Oleh: edratna | November 15, 2007

Apa peran Analis Bank, untuk membantu perbaikan perusahaan yang sedang menurun?

Selama ini, masih banyak yang berpendapat, bahwa untuk perusahaan yang sedang menurun, dan mempunyai pendanaan dari Bank, maka peran untuk perbaikan dibebankan semata-mata pada Bank. Memang, dalam hal ini Bank berkewajiban ikut serta membantu perbaikan perusahaan, dan Analis Bank berfungsi sebagai “risk doctor“, untuk mendiagnosa apa sebetulnya sakit yang menyebabkan kondisi perusahaan menurun.

Dalam hal ini, Bank tak hanya melihat dari sisi cash flow saja, namun perusahaan juga harus melakukan perbaikan secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan kondisi industri yang bersangkutan. Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan, yang dengan kebijakan tersebut, pihak perbankan diharapkan dapat membantu menggerakkan sektor riil dengan melakukan kebijakan restrukturisasi kredit kepada perusahaan, sehingga perusahaan dapat bangkit kembali untuk menggerakkan roda perekonomian.

Restrukturisasi kredit, adalah upaya yang dilakukan Bank dalam kegiatan usaha perkreditan, agar debitur (perusahaan) dapat memenuhi kewajibannya. Selain ketentuan pola restrukturisasi yang berupa kesempatan negosiasi hutang (bunga dan jangka waktu pembayaran), dan memperoleh sumber pendanaan baru yang bersifat jangka panjang, terdapat pula pola restrukturisasi yang lain, seperti Purchase Rent Transfer (PRT). Pola PRT merupakan pola restrukturisasi kredit dengan memanfaatkan nilai pasar (market value) aktiva tetap yang masih bernilai tinggi, untuk dikelola oleh suatu perusahaan lain, dan hasilnya digunakan untuk menservis fasilitas kredit yang direstrukturisasi.

Seyogyanya usaha rehabilitasi aset tak hanya berhenti pada restrukturisasi kredit, melainkan harus memperbaiki aspek-asek lain dalam perusahaan, yang dapat menghambat perusahaan dalam menghasilkan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes and Depreciation) atau free cash flow sesuai hasil diagnosis Bank terhadap perusahaan secara keseluruhan. Cash Flow yang berhasil dihimpun perusahaan pada akhir periode sebenarnya merupakan hasil akhir dari seluruh rangkaian operasional berbagai fungsi dalam perusahaan. Artinya, bila fungsi-fungsi yang sebelumnya tidak/kurang efisien dapat diperbaiki, maka dapat diharapkan terjadi peningkatan cash flow dikemudian hari.

a. Prinsip dasar Restrukturisasi kredit

Memberi kesempatan agar debitur dapat bangkit kembali dalam berusaha sehingga di masa yang akan datang usahanya dapat kembali pulih. Walaupun usaha debitur yang akan direstrukturisasi dalam kondisi tidak/belum normal, namun Bank harus tetap mengupayakan agar terapi yang diberikan kepada debitur tidak merugikan Bank sebagai kreditur, sehingga perlu dilakukan negosiasi yang win-win solution.

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam restrukturisasi, adalah:

  • Restrukturisasi kredit hanya dilakukan terhadap debitur yang masih memiliki itikad baik dan prospek usaha baik (usaha masih menghasilkan positif cash flow), serta kooperatif (transparan/full disclosure kepada Bank, dan bersedia menanggung kerugian).
  • Net Present Value seluruh aliran penerimaan selama periode restrukturisasi (bunga, angsuran pokok, angsuran tunggakan bunga dsb nya) setelah diperhitungkan dengan pembalikan PPAP masih memberikan hasil yang positif.

b. Langkah-langkah pelaksanaan restrukturisasi

Sebelum kreditur (Bank) melakukan diagnosa permasalahan yang dihadapi perusahaan, berdasarkan prinsip dasar restrukturisasi yaitu berdasarkan itikad, dan prospek usaha yang baik (eligible), debitur dikelompokkan menjadi dua, yaitu : a) kelompok debitur yang dapat direstrukturisasi, b) kelompok yang tidak dapat direstrukturisasi. Langkah restrukturisasi kredit hanya akan dilakukan kepada debitur yang memiliki prospek usaha, beritikad baik, serta menunjukkan sikap kooperatif. Dalam melihat prospek usaha, ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

  • Kemampuan usaha untuk menghasilkan positive cash flow
  • Penyerapan tenaga kerja dan menghasilkan multiplier effect
  • Peluang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing

Sedangkan dalam menilai itikad baik, aspek yang perlu dipertimbangkan adalah:

  • Kemauan untuk memulai dan secara aktif melakukan negosiasi dengan pihak kreditur (Bank)
  • Full disclosure
  • Kemauan untuk menanggung sebagian kerugian

c. Analisa restrukturisasi kredit

Untuk melakukan analisa restrukturisasi, analisis keuangan perusahaan berdasarkan past performance dan proyeksi arus kas saja tidak cukup untuk menyusun strategi restrukturisasi perusahaan. Oleh karena itu, agar menghasilkan output yang optimal, dan tetap memperhatikan asas win-win solution, analis Bank juga harus mampu melakukan analisis terhadap berbagai fungsi perusahaan secara terintegrasi.

Fungsi-fungsi yang dilakukan analisis adalah:

  1. Finansial. Sebelum mengambil suatu kesimpulan, terlebih dahulu dilihat permasalahan yang terjadi, mengapa debitur mengalami kesulitan dalam cash flow nya. Bank harus mencari penyebab gagalnya pemenuhan kewajiban debitur, sehingga nantinya persyaratan Bank dapat realistis dan kemungkinan dipenuhinya cukup besar. Untuk perusahaan yang cukup besar, Bank biasanya menggunakan konsultan independen untuk melakukan uji tuntas (due dilligence). Salah satu pendekatan yang digunakan dalam restrukturisasi kredit adalah menghitung Present Value (PV) selama periode restrukturisasi seluruh penerimaan kas dari debitur (pokok, bunga dan kewajiban lain yang dijadualkan), dengan tingkat diskonto sebesar bunga pasar. Present Value aliran pembayaran tersebut (disebut juga Nilai Buku Baru Pinjaman yang direstrukturisasi), diperhitungkan dengan pengembalian PPAP akibat perbaikan kolektibilitas, untuk menetapkan keuntungan atau kerugian restrukturisasi.
  2. Permodalan. Untuk memperbaiki permodalan, dapat dilakukan dengan injeksi fresh money, baik dari pemegang saham lama atau baru. Contoh: PT XYZ, pada tahap awal restrukturisasi, pemegang saham disyaratkan untuk memberikan Sub Ordinate Loan (SOL) selama lima tahun secara bertahap untuk memperbaiki leverage. Pada saat yang sama dilakukan novasi , dari PT XYZ ke PT X12, serta masuk manajemen profesional. Setelah perusahaan cukup kuat, dalam arti telah memberikan laba bersih dan bunga pasar pada Bank, untuk mengembangkan usaha guna mengatasi persaingan, perusahaan meningkatkan modal dengan masuknya investor. Masuknya investor tersebut menyebabkan kepemilikan saham PT X12 mengalami dilusi sehingga menjadi 25 persen dan investor baru 75 persen.
  3. Manajemen. Perubahan jajaran manajemen perusahaan dengan menggunakan manajer yang lebih profesional untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Biasanya masuknya investor baru sebagai pemegang saham diikuti pula dengan perubahan jajaran manajemen.
  4. Operasional. Pemanfaatan dana dari investor diikuti pula perbaikan manajemen dan efisiensi pada semua lini bisnis dan pendukung. Pada jangka waktu restrukturisasi, perusahaan diminta untuk membuat rencana bisnis, termasuk dalam hal ini mengatur Capital Expenditure (Capex), divestasi dari unit usaha yang merugi dan sebagainya.

d. Issue mengenai “one obligor concept

Dalam melaksanakan restrukturisasi yang melibatkan lebih dari satu kreditur, sebaiknya Bank melakukan bersama-sama. Dasar pertimbangannya adalah, bahwa sumber cash flow perusahaan yang akan digunakan untuk membayar kewajiban seluruh kreditur nya adalah dari satu sumber yang sama. Namun untuk melaksanakan konsep ini ternyata tak semudah teorinya.

Keuntungan dari “one obligor concept” ini adalah, bahwa seluruh Bank dapat secara bersama-sama memperoleh penyelesaian atas kredit. Selain itu, debitur tidak lagi dapat memberikan preferential treatment kepada kreditur tertentu karena seluruh kepentingan Bank harus diselesaikan dengan equal treatment. Kelemahannya adalah waktu negosiasi bisa berlarut-larut karena masing-masing Bank memiliki kebijakan/strategi/aturan restrukturisasi yang berbeda satu sama lain. Selain itu, attitude masing-masing Bank terhadap debitur bisa berbeda-beda, yang dapat diakibatkan oleh kondisi jaminan yang berbeda (kreditur dengan jaminan yang relatif lemah cenderung menuntut pailit).

Untuk menjembatani kepentingan yang berbeda-beda ini, pada umumnya dibentuk steering committee, untuk menjembatani seluruh kreditur melakukan negosiasi dengan debitur. Untuk memulai negosiasi restrukturisasi, maka debitur biasanya meminta diberlakukan kondisi Standstill kepada kreditur. Inti dari standstill agreement adalah menghentikan untuk sementara pembayaran bunga sehingga dana yang terbatas dapat digunakan untuk operasional, dan semacam jaminan dari kreditur untuk tidak segera menuntut pailit atau likuidasi jaminan, sementara proses negosiasi berlangsung. Namun sebaliknya, pada masa tersebut debitur dituntut untuk terbuka kepada kreditur (full disclosure).

Memperhatikan beragamnya keinginan masing-masing kreditur mengenai pola penyelesaian kredit, maka pada umumnya pola restrukturisasi dapat dibuat dalam beberapa kelompok (tranches), berdasarkan pada proyeksi cash flow yang sama, serta perkiraan sustainable debt untuk perusahaan dimaksud.

e. Kesimpulan

Keputusan untuk melakukan restrukturisasi diambil, untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, yaitu untuk menggerakkan sektor riil maupun menyehatkan perusahaan dan Bank. Mengingat langkah ini masih mengandung kemungkinan untuk membaik atau sebaliknya, maka prosesnya harus dilakukan dengan cara yang benar, tertib, dan mempergunakan pertimbangan yang bersifat win-win solution. Apabila salah satu pihak memaksakan persyaratan yang hanya menguntungkan pihaknya, dan merugikan pihak lain, maka kemungkinan untuk gagal akan semakin besar. Sebaliknya, mengharapkan likuidasi jaminan juga tidak akan mendapatkan recovery value yang optimal.

Analis Bank disini berperan serta untuk melihat berbagai kemungkinan, dan membuat analisis dari berbagai skenario dan alternatif, yang memungkinkan proses restrukturisasi dapat berjalan lancar. Analis juga harus ikut serta menilai proses restrukturisasi perusahaan, karena tak ada gunanya hanya membuat strategi restrukturisasi di bidang keuangan, tanpa didukung strategi restrukturisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, pengalaman, wawasan, latar belakang dan kematangan seorang analis sangat menentukan dalam suksesnya proses restrukturisasi ini. Disadari, tak semua proses restrukturisasi hanya berjalan sekali, karena keberhasilan restrukturisasi juga dipengaruhi kondisi makro ekonomi. Perubahan kondisi makro ekonomi juga mengakibatkan rencana bisnis yang dipergunakan sebagai dasar asumsi pembuatan projected cash flow menjadi tidak berarti, sehingga analis dan debitur harus kembali duduk bersama, untuk mengevaluasi ulang semua proses restrukturisasi yang sedang berjalan.

Sumber bacaan:

  1. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/150/KEP/DIR tanggal 12 Nopember 1998
  2. Dari berbagai sumber, bahan pelatihan, hasil seminar dan pengalaman penulis.
Iklan

Responses

  1. Bu Enny,

    Artikel yang mencerahkan.

    Sepertinya analisa finansial hanya satu aspek dari keseluruhan aspek penyelamatan sebuah perusahaan.

    Berdasarkan pengalaman Ibu, secara rata-rata, berapa persen pertambahan nilai recovery yang bisa didapat dengan melakukan proses restrukturisasi dibandingkan dengan langsung menjual collateral aset? (NPV Hasil akhir restrukturisasi – NPV semua costs restrukturisasi – NPV nett proceeds dari penjualan collateral)

    Bahar

  2. Oh yea, selain itu, bagaimana strateginya supaya bisa mengajak semua kreditur untuk duduk bersama. Apakah ada hal objektif supaya semua kreditur bisa menilai bahwa pola restrukturusasi yang ditawarkan bank Ibu fair untuk semua bank?

    Seperti yang Ibu sampaikan, berbagai bank memiliki collateral yang berlainan, senioritas loan yang mungkin juga berlainan, ditambah kebijakan restrukturisasi berlainan.

  3. Bahar,
    Kalau dijawab dengan detail, bisa jadi satu artikel sendiri, jadi saya akan mencoba menjawab secara ringkas ya.

    Dari pengalamanku, restrukturisasi selalu jauh lebih menguntungkan dibanding likuidasi atau menjual collateral aset, karena:
    – Perusahaan yang bisa direstrukturisasi adalah perusahaan yang manajemennya jelas masih punya semangat, motivasi dan keinginan bekerjasama,serta berjuang untuk memperbaiki perusahaannya.
    -Dengan restrukturisasi, perusahaan akan kembali beroperasi secara normal, bahkan banyak yang tumbuh kembali, malah ada yang kemudian go public, dan menghasilkan keuntungan .
    – Perusahaan yang beroperasi kembali akan membantu pemerintah dalam menyerap tenaga kerja, dan mengurangi pengangguran.

    Prinsipnya, sepanjang klien mau bekerja sama, Bank bisa menolong membuat beberapa skema restrukturisasi…kemungkinan skemanya ada yang menjual idle aset untuk menambah modal, dipadukan dengan perbaikan dibidang operasional, pemasaran, bahkan Bank juga dapat menambah modal kerja.

    Jadi likuidasi collateral aset hanya dilakukan dalam kondisi terpaksa, kalau tak ada jalan lain lagi, selama masih bisa di mixed dengan beberapa cara lain, Bank tetap akan memilih restrukturisasi. Tapi ini tentu harus ada kerjasama dari perusahaan, karena Bank hanya bisa membantu mengotak atik bidang finansial, agar masih sesuai peraturan BI, klien tak terlalu dirugikan, dan Bank juga tak bleeding…jadi win-win solution.

  4. Ihedge,

    Diperlukan komunikasi yang baik, agar semua Bank mau duduk bersama, terutama jika awalnya perjanjian antara Bank dan krediturnya secara bilateral (masing-masing Bank ada loan agreement dengan debitur), dan bukan secara sindikasi. Yang dimaksud kreditur, juga bukan hanya Bank, ada perusahaan leasing, lembaga keuangan dan lain-lain. Jika ada kreditur yang sulit, perusahaan bisa menego kreditur untuk jual loan nya pada Bank sesama kreditur, sehingga lama-lama yang bisa diajak duduk bersama tinggal sedikit. Makin sedikit kreditur, akan lebih mudah mencapai kesepahaman.

    Saat awal krisis, pemerintah Indonesia membentuk Jakarta Inisiative Task Force (JITF atau Prakarsa Jakarta), yang tugasnya menjembatani para kreditur dan debitur.

    Ada salah satu contoh, dimana banyak kepentingan para pihak/kreditur, yang akhirnya dibagi 3 grup kreditur ;1) Grup I, yang ingin langsung dapat uang …dengan hair cut (umumnya Bank Asing), 2) Grup II, yang bersedia restrukturisasi, 3) Grup 3: yang absensia, bahkan mengancam pailit. Syukurlah akhirnya grup 3 dapat dibujuk, dan beralih menjadi grup I atau II. Pola restrukturisasi dibuat beberapa tranches:
    tranche 1: Pinjaman pre default…sebesar nilai aset yang akan dilikuidasi, untuk membayar grup I secara bertahap, dengan keringanan bunga. Sedang tranche 2 berupa pinjaman post default (untuk grup II): a) Sebesar X rupiah berupa Convertible Bond, dengan opsi beli bagi Bank. Yang masuk CB adalah yang unsustainable debt, dan interest forgone. b) Sebesar Y rupiah berupa pinjaman yang digunakan untuk modal kerja (merupakan pinjaman baru), dengan syarat: setiap akhir minggu perusahaan mengirim rencana cash flow harian, yang harus disetujui Bank untuk pengeluarannya. Jadi walaupun pinjaman modal kerja sebesar Rp.y, tetap perusahaan hanya bisa menarik sebesar cash flow yang diusulkan dan disetujui. c) Sebesar Rp.z rupiah berupa Bank Garansi yang dapat digunakan secara interchangeable untuk investasi, L/C dll sesuai persetujuan lebih dahulu.

    Itu hanya salah satu contoh, dan Bank yang posisinya kuat dalam negosiasi, apabila Bank tsb mempunyai senior loan, serta collateral asset yang secure. Bagi Bank yang collateralnya unsecure, maka mereka juga memahami situasinya, pilih ikut pola restrukturisasi, jual loan atau ikut likuidasi colllateral walaupun tetap secara bertahap.

    Masuknya manajemen baru juga harus ikut menanggung kerugian awal, dengan memberi suntikan modal, yang digunakan untuk membayar loan pada grup I (yang setuju hair cut)

    Jangan lupa, likuidasi aset juga tidak mudah, apalagi jika berupa factory…kan nggak semua yang beli ingin membuat industri yang sama. Yang laku cepat adalah bangunan yang lokasi dekat kota (bisa dibuat apartemen), atau rumah tinggal. Jadi kadang jual aset juga perlu waktu bertahun-tahun apalagi jika daya beli masyarakat rendah.

    Pola di atas hanya dari sisi finansial, sebetulnya pra syarat restrukturisasi a.l: a) penggantian manajemen, manajemen baru harus setor modal berupa Sub Ordinate Loan (SOL) secara bertahap.b) Perbaikan operasional perusahaan, dengan melihat portfolio produk, mana yang masih mempunyai margin, efisiensi, merubah /mengganti manajer sesuai kompetensinya, melakukan pendidikan bagi karyawan.

    Perusahaan juga harus detuju untuk meminta Sucofindo mengelola inventorynya, yang tersebar diberbagai kota, dan masih banyak lagi. Intinya, strategi keuangan tak akan berhasil tanpa dukungan strategi restrukturisasi perusahaan dibidang non finansial.

    Hmm ya, bagaimana kondisi masing-masing Bank, sesuai peraturannya? Untuk menentukan menjadi 2 grup adalah kesepakatan seluruh Bank, kemudian masing-masing Bank akan masuk dalam pola tsb…jika Bank A masuk dalam pola restrukturisasi group II, maka : berapa share Bank dalam CB, dalam pinjaman modal kerja, dan BG yang interchangeable. Atau ada Bank yang hanya ikut dalam pola BG dsb nya. Agak rumit memang, apalagi saat membuat perjanjian dengan masing-masing Bank, yang kadang perlu waktu 6 bulan, dan draft nya bolak balik, karena ada saja Bank yang sulit dan kadang menjadi mundur lagi. Jadi kesimpulannya, restrukturisasi perusahaan besar melelahkan…namun jika perusahaan besar dalam kondisi going concern keuntungannya besar, dan biaya overhead bagi Bank rendah. Pilih mana? Tentu sesuai Visi/Misi masing-masing Bank, apakah mau menjadi Investment Banking, Corporate Banking, atau lebih ke arah UKM.
    (Semoga pertanyaan Bahar bisa terjawab)

  5. Artikelnya sangat bagus, tapi saya ada problem sedikit, bolehkah saya mendapatkan saran jalan keluarnya?
    Saya mempunyai usaha kecil, waktu pertama saya mengembangkan usaha tersebut saya membutuhkan kredit dari bank, BRI, namun saat itu saya menjaminkan semua tempat usaha saya, namun dalam perjalanan waktu saya mendapat musibah, salah satu konsumen besar saya mengingkari janji alias saya terkena tipu, sehingga saya rugi sebanyak ratusan juta rupiah, sejak itu saya merasa kesulitan untuk meneruskan usaha saya karena kekurangan modal bahka saya merasa kesulitan untuk menbayar hutang di bank, untuk itu saya diperkenankan membayar bunga saja, namun itu juga sangat memberatkan. untuk itu saya perlu jalan keluar untuk dilakukan pengurangan bunga bahkan penghapusan bunga bank tersebut, bagaimana caranya? mohon diberikan solusinya. terimakasih atas bantuannya
    (Ny. Micha Latief)

    Micha,
    Sebaiknya datang langsung ke Bank ybs. Namun perlu diketahui bahwa Bank juga mempunyai kebijakan yang tak bisa dilanggar, karena Bank juga diperiksa sejak dari BI, audit internal maupun eksternal dan juga BPK. Jika orang Bank melakukan kesalahan, sanksinya bisa pidana atau perdata…
    Masalahnya saat kita meminjam sesuatu untuk berusaha, kita juga harus menghitung risiko…risiko gagal maupun risiko berhasil….biasanya yang sering tidak siap adalah jika terjadi kegagalan.

  6. Kalo boleh mohon dijelasin juga macam, jenis, dan cara restruktur kredit yang bisa dilakukan oleh seorang analis kredit. terima kasih..

    Atmoko,
    Bagaimana kalau ikut pelatihan analis kredit? Yang minimal 40 sesi untuk basic…perlu waktu minimal dua minggu?
    Tentu saja hal seperti itu tak mungkin di tulis disini, perlu ada diskusi tatap muka, ada pembahasan studi kasus dan tinjauan lapangan.
    Dan tulisan di blog hanya sekedar outline..untuk pendalaman perlu beberapa ikut pelatihan atau seminar. Bahkan untuk analis kredit pun ada beberapa tahapannya, dari yang basic sampai yang advance.

  7. Bu Enny, saya mengalami kesulitan dalam menghitung kelayakan restrukturisasi, seandainya, 50 % masih dalam bentuk pinjaman yang akan di R3, dan 50 % dalam bentuk Debt to equity swap (dalam 5 tahun harus exit). karena bunga yang dikenakan sangat rendah maka perusahaan ada surplus. dalam menghitung NPV apakah surplus tsb juga ikut diperhitungkan ? ataukan harus diperhitungkan sebagai prosentase dalam dividen nantinya ? terimakasih sebelumnya.

    Bayangkan seperti menghitung Investasi…..cash in semuanya harus diperhitungkan, apakah dari cash flow untuk repayment capacity, atau penjualan idle assets. Semua nantinya akan dihitung berapa NPV nya….dibandingkan dengan nilai likuidasi jika menjual asset. Kalau nilai likuidasi dari jual asset, tentu pilih yang ini dibanding menunggu restrukturisasi….namun semua harus dihitung dampaknya, tak sekedar analisis finansial saja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: