Oleh: edratna | Desember 10, 2007

Pernahkah anda mempunyai “anak emas”?

Apa yang dimaksud dengan anak emas? Jika anda telah bekerja, maka anda akan mengenal istilah tersebut. Anak emas adalah istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang dekat dengan atasan, melebihi kedekatan teman-teman yang lain. Apakah anak emas ini baik ? Atau bahkan buruk dan berbahaya?

Pada awal pertama kali diangkat menjadi seorang manajer, saya mendapat pesan dari bos (GM), agar jangan sampai punya anak emas. Mengapa? Banyak kasus penyelewengan terjadi, karena anak emas ini. Karena anak buah yang lain, yang bukan anak emas, akan segan memberitahu pada anda, betapapun besarnya kesalahan si anak emas tersebut, karena salah-salah bukannya bos berterima kasih, tapi bisa menjadi bumerang bagi anda.

Betulkah sebegitu jeleknya konotasi tentang anak emas ini? Marilah kita coba menganalisis mengapa sampai ada istilah anak emas.

Di sadari bahwa sebagai pimpinan, anda membutuhkan dukungan anak buah dalam bekerja, agar target unit kerja yang anda pimpin dapat tercapai. Dari sekian anak buah, tentu mempunyai sifat dan kualitas yang berbeda-beda, dan tentu saja secara manusiawi, anda mempunyai rasa nyaman untuk diskusi atau berbincang-bincang pada anak buah yang pintar, sopan, menghargai dan menghormati anda. Disinilah awalnya muncul anak emas, dari awal hubungan yang positif, lama-lama bisa menimbulkan interpretasi berbeda. Sebagaimana halnya, manusia yang mudah berubah, seorang anak emas juga bisa berperilaku berubah, yang dulunya baik pada teman-teman, sekarang dia merasa mempunyai “rasa lebih” dibanding teman lainnya.

Apa sih kerugian dan keuntungan mempunyai anak emas?

Keuntungan:

  1. Mempunyai sumber informasi yang layak dipercaya
  2. Pada umumnya pandai, dan siap mendukung atasan

Kerugiannya:

  1. Anda tak mendapat masukan dari bawahan yang lain, sehingga jika anak emas anda mendistorsi informasi, anda sulit mengeceknya
  2. Cenderung menggunakan nama anda, untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang lain
  3. Merasa punya dukungan, sehingga sering terlalu berani mengambil risiko
  4. Jika terjadi kesalahan, mengatasnamakan nama anda, sehingga mau tak mau nama anda terkait dengan tingkah lakunya.

Jadi, apakah anak emas jelek? Menurut pendapat saya, lebih banyak kelemahannya dibanding kelebihannya. Sebagai pimpinan, anda harus bisa bekerja dengan siapapun, dan justru bawahan yang masih kurang, merupakan tanggung jawab anda sebagai pimpinan untuk meningkatkan kualitasnya.

Bagaimana jika anda yang menjadi anak emas? Saya menyarankan anda sebaiknya tetap menjaga jarak dengan pimpinan, karena pimpinan akan setiap kali berganti, sedang teman-teman anda relatif jangkanya lebih lama. Menjadi anak emas pimpinan, jika pimpinan tersebut pindah, akan menjadi bumerang bagi diri sendiri, karena biasanya pimpinan baru akan menghindari atau menjaga jarak dengan anak emas pimpinan lama tadi, karena kawatir segala kebijakannya disampaikan kepada pimpinan lama, yang belum tentu sependapat dengan kebijakan yang diambil pimpinan baru.


Responses

  1. jadi anak emas juga gak selamanya enak. biasanya jadi ada semacam ‘jarak’ dengan temen2 sekerja, bisa karena segen, atau malah iri hati, heheheh…

  2. saya nggak punya anak emas, tapi punya putra mahkota, hehehe

  3. berarti kita mewaspadai ya pada anak emas, apalagi sama masnya anak-anak heheh πŸ™‚

  4. Venus,
    Betul…dan kalau kita kerja di bidang finansial, risiko anak emas, bisa mengakibatkan kerugian finansial. Jadi anak emas juga tidak enak, ga punya teman gaul di kantor, dan disisihkan teman-teman.

    Dee,
    Hehehe….mahkotanya dari emas apa nggak?

    Mas Kurt,
    Masnya anak-anak malah harus jauh lebih waspada, tapi dengan kedekatan, maka mereka juga menjadi lebih sayang ama anak kita…ehh sama nggak sih yang dimaksud?

  5. Saya punya 2 anak emas yang cantik-cantik.

  6. Biho,
    Hehehe….betulkah? Berarti mesti tambah satu putra mahkota lagi.

  7. pengalaman saya bekerja saya sering ngeliat ada anak emas tapi tidak merugikan sih sepertinya. kalo di divisi saya sih sama atasan rasanya kok seperti teman. semuanya jadi staff emas.. ndak ada yang istimewa jadinya .. πŸ˜€

  8. Sandy Eggi,
    Berarti lingkungan kerjamu bagus, dan memang seperti itulah suasana kerja yang diharapkan.

  9. temen kantor saya itu pintar, cekatan, ulet dan semua pekerjaan yg di-assign ke dia pasti hasilnya memuaskan, wajar saja bila atasannya sangat suka dan berlebihan bersikap terhadap dia dibanding ke ke anak buahnya yang lain. tentu saja hal ini membuat iri teman2 lain. dan kasihannya dia gak disukai temen2 lainnya.
    sementara dia juga gak mau diperlakukan istimewa, gimana dong bu?

  10. anak emas terkadang karena si anak punya kemmpuan lebih dibandingkan dengan yang lain…jadi seharusnya lebih proporsional saja, agar kinerja tetap maksimal dan berguna untuk perusahaan namun situasi kerja juga tetap kondusif..

  11. Nel,
    Saya ingat pesan Dirutku, agar kita berhasil, maka kita harus bisa bersikap baik pada semua level…teman seangkatan atau se level, sehingga kalau kita naik pangkat, mereka bilang…”Ooh memang pantas kok…”. Terus juga disukai oleh bawahan, sehingga kalau dapat promosi mereka akan mendukung…juga dipercaya atasan, karena kerja kita bagus. Kalau cuma bisa baik sama atasan, akan muncul anggapan sebagai anak emas tadi.

    Cewektulenkebangetan,
    Memang benar, yang paling aman bekerja profesional. Dan kalau dekat dengan atasan, tak perlu digembar gemborkan, karena kemungkinan ada yang iri. Kalau memang mampu, kinerja baik, harus juga ditunjukkan pada sekeliling, sehingga mereka ga akan berpikir macam-macam…dan yang penting, bersikap baik pada semua orang.

  12. keuntungan 2 kerugian 4, berarti jelas ga enak.

    setuju sama mba venus
    anak emas, memisahkan kita dengan temen kantor yang laen, dan mungkin bisa jadi objek omongan dikantor.. may be? hihi..

    jangankan punya, jadi anak emas aja belom pernah πŸ˜€

    tapi emang kalo bisa menjadikan seseorang anak emas, soalnya bisa jadi si anak emas jadi besar kepala. hihi.. just opinion from me *waterbomm ak.a imam*

  13. merrit system pasti lebih adil dan itulah yang selalu kuusahakan jadi pegangan di kantorku yang kecil dan berantakan.

    dengan merrit system, prestasi lebih penting daripada persuasi ke bos. ada salah satu rekan kerjaku yang sangat tidak kusukai karena luar biasa egois, tapi karena prestasinya bagus dia tetap “kupakai”.

    salam kenal mbak.

  14. Imam,
    Anehnya kalau anak emasnya masih zaman sekolah atau kuliah kok malah disenengi teman ya. Karena yang jadi anak emas, pasti yang nilainya A semua, disenengi guru/dosen, juga disukai temen-temen karena sering ngajari teman.

    Tobadreams,
    Salam kenal juga. Walaupun udah ada merrit system, perasaan manusia untuk merasa lebih dekat pada seseorang dibanding yang lain selalu ada. Tapi kalau kita jadi pimpinan kita harus mengusahakan agar semua mendapat kesempatan sama, dengan aturan yang transparan.

  15. hihi… iya bu, kalo itumah banyak yang nyenengin πŸ˜€ soalnya bisa nyontek hahaha.. πŸ˜€

    tapi kalo urusan kantor keknya ga deh πŸ˜€ kebalikan mungkin:D

    hihi..

    saya sering tuh waktu sekolah taon kemaren, jadi anak emas.. gara2 bandel haha.. πŸ˜€ :”>

  16. Imam,
    Disenengi tak berarti memberi contekan lho. Saya tak pernah menyontek, karena kalau menyontek dan lulus, malu pada diri sendiri…tapi saya juga marah kalau ada teman yang nyontek. Untuk menghindari hal tsb, saya selalu duduk paling depan.

    Upayakan untuk mengurangi budaya menyontek ini, karena akan merugikan diri sendiri.

    (Btw, mau komentar diblogmu kok susah ya???)

  17. hihi.. πŸ˜€ saya juga duduknya didepan bu πŸ˜€

    betul itu bu.. loh koq jadi soal nyontek ya? πŸ˜€

    dah agh.. kasih kesempatan yang laen untuk berdiskusi..

    agh? susahnya gimana bu? masa sih?

  18. emas itu karena prestasi.

  19. Kalau jadi “anak emas” krn subyektifitas yg berlebihan, ini salah besar, Bu. Tapi kalau obyektif, misal: prestasi kerja, sah-sah saja to!

    Dulu anak emasnya berapa, Bu?

  20. Mempunyai anak emas biasanya berakhir seperti yang diceritakan diatas. Banyak perusahaan sekarang yang memakai approach open communication dengan atasannya. Siapa saja boleh “nongol” minta waktu untuk diskusi ini dan itu dan tidak ada anak emas yang diberikan fasilitas yang lebih. Jika ada yang berprestasi lebih baik, maka award untuk hal tersebut adalah melalui kompensasi moneter (uang).

    “Tusuk dari belakang” (perumpamaan) biasanya terjadi karena atasan yang memberikan peluang bagi karyawannya untuk melakukan hal tersebut. Jika policy jelas dan benar-benar dilakukan dari atas, maka yang melihat contoh akan berbuat yang sama.

  21. GRaK,
    Kalau olah raga, emas berarti prestasi. Tapi kalau untuk perhiasan, kayaknya udah banyak yang pilih bukan emas ya.

    Rezco,
    Saya tak pernah punya anak emas, dan menjadi anak emas. Untuk atasan, saya tetap bekerja profesional, saya loyal pada perusahaan, bukan atasan.

    Sedang untuk anak buah, saya bekerja dalam bentuk tim, karena bidang kerjaanku dulu risiko tinggi, sehingga tim nya juga lintas unit kerja, dan harus ada back up ataupun alternate jika ada yang berhalangan.

    Barry,
    Awal masuk bekerja, saya banyak melihat kasus anak emas seperti cerita saya. Semakin berkembang kesini, perusahaan juga berubah, lingkungan berubah. Dulu, mau ketemu manager aja takutnya setengah mati (saya masih staf), hm…pas saat saya, udah jadi General Manager pun anak buah bebas keluar masuk ruang kerja…karena pintu tak pernah ditutup. Dan karena kerjaan berupa tim, kalau tak keluar kantor, di kantor meeting melulu, jadi duduk di ruang kerja juga jarang.

    Dan lebih nyaman keliling melihat anak buah bekerja, sekaligus monitor dan membina percakapan kalau-kalau mereka butuh diskusi. Dan si bos…pulang malam, karena mesti menyelesaikan pekerjaan, yang seharian di pake rapat dan diskusi dengan anak buah.

    Memang situasi sudah berbeda, dan atasan seperti tulisan di atas udah ga bisa digunakan lagi, dia juga terpaksa berubah oleh tuntutan keadaan.

  22. di kantor ga ada yang dianakemaskan kayanya…

  23. bagaimana meng-handle anak buah yg “ingin sekali” menjadi anak emas ?

    dalam kata lain, dia selalu ingin cari muka ke atasan

    apakah anak buah spt ini berbahaya ?

  24. Isnuansa,
    Situasi saat ini, yang lebih banyak bekerja dalam tim, tak memungkinkan adanya anak emas.

    Adit,
    Biasanya saya senyum aja, malah dia saya pancing untuk diskusi berbagai hal (apa betul memang lebih mampu dibanding lainnya), juga saya suruh bekerja dalam tim. Lagipula pintu ruang kerja tak pernah tertutup, jadi kalau ngomong pasti minimal kedengaran sekretaris. …malu kan kalau mau ngomong yang aneh-aneh. Juga teman-temannya akan tahu.

    Dan…pekerjaan membuat lebih banyak diskusi di ruang rapat, dilapangan, ketemu klien dsb nya.

  25. Salam kenal sebelumnya, Mbak.

    Saya pernah jadi si anak emas dari seorang GM. Bahkan, saking emas-nya, saya diberikan ruangan sangat luas termasuk seluruh fasilitasnya persis di sebelah dengan ruangan beliau, padahal level saya waktu itu cuma Asisstant Manager, sedangkan Manager saya duduk di luar ruangan di sebuah kubikal biasa. I didn’t like it at all. Terlalu banyak pandangan negatif yang diberikan orang kepada saya, sehingga apapun yang saya lakukan orang menilai itu semata karena saya si anak emas. Meski banyak juga hal positif yang saya terima, khususnya keterlibatan dalam pembuatan keputusan strategis yang luas luang lingkupnya.

    Cukup tiga bulan bagi saya, akhirnya saya memilih keluar dan menjadi diri saya sendiri, meski counter-offer yang ditawarkan sangat menggiurkan plus kemarahan yang bercampur kekecewaan dari GM saya itu. Dan saya tak pernah menyesali keputusan saya untuk keluar, karena justru itu sekarang menjadi nilai positif saya di mata banyak orang πŸ™‚

  26. nOvri,

    Wahh kalau ceritamu di atas, GM nya yang keterlaluan. Tak mungkin dong jabatan masih dibawah diberi fasilitas, melewati atasannya.

    Tapi saya sepakat, kantor tadi tak sehat….syukurlah udah keluar. Lebih tenang kalau kita bekerja profesional, dan kalau memang berprestasi, siapapun bisa melihat, teman se level, atasan, teman selevel atasan, juga bawahan…ini yang paling aman. Kalaupun promosi, orang akan mengatakan…ooo memang udah pantas kok kalau dia promosi.

  27. Menurut saya sih, boleh2 saja mempunyai anak emas, tetapi keobyektivitasan kita tidak boleh hilang, dan harus tetap adil terhadap semua bawahan kalau kita menjadi atasan. Ini yang terkadang merupakan hal yang tersulit jikalau kita mempunyai anak emas.

  28. Yari NK,
    Yang jadi sulit adalah, membedakan dengan bawahan lainnya.

    Sebagai atasan, kita pasti punya satu atau lebih anak buah yang pandai, yang kinerjanya bagus, dan yang kita harapkan bisa menggantikan posisi kita atau dipromosikan di tempat lain untuk pekerjaan yang menantang. Tapi perilaku kita, betapun kita sayang sama anak buah tersebut, tetap tak boleh tercermin dari muka dan tingkah laku kita.

    Kalau judulnya “anak emas”, itu artinya semua sudah melihat ada perbedaan, dan ini yang tidak bagus, karena membuat situasi lingkungan kerja kurang kondusif.

  29. aku tidak setuju dengan adanya anak emas, itu bisa bikin iri hati di kantor. disadari atau tidak pasti kita iri dengan adanyaanak emas. Makanya jangan mau dijadikan anak emas biar nggak di benci ama temen…jadi anak perak aja lah…

    Niez,
    Kenapa perak?…Kenapa bukan perunggu?….Sebaiknya semua dianggap sama, hanya kinerja yang dinilai berbeda, sesuai dengan hasil yang diperoleh masing-masing pekerja, dan sesuai Rencana Kerja yang telah ditanda tangani antara atasan dan anak buah langsung, serta diketahui atasan tidak langsung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: