Oleh: edratna | November 14, 2007

Masihkah perusahaan ini dapat diselamatkan?

Bagi orang yang bergerak dibidang restrukturisasi, setiap kali melihat perusahaan yang sedang menurun, pertanyaan yang muncul adalah, apakah sebuah perusahaan akhirnya dapat diselamatkan dari krisis yang menimpa perusahaan tersebut atau tidak. Bahkan memang ada investor yang bergerak di bidang Leverage Buy Out (LBO), mereka membeli perusahaan yang sakit, memperbaiki dan memolesnya, kemudian menjual kembali dengan mengambil keuntungan.

Tulisan ini bukannya membahas tentang investor yang akan membeli perusahaan yang sakit, tetapi bagaimana kita menilai apakah suatu perusahaan masih memungkinkan diperbaiki. Kita sadari bahwa perusahaan yang sedang menurun, kurang menarik, dan yang sering terjadi pada saat ini muncul keluhan dari karyawan, yang diharapkan dapat mendukung perbaikan perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan seorang Pemimpin yang kuat, yang dapat mengetahui, apakah perusahaan masih dapat diselamatkan, apa tidak.

Mengelola perusahaan pada saat tumbuh berbeda dengan mengelola perusahaan pada saat menurun. Pada saat perusahaan sedang menurun, diperlukan efisiensi, memperbaiki di sisi aset, merampingkan atau membuang aset yang tak produktif, membuang beban dan mengubah arah haluan perusahaan.

Apakah turn around atau memutar haluan perusahaan masih menungkinkan?

Menurut Kasali, R (2005: 180), ada beberapa indikator yang dapat dipakai, seberapa jauh perusahaan dapat diperbaiki atau diputar haluannya.

  1. Dukungan yang kuat dari stakeholder, termasuk para pekerja, komunitas, dan pemegang saham.
  2. Ada bisnis inti (core business) yang mampu mendatangkan cash flow, yang tampak dari EBIT (Earning Before Interest and Taxes) positif, dan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan baru.
  3. Adanya tim manajemen yang solid dan tangguh untuk mengendalikan operasional perusahaan.
  4. Sumber-sumber baru pembiayaan, khususnya pembiayaan jangka panjang.

Dukungan dari para stake holder dapat dilihat dari ucapan-ucapan, opini-opini yang beredar dan diungkapkan, serta keseriusan untuk berkorban. Para pekerja bersedia gaji tidak naik, atau bahkan diturunkan, dan minimal mereka tidak melakukan aksi secara sepihak. Pemimpin juga harus melihat apakah masih ada produk yang dapat diandalkan. Sering perusahaan besar yang banyak produknya, tak semua produk menguntungkan. Disini Pemimpin harus bisa melihat, produk mana saja yang dapat diteruskan karena menghasilkan keuntungan, dan produk mana yang harus dihentikan agar beban tak semakin besar. Kalau pasar masih ada, maka prioritas pada pelayanan dan perbaikan mutu produk.

Tim manajemen yang solid dan mempunyai irama sama sangat diperlukan, karena pekerjaan turn around merupakan pekerjaan yang berat dan menimbulkan stres. Tim juga harus credible dan dikenal luas, serta tim yang dikenal dengan reputasi baik akan dapat menimbulkan kepercayaan dari pemilik dana(Bank). Ini berarti ada kesempatan negosiasi hutang (bunga dan jangka waktu pembayaran), dan memperoleh sumber pendanaan baru yang bersifat jangka panjang. Bagi Bank, perusahaan yang dapat dilakukan restrukturisasi, minimal mempunyai 4 (empat) kriteria seperti di atas.

Pernah di suatu seminar “Corpote Debt Restructuring”, saya mendengarkan paparan beberapa CEO perusahaan, yang saat itu sedang memberikan sharing bagaimana pengalamannya saat memperbaiki perusahaan. Ada salah satu CEO (kebetulan perusahaan domestik Indonesia, dengan skala besar, dan saat ini perusahaannya telah go public), yang mengatakan, bahwa sepanjang proses restrukturisasi, selama 3 (tiga) bulan pekerjaannya adalah mondar mandir ke beberapa negara untuk menegosiasikan hutang perusahaan. Dapat dimaklumi, sebelum krisis ekonomi, meminjam ke Bank di luar negeri bukanlah hal yang aneh, jadi saat proses perbaikan hal yang juga memerlukan ketahanan adalah negosiasi dengan Bank, yang pernah satu perusahaan mempunyai pinjaman pada 54 kreditur. Apabila perusahaan berskala kecil dan menengah proses perbaikannya relatif lebih mudah, karena tak banyak melibatkan banyak pihak.

Memilih CEO turn around

Siapakah orang yang tepat untuk memimpin proses turn around ? Selanjutnya Kasali, R (2005:195) menjelaskan, bahwa pada saat perusahaan mengalami penurunan, yang dibutuhkan lebih dari sekedar seorang manajer, yaitu a leader (pemimpin). Selain cakap dalam mengelola, pemimpin harus mempunyai keberanian, yaitu keberanian untuk mengubah, menantang asumsi-asumsi yang sudah dipercaya oleh pengikut, dan selera tinggi dalam berselancar di atas gelombang-gelombang yang panas dan dinamis.

Seorang pemimpin pada dasarnya adalah orang yang menciptakan perubahan. Pemimpin lebih dari sekedar manajer, ia adalah seorang transformer yang memberikan inspirasi (inspiring) kepada para pengikutnya. Pemimpin mengajak orang-orang melihat apa yang dia bisa lihat, serta mengajak mereka semua agar tujuan bersama dapat di capai.

Djohanputro, B (2004:195) menjelaskan bahwa faktor kepemimpinan merupakan salah satu keberhasilan. Tanpa pemimpin yang baik, proses perubahan akan berhenti di tengah jalan. Tidak sedikit perusahaan yang kemudian kehilangan kendali, karena ada kesalahan dalam menjalani proses, mulai dari awal sampai pasca restrukturisasi.

Orientasi pada tindakan dan bisnis

Betapapun bagusnya suatu pemikiran, tanpa diteruskan tindakan tak ada artinya. Demikian pula, sebaik apapun tindakan, tanpa dilandasi strategi yang betul, tak akan mendapatkan hasil yang sesuai.

Strategi dan action, adalah dua hal penting dalam menciptakan perubahan. Strategi berorientasi pada kontinuitas perubahan, sekaligus harus bersifat break-through. Strategi yang berorientasi pada action adalah strategi yang kaya inovasi dan dilandasi oleh entrepreneurial mindset (cara berpikir yang entrepreneurial).

Orientasi pada bisnis adalah mengutamakan pada pelanggan, dan setiap orang harus produktif dan disiplin. Pekerjaan setiap kali harus dievaluasi, terukur, dan sasarannya harus jelas. Penempatan orang juga didasarkan atas kompetensi.

Dari paparan di atas, apabila perusahaan masih memiliki 4 (empat) kriteria di atas , maka perusahaan masih dapat diharapkan dapat diselamatkan. Tentu saja, perbaikan perusahaan harus didukung oleh seluruh pihak, dan bilamana perusahaan mempunyai pendanaan yang berasal dari Bank, maka Pemimpin perusahaan harus melakukan negosiasi yang terus menerus dengan pihak Bank, agar dicapai kesepakatan pola restrukturisasi yang tepat untuk perusahaantersebut. Harus disadari, bahwa restrukturisasi tak dapat berhasil hanya dari satu pihak saja, demikian pula bagi Bank, karena dari sisi Bank, bantuan yang dapat diberikan hanyalah dalam strategi keuangan. Tulisan tentang apa yang akan dilihat oleh analis Bank dalam menilai perusahaan yang sedang menurun, akan ditampilkan pada tulisan berikutnya.

Daftar Pustaka:

  1. Kasali, Rhenald, PhD. “Change“. Tak peduli berapa jauh jalan salah yang anda jalani, putar arah sekarang juga (Manajemen Perubahan dan Manajemen Harapan). PT Ikrar Mandiriabadi, Jakarta, 2005.
  2. Djohanputro, Bramantyo, MBA,PhD. “Restrukturisasi Perusahaan berbasis nilai.” Strategi menuju keunggulan bersaing. Penerbit PPM, Jakarta, 2004
Iklan

Responses

  1. Orientasi pada bisnis adalah mengutamakan pada pelanggan, dan setiap orang harus produktif dan disiplin.

    … mencerahkan.. jadi pengen belajar bisnis jeh bu…

    bisa gak sih bisnis tanpa modal??? kata orang bisnis ada katanya: jadi sales…

  2. Mas Kurt,
    Melihat cara santri buntet mengelola santrinya, terlihat ada bakat mengelola bisnis. Mengelola bisnis juga sama dengan mengelola SDM. Bisnis apa yang akan dijalankan,sebaiknya jangan mulai dengan biaya tinggi, apalagi yang pake dana pinjaman.

    Mulai yang sesuai hobi dan kompetensi kita, mulai dari yang kecil-kecil, setelah menguasai, baru mudah untuk ekspansi.
    (saya juga belum pernah berbisnis, yang ada adalah menjual jasa, yaitu “marketing my self”…alias jadi pengajar)

  3. Bu, saya tertarik dengan dua komentar diatas. Ini yang selalu saya jadikan pertanyaan. Dapatkah institusi pendidikan dianalogikan dengan paparan tulisan ini.

    Setiap mau mengajar (di RI) dan masuk ke ruang kelas, saya selalu bertanya-tanya, Bu. Diantara pertanyaan saya adalah “Dapatkah kampus ini diselamatkan?”

    Maka itu, yang jadi pertanyaan saya, apabila kasusnya menimpa pada dunia pendidikan (maksudnya pendidikan di RI), adalah “Dapatkah institusi pendidikan di restrukturisasi? Bagaimana caranya?”

    Maaf Bu, kalau pertanyaannya aneh dan OOT.

  4. Tulisan menarik Bu. Kebetulan saya juga sedang tertarik untuk lebih mengenal tentang LBO.

    Ada pertanyaan nih Bu: Biasanya, sampai berapa persen negosiasi hutang ke Bank bisa tercapai. Tentunya tergantung dari kasus per kasus. Tapi secara rata2, bisakah suatu perusahaan yang mau bangkrut nego hutangnya dari 100 menjadi say 50?

    Selain itu, bagaimana tipe2 restrukturisasi yang biasa terjadi di Indonesia? Apakah bank mau mengalihkan debt menjadi equity?

    Seberapa lama penundaan pembayaran yang Bank mau mentolelir?

    Wah, banyak pertanyaan yah Bu. 😀

  5. Wah.. seperti Ross Brawn yang memilih Honda daripada Ferrari.

    Tapi dalam kasus ini nampaknya tak bisa dilakukan turn arround kan ya Bu?
    Disitu pemimpin saya rasa sudah bagus, dan pekerjanya juga mendukung. Finansial tak ada masalah. Namun performa Honda tetep saja jeblok.

    Apa mungkin ada faktor yang lain ya Bu?

    Maaf malah mbahas balapan ^_^

  6. Bangaip,
    Tentu saja dapat dianalogikan. Dari pengalamanku bekerja (a.l pernah memimpin Divisi Diklat, dan sekarang pengajar part time di satu lembaga), yang antara lain juga menilai jasa pendidikan, yang penting adalah manajemennya (pengurus).

    Mengapa? Jasa pendidikan adalah jangka panjang, serta pendapatan dari SPP yang hanya setahun sekali, jadi manajemen pendidikan benar-benar harus mencintai pendidikan, bisa mengatur keuangan serta bersih. Lha kalau jasa pendidikan nggak bisa hidup, kenapa setiap bulan, di Divisi saya dulu bisa mendapat tawaran dari berbagai lembaga pendidikan, baik dari dalam atau luar negeri, yang berpuluh-puluh jumlahnya. Dan, kalau kita lihat, betapa banyaknya lembaga pendidikan di sekeliling kita. Jadi, mengelolanya mesti dari hati, sering kali permasalahan karena pengurus tak bekerja dengan baik, salah urus dsbnya.

  7. Ihedge,

    Seberapa besar negonya? Sangat tergantung, karena analis Bank harus benar-benar masuk mengadakan penelitian/pemeriksaan ke perusahaan, dan harus diingat bahwa pertanggung jawaban analis bisa sampai 30 tahun (untuk di Indonesia).

    Yang jelas, kalau keringanan bunga adalah wewenang Direksi, namun jika pokok (sebetulnya PBI membolehkan juga hair cut pokok) harus seijin pemegang saham. Masalahnya disini, kalau swasta, pemegang sahamnya lebih jelas, sedang jika pemerintah tergantung siapa menteri yang mendapat kewenangan, padahal sering ada penggantian menteri, dan segala kebijakan bisa dipertanyakan.

    Debt Equity Participant, termasuk salah satu pola restrukturisasi yang diperbolehkan, dan biasanya Bank menempatkan stafnya disini sebagai Direktur Keuangan.

    Berapa lama penundaan diperbolehkan? Semua tergantung dari projected cash flow, semakin panjang menunda, hasil diskontonya akan rendah, dan jika NPV< jaminan maka pilihan bisa jual aset sebagian dan sebagian restrukturisasi, atau bisa dibuat berbagai tranches (ada pola jual aset, pola restrukturisasi untuk yang sustainable debt, sedang yang unsustainable debt bisa diganti saham, Convertible Bond dsb nya). Jadi analis pada prinsipnya harus bisa utak atik, bagaimana bisa tercapai win-win solution…karena restrukturisasi tanpa bisa diaplikasikan tak ada gunanya, tapi kalau posisi Bank menjadi lemah, juga akan dipertanyakan pemegang saham.

    (ingat pertanyaanku di blogmu?…bagaimana pandangan seorang konsultan yang melanglang buana dalam melihat perekonomian suatu negara)

  8. Ade Bayu,

    …Wah.. seperti Ross Brawn yang memilih Honda daripada Ferrari…
    ________________________________________
    Kalau melihat suatu perusahaan harus dari keseluruhan. Mengapa jeblog? Berarti persaingan pasar sangat ketat…masalahnya di pemasaran, bagaimana strategi bersaing suatu perusahaan untuk memenangkan persaingan.

    Juga selera konsumen memang bisa dan mudah berubah, yang perlu dilihat apa alasan konsumen tadi pindah? Jadi R&D harus bekerja keras…dan sebenarnya ada beberapa strategi dan taktik dalam memenangkan pemasaran.

    Turn Around? Biasanya dilakukan jika kondisi perusahaan konstan atau menurun…turn around kadang tak harus menyeluruh, tapi sebelumnya harus diteliti dulu pada semua unsur di perusahaan tsb, lihat masalahnya, baru dibuat rencana turn around. Mungkin aja perbaikan tak harus menyeluruh, bisa hanya dari segi pemasaran. Atau jika produknya menjadi kalah bersaing, bisa diperbaiki tampilannya, atau dari sisi teknik lainnya.

    Gpp Ade, orang teknik tetap harus memahami masalah begini kan, siapa tahu nanti jadi pemilik usaha otomotif.

  9. makasih bu atas jawabannya. Ditunggu artikel-artikel selanjutnya.

  10. Bahar,
    Kapan2 saya buat cerita pengalaman di dunia nyata, tapi sebelumnya saya email dulu ke Bahar ya…maklum sebetulnya pengin sharing, tapi kan ada rambu2 nya.
    Thanks dukungan dan saran2nya…terutama yang via japri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: