Oleh: edratna | Desember 26, 2007

Jakarta memang menggiurkan

Judul diatas muncul hasil obrolan dengan teman, dan saudara yang mengeluhkan bahwa segala sesuatu kok standarnya Jakarta. Bayangkan, mau cari asisten rumah tangga aja susah sekali, karena dibandingkan dengan Jakarta.

Lho, maksudnya dibandingkan itu apa? “Iya, mosok mau cari asisten rumah tangga aja susah, saya setiap kali sudah mewawancara orang, apakah mau ikut dirumahku, ternyata selalu inginnya ke Jakarta,” keluh adikku.

“Tun, kowe gelem nderek ibu nang kene?” kata adikku (Tun, kamu mau ikut ibu disini?)

“Mboten bu, dalem pengin nderek priyayi teng Jakarta,” jawab Tun (Tidak bu, saya mau ikut majikan di Jakarta)

“Lho,kenopo?” tanya adikku (Lho, kenapa?)

“Lha wonten Jakarta, montor niku jejer sedoso,”jawab Tun ( Lha kalau di Jakarta, mobil itu berbaris sampai 10 buah)

Adikku bengong, saya juga ikut bengong. Jejer sepuluh? Terus kami mulai menghitung, kebetulan saat itu melewati jalan MT Haryono. Betul juga mobil berjejer lebih dari 10 jalur. Lha di jalan biasa (kiri jalan) ada 3 baris termasuk jalur busway dan satu jalur lambat, berarti ada 8 baris jalan dua arah. Terus yang di dalam Tol ada enam jalur, berarti ada 14 baris. Hahaha…bener juga kata si Tun.

Ada lagi yang membuat para asisten menikmati kalau kerja di Jakarta, kalau pulang kampung pasti ditanya, kerja dimana? Begitu bilang kerja di Jakarta, pertanyaan lainnya bermunculan, apa benar di Jakarta banyak jembatan tanpa ada sungainya (maksudnya jalan layang), gedungnya tinggi-tinggi yang membuat spiderman bisa melayang-layang, ada Ancol, Taman Mini dan sebagai nya.

Saya tanya ke adikku, lha terus kamu sekarang bagaimana, apa udah ada pengganti Ni? Ni adalah asisten yang sudah cukup lama tinggal di rumah adikku, dan sejak beberapa bulan lalu pamit untuk menjadi TKW, karena kedua kakaknya telah menjadi TKI di negara tetangga kita. “Udahlah, dinikmati aja, membereskan rumah ya kalau sempat aja, lama-lama kan biasa juga.,” kata adikku, yang menjadi dosen di PTN Semarang. Ya, untungnya anak-anaknya udah besar, udah lulus sarjana semua…apalagi pekerjaan banyak dibantu alat elektronik, seperti: mesin cuci, rice cooker, microwave dsb nya. Tapi listrik juga mahal……

Dan untungnya tempat tinggal adikku di kompleks perumahan cukup aman, untuk meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci. Ini yang tak bisa saya tiru, kegunaan asisten di rumah Jakarta, antara lain sebagai penunggu rumah, itupun pagar selalu dalam keadaan terkunci. Ahh, sulitnya hidup di Jakarta, kita terpenjara di rumah sendiri, tapi mengapa para asisten senang kerja di Jakarta ya…?
Sampai kapan Jakarta masih menggiurkan, jangan-jangan nanti kerja di Jakarta pun tak mau, karena lebih menarik menjadi TKI dinegara tetangga. Tentunya kita harus siap, jika kita mempunyai asisten rumah tangga yang baik, kemungkinan untuk berhasil menjadi TKI juga lebih banyak.

Iklan

Responses

  1. Saya kok mendapat kesan sebaliknya ya bu, saat ini malah susah sekali dapat tambahan asisten dari kampung saya (wonogiri). Mereka rata2 maunya kerja jadi buruh/pelayan toko di Solo, atau kalau di Jakarta maunya jadi pedagang. Atau karena memang jadi asisten rumah tangga sudah kurang diminati ?

  2. Andri,
    Entahlah, memang bagi mereka para asisten, nomor satu kerja di luar negeri. Nomor dua jadi pelayan (yang agak berpendidikan, dan wajah menarik). Asisten saya biasanya pengalaman dulu kerja di pabrik (harus kost yang mahal, makan tak cukup) ada yang pernah ikut orang (yang disenangi kedua majikan berkarir diluar rumah, tak punya anak kecil)….dan mungkin seperti saya termasuk menarik dimata mereka, karena keduanya sibuk, dan anak-anak sudah besar.

    Kelas asisten memang kelas yang terbawah, tapi kebanggaan mereka (ini cerita ortunya ya…di Jakarta saya ikut insinyur…hahaha), dan mengelola asisten memang tak mudah. Dia juga perlu diberi liburan (minimal sebulan dua hari), untuk jalan-jalan ke Blok M, Ancol dll…juga kamarnya ada TV, pakai kasur dan seprei bersih, kamar mandipun khusus.

    Dan kita seperti mengelola pegawai, anak saya ga boleh menyuruh asisten setelah jam 10 malam, karena mereka perlu istirahat, padahal siangnya udah tidur siang (lha bos kerja, dan anak kuliah).

    Memang cari asisten saat ini lebih sulit, biasanya saya nitip pada asisten lama untuk mencarikan di kampung atau titip teman-teman yang asistennya pulang kampung. Dan gambaran mereka tentang kebiasaan majikan, yang merupakan daya tarik.

  3. hihihi .. Mbak Tun ini lucu banged ..
    tapi iya sih Bu Enny, menuju bbrp bulan pernikahan.. udah byk asisten2 RT yg biasa ikut sodara2 tiba2 nawarin diri “nanti kalo A Aldi udah nikah mah, saya ikut aja ah ke Jakarta” .. lah, beda sm spupu2 yg tinggal di Bandung yg ga gitu disambut dgn atusias pas mereka abis nikah hahahah.. ini kebanyakan nonton sinetron kali Bu ^^

    oya Bu Enny, aldi temen seangkatan sama Utami.. satu lantei beda bagian ..

  4. ibu selalu mendidik asisten2nya ngga? ato cuman nyuruh2 aja? karena menurut saya bekerja jadi asisten bisa juga membentuk pola pikir si asisten itu sendiri. karena asisten hidup bersama dengan direktur, anak-anak kuliahan dan bapak dosen. wow .. bisa-bisa asisten nya jadi pinter banget tuh ..

  5. Hihihihi…
    Jadi ingat
    pernah mengusulkan agar Jakarta diledakkan
    biar orang-orang membangun kota-kota lain seperti Yogya….

    (Mas Andrias Ekoyuono masih ingat usulku yang aneh bin ajaib itu atau gak yah?)

  6. Bu, pesen pembantu nginep dong satu. Buat dirumah. thanks. ๐Ÿ˜€

  7. setelah merasakan hidup tanpa asisten…jadi bener2 respect sama mereka2 yg kerja jadi asisten….
    di tempat saya tinggal, asisten2 ini dihargai banget, mereka hanya kerja 8 jam sehari, dan sabtu dan minggu libur…gajinya? paling ngga 1000$ take home pay……

  8. “montor niku jejer sedoso,โ€ lucu yaa bahasae.. mobil kok motor..

    Satu lagi ibu menyebut pembantu dengan asisten… sebutan yang sopan dan tak mementingkan status.

    “Di tetangga saya ada juga para penjaja asisten yang menawari diri jadi pembantu, tapi selang 10 menit barang2 hilang lenyap. Kejadian itu berulang selama 3 bulan. Kembali seorang tetangga dibawa kabur segepok kurang lebih 40 juta di dalam plastik di kamarnya.” Apes sekali tetangga depan saya…

    Sekedar sharing fenomena pencaker gaya Jakarta. Kota besa rini selain berjejer 10 montore, ia pun menyimpang segudang liku2 kehidupan. lainnya … ๐Ÿ™‚

  9. bertahun-tahun dulu saya selalu menghindari ibukota negeri republik pendusta ini, namun sejak awal tahun 07 saya terjebak di kota sesak penat ini. God safe me!

  10. Jakarta…
    dulu waktu di Ngawi ngerasanya Jakarta jauhhhh,
    sekarang di Bogor, masih juga ngrasa Jakarta jauuuh.

  11. hehe… bagi asisten, Taipei lebih menggiurkan daripada Jakarta…

  12. #narpati

    hehehe,….iya, inget tuh ma usulmu yang aneh bin ajaib tapi logis ๐Ÿ™‚

  13. beda dengan asisten dirumahku..dia malah wegah disuruh kerja dijkt coz ‘kotane terlalu rame mbak..mumet aq mbak..’gitu..aq juga pasti mikir klo dimutasi kejkt..kecuali gaji 20jt sebln plus fasilitasnya..hehe..

  14. Aldi,
    Asisten saya yang baru tahun kedua ikut, mau ke pasar kalau udah agak siang, karena takut menyeberang, maklum sepeda motor sekarang banyak sekali.

    Sandy,
    Pendidikan pada asisten tergantung pada kemauan, kemampuan, dan motivasinya. Kalau laki-laki umumnya oleh suami disekolahkan sampai lulus SMA/STM, diberikan kursus menyopir, dan kalau udah pintar dan dapat kerjaan di perusahaan(jadi sopir, pegawai adm), dilepas dari rumah. Yang cewek, kursus menjahit, ada juga yang bisa membantu suami menulis makalah di komputer, menyetir dll. Tapi ada juga yang memang nggak mau, atau merasa nggak bisa. Bonus yang mau kerja tambahan beda, seperti mengetik di komputer, per lembar dihargai. Asisten saya yang terbaru tahun kedua, lainnya udah di atas 5 tahun.

    Kunderemp,
    Jangan usul aneh-aneh.

    Tukang ketik,
    Biasanya cari asisten yang mudah saat habis lebaran, tapi pesannya sebelumnya. Asisten saya semuanya udah lama Adi, yang terbaru tahun kedua, tapi masih harus diajari…dan banyak sekali kejadian yang lucu-lucu, tapi kita nggak boleh marah.

  15. Wieda,
    Saat saya kelas 1 SMP, ibu memulangkan semua asisten, agar anak-anaknya bisa mandiri. Hal ini tak mungkin saya lakukan, karena pekerjaan saya menyita waktu, sering harus tugas keluar kota berhari-hari. Jadi mau nggak mau, perlu ada asisten, tapi mereka saya anggap sebagai keluarga. Kalau anak saya pengin nonton film, nggak ada teman, merekalah yang menemani. Dan mereka bebas untuk keluar rumah, asal bilang dulu, dan gantian sama saya (kalau saya lagi ada di rumah). Saat anak-anak kecil, dan pergi ke tantenya dikota lain, mereka pula yang menemani, karena saya tak bisa cuti. Jadi benar-benar seperti saudara.

    Mas Kurt,
    Di kampung saya, yang namanya montor itu bisa mobil, bisa sepeda motor. Kalau pesawat namanya montor mabur.

    Iya, saya dan teman-teman kalau cari asisten harus tahu asal usulnya, alamatnya, bahkan kalau kami pulang kampung, sengaja mampir kerumahnya biar tahu. Dan ortu nya senang karena anaknya dianggap seperti saudara.

    Epat,
    Saya dulu juga berharap dapat kerjaan di Surabaya atau Yogya, atau kota lainnya, tapi nasib membawaku ke Jakarta. Dan lama-lama merindukan kota yang heboh ini, nyatanya kalau pergi lebih dari seminggu udah kangen.

    Nurussadad,
    padahal Jakarta sama Bogor cuma satu jam, orang Bogor pun banyak yang kerja di Jakarta.

  16. Alief,
    Di luar negeri memang gaji asisten sangat mahal, karena memang jarang yang mau jadi asisten. Di Jakarta pun sekarang sudah mahal.

    Stey,
    Bersyukurlah, asistenmu tak tergiur dengan cerita teman-temannya. Tapi memang syarat membuat asisten betah adalah majikan menghargai dia sebagai manusia, memberi kesempatan istirahat, juga fasilitas yang memadai.

  17. bener bu.. didaerah saya (malang) saat ini sangat sulit mencari asisten RT, mereka maunya kalo gak ke malaysia ya ke arab. kalaupun masih dikampung maunya kerja dipabrik.. jan angel tenan bu

  18. Totoks,
    Cari asisten saat ini bukan hal mudah, mereka pilih-pilih. Dan sebenarnya kita rela saja andaikata mereka memang bisa bersaing untuk mendapatkan penghasilan di luar negeri dengan gaji lebih baik. Sayangnya kadang mereka tertipu dengan janji manis para calo pencari kerja….. saya masih mengandalkan dicarikan dari teman-teman mereka sendiri (oleh asisten nya tetangga, saudara dsb nya). Dan yang ikut di rumah udah di atas 10 tahun, benar-benar kayak keluarga. Yang baru, kualitas sebetulnya jauuuuh sekali di bawah yang lama, dan harus sabaar…tapi saya menilainya yang penting jujur, dan bisa melakukan pekerjaan pokok….

  19. di atas 5 tahun? maksudnya apa bu? dah bukan balita? jadi ibu juga melakukan pendidikan itu? ato itu orang lain yang melakukannya?

  20. Masih ingat lagu ini nggak bu :
    Jeng jing kapal udara
    numpak sepur mudhun Jakarta
    Jakarta akeh duwik e
    Digawe tuku onde – onde

    Ternyata lagu kanak – kanak tersebut merasuk kedalam tulang sumsum rakyat endonesah

  21. Sandy,
    Ternyata Sandy tuh bandel ya…..pura-pura nggak tahu? Bagaimana kabar Jepang, ga perlu asisten kan, atau justru Sandy yang perlu personal asisten?

    Adipati Kademangan,
    Hehehe…lucu juga ya, dulu kalau bermain suka pake lagu…apa anak sekarang masih seperti itu ya?

  22. bu, saya mo nimbrung protes boleh gak? emang sejak kapan istilah “pembantu” menjadi “asisten” ?

    pembantu rumah = asisten rumah

    ?

    kalau sharing dengan bule bule seperti di eropa, they said, we’re not comfortable having other people serve us.

    tapi tetep aja kalo saya pribadi di indonesia juga mau dong punya pembantu. mengenai istilah yang dipakai, kalau itu alasannya cuma untuk memperhalus pembicaraan, saya tetap nggak setuju, karena buat saya yang paling penting adalah bagaimana memanusiakan pembantu atau memperlakukan pembantu sebagai manusia, bukan utk istilah aja, nanti kalo istilah asisten diterima khalayak ramai indonesia, trus kalo ada berita jadinya gini deh : asisten rumah asal (nama-daerah-indonesia) di malaysia disetrika majikan ๐Ÿ˜€

    di bayangan saya kalau namanya asisten ya asisten dokter, apa asisten dosen, apa asisten lab, gitu. ๐Ÿ˜€

  23. BTW

    โ€œLha wonten Jakarta, montor niku jejer sedoso,โ€jawab Tun ( Lha kalau di Jakarta, mobil itu berbaris sampai 10 buah)

    kocak banget =)) thanks for sharing i’ve had a good laugh!

  24. Arie,
    Saya mengenalkan pembantu memang sebagai asisten saya. Karena dia melakukan tugas, yang saya tidak sempat melakukannya. Kalau saya liburan, saya juga melakukan sebagian pekerjaan mereka, jadi miirip asisten manajerku, khusus untuk urusan rumah tangga.

    Lha dia membayar listrik, menjaga anak kalau saya turne, menemani nonton ke bioskop…lengkap deh. Kadang terpaksa mengambil buku rapor, tentu saja begitu saya kembali ke Jakarta, saya menemui wali kelas untuk diskusi kemajuan pendidikan anakku.

    Anak-anak juga saya latih menghargai mbak nya, karena memang ibu mendelegasikan sebagian wewenang melakukan tugas rumah tangga, kepada si mbak tadi.

  25. Jadi pembantu itu pekerjaan paling aman. Tempat tinggal ga bayar. Makan sama dengan yang punya rumah. Sakit pasti diobatin. Pulang kampung ditambah sangu. Ya uang gaji itu ya uang simpanan. Wong jalan-jalan aja dibayari sama majikan koq, malah ikutan mobil mewah ga kaya saya yang masih naik angkot.

  26. @kunderemp! Wah aku juga pernah punya usul seperti itu. Serius! Benar lho, lebih baik Jakarta diratakan dengan tanah dulu, lalu kita mulai tata kota yang lebih baik. Ya, memang naif sekali sih usul ini. Kehidupan kan bukan seperti komputer yang bisa di-restart atau di-install ulang.

    Bagi saya sampai sekarang Bandung masih lebih menggiurkan tante. Ke Jakarta untuk saat ini hanya untuk bertemu teman lama, dan menjenguk orang tua.

  27. Duh, saya kok malah menghindari jakarta ya? 9 bulan kerja di sana, saya malah kangen dan berhenti kerja…balik lagi ke Bandung ๐Ÿ˜€ Banyak hal yang membuat saya tidak merasa nyaman di Jakarta, meskipun kalau untuk urusan ‘duit’ di sanalah pusatnya.

  28. Menggugat mualaf,
    Jika memang majikannya baik, dan menghargai dia sebagai manusia. Bahkan kalau pulang kampung pun (asisten saya pernah ikut majikan lain sebelumnya), majikan lama ikut membekali oleh-oleh, bahan pokok untuk jualan keluarganya di kampung.

    Za,
    Anak bungsuku juga lebih tertarik di Bandung, hawanya dingin (walau sekarang ga dingin banget), kemana-mana dekat. Saya kalau ke Bandung malah suka bersin-bersin kedinginan…..

    Donny Reza,
    Sama seperti Za, anak bungsuku, mungkin karena terbiasa di Bandung, yang berhawa dingin (di Lembang), dan masih sejuk di daerah Dago, Ganesha. Apalagi Jakarta bisa dicapai 2 jam dari Bandung, jadi banyak orang yang kerja di Jakarta tetap masih bisa tinggal di Bandung.

  29. umm..dulu knp ya ke jakarta…o iya cari pengalaman baru…kalo di daerah hidup tenang dan damai..apalgi waktu itu di yogja hehe…sering dengar ttg jakarta jadi penasaran jg de akhirnya k jakarta…sampai skrang baru hampir 4 thn…awal2 memang cukup melelahkan…pengennya pulang terus…eh sekarang malah udah lama banget ga pulang kampung…bahaya ni kacang lupa kulitnya hehehe…

  30. Iya, akhir-akhir ini Bandung jadi lebih dingin tante. Anehnya, kemarin pagi aku lebih terasa dingin pas mandi dibanding ketika mandi kala malam. Apa karena mandi malam karena sebelumnya kecapekan ya?

  31. Menjawab judul tante, bagiku Jakarta belum (kalau belum berarti akan ya?) menggiurkan. Wohoho…. Ada artikel di Kompas Minggu, rubrik Kehidupan soal kehidupan di Jakarta. Bagus kalau menurut ku artikel itu. Ada tukang bakpau yang berjualan di tengah kemacetan. Manusia yang semakin terdehumanisasi karena kota Jakarta.

  32. Riadi,
    Berarti udah mulai krasan di Jakarta. Kalau tahu tempatnya, sebetulnya Jakarta mirip kampung yang besar sekali, dengan pasar besarnya….. tinggal kita memilih mana yang sesuai dengan kita.

    Za,
    Jakarta akhir-akhir ini juga dingin sekali. Bahkan kadang saya mandi pake air hangat.

    Artikel di Kompas menunjukkan, ditengah kemacetan Jakarta, ada peluang bisnis yang diperoleh oleh tukang bakpau. Dibelakang gedung-gedung tinggi, selalu ada daerah Sogo Jongkok, yang jual aneka rupa kebutuhan. Malah ada penjual, yang cerita, keuntungan dia per bulan, berlipat kali dibanding saat dia masih bekerja di Bank (Bank nya dilikuidasi saat krisis moneter).

  33. Waah begitu tah bu… waduh saya barusan dapat asisten cukup cekatan dan tapis dalam kerja… anak purworejo tapi untuk kesana gak mungkin yaa kejauhan tapi mungkin kalau lagi ada tugas atau nglayap bisa mampir … menirukan Ibu Enny… ๐Ÿ™‚

  34. Asisten saya yang di Bandung dari Purworejo, orang dari daerah ini kayaknya budi pekertinya baik. Bagi saya yang penting jujur, karena yang lain bisa dilatih.

  35. […] pesawat terbang untuk menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya. Berdasarkan situs timeanddate, jarak Jakarta dengan Surabaya adalah 674 km. Sedangkan menurut City Distance adalah 668 km. Terima kasih buat […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: