Oleh: edratna | November 30, 2007

Kenapa ya kok gaji saya nggak naik?

Pernahkah anda mendapat pertanyaan seperti itu, atau mendengar keluhan karyawan? Yang sangat menyedihkan, keluhan seperti tadi tak hanya dari tingkat pelaksana, namun ada yang berasal dari tingkat manager yang seharusnya lebih bisa memahami masalah yang dihadapi perusahaan. Dimana letak permasalahannya, dan apa yang sebaiknya dilakukan?

Dari pengamatan, hal tersebut umum terjadi, karyawan ingin gajinya terus meningkat, namun di satu sisi apakah perusahaan mampu untuk meng cover keinginan karyawan tersebut. Pemegang saham tentu juga menginginkan setoran dividen meningkat, namun setoran dividen ini umumnya telah ada proporsinya, yaitu rata-rata 50 persen dari keuntungan perusahaan setelah dikurangi pajak.

Agar pertanyaan-pertanyaan tadi tak menimbulkan permasalahan, yang mengakibatkan turunnya produktivitas kinerja karyawan, pimpinan perusahaan perlu duduk bersama dengan para manager untuk membahas masalah tersebut. Disadari, rencana anggaran perusahaan sering tidak dibicarakan dengan seluruh manager, tapi hanya dengan manager terkait, atau hanya antara pimpinan perusahaan dan bagian keuangan saja. Padahal, agar para karyawan merasa memiliki, dan bertanggung jawab atas kinerja nya, rencana anggaran hendaknya dibuat secara bottom up, dan selanjutnya didiskusikan dengan pimpinan perusahaan. Diskusi ini mencakup, berapa sebetulnya rencana pendapatan yang hendak diraih agar perusahaan tetap eksis, dan tidak kalah bersaing dengan perusahaan lain.

Sebagai contoh:

Usaha hotel kelas menengah bawah, yang terletak di daerah Carita, Anyer mempunyai karyawan sekira 200 orang. Struktur organisasi Hotel Xx tadi, dipimpin oleh seorang Direktur, yang membawahi seorang General Manager. General Manager (GM) membawahi beberapa Departemen, sedangkan Departemen yang merupakan profit center (menghasilkan pendapatan) adalah: 1)Food & Beverage, 2) House Keeping, 3) Sport & Recreation, dan 4) Front Office. Departemen lainnya, seperti : 1) Engineering, 2) Human Resources Department, 3) Security, 4) Marketing, 5) Accounting dll merupakan Departemen yang mendukung kelangsungan hotel tersebut. Bagaimanapun Departemen Marketing bekerja keras untuk meningkatkan pemasaran, namun apabila pelayanan kamar kurang memuaskan, makanan kurang enak, keamanan tak terjamin, akan membuat tamu yang menginap tak datang lagi. Jadi, untuk keberhasilan suatu usaha hotel, yang merupakan mata rantai kegiatan, diperlukan kerjasama semua pihak, yang tujuannya adalah untuk kepuasan pelanggan.

Bagaimana agar usaha hotel tadi mampu meningkatkan gaji karyawan? Disadari, gaji yang sesuai, akan meningkatkan loyalitas karyawan, namun agar gaji bisa meningkat, karyawan juga harus menyadari, bahwa kenaikan gaji akan menyebabkan kenaikan biaya tetap perusahaan, dan untuk mengcover kenaikan biaya tersebut, diperlukan kenaikan pendapatan yang jauh lebih besar dibanding kenaikan biaya, agar perusahaan tetap mempunyai cadangan jika terjadi hal-hal di luar kebiasaan. Kenaikan pendapatan ini juga harus menjamin kenaikan pendapatan yang berkelanjutan, karena kenaikan gaji, berarti kenaikan biaya tetap, yang harus selalu tercover dengan kenaikan pendapatan.

Untuk memahami hal tersebut, manager diajak diskusi struktur keuangan perusahaan, berapa pendapatan yang diperoleh, berapa biaya tetap dan biaya variabel yang harus dikeluarkan, serta berapa biaya investasi (capital expenditure) yang harus dikeluarkan agar aktifitas hotel tetap berjalan lancar. Dari sini GM bisa menanyakan kepada para pengelola profit center, mampukah mereka meningkatkan pendapatannya, yang akan bersifat tetap? Dari hasil diskusi, ternyata para manager yang bersangkutan hanya berani meningkatkan pendapatan, namun tak sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan adanya diskusi ini, maka semua pihak akan memahami, apakah perusahaan sebaiknya memilih menaikkan gaji yang akan bersifat tetap, atau jika belum mampu, maka perusahaan akan memberikan bonus apabila target bisnis perusahaan dapat tercapai. Kenaikan gaji memang lebih menguntungkan karyawan, karena mempunyai efek samping yang lebih banyak, karena dengan kenaikan gaji, juga akan meningkatkan Tunjangan Hari Raya (THR) yang akan diterima, juga bonus tahunan, karena pada umumnya perhitungan dikaitan dengan besaran gaji yang diterima.

Dari hasil diskusi dengan para manager hotel Xx, akhirnya disepakati bahwa para manager belum sanggup untuk meningkatkan pendapatan yang berakibat tetap, sehingga akhirnya mereka memahami bahwa tingkat kenaikan gaji terpaksa ditangguhkan, dan mereka sadar bahwa yang bisa diharapkan adalah bonus dari perusahaan apabila target perusahaan dapat dicapai sesuai anggaran.

Apa inti pembelajaran di atas? Pada umumnya karyawan menganggap bahwa pemilik perusahaan tak mau menaikkan gaji, karena sebab-sebab lain. Dengan diskusi terbuka, maka para manager menyadari bahwa apabila semua pihak bekerja keras, dan bisa meningkatkan pendapatan perusahaan, kenaikan gaji bukannya hal yang tak dapat dicapai. Dan bilamana kenaikan gaji tetap belum dapat diusahakan, minimal karyawan memahami, bahwa apabila mereka bekerja keras, dan dapat mencapai target sesuai yang dianggarkan, maka mereka akan menikmati bonus tahunan.

Iklan

Responses

  1. di perusahaan saya ada perjanjian kerja sama dimana setiap tahun karyawan berhak naik gaji, cuman besarnya tiap kepala berbeda karena diitung dari hasil kinerja dan prestasi kerja karyawan itu sendiri, selain itu perusahaan juga memberi apraisal tersendiri tiap bulannya, hal tersebut dilakukan kemungkinan krena perusahaan saya bukan bergerak di profit oriented

  2. Aprikot,
    Mungkin juga…kalau perusahaan, yang dihitung berdasarkan keuntungan/kerugian, tentu harus dihitung segala sesuatunya.

    Oleh karena itu, bagi perusahaan yang sudah besar dan stabil (seperti tempat saya bekerja sebelum pensiun), ada kenaikan gaji berkala, kenaikan gaji berdasar kinerja (appraisal), ada insentif dan ada bonus. Yang saya ceritakan adalah perusahaan kecil dan menengah, yang harus tetap hidup dalam menghadapi persaingan ketat, apalagi termasuk hotel di wilayah pariwisata, yang hanya ramai saat week end dan libur. Disini semua harus diperhitungkan, namun kalau bonus tahunan memang selalu ada, sepanjang perusahaan memperoleh keuntungan.

  3. perlu ga sih bu, management itu transparant ke karyawan tentang kondisi financial perusahaan? saya pikir ini ada plus minus nya.
    plus nya, karyawan jadi tau dan tidak banyak menuntut.
    minus nya, karyawan jadi bersemangat apply sana sini, karena yg diharapkan kemungkinan tidak terpenuhi. perusahaan juga yg susah kalo karyawan yg diandalkan tiba2 keluar.

    ini juga based on pengalaman di perusahaan saya yg lama, saat perusahaan mulai menurun, owner & management terbuka ke karyawan, banyak hak kita yg tidak terpenuhi, akhirnya karyawan yg berharga satu persatu resign. makin kacaulah perusahaan.

  4. Nel,
    Kalau saya jadi karyawan, saya ingin tahu perkembangan perusahaan tempat saya bekerja, bagaimana posisinya, prospek kedepannya dsb nya. Semua ini ada risikonya, namun sekarang kan tiap perusahaan mesti ada perjanjian kerja bersama (PKB) dengan Serikat Pekerja, jadi memang harus transparan.

    Justru itulah, mengapa manajemen harus berjuang keras agar perusahaan berkembang, dan karyawan juga harus tahu tentang itu…kenyataannya jawaban manajemen terhadap manajer di atas, membuat manajer makin bekerja keras kok…karena perusahaan tadi likuid dan solvabel, walau gajinya belum bisa naik. Dibanding industri sejenis nya, gaji perusahaan yang saya gambarkan di atas relatif bagus, juga setiap tahun ada bonus, dan THR, serta di atas UMR.

