Terimalah dalam satu paket

Hidup ini merupakan pilihan. Pernahkah anda begitu menginginkan sesuatu sampai termimpi-mimpi? Atau bahkan begitu anda mendapatkan penawaran, penawaran yang datang bertubi-tubi, yang akhirnya malah membikin bingung, mau pilih yang mana ya? Jadi, pada akhirnya kita harus bisa memilih, dari berbagai tawaran yang disediakan bagi kita.

Cerita ini diawali dari obrolan dengan seorang teman, yang sedang bingung memilih pasangan. Padahal menurut saya, seharusnya dia bersyukur karena masih bisa memilih, diantara banyak orang yang tak punya pilihan.

Dia tanya…”Ehh bagaimana ya enaknya, aku cocoknya sama siapa nih? Kalau si A anaknya lucu, saya selalu ketawa terus jika bersama dia, dan penolong, dia juga tak segan-segan membetulkan barang sendiri, suka ngoprek radio, motor dan lain-lain peralatan dirumahnya.”

“Lha, kenapa masih bingung,” tanya saya.

“Iya sih,” jawabnya. Tapi si B lebih asyik, pengetahuannya luas, karena suka baca buku. Dengan B saya bisa berdiskusi ber jam-jam membahas buku, dari novel sampai buku yang lain-lain. Coba kalau A juga senang buku,” katanya lagi.

“Lha kalau A juga seneng banget baca, sampai nggak ingat waktu, dia nggak bakal bisa ngoprek lagi dong,” kata saya. Coba aja bandingkan hand phone merk Nokia, kan masing-masing jenisnya berbeda-beda. Jenis Nokia yang satu bagus untuk membuat foto (mis. N.73), tapi lambat untuk lainnya, malah sering hang. Jenis yang lain, musiknya bagus, jadi memang nggak semua fasilitas ada pada satu jenis Hp, karena nanti malah “hang”

“Wahh benar juga ya, tapi kan mupeng. Aku nggak pengin yang lain lagi deh, asal A ditambah baca,” katanya lagi.

“Ahh, itu mah gampang, sering aja diajak ke Gramedia, Kinokuniya, QB, Aksara, terus ajak diskusi tentang isi buku. Nanti lama-lama kan A pengin juga baca buku, tapi ada risikonya lho…kalau A udah kebanyakan baca buku, waktu yang lain-lain udah tersita. Jadi sebetulnya mau pilih yang mana?”

Itulah obrolan antara dua teman, jadi pada dasarnya memang tak mudah untuk menentukan pilihan. Ada yang baik hati, tapi gendut. Atau ganteng, tapi juga banyak cewek yang naksir, wahh saingan banyak….dan risiko juga tinggi. Sepanjang memang belum ada komitmen, maka masih bisa memilih, namun jika sudah menentukan pilihan, hendaknya kita memang harus menyukai satu paket tadi. Bukankah di dunia ini semuanya dalam satu paket? Seperti jika ingin investasi, apabila kita memilih reksadana saham, risikonya tinggi, tetapi kemungkinan mendapatkan keuntungan juga tinggi, atau bahkan mendapatkan kerugian juga cukup besar.

Jadi pilih yang mana, ambil yang berisiko tinggi, atau yang moderat?

Iklan

20 pemikiran pada “Terimalah dalam satu paket

  1. Memilih jodoh bukanlah perkara yang mengandalkan rasio. Suatu ketika, persamaan interest dan sifat akan membawa keselarasan dalam rumah tangga, namun di saat lainnya, sifat dan kebiasaan yang bertolak belakang justru akan saling melengkapi dan memberikan warna-warni yang menggairahkan dalam keluarga. Kuncinya, adalah yakin dan percaya bahwa pasangan yang telah kita pilih adalah yang terbaik bagi kita. Tak perlu lagi tengok kanan-tengok kiri. Soal ada kekurangan, itulah yang akan menjadi jihad kita dalam keluarga untuk meluruskannya bersama-sama.
    *Sok tahu ya, padahal dalam soal keluarga, belum apa-apanya dibandingkan Bu Enny :)*

  2. Dee,
    Cerita di atas tak sekedar urusan jodoh, tapi juga pekerjaan. Banyak orang mengeluh, gajiku nggak naik, tapi cuma mengeluh…kalau dia berusaha meningkatkan kualitas, dan kemampuan…dia bisa memilih perusahaan yang lebih baik, yang berani memberikan gaji lebih besar. Tapi taruhannya, kerjanya lebih keras, stresnya lebih tinggi…..jadi memang harus memilih. Begitu juga memilih rumah tinggal, mau dekat kemana-mana tapi rumah kecil, atau rumah yang luas, tamannya indah, tapi terpaksa agak jauh diluar kota.

    Intinya, apapun yang kita pilih, kita harus berusaha menyenangi, dan bahagia itu harus dibuat, karena manusia sendiri tak sempurna.

  3. risiko pasti ada, sekarang moderat bisa jadi besok jadi tinggi, yang jelas yang kita harus bisa menikmatinya, mo sesuai atau tidak mo enak apa tidak, lha kita kan ga bisa milih setiap saat 😀

  4. seperti ktika memilih untuk kerja proyek bu, dan banyak teman bilang wuah enak yah gaji banyak, tp yg mreka tdk tahu tugas dan tanggung jawab juga jauh lebh berat, hrus siap kerja lbh dr 12 jam sehari, siap ditempatkan di daerah remote area, siap lembur di akhir pekan smntara yg lain justru bisa berisitirahat, tapi bukankah setiap pilihan yang kita ambil selalu ada konsekuensinya? dan sepertinya kita juga hrus siap dgn smua itu

  5. Hehehe lucu juga ceritanya… kalau saya urusan pasangan ngga pusing seh, urusan yang lain yang kadang pusing…

    Tetapi memang kadang pusingnya itu karena di bikin sendiri… contoh di atas adalah kita ingin sesuatu yang lebih, that’s good but more wisely if we can look our self first… remember when we expect much, we must prepare much too… 🙂

  6. nel

    setuju dengan dee, apapun yang sudah kita tentukan dan pilih jangan sampe disesali, yakini bahwa ini yang terbaik. pasti ada hikmah dan berkah dibalik semua itu.

  7. Cerita di atas tak sekedar urusan jodoh, tapi juga pekerjaan. Banyak orang mengeluh, gajiku nggak naik, tapi cuma mengeluh…kalau dia berusaha meningkatkan kualitas, dan kemampuan…dia bisa memilih perusahaan yang lebih baik, yang berani memberikan gaji lebih besar. Tapi taruhannya, kerjanya lebih keras, stresnya lebih tinggi…..jadi memang harus memilih. Begitu juga memilih rumah tinggal, mau dekat kemana-mana tapi rumah kecil, atau rumah yang luas, tamannya indah, tapi terpaksa agak jauh diluar kota.

    Intinya, apapun yang kita pilih, kita harus berusaha menyenangi, dan bahagia itu harus dibuat, karena manusia sendiri tak sempurna.

    Mau comment apa ya? hemm.. takut salah-salah kata 😀
    Manusia ga ada yang sempurna, bener banget. Si A bisa ini, si B bisa itu. Tapi si A ga kaya B yang orangnya gini gini.. si B juga ga bisa kaya si A yang bisa gitu gitu.. (duh ga jelas banget ya bu)
    pokoknya hidup banyak pilihan dan harus tetep milih. hidup tetep berjalan, ga milih? it’s your risk.
    gitu aja agh.. maap ya bu kalo ga nyambung atau ga jelas gituh 😀

  8. kalo bisa milih sih enak, Bu. kalo nggak ada yang dipilih, gimana 🙂

    ada cerita lucu-lucuan dari temen,
    umur 20 kita s1, kalo liat cowo: ih, Siapa lo?
    umur 25 (mirip cerita diatas) s2: Siapa ya? [bingung menentukan dari beberapa pilihan]
    umur 30 sudah s3: Siapa saja!
    haha…

  9. angeli_pop

    “Terimalah dalam satu paket”?
    hehehe bener bgt bu, nobody is perfect.
    hidup itu memang utk memilih.
    namun d dunia ini tdk semua yg kita inginkan bisa kita dapatkan.
    intinya adalah: syukurilah apa yg telah kamu dapatkan 😉
    eh tp ada yg bilang ni, bu…klo intinya semuanya ada pada diri kita sendiri. segala sesuatu yg telah kita pilih ya harus kita tanggung resikonya. hidup ini tinggal dibawa gampang ato susah? You decide it!!

  10. hahaha… saya pernah juga ketemu kasus seperti itu. biasanya sangat tergantung pada persepsi si individu thdp suatu masalah dan jg kepribadiannya.

    jika si individu menganggap suatu keputusan beresiko masih bisa “dimenangkan” maka dia akan memilih hal yang beresiko tp memberikan hasil lebih. Persentase kesuksesan biasanya sekitar 50%. Kalau hanya 30% (kegagalan 70%) biasanya jarang yg mau ambil, terkecuali kalau si individu punya kepribadian yang cenderung “risk taking” atau sensation seeking. 🙂

    tapi kalau jodoh, bisa lain lagi ceritanya bu. kalau saya pribadi lebih memilih berdasarkan “apakah saya bahagia bersamanya” atau “apakah saya merasa nyaman bersamanya”.

    risk taking pada soal perjodohan itu biasanya justru terjadi pada orang dgn jiwa petualang (petualang cinta) dan hanya sekedar iseng. 🙂

  11. tambahan lagi soal jodoh :

    atau terjadi pada orang yg menganggap bahwa pacaran/menikah dgn “orang-orang yg beresiko” adalah suatu tantangan. tantangan untuk menaklukkannya atau tantangan untuk merasakan pengalaman yg belum pernah dialaminya. 🙂

  12. Iway,
    Betul itu, pilihan disajikan dalam waktu terbatas. Jadi kita mau ambil yang mana? Yang menantang, dengan risiko tinggi, atau yang moderat aja…jelas tipeku ambil yang moderat….hehehe..pengelolaan nya lebih mudah.

    Aprikot,
    Saya pernah diajari…jika usaha kontruksi, ibaratnya seperti memompa air….cret…cret… cret… ada intervalnya, tapi hasilnya lebih besar. Bandingkan pompa satunya…cret.cret.cret… intervalnya kecil, ini mirip usaha perdagangan yang hasilnya cepat tapi marginnya tipis. Jadi itu memang pilihan, gaji besar, tanggung jawab besar, tapi waktu untuk keluarga dan diri sendiri yang kurang.

    Nahh orang hanya bisa melihat….enak ya dua2nya kerja, hasilnya dobel. Padahal wanita pekerja, bekerja double kalau nggak malah triple, masih mikir meningkatkan kinerja perusahaan (termasuk mengelola anak buah, yang penginnya gaji naik terus), mengelola anak sendiri agar tetap mendapat perhatian dan kasih sayang, juga mengelola rumahtangga, suami dsb nya. Kadang kalau melihat kebelakang….Ya Allah, betapa besar peranan Mu…saya tak terbayang kenapa saya kuat melalui semua itu. Mungkin saya melihat dari kacamata tuaku sekarang. Syukurlah semua sudah berlalu….

    Caplang,
    Jika masih ada di dalam, agar kita bahagia, ya harus dinikmati dan disyukuri, membandingkannya dengan orang lain yang belum dapat kerjaan. Tapi sambil mencari peluang lain jika memang kondisi kurang baik bagi kita….untuk itu tetap diperlukan tambahan ilmu/ketrampilan, agar CV kita meningkat, dan mudah dapat kerjaan lain. Atau berdoa pada Allah swt, agar dapat jodoh yang sesuai, dan kalau udah jodoh…ya harus diterima dengan tangan terbuka.

    Orangemood,
    Justru masalah muncul karena keinginan manusia tak terbatas, sedang sumbernya terbatas….(ilmu ekonomi). Kadang kita juga masih melirik sana sini, kok yang itu lebih enak ya kayaknya, kok punya saya kurang bagus ya….begitu seterusnya. Memang harus diimbangi antara keinginan, sumber daya (termasuk sumber daya kita, mampukah mendapatkan keinginan sesuai yang kita inginkan)…sulitnya kadang kita cuma kepengin, tapi tak pernah menilai diri sendiri, apakah kita mampu seperti orang lain tsb.

  13. Herianto,
    Itu salah satu sifat manusia pak, tak pernah ada puasnya. Kalau udah punya rumah satu, pengin lagi rumah kedua dst nya….

    Nel,
    Memang ….bersyukur…atas apa yang telah kita peroleh, dan memohon agar kita diberikan rejeki yang berlipat…itulah kunci yang membuat kita tenang.

    Anggara,
    Percaya pada kekuatan batin? Kalau kita ingin sekali menggapai sesuatu, dan merasa modal kita udah cukup…berdoa terus menerus, kadang doa kita dikabulkan oleh Allah swt. Saya termasuk percaya atas kekuatan doa ini….karena banyak kejadian dalam kehidupanku, yang semuanya karena Allah swt…walaupun kadang melalui tangan orang lain.

    Imam,
    Memang hidup akan terus menerus disodori pilihan…biasanya saya memejamkan mata dulu, berdoa… mengucapkan Bismillah, sebelum memilih sesuatu, semoga pilihanku diridhoi oleh Nya.

    Isnuansa,
    Yang digambarkan temanmu memang betul. Jika anak S1 sekarang umurnya muda-muda (sekitar 22-23 tahun), maka masih banyak pilihan. Ini berbeda dengan saya dulu, yang kuliahnya 6 tahun, plus penelitian satu tahun, jadi lulus rata-rata 25-27 tahun…makanya dulu peneimaan pegawai batas umurnya 34 tahun….

    Begitu S2, kan umurnya udah sekitar 25-27 tahun (apalagi jika S2 nya campuran)….pilihan makin terbatas, terutama bagi cewek. Tapi ternyata cowok juga mengalami hal yang sama. Jika putus pacaran saat baru bekerja, kemudian mendapat kerjaan yang baik (cerita anak buahku nih)…gadis yang datang adalah yang mengharapkan menjadi isteri bos suatu ketika, dan dipastikan gajinya cukup besar, karena dia udah manajer. Jadi temen-temen cowokku, saat job training banyak kecantol sama gadis ditempat mereka job training, padahal kadang mereka sudah bertunangan. Sebetulnya cowok atau cewek, masalahnya mirip saja…cowok juga kuatir kalau calonnya memilih dia karena masa depan yang diharapkan cerah, bukan karena cinta.

    Anakku sekarang meneruskan S2, teman2 nya suka gangguin…ehh tolong dong si A itu keren, kenalkan dong…terus kata anakku, keren sih keren…tapi udah punya anak satu hihihi……
    (catt: cowok keren tadi udah bekerja dan dikirim oleh perusahaannya, sedang teman-teman anakku baru lulus S1, yang rata2 berumur 21-22 tahun….masih bandel-bandelnya)

  14. Angeli,
    hehehe….memang tak ada manusia yang sempurna, tapi selalu menginginkan pasangan yang sempurna…Nggak fair ya…padahal yang terlihat sempurna itu, pasti juga ada kekurangannya. Prinsipnya, kalau udah memilih, harus disyukuri, berusaha saling memahami, dan sebetulnya interaksi yang baik antar pasangan akan memberikan energi positif ke arah perbaikan.

    Pyrrho,
    Dalam jodoh, memang ada hal-hal lain yang kita tak bisa jelaskan….ada rasa tertentu saat kita ketemu si Dia, orang Jawa mengatakan, ada rasa “Grenjel” dalam hati, terus perasaan nyaman bersamanya, tak ada rahasia…dan hal ini akan makin membahagiakan jika betul-betul seperti “tumbu oleh tutup”

    Kepribadian seseorang juga akan menentukan pilihannya, apakah dia seorang risk taker, risk avoider atau apa.

  15. apapun yang diberikan Allah swt kepada kita adalah yang terbaik buat kita. Disukuri aja lha… Kalo g bisa, ya bersabar aja… Tapi bersabar lebih susah lho daripada bersukur 🙂

  16. Alief,
    Kalau kita sudah berusaha sekuat tenaga, maka kita harus bersabar melihat hasilnya. Kalau belum berhasil juga, maka kita harus intospeksi, mungkin usaha kita masih belum kuat….atau memang doa kita belum kuat.
    Bersyukur adalah agar kita selalu mensyukuri hasil yang kita peroleh, betapun kecilnya. Berdoa akan menguatkan kita, karena ada nasib diujung doa.
    Allah swt akan menjawab doa kita, walaupun belum tentu jawaban Nya sesuai dengan keinginan kita.

  17. tini

    iya bu ya…. dari sekian banyak pilihan, hanya satu yang terpilih dan harus dipilih untuk menjadi teman hidup.

    saya sependapat dengan “mas alief” bahwa yang kita terima atau kita jalani saat ini adalah yang terbaik untuk kita.

    bersyukur merupakan satu keharusan bahwa kita sudah diberikan yang terbaik di bandingkan dengan teman atau saudara2 kita yang belum beruntung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s