita bisa melihat, betapa banyaknya industri yang tergantung pada pasar remaja ini, karena keinginan mereka untuk mencoba hal-hal baru, juga senangnya remaja bergaul bersama teman. Para remaja lebih mudah mendengarkan saran teman dibanding saran dari orangtua, dan mereka merasa nyaman jika keberadaan mereka diakui oleh sesama remaja seumurnya.

Kita juga bisa melihat, walaupun iklan rokok tak boleh dilakukan terang-terangan, namun konser musik dan event olah raga, yang dekat dengan hal-hal yang diminati remaja, disponsori oleh industri rokok.

Namun gencarnya iklan rokok bukan penyebab satu-satunya, karena pada kenyataannya banyak remaja mengenal rokok dimulai dari lingkungan keluarga terdekatnya. Widyastuti, sesuai pernyataannya yang dikutip oleh Kompas (2007), menjelaskan bahwa pada tahun 2004 hampir tigaperempat dari rumah tangga di Indonesia memiliki anggaran belanja rokok, artinya minimal ada satu perokok di dalam rumah.

Bahaya merokok

Kompas menjelaskan bahwa jumlah konsumsi rokok di Indonesia, menurut the Tobacco Atlas 2002 , menempati posisi kelima tertinggi di dunia, yaitu sebesar 215 miliar batang. Sedangkan China sebanyak 1.634 triliun batang, Amerika Serikat 451 miliar batang, Jepang 328 miliar batang dan Rusia 258 miliar batang. Dalam satu kandungan sebatang rokok, setidaknya terdapat 4000 zat kimia, 43 zat karsiogenetik, dengan 40 persen nya beracun seperti hidro karbon, karbon monoksida, logam berat, tar dan nikotin yang banyak candu.

Bagaimana pencegahannya di Indonesia.

Kompas selanjutnya menjelaskan, bahwa Peraturan Pemerintah no.19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan belum efektif, baik dalam mencegah maupun menanggulangi bahaya merokok. Alasannya, dalam peraturan tersebut tidak ada ketentuan bagi industri rokok untuk membatasi kadar tar dan nikotin dalam rokok.

Padahal, pembatasan tar dan nikotin sempat di atur dalam Peraturan Pemerintah no.81/1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. PP tersebut dikeluarkan pada saat-saat terakhir pemerintahan BJ Habibi, dan direncanakan mulai berlaku tahun 2001. PP tersebut menyebutkan sanksi bagi pelanggarnya, yaitu bilamana tidak dapat memenuhi kandungan nikotin maksimal 1, 5 mg dan tar 20 mg, akan terkena penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp.100 juta. Namun peraturan ini di revisi atas desakan petani tembakau dan industri rokok. (Baca artikel terkait sebelumnya di : https://edratna.wordpress.com/2007/06/21/buah-simalakama-keberadaan-industri-rokok)

Dari paparan cerita di atas, dapat dilihat bahwa perlu penyelesaian secara komprehensip antar instansi terkait. Jika hanya melihat sisi kaum perokok, sepanjang masih ada rokok yang dijual apalagi telah kecanduan, maka rokok akan selalu dicari. sedangkan dari sisi industri rokok, mereka selalu beralasan, bahwa banyak pelaku industri lain yang kelangsungan hidupnya tergantung dari industri rokok, seperti : para petani tembakau, pengasong dll. Yang sangat menyedihkan, pasar industri rokok di Indonesia, dilihat dari kaca mata investor masih sangat menguntungkan, hal ini terlihat adanya investor dari LN yang menambah ekspansi dalam bidang industri rokok di Indonesia.

Oleh karena itu, Pemerintah dan instansi terkait hendaknya dapat duduk bersama untuk mengatasi permasalahan ini.

  • Bagaimana agar petani tembakau mulai diarahkan menanam tembakau yang kadar tar dan nikotin nya rendah. Bagi petani tembakau yang tak memungkinkan untuk menanam tembakau jenis tersebut (karena kondisi tanah dan cuaca tak memungkinkan), maka perlu dicari jalan keluar mengganti areal tanamnya dengan menanam tanaman pengganti yang juga mempunyai nilai jual tinggi. Untuk mengubah petani tembakau beralih menanam komoditi lain bukan hal mudah, disini diperlukan peran serta Dinas Pertanian dan PPL nya, dan bila petani dapat menanam komoditi lain yang nilai jualnya tinggi, mereka akan dengan senang hati mau bekerjasama.
  • Penegakan peraturan, bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan perlu digalakkan, agar para remaja ataupun siapa saja tidak berani merokok di sembarang tempat. Dalam hal ini Pemerintah perlu membuat peraturan dengan sanksi yang tegas.
  • Perlu pendekatan melalui pendidikan, dan pemahaman bahaya merokok kepada keluarga inti, terutama kaum ibu yang ingin melindungi keluarganya agar sehat.

Dengan pendekatan yang komprehensip, peningkatan kesadaran bagi remaja khususnya dan perokok pada umumnya atas bahayanya merokok bagi kesehatan, maka secara langsung akan mempengaruhi dan mendorong industri rokok agar hanya memproduksi rokok yang kadar tar dan nikotin nya rendah.

Hal ini merupakan tugas yang tidak mudah, dan memerlukan proses, namun kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?

Sumber data:

Kesehatan Masyarakat. “Remaja, Sasaran Empuk Industri Rokok.” Kompas, 9 Nopember 2007, hal.46

18 pemikiran pada “Mengapa kaum remaja menjadi target industri rokok?

  1. Hm,, benar juga ya Bu. Sangat disayangkan kalau remaja-remaja Indonesia terjebak kecanduan merokok sejak dini. Walaupun saya sendiri termasuk salah satu perokok aktif, tapi menurut saya, memang lebih baik beberapa hal harus dibatasi. Baik dari segi batasan umur perokok, dan juga kadar nikotin dan tar didalam rokoknya.

  2. Wiku,
    Merokok dari sisi kesehatan berisiko, sedang dari sisi keuangan juga tak ada untungnya. Masalahnya kalau sudah kecanduan, berhentinya susah.
    Sebetulnya pp 81/99 sudah bagus, entahh kenapa malah direvisi menjadi lebih ringan…seharusnya kalau belum siap jangka waktu pelaksanaan saja yang diperpanjang. Masalahnya kalau tak mulai diperbaiki, maka tak akan pernah menjadi lebih baik.

  3. karena remaja sedang mencari jati diri dan gampang diombang-ambing oleh informasi salah tapi didukung dengan frekuensi sangat intensif lewat berbagai media.

    sekedar berbagi,

    dari banyak orang yang mengenal saya, walau mereka menghargai saya *sangat* anti rokok, mereka curhat ke saya kalau mis. dengan istrinya yang complain soal rokok dari segi apapun itu termasuk keuangan, dia bilang ke saya gini: Kalau kamu ajak aku berdebat soal rokok ini gak akan ada habisnya, seperti debat orang beda agama yang saling memegang kuat dogma masing-masing.

    lalu saya ingat juga, ya bu, ada teman saya yang perokok (termasuk juga bahkan narkoba) curhat ke saya, ‘sudah biarlah saya mati, ga apa apa, yang penting saya sudah senang mendapatkan apa yang saya senangi (rokok dan obat2an itu)”

    kalau dia saya kejar-kejar lagi, tapi kamu takut mati kan karna belum bertobat 😀

    pasti dia akan jujur bilang sudah jangan bahas itu, saya takut.

    apalagi kalau saya ajak checkup kesehatan saja keseluruhan supaya kelihatan isi badannya , waaah langsung takuut dia bilang 😀

    sekedar berbagi lagi, dulu ada di suatu kantor yang isinya lumayan berisi pejabat dan orang-orang “terpandang”, bahkan merokok di ruang ber-AC seharian dan setiap hari tanpa ada rasa malu ke anak-anak buahnya yang tidak ada yang merokok (perokok pasif) dan termasuk perokok yang hanya merokok di luar komplek hijau kantor saja.

    sungguh kasihan nasib para perokok2x pasif, bukannya saling menghormati, malah diledek, walau gurauan tapi kalau betulan (mis. merokok di mobil, jendela mobil dibuka aja sudah mau mati rasanya, apalagi ditutup + narkoba lagi).

    Sekarang saya alhamdulillah lumayan beruntung, teman-teman saya sekarang disini tidak ada yang merokok sama sekali (apalagi narkoba), kalau ada yang merokok tidak saya dekati atau saya jaga jarak supaya mereka selalu merokok jauh-jauuuuh dari zona kehidupan saya.

    Pemerintah juga dalam hal ini harus tegas dan berwibawa, jangan selalu senang makan duit sogokan mereka dgn berdalih menanam modal atau hubungan bisnis atau apapun juga diatas penderitaan banyak pihak (saya lebih miris lagi melihat ada yang sampai dioperasi jantung by pass gara-gara terlalu lama menjadi perokok pasif + dah nombog sampai 50-an juta keatas tu), di luar negri gak ada itu iklan rokok besar-besar dipajang diagung2kan seperti di indonesia. saya akan bangga bilang I am an Indonesian di negara manapun saya berada walau saya sama sekali tidak bangga dengan kondisi pemerintah kalau tak berkutik suapan begitu lalu banyak ngeles sana sini tapi nihil hasilnya.

  4. Saya dulu bekerja, yang menjadi kaum minoritas, karena sebagian besar pria, bahkan saya sering menjadi cewek satu2nya. Kalau udah meeting, mereka nggak bisa mikir tanpa merokok, padahal ruangan ber AC dan mata sudah pedas.

    Keadaan berganti, saat salah satu perokok aktif menjadi Direktur SDM, beliau setiap pagi mengumumkan agar tidak merokok di ruang ber AC, dan kalau merokok ada tempat yang disediakan. Baru deh, situasi agak nyaman…mungkin karena yang menyuruh perokok ya, jadi malah menurut.

    Sebetulnya kasihan juga kalau udah melihat orang kecanduan merokok, karena prinsipnya menjadi lebih baik tak makan daripada tak merokok.

  5. wir

    Salam sejahtera ibu,

    Merokok di lingkungan kerja kami di UPH, Lippo Karawaci nggak laku lho bu. Staf pengajar, staf administrasi maupun siswa dilarang merokok di lingkungan kampus (dalam kelas dan luar kelas).

    Dalam kegiatan-kegiatan yang mencari sponsor, produk rokok yang meskipun mau ngasih sponsor besar akan dilarang oleh institusi.

    Dulu waktu awal-awal, masih ada mahasiswa yang ngrokok di toilet / WC. Tapi karena satpam-nya dikasih kuasa untuk nggedor maka sekarang nggak ada.

    Mungkin harus dengan disiplin gitu ya bu agar tidak jadi korban rokok.

  6. Hmm, di dalam kampus saja banyak iklan rokok dalam berbagai media dari tempat pengumuman sampe halte bus…

    Tapi ada produsen rokok yang ngasih beas siswa ke mahasiswa juga, gimana tuh?

  7. Industri rokok katanya sih dianggap dilematis. Mau dilarang, terlalu banyak yang terlibat. Tidak dilarang, bisa merusak.

    Saya pernah baca satu novel John Grisham (judulnya lupa) dan film yg dibintangi Russel Crowe (The Insider) begitu kuatnya cengkeraman korporasi tobacco company di dunia ini.

    Saya pengen tahu, ada gak survey yg dibuat untuk membandingkan pengeluaran ekonomi keluarga yg merokok dengan yg tdk merokok.
    Jadi bisa dibandingkan besarnya beasiswa yg diberikan industri rokok kepada suatu keluarga sebanding gak dengan biaya yang dikeluarkan oleh keluarga tersebut untuk membeli rokok.

    Dulu kalo saya melihat temen deket saya merokok saya suka nyindir, “B, lu ngerokok terus, 10 tahun lg kena kanker, mesti bayar dokter. Putra Sampurna udah bisa beli pesawat 10 biji.”

    Paling tidak saya tidak merokok, paling tidak bertambah satu orang perokok lagi.

  8. Annot,
    Paling baik adalah menegakkan peraturan, sebetulnya dalam pp.81/99 peraturan tentang pengamanan rokok untuk kesehatan baik sekali, dan diberi jangka waktu 5 tahun untuk penerapannya, sehingga lembaga, industri dan hal-hal lain yang terkait untuk masalah rokok telah siap, dalam jangka waktu 5 tahun mulai diterapkan. Tapi kembali lagi, peraturan tadi direvisi…..seharusnya jika belum siap, pelaksanaannya saja yang diperpanjang, namun segala sesuatunya mulai dibenahi. Akibatnya ketika Departemen Kesehatan memberi penyuluhan tentang kesehatan yang terancam jika merokok, dipihak lain tetap aja jalan terus kegiatannya

    Pak Wir,

    Saya kira memang aturan untuk di Indonesia harus diterapkan dengan disiplin, minimalnya merokok tak boleh di sembarang tempat. Nanti perokok, petani tembakau maupun industri rokok akan dipaksa untuk berubah…industri rokok hanya akan memproduksi rokok sejenis mild, perokok tak bertambah (karena ga enak di uber2, dan petani tembakau akan berpikir pindah ke komoditi lain).

    Sayasaja,
    Memang kalau udah kecanduan sulit, syukurlah anakku tak merokok (suami tak merokok), walaupun anak saya saat SMP pernah mencoba beberapa merek rokok…dan untungnya langsung batuk2, jadi dia berpikir merokok tak cocok untuknya.

    Pak Shodiq,
    Setujuu…thanks telah mampir

  9. Salam kenal, bu
    Saya pernah menyaksikan suatu acara yang menggambarkan betapa penduduk RI ini merupakan pasar rokok yang sangat menjanjikan. Rokok dijual bebas tanpa pembatasan umur untuk pembelinya.

    O, ya pas lebaran kemarin miris sekali rasanya melihat berita banyaknya korban dalam pemberian “sedekah” oleh suatu perusahaan rokok.

    Pemberian mereka itu kan cuma sebagian keciiiil dari keuntungan mereka. Dan itu tidak sebanding dengan pengerukan terhadap kantong-kantong masyarakat kita. Lucunya sebagian produsen rokok mempunyai kewajiban untuk membayar denda kepada warga Amrik yang terkena dampak rokok. Wong miskin kok malah mbayarin yang kaya. Dunia kebalik nih.

  10. Indah,
    Kayaknya memang penyelesaiannya harus komprehensip, karena sudah seperti lingkaran setan.

    Industri rokok menyerap banyak tenaga kerja, apalagi jika ditambah industri ikutannya, belum termasuk pembayar cukai yang besar pada pemerintah. Di satu sisi perokok di Indonesia juga banyak sekali, bahkan udah kecanduan….jadi memang harus hati-hati, bertahap tapi dilakukan dengan tegas, sehingga diharapkan tak menimbulkan dampak kerugian yang besar.

  11. sebelum ngisi komen, saya tadi senyum-senyum karena akhirnya dapet komen dari ibu. haduh, deg-degan, kok bisa gitu lhoh…

    meskipun nggak ada linknya, gampang dong nemuin blog ini.

    bicara soal rokok, saya yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak perokok, pertama susah beradaptasi di lingkungan kerja yang hampir semuanya laki-laki dan perokok aktif. tapi lama-lama saya bisa toleran juga.

    peraturan yang membatasi aktivitas merokok belum mampu secara signifikan mengurangi jumlah perokok di ndonesia. Perda DKI tentang pelarangan merokok di tempat umum saja, implementasinya di lapangan nggak bisa optimal. tempat merokok aja dibiarkan kosong, orang lebih suka merokok di luar dan membuat polusi lingkungan…

  12. Verlita,
    Iya bersyukur, lha uang kok di buang-buang.

    Isnuansa,
    Betul itu, saya pas hamil…ehh bosku mengundangku keuangan beliau, diskusi macam-macam sambil merokok kayaknya sedap banget…lha saya nahan pusing…begitu keluar ruangan beliau, langsung lari ke kamar kecil…dan keluarlah semua isi perut.

    Setelah jadi Pimpinan, saya bilang, kalau mau merokok keluar dulu ya…cari ide dibelakang dulu, baru masuk ruang rapat. Masalah muncul jika kita sedang rapat dengan klien, yang nyaris ga ada ceweknya….atau saya yang salah ya, selama 28 tahun kerja, menikmati punya staf cewek lumayan agak banyak baru 2 tahun terakhir….mungkin karena masuk di Divisi Pendidikan & Pelatihan.

  13. ya, saya setuju. No smoking, thats it. Ada ga yang mau bantuin saya mebelajarkan bahaya merokok ke kelas-kelas. Saya lagi penelitian, tapi perlu orang yang kompeten, tapi kalo bisa yang gratisan 🙂 mau??

    Fraden,
    Mungkin ada pembaca yang mau menerima tawaran tsb?

  14. Amin, moga-moga ada yang mau. Sy di bandung, web site nya http://360.yahoo.com/fraden70. Terima Kasih banyak, sebelum dan sesudahnya 🙂 semoga usaha ini dapat membawa perubahan terhadap angka jumlah perokok SMP di Indonesia, yang di tahun 2006 kemarin angkanya paling tinggi di dunia, entah sekarang, moga-moga sudah tidak

    Fraden70,
    Mudah2an..syukurlah keluargaku tak ada yang merokok…akibatnya saya sensitif terhadap bau rokok….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s