Oleh: edratna | Desember 18, 2007

Benarkah nenek moyangku tak kenal konsep ruang makan?

Tulisan di Kompas tanggal 14 Desember 2007, dengan judul “Orang Jawa tidak kenal konsep ruang makan” menggelitikku, untuk mengenang kembali masa kecilku yang dibesarkan di daerah dusun kecil di daerah Jawa Timur. Namun rupanya, tulisan yang yang dimaksudkan oleh Kompas adalah untuk orang Jawa yang bekerja di ladang, dan bukan bekerja di tempat lain.

Maryoto, A, dalam Kompas menjelaskan bahwa kultur agraris memperlihatkan, makan pagi dilaksanakan di sawah atau ladang. Para petani harus sudah keluar dari rumah sebelum matahari menyengat. Akibatnya, mereka tidak bisa makan pagi di rumah. Setidaknya pengamatan Thomas Stamford Raffles dalam History of Java (1817) juga menyebutkan hal seperti itu.

Ahli kebudayaan Jawa dari Universitas Negeri Semarang, Teguh Supriyanto, mengatakan, orang Jawa memang tidak mengenal ruang makan. Kebiasaan agraris menjadikan orang Jawa tidak memerlukan ruang makan secara khusus. Makan siangpun kadang dilakukan di sawah. Maryoto, A. selanjutnya menyatakan, rumah tanpa ruang makan masih ditemui di beberapa tempat seperti di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Arsitektur rumah tak menyediakan ruang makan secara khusus. Bahkan meja makanpun kadang tidak ada. Keluarga yang mau mengambil nasi ataupun sayur dan lauk mengambil langsung di dapur. Setelah itu mereka makan di sembarang tempat.

Pengenalan orang Jawa mengenai konsep ruang makan sangat mungkin terkait dengan keberadaan orang Belanda di Nusantara. Keluarga Belanda mempekerjakan penduduk setempat untuk menjadi pembantu. Para pembantu inilah kemudian mengenal berbagai jenis makanan orang Belanda, tata cara makan dan ruang makan. Pengenalan yang lebih masif terjadi sekitar abad ke-19 saat Belanda memberi kesempatan bagi penduduk untuk mulai masuk dalam sejumlah kehidupan orang Belanda, seperti pejabat, dan kesempatan bersekolah. Penduduk pribumi kemudian mengenal gaya hidup orang Belanda. Pola-pola peniruan gaya hidup ini merasuk hingga soal kebutuhan ruang makan dan juga menu yang ditampilkan, penjelasan Maryoto selanjutnya.

Walaupun saya lahir di Rumah Sakit di kota, namun rumah masa kecilku adalah dusun kecil (Boboran), belum ada listrik, berdebu saat kemarau dan becek saat musim penghujan. Kira-kira 200 meter dari rumahku terbentang sawah menghijau, kalen (sungai kecil) untuk mengairi sawah. Rumah saya terdiri dari 3 ruangan, ruangan depan untuk menerima tamu, ruangan kedua untuk tamu keluarga dan bagian belakangnya ada sentong yang umumnya digunakan untuk menyimpan bahan pangan. Karena ayah ibuku guru, sentong tadi dimanfaatkan menjadi ruang tidur. Ruangan ketiga adalah dapur. Dapurnya besar, seperti konsep orang Jawa, bahwa di dapurlah tempat pertemuan keluarga, karena di dapur juga diletakkan meja panjang dan kursi, yang digunakan untuk menyiapkan makanan, serta kadang-kadang untuk tempat makan. Kami punya ruang makan, yang di ruang kedua, yang hanya disekat dengan lemari untuk tempat tidur, selain sentong tadi.

Dapur adalah tempat ketemu, saya dan adik-adik yang masih kecil, menunggu ibu dan simbok yang sedang memasak, dan jika masakan sudah matang kami diambilkan langsung dari dandang (tempat memasak nasi) atau panci, istilahnya di culik, dan simbok tetap melanjutkan memasak. Kadang simbok memasak sambil menggendong adik bungsuku memakai kain.

Jika bermain ke tetangga, yang punya anak seumurku, maka kami bermain di dapur (karena sambil menunggu simboknya teman memasak), bermain petak umpet, menyanyi (entah kenapa banyak permainan masa kecilku yang menggunakan nyanyian, walau saya tetap tak bisa menyanyi). Ruangan di rumah-rumah tetangga, hampir semuanya mirip dengan rumah tempat saya tinggal. Kalau malam libur, bapak-bapak berkumpul dilapangan badminton, bergantian bermain badminton, dan mengobrol tentang isu-isu terkini. Anak-anak kecil bermain ular naga, dan permainan-permainan lainnya.

Sekolahku terletak persis berbatasan dengan sawah, yang ditengahnya ada gumuknya, yang “konon” ada penunggunya. Jadi, kalau saya ingin bermain ke rumah teman, yang rumahnya harus melalui sawah yang ada gumuknya tadi, saya tak berani menengok dan berjalan cepat-cepat.

Situasi ini berubah setelah orangtuaku mampu membangun rumah sendiri. Kami pindah ke dusun Ngrowo (seperti judul blog ku di atas) pada tahun 1960 an. Saat baru pindah, dusunku baru ada beberapa rumah, rumah kami masih dikelilingi tegalan. Tegalan tadi umumnya ditanami palawija, yang berguna untuk kehidupan sehari-hari, sehingga praktis kami hanya berbelanja ke pasar untuk membeli beras, gula, kopi, teh dsb nya yang tak bisa ditanam di kebun kecil kami. Sawah yang ditanami padi, berseling dengan tanaman tebu tak jauh letaknya dari rumah kami, hanya sekira 200 meter an.

Rumah kami mengadopsi rumah gaya Belanda, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga yang luas sekaligus untuk ruang makan, di sisi sebelah kiri ada kamar tidur 3 buah yang besar-besar. Kemudian terpisah dari rumah, yang dihubungkan oleh lorong, ada pavilyun yang terdiri dari dua kamar tidur, dapur, kamar mandi dan WC yang terpisah. Atap rumah kami sangat tinggi, jendela rangkap, terdiri dari jendela kaca dan kayu, temboknya sangat tebal, sehingga saya bisa berdiri di jendela untuk melihat ke luar. Tetangga kami yang mempunyai gaya rumah terdiri dari 3 (tiga) ruang seperti rumah kami sebelumnya masih banyak, terutama yang mempunyai sawah dan ladang. Kalau musim panen, tetangga depan rumahku sibuk menjemur padinya di halaman.

Namun lama kelamaan, semakin banyak pendatang di kampung kami, mengadopsi rumah yang ada ruang makannya, sehingga rumah gaya lama semakin tergusur, dan banyak yang direnovasi dengan tampilan baru. Hal ini sejalan dengan dusun kami yang makin ramai, dan akhirnya termasuk wilayah kotamadya, serta dilalui jalan beraspal yang dilalui kendaraan dan bis antar kota.

Membaca cerita di Kompas, karangan Andreas Maryoto, mengingatkan ku pada masa kecil, dan betapa menyenangkannya masa itu, karena pikiran hanya dipenuhi belajar dan bermain.

Sumber bacaan:

Andreas Maryoto. “Orang Jawa Tidak Kenal Konsep Ruang Makan”. Kompas, Jumat, 14 Desember 2007, halaman 73.


Responses

  1. iya persis seperti ibu bilang, di tempat eyangku dulunya -sebelum direnovasi- gak ada ruang makan, ruang makan itu jadi satu ama dapur (pawon), jadi disitu ditaruh meja dan kursi. Tapi dipikir-pikir malah kayak rumah minimalis jaman sekarang ya bu, dry kitchen jadi satu ama tempat makan

  2. Andri,
    Betul juga, rumah yang saya tinggali sekarang juga mengadopsi itu, karena lahannya sempit. Ruang tamu, ruang makan, nonton TV, bahkan dapur menjadi satu, hanya disekat piano biar ga blong.

    Kedua rumah eyang (dari bapak ibu), serta keluarga yang masih tinggal di pedesaan masih seperti itu…tapi dulu senang kok menggerombol di pawon…karena pawonnya luas. Pawon luas dimaksudkan agar kalau ada acara (sunatan, manten dsb nya), mampu menampung orang banyak….maklum dulu ga ada jasa katering.

  3. ooo, begitu ya. padahal selama ini sempat minder gara-gara dirumah ga ada ruang makan, ditempat si mbah juga ga ada ruang makan. ternyata terkait budaya tho.

  4. Berarti kalao rumah mbah-ku ada ruang makan, udah termasuk yg teradopsi ya? koq ga dibahas tentang budaya lesehan bu? mungkin karena lesehan anywhere jadi berpikir tidak perlu ruang makan khusus.

  5. Budaya Jawa tanpa ruang makan itu sekarang juga di adopsi loh untuk apartemen dengan type studio 😀 .. semuanya jadi satu. Mungkin .. memang tidak harus ada ruang makan, kalo emang jarang digunakan bu.

  6. Lha nggih…soale jaman riyin taksih kathah ruang publik terbuka kangge kegiatan tiyang dusun.

    Dan mereka mengkonsep bahwa tata ruang sebuah rumah seminimal mungkin adanya ruang privasi, karena sifat dan sikap orang Jawa yang terbuka, dan lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada diri sendiri, serta lebih mengutamakan kebersamaan dalam kehidupan.

    Nuhun,

  7. iya orang jawa nyebelin. orang tua saya juga ndak mau nyediain ruang makan. kalo makan di dapur. duh ndeso. susah sekali buat diubah. kata ibu repot harus selalu siap-siap sebelum makan. kalo mau makan ambil aja sendiri … wahahahaha… budaya jawa yang saya benci …

    kalo ada tamu selalu malu. makanya saya selalu ndak suka didatangin teman-teman karena ndak punya ruang makan.

  8. wogh pantes di rumah eyang ku pawon nya lebih luas dari ruang tengah. ngono to ceritane hehehhe

    tapi memang kok orang desa kalo ada hajatan jiwa gotong royongnya masih tinggi, pawon jadi rame banget buat orang masak. tungku kayu bakar berjejer2. Tapi asik juga, bisa makan rame2

  9. hmm… sama dengan leluhur orang batak juga dong bu.. kalau saya perhatikan struktur rumah adat batak (jabu bolon/jabu gorga) juga tidak ada spesialisasi ruangan khusus utk makan. sepertinya digabung di dapur itupun lesehan dekat tungku masak/perapian. untuk acara makan formal/pesta biasanya dilakukan di halaman rumah juga dengan lesehan 🙂

  10. Anjar,
    Wahh seneng dong, bisa ngobrol di dapur yang luas…makanya rumah di Bandung (Anjar sempat lihat nggak) yang lantai 2 kamar tidurnya mengadopsi gaya ini…ada pogonya, dan ini berguna saat keponakan dan teman-temannya dari UNDIP sebanyak 16 orang menginap di Bandung. Rumah di Jakarta, ga punya ruang makan khusus…tapi ini karena minimalis, dan lahannya sempit…hehehe.

    Trian,
    Lesehan biasanya digunakan kalau ada acara-acara tertentu, untuk Lebaran dan nenek disungkemi sambil “mlaku ndodok”…tapi anak-anakku nggak mengalami ini. Untuk hari-hari bissa, makan dimana aja, sambil jongkok menunggu simbok masak…dan ikutan icip-icip.

    Erander,
    Rumahku sekarang ga ada ruang makan khusus…lagipula jarang menerima tamu (keluarga kecil dan masing-masing sibuk), kalaupun ada tamu datang…ya makannya prasmanan, piring ditumpuk di meja, setelah ambil makanan, bisa makan dimana saja. Bahkan lebih sering janjian makan di luar. Sekarangpun, ruang tamu cenderung sempit, dan menerima tamu di teras….terus diajak keluar rumah untuk makan. Agak kikuk kalau masih ada ortu, beliau berpikir keluar rumah untuk makan kurang baik, seperti hidup boros. Saya pernah pergi ke saudara sepupu di Bogor, pas udah waktu makan ditawari, mau makan dimana? Rumah makan Padang atau mana? Wahh bener2 zamannya udah berbeda.

    Ndoroseten,
    Menjawabnya bahasa Indonesia ya, biar pembaca lain tahu (padahal bahasa Jawa saya udah kacau …. hehehe…maaf ndoro).

    Iya, budaya Jawa membuat rumah terbuka, kalau ada tamu yang udah sangat akrab, langsung kebelakang, kedapur, dan mengobrol di sana. Kamar tidur juga dibiarkan terbuka, hanya di depan kamar dipasang kelambu atau korden. Kalau lagi makan dan ada tamu, langsung dipersilahkan ikut makan. Rumah ga pernah dikunci pintunya, kecuali udah mau tidur malam.

  11. Sandy Eggie,
    Kenapa mesti malu, justru rumah Sandy masih menunjukkan asli Jawa. Dulu saat mahasiswa, sepupu suami (Farmasi ITB), teman2 nya suka berlibur dirumahnya, kebetulan rumahnya luas (ayahnya lurah), model lama….teman-temannya diajak ke sawah, ke sungai, makan lesehan, kamar mandi model pancuran dan mesti antre, tidur juga rame-rame lesehan, cuma dipisah cowok dan cewek. Tapi ceritanya seru, akibatnya pak Lurah langganan menerima tamu, teman anak-anaknya yang semuanya kuliah di luar kota.

    Gandhi,
    Iya, orang jwa kalau mantu kan menanggap wayang, yang membantu masak para tetangga. Mereka membantu, membawa pisau sendiri, sekaligus membawa oleh-oleh berupa bahan baku untuk dimasak, ada beras, gula, kedelai….apa aja yang sebagian besar merupakan hasil ladangnya. Saya mengalami ini di rumah ayah ibu….dan karena pawon kecil, yang masak memenuhi lorong di depan pavilyun.

    Betul-betul gotong royong.

    Osinaga,
    Saya beberapa kali ke Sumatra Utara, pernah juga menginap dipinggir danau Toba, sayangnya saya dulu sambil kerja, jadi nggak sempat memperhatikan. Kalau orang Minangkabau agaknya mirip, dapur terpisah, tapi tak ada ruang makan khusus (contoh nya di istana Pagaruyung).

  12. Pada suatu hari isteriku ketamuan seorang ibu, temannya waktu SD-SMP dulu di desa. Waktu makan siang, si ibu tamu itu dipersilahkan mengambil makanan di meja makan yang telah disediakan. Tapi meja makan kami di rumah tidak ada kursi makannya.

    “Ya sudah, terserah mau makan di mana, mau makan di depan tv sambil nonton tv ya boleh”, kata isteriku. Sayapun mengambil makanan, dan memakannya di kamar tidur !!!

    Rupanya si ibu tamu tadi merasa ada yang aneh, “Lho kok makannya sendiri-sendiri, tidak bersama-sama”, protesnya.

    Lalu saya merasa heran, lho kok ada yang protes. Kami berumah tangga sudah 20 tahun (waktu si ibu tamu tadi datang) dan everything is fine-fine aja, termasuk kebiasaan makan sendiri-sendiri itu..

    Lalu saya beli buku berbahasa Inggris terbitan Periplus Singapore, judulnya “The Indonesian Heritage” yang terdiri dari 10 buku, harga total waktu saya beli sekitar Rp 2,5 juta (by credit card, of course !!)..

    Ternyata di buku tersebut dibahas tuntas kebiasaan orang Jawa sejak jaman dulu :

    1. Orang Jawa relatif sudah bisa baca tulis semuanya dari desa sampai ke kota sejak jaman Sultan Agung

    2. Orang Jawa suka mengadakan “selamatan” dengan menyembilah sapi, kerbau, kambing, ayam. Dan di acara selamatan itulah SATU-SATUNYA CARA BAGI ORANG JAWA UNTUK MAKAN DAGING, karena dalam kehidupannya sehari-hari orang Jawa adalah vegetarian (dari sononya, atau karena terbelit kesulitan ekonomi)

    3. TIDAK ADA MEJA MAKAN DI RUMAH-RUMAH ORANG JAWA. Jadi kalau orang Jawa jaman dulu mau makan, ya dia mengambilnya di piring-piring yang ada di lantai yang digelarin tikar atau dari atas meja makan. Tapi setelah itu, ia mau makan di lantai, di kebun, di kandang sapi, atau di tempat tidur kayak saya, ya itu monggo kerso. Gitu aja kok repot…(temenku SMP, si Abubakar, malahan makan di tempat orang meninggal, dan dia menghabiskan 10 piring !!!)…

    Kalau nggak percaya, kalau anda tinggal di Pondok Gede, datang ke rumah saya dan akan saya tunjukkan warisan nenek moyang kita orang Indonesia di buku “The Indonesian Heritage”…

    Salam,
    -Tri Djoko

    p.s.: Saya punya banyak cerita tentang makanan di
    http://triwahjono.wordpress.com/

  13. Tridjoko,
    Iya, saya tergelitik menulis ini setelah membaca di Kompas, setelah saya melihat kebelakang, ternyata benar juga.

  14. seharusnya kita bangga sebagai orang jawa khususnya, indonesia umumnya, sebenernya konsep rumah orang jawa tidak mempertimbangkan pemenuhan ruang yang serba ada, harus ada ini itu…..dan konsep rumah bongkar pasang (sama spt kantor yang menggunakan gipsum) jadi bisa digonta ganti sesuai kebutuhan, mo acara nikahan kamar tidur bisa dibongkat buat ruang tamu, jadi sebenernya kita ga kalah modern…….to

  15. Rommy,
    Berarti orangtua dulu konsepnya transparan ya…dan juga saling menolong, saya kira ini juga berlaku bagi suku-suku lain di Indonesia.
    Thanks telah mampir.

  16. kalo di rumah mbah saya
    pawon masih pake tungku dari tanah liat yang pake kayu bakar, nah di deket tungku ada lincak dari bambu, lincak ini multifungsi bisa buat ngracik bumbu buat masak, bukan makan, ato tidur-tiduran nunggu yang masak mateng hehehehhe

  17. Jadi inget di tempat eyang saya. Meja makan ada, tapi di halaman rumah. Jadi tempat pot bunga. Kami kalo makan justru di depan rumah alias teras.

    Thanks sudah mengingatkan masa lalu ya bu Enny.

  18. yo i orang jawa emang ndak pernah punya ruang makan, dapur jadi satu dengan meja makan, lha ini kan sekarang diadopsi sama apartemen tho,
    silahkan mampir ke rumah dirumahku ruang makan jadi satu dengan dapur, fungsinya juga untuk ruang tamu keluarga, meski ada ruang tamu tapi mampir ndak kepakae, tamu yang akrab malah senag ke dapur duduk di meja makan sambil ngobrol, akibatnya luar biasa, membuat waktu molorngak karuan meski tentu enak ngobrol sama kerabat.
    note : dirumah ada 3 set meja makan yang terbesar 200 cm kali 100, sedang lainnya bundar 120 cm, sedang ruang tamu cuma kursi tamu 1 set. campur dengan garasi yang tidak berdinding, j

  19. hahaha bener saya dulu kecil juga ga ada ruang makannya, pokoknya ada meja buat taro makanan yang udah dimasak, ambil makanan, terus makan bisa kemana-mana saya hehe, lebih sering lesehan malah, terus makan pake tangan, lauknya lalapan pake sambel…wuuiiihhh nikmat…

  20. Iway,
    Pernah nggak menunggu masak, sambil membakar jagung dan ketela yang ditaruh dibawah kayu bakar? Apalagi di pagi yang masih dingin, sambil berkemul sarung….wahh sedaaap…jagungnya matang, kita bisa makan jagung sambil melanjutkan berdiang.

    Ardians,
    Masa lalu itu yang kini diadopsi di rumah perkotaan. Cuma tungkunya udah berupa kompor gas, tapi mengobrol di meja dekat dapur terbuka sebetulnya mengingatkan masa kecil. Bahkan di rumah Dirut salah satu Bank BUMN, meja makan yang didekat dapur kursinya berupa dingklik (kayu panjang)…mirip warung makan di desa zaman dulu.

    Taryono putranto,
    Benar itu…rumahku awalnya ruang tamu sama garasi mau dibatasi dinding kaca…tapi saya takut kalau ada keponakan yang nabrak-nabrak, akhirnya kembali dibatasi dinding. Ruang makan, ruang keluarga dan dapur tanpa sekat membuat kita nyaman mengobrol sambil memasak. Jadi yang masak tak merasa sendirian, tetap bisa ikut ngobrol.

    Riadi,
    Makan sama tangan…justru itu nikmatnya…

  21. kayanya bu, rumah tanparuang makan itu lebih asik setidaknya pengalaman saya dulu di rumah kakek, begitu akrab mau makan di mana saja… tapi sekarang memang sudah berubah yaa..

  22. wah mantep nih… saya tambahin di blogroll deh 😀

  23. Mas Kurt,

    Rumah tanpa ruang memudahkan penyesuaian jika ada keperluan, cuma zaman udah berubah, karena di desa pun sekarang nggak se aman dulu, rumah tanpa pagar, siapapun bisa langsung buka pintu dsb nya. Kadang rindu atas suasana seperti itu.

    Sitijenang,
    Silahkan, makasih kunjungannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: