Jangan sungkan memberi ide pada atasan

Pada saat masih menjadi bawahan, sering seseorang takut memberi ide atau masukan kepada atasan, kawatir kalau masukannya tidak atau kurang berkualitas, dan atasan tak bisa menerima ide bawahan tersebut.

Perubahan kondisi saat ini, yang hubungan antara atasan dan bawahan tak dipisahkan oleh gap yang lebar, ide bawahan sangat bermanfaat untuk didengarkan. Tingkat pendidikan rata-rata staf yang tinggi saat masuk perusahaan, serta budaya ewuh pakewuh mulai berkurang, maka staf lebih berani menyatakan pendapat. Kadang-kadang ide seorang staf tak terduga, dan tak terpikirkan sebelumnya. Bagaimana agar para atasan atau bawahan membuat situasi yang kondusif, agar ide-ide yang bernas bermunculan, tanpa ada keraguan sedikitpun bagi pemilik ide untuk mengucapkannya, saya akan mencoba sharing pengalaman di bawah ini.

Saat saya masih seorang staf, saya mempunyai atasan (General Manager) yang seminggu sekali mengadakan acara brainstorming di ruang rapat. Disini para staf, asisten manager, dan manager bebas mengemukakan ide apa saja. Karena situasi yang mendukung, secara tak sadar, saya menjadi berani melontarkan ide. Ide yang dilontarkan, kadang diserang oleh teman lainnya, dan pemilik ide tentu saja akan mempertahankan dengan berbagai argumentasi.

Bagaimana dengan pak GM sendiri? Beliau hanya mendengarkan berbagai debat kusir, yang kadang kemana-mana, tapi pada akhir acara, beliau dengan tenangnya mengambil kesimpulan hasil diskusi tadi, serta mencatat ada beberapa ide yang dilontarkan. Disitu beliau juga meminta, ide yang masih banyak pertanyaan, agar di explore lebih lanjut, siapa tahu nantinya akan berguna.

Begitulah hari-hari di awal karirku….dan perdebatan di ruang rapat sering terlupakan begitu saja. Suatu ketika bos mendekati saya, dan mengatakan…”Idemu tentang X bagus, bagaimana jika anda buat paper tentang hal tersebut, serta langkah-langkah apa yang harus kita buat, agar ide itu dapat dilaksanakan,” kata beliau. Saya pucat pasi, obrolan yang membuat saya dengan mudah melontarkan ide, ternyata menjadi pemikiran beliau. Terpaksa saya mencari referensi, bertanya kiri kanan, ke unit kerja lain, juga mencari bahan-bahan di perpustakaan. Setelah paper selesai dibuat dan saya serahkan kepada beliau, saya menunggu dengan hati berdebar….rasanya malu sekali, dan ingin kepala ini disembunyikan kemana.

Malamnya saya tak bisa tidur, besok pagi-pagi sekali saya sudah dipanggil ke ruang kerja beliau, diajak diskusi tentang paper saya. Saya melongo, ternyata ide saya yang begitu sederhana, dan diperbaiki beliau, akhirnya menjadi dasar untuk perbaikan kebijakan yang selama ini telah berjalan. Beliau sendiri mendapatkan apresiasi dari Board of Director.

Bagaimana dengan teman-teman lain? Sejalan dengan pengetahuan saya yang makin berkembang, ternyata teman-teman mendapatkan kesempatan yang sama, dan dari perkembangannya saya melihat bos melakukan pendekatan secara personal pada masing-masing orang. Ada orang yang akhirnya dipindahkan ke bidang operasional karena beliau menganggap teman tersebut memang cocok di operasional, ada juga yang terus di bagian kebijakan, serta tetap di kantor Pusat.

Pelajaran dari bos tadi, akhirnya saya kembangkan setelah saya mendapat kesempatan memimpin unit kerja, dan ternyata pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Jadi, berbahagia lah mempunyai staf yang pandai-pandai, tapi anda harus siap juga bahwa staf tersebut juga pandai mengkritik anda. Kritikan akan menjadi makanan sehari-hari, justru inilah yang membuat situasi menjadi dinamis, hidup, dan orang bebas ber argumentasi, tapi memang ada etikanya…argumentasinya dilakukan di ruang rapat, dan apapun perdebatan yang telah dilakukan di ruang rapat, tak boleh dimasukkan ke hati, dan harus tetap menjadi teman yang baik setelah keluar dari ruang rapat.

16 pemikiran pada “Jangan sungkan memberi ide pada atasan

  1. wah di kantor saya yang dulu juga sering ada acara brainstorming. setiap anggota divisi bakal kumpul trus masing-masing memberikan ide bagus dan ide gila. tapi bedanya malah kita ketawa-ketawa. tidak ada yang saling menyerang dan debat kusir. semuanya larut dalam ide gila. maklum semua staff masih anak-anak. dan manager juga kakak-kakak.

    dulu saya pernah melontarkan ide buat ngerombak susunan meja. bosan dengan susunan meja yang ada. tapi karena desain dari awal sudah fix jadinya ndak bisa diimplementasikan πŸ˜€

    selain brainstorming ada juga kegiatan leadership game tiap dua minggu sekali. acaranya sih mengimplementasikan game-game yang menerapkan leadership bersama-sama. ini salah satu potonya http://www.flickr.com/photos/sandclow/419892785/

    seru deh! ibu pasti waktu mengajar juga pasti banyak ngasih game2 gitu ya? pernah nyuruh murid niup balon sampe meletus ndak? πŸ˜€

  2. staf

    Maaf bu, saya pakai nama samaran… takut2 Bos saya membacanya πŸ˜€

    Atasan saya sprtnya agak susah kalo diberikan ide/saran/ataupun sebuah kritik. Beliau menganggap bahwa dirinya merasa sdh benar. terkadang kami sbg anak buahnya merasa kesal memiliki bos sprtnya.

    Bagi kami, beliau bukna sosok yang patuh dicontoh sbh seorg atasan. Jadi, saya selalu memotibasi diri sendiri “dia tidak lebih baik dari saya” πŸ˜€

    hehehhe… mudah2an saya gak ketahuan menulis ini.

  3. Sandy,
    Ada pengalaman yang mengharukan saat mengajar pada suatu wilayah (tanpa AC, listrik padam, panas menyengat), karena fasilitas begitu terbatas, maka murid-murid sering udah lelah dan nggak konsentrasi. Terpaksa gurunya jumpalitan, buat game….nyanyi (dan suaranya bagus-bagus), pakai yel-yel dsb nya….setelah mereka melek ngajarnya diteruskan, dan agar mereka aktif terpaksa dibagi kelompok, tiap kelompok maksimum 4 orang, dan diberi tugas…gurunya tinggal mondar mandir dikelas….kemudian tiap kelompok gantian presentasi.

    Staf,
    Memang kita ga bisa memilih atasan, kadang kadang saya dapat atasan yang baiiik banget, ada yang pendiam, ada yang terbuka, ada yang pemarah dsb nya. Prinsipnya, kita mencoba ikuti gayanya, yang penting kita loyal pada aturan perusahaan (karena kalau melanggar, risiko atau sanksinya bisa perdata atau bahkan pidana). Kalau atasan mengajak melanggar aturan…nahh tentu sebagai bawahan jangan ikut, mosok disuruh nyebur kesumur mau….Memberi kritik memang ada aturannya, jadi mesti lihat situasi dulu, kalau bos lagi marah-marah, sebaik apapun saran kita, pasti dia makin marah. Tapi coba pelajari juga sisi baiknya, karena tiap orang pasti ada sisi baik dan sisi negatifnya. Berikan saran secara sopan, hormat, dan saat waktu yang tepat (ada juga bos yang baru menerima saran jka tak ada orang lain).

  4. Johan Suryantoro

    Di tempat kerja saya rasanya semua berjalan secara alamiah. Kalau saya sedang perlu sama bos, saya datangi dia. Kalau bos yang perlu sama saya, dia yang datangi saya. Ngomongin rencana kerja, kadang pakai ngotot-ngototan sedikit. Habis itu, deal, jalan. Jika terjadi kendala, dievaluasi lagi. Terus, jalan lagi deh.

  5. Salam. weleh-weleh, nampaknya ini obrolan orang-orang kantor ya. oya kenalin saya yadi, tki asal bandung. kini saya di saudi. Menarik juga ngobrolin masalah kritik, bos dan staf. memang sih yang namanya bos, bisanya cuma ngasih instruksi kepada bawahan. bisanya cuma nunjuk doang, tapi gak beraksi. mungkin lebih baik saya menyebutnya manager, jadi seorang yang melakukan management atau juga penataan. manager yang baik, sperti yang mba katakan, adalah manager yang akomodatif terhadap aspirasi stafnya. proses pertukaran pendapat dan ide-ide di ruang rapat sesungguhnya bisa menjadi cermin kualitas hidup seseroang. karena sikap respek atau tidaknya saat pertukaran pendapat merupakan refleksi diri masing-masing. so….ide-ide harus dibangun dan dikonstruksi tentu saja dilandasi oleh semangat memperbaiki dan respek terhadap sesama mitra. pesaing pun adalah sesungguhnya mita juga kan. karena tanpa pesaing, rasanya akan adem ayem aja, tidak mendorong perubahan dan dinamisme. akhirnya, and anyway, i like to join you in this nice blog
    ahmad
    saudi arabia

  6. ya…ya…. memang enak kalau mempunyai atasan yg berpendidikan dan terbuka semuanya akan terasa lebih mudah dalam menyampaikan saran. Ya, masalahnya sayangnya tidak semua atasan bersikap seperti itu, masih ada sifat atasan yg berasumsi the boss is always right, yg menyebabkan posisi bawahan jikalau ingin memberi saran jadi serba salah. Meskipun mungkin nggak semua saran bawahan bisa terpakai ataupun bermutu namun tentu mendengarkan setiap suara yang ada tentu adalah perbuatan atau hal yang bijaksana. Bukan begitu Bu? πŸ™‚

  7. Fatah,
    Bagaimana kalau nanti Fatah yang memulai jika udah jadi bos? Saya pernah ke Aceh, awal April 2007 selama 5 hari, 4 malam.

    Johan Suryantoro,
    Berarti ditempat kerja Johan sudah menggunakan manajemen terbuka, anak buah bebas keluar masuk ruangan atasan, demikian juga sebaliknya.

    Itsme231019,
    Budaya transparansi harus digalakkan, manajemen yang baik, harus membuat dan memastikan budaya tersebut dilakukan pada perusahaan yang dipimpinnya.

    Caranya? Antara lain, setiap tahun sekali, anak buah diberi angket untuk menilai atasan, cara kepemimpinannya, apa yang diharapkan dsb nya. Di tempat saya hal ini sudah dilaksanakan, awalnya yang jadi bos deg2an juga….akhirnya mau tak mau semua dipaksa harus bisa berbicara secara baik, dengan etika untuk perbaikan.

    Yari NK,
    Kalau sudah terbiasa, seneng kok mendengarkan perdebatan dan diskusi dengan bawahan. Sarannya ada yang lucu, menggelikan, nggak masuk akal (sebelum bos komentar udah dibantai teman sendiri), dan pada akhirnya ada beberapa saran yang baik: bisa langsung dilakukan untuk perbaikan, perlu explore lebih lanjut, memerlukan tahapan untuk pelaksanaannya dsb nya.

    Dan saat kita dapat apresiasi dari manajemen, kita harus berterima kasih pada bawahan, juga memberitahu manajemen bahwa saran tadi atas hasil diskusi kelompok. Dan ternyata pemberi saran yang baik, saya amati (20 tahun kemudian), mereka karirnya bagus, dan mereka juga melakukan hal-hal seperti itu dengan bawahannya. Bahkan ada diantara mereka yang udah jadi Dirut Bank, Direktur PTP, dan rata-rata General Manager.

    Jadi, kalau kita bisa melihat kelebihan bawahan, kita akan mendapat manfaat yang banyak sekali, dan di satu sisi bawahan juga akan mengingat atasan tsb. Karyawan juga akan saling belajar, bagaimana melakukan meeting, dan diskusi yang baik.

  8. alhamdulillah bagi yang punya atasan seperti itu…

    Saya berharap ketika selesai ‘liburan’ di Taipei ini akan menjumpai atasan yang berperilaku seperti di atas πŸ™‚

  9. Alief,
    Semoga doa Alief dikabulkan…dan kalau udah jadi atasan, berbuatlah transparan, sering buat debat terbuka, karena sama-sama menguntungkan…atasan dapat masukan, anak buah latihan diskusi yang baik, dan bisa meyakinkan dengan adu argumentasi.

  10. Saya jadi ingat saat dulu mengeluarkan ide tentang overhauling seluruh proses dokumentasi di kantor. Tadinya saya hanya baca tentang bagaimana efisiennya mempunyai satu tempat secara online untuk hal di atas. Lalu saat melihat keadaan yang ada pada saat itu saya mengajukan ide untuk diterapkan di kantor berikut biaya implementasinya.

    Ternyata COO di tempat saya bekerja geleng-geleng kepala melihat kemudahan yang akan didapat serta biaya rendah yang dibutuhkan. Dia lalu meminta saya untuk spearheaded ide tersebut. Dalam pelaksanaannya, ternyata banyak kendala. Ada beberapa “hijackers” yang tidak ingin melihat suatu hal baru diterapkan. Apalagi yang namanya saya sebagai “orang baru” yang menetaskan ide tersebut. Belum lagi status yang kebetulan bukan orang lokal πŸ™‚

    Tapi yang namanya berjuang pantang mundur walau harus dilakukan secara diplomatic maupun closed door, ehm, not so good conversation dengan pihak management. Akhirnya semua berjalan lancar dan dapat diimplementasikan secara bertahap. Melihat kebelakang, saya hanya dapat bersyukur kalau apa yang kita kerjakan dengan sepenuh hati, cepat atau lambat akan menghasilkan buah yang didambakan.

  11. staf

    Makasih yaaa bu…

    Btw, yang saya maksud atasan saya adalah, seorang senior dan beliau berada dalam 1 ruangan dgn saya. Saya jg gak mau Bu kalau seandainya diajaki utk nyebur sumur πŸ˜€ kidding

    Kalau atasan yang paling atas dan atasannya lagi, waaaahhhh luar biasa… Mereka sangat2 profesional.

  12. Barry,
    Saya pernah mendengar cerita yang mirip dari putri teman saya, yang kebetulan S1 dan S2 nya di AS dan kemudian bekerja disana..dan akhirnya menikah dengan bule AS.

    Kadang memang ada yang mencemohkan pemberi ide, biasanya dari rekan-rekannya sendiri, disini atasan berfungsi untuk menetralisir, agar diskusi berjalan menyenangkan, dan membuat orang-orang pendiam ikut berpartisipasi.

    Syukurlah akhirnya ide Barry diterima. Dan pasti sangat senang, kalau saran dari kita digunakan oleh perusahaan, walaupun tak ada imbalan apa-apa. Proses kreatif ini yang sangat berguna untuk langkah selanjutnya, dan mendorong munculnya ide-ide kreatif lainnya.

    Staf,
    Berarti atasanmu suka baca blog ya, jangan-jangan termasuk blogku. Semoga beliau membaca blogku, dan menjadi sadar bahwa kalau membuat situasi kondusif di kantor akan lebih menyenangkan, dan beliau terbantu dengan para staf yang berani berpendapat, mengeluarkan ide-ide kreatif mereka.

    Cewektulen,
    Sependapat….mudah2an makin banyak bos dan staf seperti itu, sehingga suasana bekerja di Indonesia menjadi menyenangkan.

  13. Ping-balik: Membuat Suasana Kerja Menjadi Menyenangkan « World of Ruby Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s