  5. Apabila perusahaan maju niscaya seluruh stakeholders akan ikut maju. Shareholders akan menerima dividen, reinvestasi bertambah, karyawan naik gaji, vendor dapat oerder terus, customer mendapatkan produk/servis sesuai janji.

    Karyawan sebaiknya memiliki semangat untuk memajukan perusahaan karena ibarat kereta api, gerbong akan ikut ke mana lokomotifnya bergerak. Anggap saja perusahaan sebagai lokomotif dan seluruh karyawan adalah gerbongnya. Kalau semua gerbong kondisinya prima maka lokomotif pun akan lebih mudah membawa ke sana kemari. Akan tetapi, kalau ada gerbong yang rusak, misalnya rodanya seret maka kecepatan rangkaian kereta api itu dalam melaju akan terpengaruh.

    Sebagian karyawan lupa melihat bahwa bisnis tidak selamanya bagus. Dalam kondisi bagus, perusahaan terbiasa royal dalam menaikkan gaji dan membagi bonus. Akan tetapi, ketika kondisi bisnis sedang buruk, biasanya karyawan akan satu-satu meninggalkan perusahaan. Apalagi karyawan yang tidak mempunyai rasa memiliki perusahaan, pasti langsung ngacir. Mana ada sih yang mau gajinya turun sedangkan gaji tidak naik saja sudah ancang-ancang hengkang.

  6. Kenapa ya kok gaji saya nggak naik?
    ——————————————————–
    Pertama, kalo saya tanya ke diri sendiri saya dulu bu’, kerja saya selama ini gimana? bagus? ada peningkatan? jelek? atau ga kerja sama sekali *jangan sampe*

    kedua, kalo udah tau kerja kita gimana, trus merasa bagus dan layak dapet kenaikan gaji. cari tau deh tentang keadaan kantor. *ini sih biasanya pasti tau duluan* pasti sering tho ngomongin soal kantor yang begini, yang begitu 😀

    ketiga, ya emang belom pantes kali buat naek gaji 😀

    CMIIW, maap kalo ada salah-salah kata 😀
    thx ya bu

  7. diantara teman2ku dan aku sendiri pernah punya pertanyaan seperti itu, kadang aku sendiri merasa sudah banyak hal aku lakukan untuk perusahaan,mialnya : dedikasi dan loyalitas rasanya sudah aku berikan kepada perusahaan, banyak pekerjaan2 penting juga yang jadi tanggung jawab aku, tp memang pertanyaan itu tetap masih ada, mungkin ini ada kaitannya dengan kerja tim, mungkin apa yang menjadi tanggung jawab dan pekerjaanku berjalan baik, tp bagaimana dengan profit center? bukankah semuanya saling mempengaruhi. kondisi ini sepertinya jd serba salah, bahkan yang sering di salahkan disini adalah department yang jadi profit center, tidak satu kali or dua kali dr dept. keuangan misalnya yang menyalahkan bag pemasaran/marketing, kurang jualannya lah, ga nambah client nya lah dll nya kondisi ini mempengaruhi kinerja dep lainnya juga. mulai dr mana ya bu memperbaikinya? apa harus fokus di pemasaran dl,

  8. Kalau saya kebalikannya bu. Pertanyaan saya, “Kapan ya gaji saya nggak dinaikin lagi” Becanda lho bu Enny.. 😀 Jangan dilaporin lho bu.. bener lho bu..

  9. Sepertinya untuk menyampaikan kondisi perusahaan perlu seni tersendiri.

    Pengalaman saya mirip dengan Nel diatas. Pada saat perusahaan merugi, pihak manajemen menyampaikan secara terbuka. Akhirnya malah pada kabur cari selamat sendir-sendiri.

    Dari sisi karyawan seperti saya, pasti lebih menguntungkan manajemen yang terbuka.
    Tapi kalau dari sisi owner, mungkin bisa semakin rugi juga mereka kalau banyak hal terbuka.

    Bagaimanapun, saya bersyukur bahwa pihak manajemen waktu itu memilih untuk membuka lebar informasi. Jadi kita sebagai karyawan tidak berharap terlalu banyak pada janji kosong.

  10. Kang Kombor,
    Saya sependapat bahwa antara karyawan dan manajemen, semuanya harus bekerja sama untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Karena jika perusahaan berkembang pesat, maka semua pihak akan diuntungkan. Dengan peraturan ketenaga kerjaan sekarang ini, maka mau tak mau antara karyawan (diwakili SP) dan Manajemen akan sering duduk bersama dalam melakukan kebijakan, yang menyangkut HRD. Namun dalam PKB juga harus jelas, bahwa Manajemen berhak mem PHK kan karyawan yang kinerjanya kurang baik, atau yang tak mau dipindahtugaskan demi kepentingan organisasi/perusahaan.

    Imam,
    Perusahaan biasanya telah mempunyai aturan baku, yang diketahui oleh masing-masing karyawan, berapa gaji yang akan diperoleh sesuai pangkat dan jabatnnya. Kenaikan gaji secara keseluruhan memerlukan analisis yang mendalam.

    Pipiet,
    Perusahaan yang baik, jika mempunyai strategi bisnis jangka pendek dan jangka panjang (Corporate Plan). Disini masing-masing Departemen mempunyai target, yang dibagi dalam milestone, sehingga sebetulnya kemajuan perusahaan sangat ditentukan oleh kerjasama semua pihak. Dengan target yang jelas, bisa dikuantitatifkan, di breakdown dalam milestone, akan mudah di monitor, departemen mana yang bertanggung jawab atas tidak tercapainya target bisnis tersebut. Jadi tak bisa salah menyalahkan, karena semua akan terlihat jelas.

    CakBowo,
    Perusahaan bertanggung jawab untuk memberitahu karyawan, biasanya sebelumnya diadakan pendekatan dulu melalui para manager. Juga perusahaan akan mencoba melakukan perbaikan, bisa dengan turn around, restrukturisasi dll, serta ada bagian2 yang harus dipangkas. Semuanya ditujukan agar perusahaan bisa membaik kembali. Situasi saat ini, yang perubahannya sangat cepat, memungkinkan terjadinya perubahan2 dalam perusahaan, penggantian manajemen dll…..jadi memang semua pihak harus selalu siap, dan menyiapkan payung untuk keadaan darurat.

  11. Ardians,
    Berarti gajinya udah kegedean ya…bercanda…:D

  12. Kasus yang kadang terjadi, si karyawan “sok” tahu bagaimana kinerja dan keuntungan perusahaan yang begitu gencar, tapi sayangnya manajemen seolah2 menutupi…

    jadi usulan Ibu Ratna agar manajer puncak atas hingga ke bawah perlu rempugan…

    Kasus di Jepang *entah benar/tidak* karyawan itu menjadi aset penting karenanya dijadikan mitra usaha dengan menawari saham2 perusahan kepada mereka.

    Dengan kepemilikan itu, diharapkan mereka ikut berusaha menghidupi dengan serius…

  13. Menurut saya perlu adanya sistem komunikasi yang baik antara seluruh pegawai diperusahaan tersebut dari level pelaksana sampai dengan direktur. Komunikasi yang baik akan terjadi jika setiap unsur saling membutuhkan dan ada kendaraan yang cocok untuk memfasilitasi komunikasi tersebut.

    Kadangkala banyak karyawan yang berteriak kala merasa dirugikan misalnya gaji tidak naik2 dll. Namun ketika sedang tidak ada project sedikit sekali yg menanyakan “what’s next” atau ‘apa ya yg bisa saya lakukan buat company sehingga tetep keep up dan profitable?. Ada yg merasa tiap hari sudah pulang malem terus tp gaji ngga naek2 tp ada jg yg pulang pada jam normal tp bisa naik.

    Menurut saya, company jg memiliki kebijakan tersendiri dlm menaikkan gaji karyawan. Mereka yg menjadi ‘key person’ tentunya akan dijaga keberadaannya dlm company tersebut. Sedangkan yg lainnya akan dilihat kembali dr prioritas brp banyak kontribusinya dlm perusahaan. Rasanya ngga adil? bisa jadi, it’s a business. Sebisa mungkin mencari karyawan yang lebih murah tapi kualitas jg bagus.

    Banyak company yg memiliki visi dan misi yg sangat visioner jauh kedepan namun implementasinya tidak jalan. Atau banyak jg karyawan yg karena sudah lamanya berada diperusahaan, seakan sudah mengakar disitu susah untuk berubah sesuai dengan visi perusahaan. Terakhir, tentunya karyawan itu sendiri jg sadar kl gaji yg diberikan kepada mereka bukan berdasar skill yg mereka miliki tetapi posisi yg mereka tempati. Thanks

  14. saya pun pengen naek gaji… tp ternyata sekarang sulit karena kondisi perusahaannya juga..

    semoga perusahaan maju gaji jg nambah 😀

  15. Bersabar aja ya,,,,
    Suatu saat pasti nambah ko…

    => Hansteru WebBlog <=

  16. Bertahanlah Bu … pasti ada jalan keluarnya …
    sambil nunggu mujizat akhir tahun. Siapa tahu malah gaji nggak nambah tapi tunjangan dan THR jadi 3 x lipat 😛

  17. resep yang terbaik memang komunikasi, duduk bersama. ada ruang transparansi untuk saling memahami, bahwa perusahaan belum bisa naikkan gaji, tapi karyawan butuh itu. pasti solusi bertemu disitu

    -salam kenal mbak-

  18. LOWONGAN KERJA GAJI TINGGI

    Informasi Pendaftaran CPNS POLRI dan Penerimaan BINTARA POLRI TA 2008.

    http://poldasulsel.wordpress.com

    Silahkan buka untuk info selengkapnya

    Terima kasih.

  19. Mas Kurt,
    Di Indonesia semakin banyak Manajemen perusahaan (Direksi) yang menyadari bahwa karyawan adalah sebuah aset yang sangat berharga. Memang belum semuanya sih, tapi perkembangannya semoga makin membaik.

    Javeneska,
    Kedepan perusahaan akan dipaksa untuk transparan, karena SDM sangat menentukan perkembangan kinerja perusahaan. Namun disatu sisi, perusahaan juga sulit mendapatkan karyawan yang match, jadi proses sejak recruitmen, pendidikan dan pengembangan karyawan harus terus ditingkatkan sejalan untuk kepentingan tujuan bisnis perusahaan. Strategi pendidikan di perusahaan harus mendukung strategi SDM, searah dengan perkembangan bisnis perusahaan. Berat memang, makanya perusahaan besar mempunyai Divisi Pendidikan dan Pelatihan tersendiri, walau tak dipungkiri, tetap mengirimkan staf dan karyawan nya ke public course agar bisa bersaing.

    Dobelden,
    Persaingan perusahaan memang makin ketat, makanya karyawan dan pemilik harus bersama-sama berjuang untuk meningkatkan produktivitas kinerjanya.

    Hanster,
    Thanks kunjungannya. Posisi saya mendorong karyawan untuk bekerja keras, karena kalau target tak tercapai, berarti saya belum cukup mampu mengajak mereka bekerja bersama-sama.

    Rudyhilkya,
    Thanks kunjungannya…jawaban sama dengan Hanster…mau juga dapat bonus setelah target tercapai dan diputuskan dalam RUPS.

    Reza,
    Salam kenal juga, thanks telah berkunjung.

    Infokerja,
    Thanks infonya, jika ada pembaca yang memerlukan.

  20. Setuju, bu, mengenai bahwa seharusnya perusahaan transparan dengan keadaan perusahaan dan lebih melibatkan mereka dalam penentuan kebijakan. Istilah kerennya: open book management.

    Namun, dalam prakteknya masih jarang yang melakukannya di Indonesia. Lebih-lebih pada perusahaan keluarga. Bahkan, pengalaman saya bekerja di perusahaan multinasional pun tidak banyak beda. Pegawai seringkali harus menebak-nebak, apakah perusahaan memang nggak mampu naikin gaji besar, apa karena pelit. Bagi mereka yang melek dan dapat melihat laporan keuangan, tentu tahu apa yang terjadi. Kebanyakannya sih tidak.

    Di sisi lain, merit-based increment dengan menggunakan tolok ukur prestasi (KPI) juga belum merata. Banyak yang menaikkan samarata. Atau, seringkali tebak-tebakan, mengapa si anu naik sekian saya cuma sekian.

    Kenaikan gaji adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu banyak karyawan. Sayangnya, prosesnya masih banyak yang jauh dari ideal.

    Namun, bagaimana pun, bagi Anda yang gajinya naik setiap tahun. Bersyukurlah. Tidak banyak yang seperti Anda.

  21. Hendro,
    Memang tulisan dimaksud untuk menyadarkan bahwa kita mau tak mau harus tahu laporan keuangan perusahaan, terutama jika perusahaannya sudah go publik, yang harus memasang laporan keuangan tiap triwulan di surat kabar.

    Menjadi sulit, jika masih perusahaan keluarga, yang kadang administrasinya masih tercampur untuk kepentingan di luar perusahaan.

  22. @kurtubi

    bukan hanya di jepang, di US setau sy kebanyakan perush seperti itu, khususnya di bidang IT, gaji biasa2 aja, tetapi dia mendapatkan opsi saham… dan jika sahamnya meledak, bisa2 si karyawan jadi kaya raya, ini yg setau sy juga diadopsi oleh google dan microsoft

    nah kalo di “dunia antah berantah” beda lagi, ketika perush mau kolaps, manajemen memberikan penjelasan kpd karyawan agar karyawan mau mengerti…., nah ketika perush sudah stabil…. eh si karyawan ybs tidak mendapatkan dampak dari kestabilan perush…. ada sih yg kena dampaknya, top manajemen doank xixixi

    so kesimpulannya, lebih baik jd karyawan itu batu loncatan saja, tujuan utama mah lebih enak jd wirausaha…. bisa bebas ngegaji diri sendiri he he

  23. Adit,
    Tak semua perusahaan di Indonesia seperti itu. Jika perusahaan bagus, bisa go public, maka ada ESOP (Employee Stock Option Policy). Menurut saya, agar iklim kerja bagus, antara karyawan dan perusahaan harus saling memahami situasinya. Memang nggak semua karyawan memahami, tapi minimal staf keatas, sedangkan yang golongan bawah bisa diwakili oleh Serikat Pekerja.

    Pengalaman saya, ketentuan ketenagakerjaan saat ini sangat ketat, untuk membuat kebijakan yang ada kaitan dengan SDM serta berperan penting pada perusahaan, maka ketua SP harus dilibatkan, diajak mengobrol dan diskusi. Karena kalau tidak, bisa terjadi demonstrasi atau hal-hal yang malah menganggu kelangsungan kerja, yang berakibat pada perusahaan maupun karyawan itu sendiri.

  24. @edratna

    eh di post di atas sy ndak ngomongin perush indo loh, cuma perush “antah berantah” xixi

    eniwei…. satu pertanyaan, bagaimana dengan perusahaan kecil ?

    bisakah “ketatnya” uu ketenagakerjaan berlaku thdp perusahaan kecil ?, ah jangankan uu…. tanda tangan kontrak kerja pun mungkin nggak ada antara karyawan dan atasan, mau nuntut keadilan, gmn ?, lebih baik diam sja drpd dipecat… apalagi cari kerja jaman skrng susah

    lagipula di negara “antah berantah” urusan transparasi belum menjadi budaya, ini terkadang dimanfaatkan boss untuk menindas bawahannya

    tambahanlagi di negara “antah berantah” ini selisih pencari kerja dan yg wirausaha demikian lebarnya, sehingga terkadang bargaining position si karyawan pun demikian lemahnya, beruntunglah kalau mendapat boss adil, kalau tidak …. ya ybs mesti sabar saja mengelus dada…

    statement ini memang ndak bisa di generalisir, cuma sy pernah mendengar statemen ketidak adilan dari seorang pemilik restoran yang memperkerjakan karyawannya lebih dari 10 jam tanpa uang lembur

    “ah buat apa aku naikkan gajinya, kalopun aku naikan paling2 dibeliin rokok, lebih baik kelebihan uang itu aku putar buat modal”

    so intinya aku cuma mo bilang, apakah uu ketenagakerjaan tsb sudah bisa melindungi pekerja rendahan yg bahkan tak punya kekuatan untuk bargaining position ?

    note : kalo karyawan berskill mah gampang, mau naik gaji…. tinggal pindah aja, karena terkadang pindah kerja bisa menaikan gaji lebih besar ketimbang menunggu ada kenaikan di perush ybs

    maap bu kalo OOT dan ndak fokus 😀

  25. Saya ingin nimbrung dengan mas Adit…

    Mungkin saya bisa bertanya kepada mas Adit, kalau hal itu terjadi pada mas Adit, apa yang akan mas Adit lakukan? pasrah? pindah kerja?

    Ketika kita mengetahui buruknya management di sebuah perusahaan, dan kita merasa kita “layak” mendapatkan yang lebih baik kita bisa melakukan negosiasi, jika benar2 buruk dan negosiasi kita percuma, maka kita hanya ada 2 + 1 options diatas, tetap bekerja dengan managemen yang buruk, atau pindah kerja atau sudah siap berbisnis sendiri?

    Yang perlu diingat adalah options berbisnis sendiri bukan yang tersimple melainkan yang terkomplek… meskipun bisa jadi yang terbaik jika kita siap dan sukses.

    Pengalaman pribadi saya sendiri, pengalaman kerja total 5 tahun, sampai saat ini paling lama bekerja di sebuah perusahaan 2 tahun dan minimal 1 tahun, jadi tahu donk apa yang saya lakukan?… 🙂 Hasilnya?… not bad lah.

    Jadi apa yang harus kita lakukan adalah tergantung keadaan kita sendiri masing2, mungkin jika sudah berumur dan berkeluarga banyak yang memilih jalur aman = pasrah, yang masih muda berskil dan masih ingin cari pengalaman = pindah kerja, yang sudah siap misalnya dalam hal materi untuk modal usaha = bisnis sendiri.

    So good luck for you mas Adit.

    ps : kayaknya saya bentar lagi naik gaji lho… hahaha…

  26. Adit,
    Jawaban Orangemood udah mewakili pendapat saya. Kalau perusahaan tak bagus, gaji kecil, kenapa masih bertahan disitu? Tapi kalau masih belum bisa bersaing di bursa tenaga kerja yang lebih baik, perbaiki ketrampilan, dan selama masih bekerja disitu bekerjalah yang rajin… karena Allah swt Maha Tahu…dan kalau kita rajin, kita juga meninggalkan kesan baik pada perusahaan yang ditinggalkan tadi. Ingat lho, apapun yang kita lakukan, berimbas ke diri kita sendiri, jadi tetap bekerja yang baik.

    Sekarang bayangkan kita yang punya perusahaan kecil tersebut, kita mati-matian berusaha mengembangkan perusahaan, inflasi naik, harga-harga naik, pendapatan hanya cukup untuk menutup biaya operasional, bahkan kita sebagai pemilik tak bisa menikmati…ternyata karyawan cuma mengeluh tentang gaji…tapi juga nggak keluar dari pekerjaan tsb. Saya termasuk yang mendukung orang yang berani berwirausaha, menciptakan pekerjaan, karena mengelola perusahaan sangaat…sangaaat …berat. Apalagi tuntutan karyawan terus meningkat, dan karyawan tak pernah mau tahu kesulitan perusahaan.

    Perusahaan kecil mau buat peraturan tertulis? Padahal karyawannya cuma sepuluh, kadang perusahaan tsb belum tentu ada laba yang cukup…jika telah ada laba yang cukup, hal ini baru dapat untuk mengembangkan perusahaan tsb. Jika laba kecil, bagaimana perusahaan mau berkembang?

    (Maaf ya Adit, kapan2 saya mau menulis bagaimana seorang pemilik pusing memikirkan perusahaannya tak berkembang, dan pengin menutup saja perusahaan tadi karena tak tahan menghadapi keluhan karyawan….dan ini cerita nyata, demikian juga cerita saya di atas)

    Andy Orangemood,
    Thanks komentarnya, saya sependapat. Saya kadang sedih, inilah situasi di Indonesia sekarang, …dan kalau terus menerus, orang tak berani lagi berwirausaha. Karena wirausaha itu berat…tapi kalau udah puluhan tahun dan berhasil, orang lain cuma bilang…enak ya,….pengusaha besar. Saya belajar, melihat, bagaimana perusahaan mulai tumbuh, tertatih-tatih berkembang…ada yang berhasil, ada yang gagal…ada yang berhasil ke tingkat menengah, amblas lagi di kancah persaingan. Di satu sisi, mencari karyawan yang mau berjuang bersama perusahaan sangat sulit, saya mengalami saat-saat itu…banyak orang pandai pilih keluar, menyangka kapal besar itu akan tenggelam. Ternyata, kapal yang udah ditinggalkan banyak penumpangnya…bisa berjalan cepat lagi, bahkan ngebut…tahu nggak orang2 tadi bagaimana?…demonstrasi, ingin mendapatkan bagian keuntungan. Itulah dunia Andi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: