Hati-hati memilih partner usaha

Alkisah, pak Awung (bukan nama sebenarnya) memulai usaha berjualan buah-buahan di gerobak dorong. Lokasi penjualannya didaerah perumahan, yang terkenal sebagai daerah orang-orang mampu. Pelan tapi pasti, usaha yang ditekuni pak Awung membuahkan hasil, dan pak Awung bisa menyewa toko kecil di daerah perumahan tersebut.

Dilokasi tempat pak Awung berjualan, ada sebuah Bank X, yang karyawannya sering membeli buah-buah an yang dijual oleh pak Awung, bahkan pak Awung sering dipercaya untuk membuat paket yang terdiri dari buah-buah an jika karyawan akan menengok temannya yang sakit, atau habis melahirkan. Setelah usaha pak Awung makin berkembang, pak Awung membutuhkan modal kerja, maka oleh Bank X, pak Awung diberikan modal kerja. Karena memang pekerja keras, usaha pak Awung makin berhasil. Oleh AO (Account Officer) Bank X , pak Awung dilatih untuk membuat pembukuan secara sederhana, sehingga pak Awung bisa melihat barang dagangan mana yang paling laku, dan paling menguntungkan, serta apakah buah-buahan tadi mudah rusak. Berdagang buah-buah an harus pandai membuat manajemen penyimpanan, karena barang dagangan bersifat perishable (mudah rusak). Untuk mengatasi hal ini, pak Awung membutuhkan pinjaman jangka panjang, selain untuk membeli toko, juga untuk membeli alat pendingin. Dengan analisa yang dibantu oleh AO Bank, pak Awung membuat perencanaan bisnis, dan membuat proyeksi cash flow, dan diperkirakan pinjaman akan lunas dalam 5 (lima) tahun.

Usaha pak Awung akhirnya makin berkembang, mempunyai dua lokasi usaha, dan sesuai peraturan, maka usaha yang semula berupa UD (Usaha Dagang), ditingkatkan menjadi bentuk Perseroan Terbatas (PT). Kerja keras pak Awung membuahkan hasil, dan untuk keperluan menyesuaikan peraturan, sesuai UUPT tahun 1995, maka pendiri dan pengurus PT minimal dua orang. Kebetulan adik ipar pak Awung baru selesai kuliah di Australia, mengambil gelar Master of Business Administration (MBA), yang setuju saat diajak bergabung. Dengan adik ipar yang mempunyai pemahaman bisnis lebih baik, usaha pak Awung, yang bersama adik iparnya menjadi PT Angin Kencana (nama samaran) makin berkembang. Penjualan meningkat pesat, para karyawan sangat senang bergabung di perusahaan, karena pak Awung sangat memperhatikan kesejahteraan karyawan. Akhirnya pak Awung ditawari untuk membeli lahan di daerah perumahan, di Bekasi, yang akan dibuat kompleks perumahan. Pak Awung diminta untuk membangun supermarket, saat itu di Jakarta, supermarket belum seramai sekarang. Dari Feasibility Study yang disusun konsultan, pembangunan supermarket berlantai tiga tadi sangat layak, bahkan setelah dilakukan sensitivity analysisis.

Bank X sudah mengingatkan pak Awung untuk berhati-hati, agar tak terjerumus pada perkembangan yang pesat, karena yang penting adalah monitoring usaha, apalagi perdagangan di kedua lokasi merupakan perdagangan buah-buahan yang memerlukan kontrol ketat. AO Bank X sudah memahami sifat, dan kemampuan pak Awung, yang hanya berhasil jika usaha berjalan secara bertahap karena latar pendidikan pak Awung yang tidak tinggi. Namun ternyata ipar pak Awung bisa meyakinkan, dan agar rencananya berjalan baik, maka PT Angin Kencana tidak mengajukan pinjaman pada Bank X, tapi pada Bank Samudera (nama samaran).

Ternyata pembangunan supermarket 3 (tiga) lantai berjalan lambat, yang mengakibatkan cash flow terganggu karena terjadi cost over run. Usaha di lokasi lama, ikut terkena imbasnya, karena walaupun pembukuan terpisah, cash flow nya tetap satu, karena dibawah PT Angin Kencana.

Akibatnya Bank X turun tangan, mengajak Bank Samudera diskusi untuk menolong usaha pak Awung. Dari hasil penelitian, terjadi mark up pada pembangunan supermarket tersebut, yang dilakukan oleh adik ipar pak Awung. Selain itu, perencanaan tak berjalan sesuai rencana, karena ipar pak Awung, yang dipercaya untuk mengawasi pembangunan supermarket juga kurang disiplin. Ipar pak Awung masih muda, dan sebagai orang yang baru mendapatkan gelar, optimisme nya sangat tinggi, dan kurang kuat menahan godaan dari suplier yang menawarkan berbagai barang untuk pembangunan supermarket, walaupun tak sesuai rencana.

Dengan susah payah, perusahaan pak Awung bisa diselamatkan, tetapi memakan korban. Supermarket yang telah jadi harus dijual untuk melunasi pinjamannya, bahkan akhirnya salah satu tokonya juga ikut terjual, karena ipar pak Awung juga meminta bagian, jika dia dilepaskan dari kepengurusan. Sekarang PT Angin Kencana hanya terdiri dari satu lokasi usaha, kepengurusan dipegang oleh pak Awung bersama isteri. Syukurlah pak Awung masih tegar menghadapi masalah ini.

Ternyata, kesulitan tak berhenti menerjang pak Awung. Kebijakan pemerintah, tentang jalan-jalan yang dilalui angkutan umum, yang harus berputar agar tak macet, membuat lokasi usaha pak Awung sulit terjangkau oleh konsumen. Di satu sisi pendirian Mall yang lengkap dengan supermarket, juga membuat toko pak Awung kurang laku. Terakhir ketemu pak Awung, terjadi sebelum krisis ekonomi, dia hanya mengatakan…”Bu, yang penting saya tak punya hutang pada Bank, dan anak saya sudah mulai mandiri. Usaha saya beralih ke perdagangan kelontong, sekedar cukup untuk makan, dan biaya anak sekolah.” Ahh…pak Awung, betapa tegarnya engkau.

Catatan:

Pemilihan partner usaha sangat menentukan, karena masing-masing pemilik harus punya hak dan kewajiban yang sama, dan tak boleh salah satu dominan. Perusahaan, berada dalam suatu lingkungan yang akan terus berubah, selera konsumen berubah, kebijakan pemerintah berubah, hal ini akan membuat usaha tidak siap jika pemiliknya kurang mempunyai pemahaman ke depan. Namun, orang-orang sederhana seperti pak Awung, hanya tahu bagaimana memilih barang yang bagus untuk dijual, bagaimana melayani pelanggan, tanpa memahami kenapa setiap kali ada perubahan. Cerita di atas terjadi sesungguhnya (dengan lokasi, dan nama yang telah diganti), dan masih banyak kejadian seperti itu di sekeliling kita.

Iklan

12 pemikiran pada “Hati-hati memilih partner usaha

  1. bu, denger-denger dari IPB yah :D. saya juga nih tapi angkatan muda di perikanan angkatan 36.

    saya juga sedang membuat usaha dan kebetulan ada tulisan ibu yang menggugah saya untuk lebih berhati2… biasa kalo muda selalu mengebu2 😛

    sukses buat ibu

    wasalam

  2. Dulu sewaktu saya masih aktif di dunia handicraft di Jogja, banyak sekali kejadian di mana partner kerja ternyata tidak cukup bertanggung jawab. Kebanyakan mereka memanfaatkan kelemahan pengrajin yang tidak terbiasa memahami bahasa-bahasa legal dalam kontrak, atau bahkan mereka bekerja tanpa terikat kontrak sama sekali.

  3. bagus bu ceritanya, rada mirip hikmahnya denga nyg saya alami. semacam usaha macet, dengan uang yg lumayan. emang mudah-mudah gampang bu usaha itu. ga bisa dipastikan.

    kalau sudah seperti itu, akhirnya nyimpen di bank aja dulu sambil liat2 situasinya. tapi tetap sebenarnya, kl punya usaha itu menyenangkan 🙂

    fiuhh, lg jarang internet bu. lambat ngecek, updet etc. maklum, trainee-nya lg masuk tahap2 evaluasi semester. tugas, lapangan etc. coba bisa refreshing ketemu bu enny lg hehe.

  4. Saya pribadi akan menambahkan exit strategies dalam setiap partnership. Baik itu terhadap teman akrab, maupun keluarga sendiri. Supaya jelas tentang pembagian keuntungan, hutang, dan arah manajemen jika hal seperti bankruptcy maupun merger terjadi di masa depan.

    Memang kadangkala yang namanya gelar bukan garansi dalam kepiawaian mengambil keputusan bisnis. BTW, dari cerita diatas tidak disinggung bagaimana hubungan keduanya? Mungkin terlalu personal barangkali ya.

  5. Anggi,
    Iya, saya tiga bersaudara dari IPB semua…hehehe (kayak ga ada Perguruan Tinggi lain ya)…tapi saya udah angkatan yang jauuuh sekali…udah zaman jebot, kata anak saya.

    Memang Anggi, tulisan di atas benar-benar terjadi, bahkan orang terdekat saya juga mengalami hal itu, saat baru lulus kuliah, masih menggebu-gebu…tahu nggak, bermasalahnya dengan teman dekatnya sendiri, yang saat di mahasiswa kemana-mana sering bekerja sama. Yahh, persahabatan di saat mahasiswa, tak selalu cocok sebagai partner kerja saat berwirausaha…

    Dee,
    Dalam dunia usaha, yang penting adalah karakter (cuma ini susah juga menilainya, dan manusia kan selalu berubah)….sebagus apapun kontrak kerja, jika tidak dilaksanakan dengan tanggung jawab, hasilnya “nol”…dan berperkara…yang kedua belah pihak akan merugi (rugi waktu, rugi pikiran, rugi uang dll).

    Lihat jawabanku pada Anggi, sobat saat mahasiswa pun, bisa berperkara gara-gara setelah sekian tahun berpartner, salah satu pihak berubah…..memang repot kok.

    Trian,
    Saya selalu menyarankan bagi yang baru mulai usaha, agar dilakukan secara bertahap, dan kenali usaha yang dijalankan. Kalaupun dibantu orang lain, tetap harus dimonitor, karena sifat dasar manusia adalah selalu berubah.

    Barry,
    Betul…exit strategis, betapapun ada exit strategis, tetap hasilnya merugikan, karena ada uang yang harus dibayarkan, perusahaan berkurang modalnya etc.. Jika kita menandatangani kontrak atau kesepakatan, selalu ada exit clause, jika berperkara bagaimana tahapannya…… musyawarah, arbitrase, dan pengadilan mana yang akan digunakan. Tapi kan harapannya usaha berjalan lancar, tak ada apa-apa, karena kalau berperkara, semuanya akan rugi dan menyita waktu, yang seharusnya digunakan untuk memikirkan bisnis.

    Cerita diatas benar-benar terjadi….hubungan tak sekedar personal, adik ipar adalah adik isterinya, yang bahkan biaya kuliah ke luar negeri di tanggung pak Awung. Namun, manusia berubah, si ipar yang masih muda ingin cepat dalam meningkatkan usaha, juga ingin cepat kaya…nahh begitulah hasil akhirnya. Sedang pak Awung orang yang sederhana, pendidikan tak tinggi, dia berharap dengan menyekolahkan adik iparnya (anaknya masih kecil-kecil), nantinya bisa membantu usahanya.

  6. Utaminingtyazzzz,
    Cerita diatas tak hanya untuk wirausaha, bahkan jika Utami telah menjadi manager, atau punya teman untuk membuat sebuah tugas yang dibebankan oleh atasan. Coba perhatikan, ada orang yang begitu mudahnya ngeles, dan membebankan tugas pada kita…artinya orang tsb tak cocok jika diajak sebagai partner.
    Dalam kehidupan sehari-hari, hal seperti ini terlihat dimana-mana, yang paling penting kita harus membuat back up, dan sebaiknya tak mempercayakan pada satu orang saja.

    Siapa bilang wirausaha tak menarik? Banyak lho teman-temanku, setelah PDS buat usaha dan berhasil, bahkan udah eksport oriented. Mau coa? Nanti saja, kumpulkan modal, siapkan ilmu dulu….mulai wirausaha bisa kapan saja.

  7. wah banyak belajar ni bu dari cerita Ibu…
    kata senior- senior juga dunia bisnis itu kejam, mungkin itu salah satu contohnya ya.
    Salut buat Pak Awung…
    Kalau punya partner bisnis kalo tidak percaya, bisnis juga agak susah maju, tapi kalo terlalu percaya, kalo ditipu repot juga…dilema juga..harus hati- hati ni…Setiap saat harus selalu menilai perubahan sikap partner bisnis.

  8. Riadi,
    Memang betul, cerita di atas mengingatkan, bahwa saudara, teman dekat, bahkan isteri atau suamipun bisa berubah. Bukankah setiap kali pengusaha harus mengetahui perubahan perilaku konsumen dan keinginannya? Karena memang manusia mudah berubah…..jadi segala sesuatu memang harus tetap diantisipasi.

    Dunia bisnis kejam? Nggak ah, menurut saya menarik, justru karena perubahan-perubahan itu, menantang untuk ditaklukkan. Dengan kerja keras, dan disertai doa…kalau berhasil sangat menyenangkan karena bisa beramal banyak sekali. …karena bisa menciptakan lapangan kerja. Orang yang berkecimpung di dunia bisnis adalah orang kreatif, pekerja keras, dan harus punya wawasan jauh ke depan. Didunia kerja (yang kita dapat gaji bulanan), hal-hal seperti itu juga terjadi.

    Inti pelajarannya, manusia harus tetap belajar, berupaya, bekerja keras….dan berdoa.

  9. been there bu… dan daripada mumet, akhirnya anggap aja sebagai harga dari pengalaman untuk melakukan yang lebih baik lagi.. dan disinilah seninya.. 🙂

  10. Yainal,
    Sebagaimana ada learning organization… pembelajaran untuk organisasi, juga ada learning management. Itu memang risiko pembelajaran…dan ini yang pernah saya pesankan ke teman saya saat pensiun dari manager Bank dan mulai wirausaha. Mulailah usaha yang terpisah dari urusan rumah tangga…dan jika suatu ketika bangkrut, tetap kembali ke titik nol, dan anggap aja itu pembelajaran. Paling tidak dia bisa menyekolahkan anaknya sampai selesai.

  11. Ping-balik: Hati-hati memilih partner usaha « Selamat datang di blogku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s