Oleh: edratna | Desember 29, 2007

Perlukah menambahkan nama suami setelah menikah?

Entah ini kebiasaan sejak kapan, atau ada unsur budaya, yang jelas setelah menikah, seorang wanita akan dipanggil dengan nama panggilan suaminya, dengan embel-embel bu didepannya, seperti bu Martono, bu Karyadi dan sebagainya. Kalaupun wanita tersebut bekerja, maka namanya sendiri malahan menjadi disingkat, dan nama suami di tulis lengkap……atau nama sendiri dan ditambah nama suami, seperi Ny. RS Haryanto, Ny. Elly Sumarno dan seterusnya.

Sejak tahun 80 an saya mengamati, ternyata para wanita di kantor tempatku bekerja, tak semua menambahkan nama suami dibelakangnya. Masih banyak yang menggunakan namanya sendiri, tanpa embel-embel nama suami, dibanding yang menggunakan nama suami dibelakang namanya. Kalaupun ada, masih memakai nama sendiri, baru dibelakang namanya ditambahkan nama suami.

Hal tersebut disebabkan ada beberapa kemungkinan, antara lain:

  1. Nama si wanita sendiri telah panjang, sehingga jika ditambah nama suami akan semakin panjang. Bayangkan jika namaku, “Enny Dyah Ratnawati”, dan nama suami” Priadi Dwi Hardjito” . Jika saya ingin menggunakan nama suami secara lengkap, kan panjangnya seperti gerbong kereta api. Lagipula saya bingung, nama suami yang mana, yang saya gandengkan dibelakang namaku. Teman atau sahabat dekat memanggilnya Dwi, teman kuliah memanggilnya Hardjito, dan…di kantor dia dipanggil pak Priadi. Kebetulan namaku juga nama kodian (banyak yang pakai), jadi kalau disebut nama Enny, di kantor ada banyak nama Enny….jadi biasanya dua suku kata dari nama saya digandengkan, untuk panggilan sehari-hari.
  2. Wanita ingin lebih mandiri. Pada kenyataannya, wanita tetap dianggap single walaupun sudah menikah, karena anak dan suami tak mendapat tunjangan kesehatan. Bahkan hanya si wanita sendiri yang dibiayai kantor jika sakit atau dirawat di rumah sakit. Sejak tahun 2004, di kantorku wanita dan pria kedudukannya sama, jadi anak dan suami diganti kantor biayanya jika dirawat di rumah sakit.
  3. Memudahkan administrasi kantor. Pada umumnya setelah lulus perguruan tinggi dan melamar pekerjaan, menandatangani kontrak sekitar dua tahun (saat pendidikan tak boleh menikah, saat ini jangka pendidikan lebih cepat, sehingga kontraknya paling lama satu tahun), baru boleh menikah. Akibatnya nama yang tercatat dalam administrasi kantor adalah nama si wanita sendiri. Setelah menikah, maka harus membuat laporan dengan mengirimkan fotokopi surat menikah, untuk dicatat di kantor.Urusan mengganti nama akan berakibat panjang, karena mengganti semuanya yang sudah tercatat, dan biasanya si wanita sudah malas untuk mengurus masalah ini, karena kesibukan kerjanya.

Nah, kapan biasanya wanita menggunakan nama suami? Kalau saya, menggunakan embel-embel nama suami, jika berurusan di kantor suami, atau dalam kaitan ke rumah sakit, terutama untuk pergi ke dokter kandungan. Dan pada awalnya ini banyak menimbulkan kelucuan.

Ny. Priadi,” teriak suster memanggil pasien, dan lama sekali tak ada jawaban

Ny. Priadi, ” suster teriak makin kencang. Beberapa ibu nyeletuk…”Udah suster, diganti orang lain saja, mungkin ibu itu sedang keluar cari makan.”

Ny. Enny Dyah…… ,” teriak suster.

Saya yang lagi membaca kaget, dan berdiri buru-buru (padahal suster teriaknya persis di atas kepalaku, karena saya duduk persis di sebelah pintu masuk praktek dokter kandungan), diringi oleh pandangan ibu-ibu lainnya.

Baru pertama kali ya nyonya, “kata suster. “Iya, jawab saya,” sambil malu sekali. Mosok sih lupa nama suami sendiri.

Kami tinggal di kompleks rumah dinas milik perusahaan, dan karena semakin banyak wanita yang menduduki tingkat manajer ke atas, maka banyak juga yang memperoleh rumah dinas atas nama isteri. Suami-suami tidak keberatan, karena kompleks kami dekat dari mana-mana, dekat sekolah, rumah sakit dan pusat perbelanjaan. Apalagi banyak para isteri tadi, suaminya sebetulnya juga menduduki jabatan cukup tinggi dikantornya, tapi dengan tinggal di rumah dinas atas nama isteri, memudahkan komunikasi jika sewaktu-waktu sang isteri harus dinas keluar kota atau bahkan luar negeri. Dan karena atas nama isteri, maka nama-nama yang ada pada daftar yang dipegang satpam adalah nama isteri. Akibatnya kami harus pesan ke teman-teman atau saudara, jika mau berkunjung ke rumah kami, agar menanyakan rumah atas nama saya. Dan karena kompleks kami terdiri dari 110 rumah, jadi sudah harus membentuk RT tersendiri. Pada suatu ketika, pak RT yang terpilih adalah suami dari pejabat wanita. Dan dikompleks kami, menjadi terbiasa memanggil nama suami dengan nama isterinya (maklum karena isterinya teman sekantor, jadi lebih hafal namanya)..

Sebetulnya semua sudah tahu nama suami masing-masing, entah kenapa mereka lebih suka memanggil nama itu, karena mungkin lebih familiar. Sejak 7 (tujuh) bulan yang lalu, saya sudah pindah ke rumah sendiri, dan sekarang nama panggilanku adalah nama suami. Sebetulnya dipanggil nama sendiri atau nama suami tak menjadi masalah, dan sudah tak kaget-kaget lagi.


Responses

  1. “Baru pertama kali ya nyonya, “kata suster. “Iya, jawab saya,” sambil malu sekali. Mosok sih lupa nama suami sendiri.

    ini waktu hamil mas kunderemp ya Bu’?
    hihiihi

  2. Luthfi,
    Bukan, kakaknya Kunderemp, sayangnya keguguran…jadi Kunderemp sebetulnya anak kedua.

  3. penambahan nama suami setelah menikah agaknya kok disebabkan masalah kultural masyarakat yang patrarkhis ya, Bu Eny. kalo menurut saya sih sebenarnya nggak perlu tuh. terkesan, kaum ibu hanya menjadi manusia klas dua yang “swarga nunut neraka katut” sama suami. padahal eranya sudah berubah. istri adalah mitra yang sejajar dg kaum lelaki. sebagai lelaki dan sekaligus seorang suami, saya siap dan ikhlas apabila nama saya tidak ditambahkan di belakang nama istri saya loh, Bu, hehehehe 😆

  4. Wah baru tahu, kalau Tante pernah keguguran. Bagaimana kalau dibuat kebalikan, Tante? Nama suami nambah nama istri. Wohoho…

    Kalau saya cenderung fleksibel untuk masalah ini Tante. Benar yang dikatakan Sawali, ada faktor budaya patrilineal.

  5. Saya juga pernah membahas ginian. Saya pikir, waktu itu, percuma kasih nama anak bagus buat anak perempuan kalau setelah itu dia jadi Bu Joko, Bu Ahmad, dan Bu Robert. 😀

    Bagi saya wanita nggak harus pakai nama suami, karena suaminya pun pakai nggak nama istri. Untunglah, sebagian tetangga, termasuk anak-anak, memanggil istri saya dengan nama panggilanya. Ada sih yang nyebut “Bu Antyo”, tapi anggap saja itu kelaziman. 😀

    Unik juga ya kalau status hunian rumah dalam kompleks atas nama para ibu. Baru dengar sekarang. 😀

  6. Numpang tanya, apakah Tante Enny ini ibundanya Kunderemp “An-Narkaulipsiy” alias Ratnawati Hardjito?

    Kunderemp itu yang sekarang kuliah di UI jurusan Computer Science?

    Bukankah Kuderemenp yang itu wanita? kok dipanggil mas oleh Lutfi?

    BTW soal nama… hmm.. saya kok lebih suka nanti istri saya pakai nama saya dibelakang namanya, tapi kalo gak juga gak papa, gak maksa. Tapi suka aja, seolah olah dia milik kita seutuhnya.. halah opo toh… lah wong calon istri aja gak punya.. hehehe

  7. Dulu di Madiun, semua ibu tetangga dipanggil dengan nama suaminya: Bu Marno, Bu Marsono, Bu Kardi.

    Sekarang ibu-ibu di RT saya tidak mau kalau dipanggil dengan nama suaminya, maunya dipanggil nama kecilnya: Bu Ita, Bu Ira, Bu Susi.

    Di kantor saya di Jakarta, sebagai peneliti, semua teman yang wanita memakai namanya sendiri, seperti Nona Niode, Nyimas Dewi Sartika.

    Di Amerika lain lagi, umumnya wanita yang telah menikah memakai nama suaminya. Misalnya Sarah Jessica Simpsons (Simpsons nama suaminya). Atau nama suami digabung dengan nama familinya sendiri, misalnya Betk Kupper-Herr (Kupper nama bapaknya, Herr nama suaminya). Di Indonesia juga ada nama teman saya Amanda Katili-Niode (Katili nama bapaknya, Niode nama suaminya).

    Di Amerika ada suatu RUMUS UMUM, cewek yang pakai nama famili bapaknya berarti: 1) belum kawin alias single 2) sudah kawin tapi belum nikah, alias kumpul kebo dengan pasangannya, atau 3) single parent.

    So, anda mau pakai konvensi Indonesia atau Jawa jaman dulu (jadul), jaman sekarang, atau cara Amerika.

    Khusus di Amerika, kalau ada perempuan bawa anak kesana kemari dan memakai nama famili bapaknya, berarti itu single parent alias sudah cerai dengan suaminya, dan berarti….MBA (married but available) !

  8. Dear Tante Enny,

    waduh sorry, saya baru nemu link Kunderemp ternyata anak tante itu memang cowok dan Ratnawati Hardjito itu adalah tante sendiri.

    Salam 😉

    @tridjoko:

    Saya pilih untuk nama panggilan biarin deh istri pake namanya sendiri tapi nama panjang/resmi rasanya senang kalau istri pake nama suami dibelakang namanya, tapi ini subyektif sisi saya, yang lain monggo.

  9. gimana kalo dibalik? nama istri diimbuhkan ke nama suami?

    menurut saya masih ada gunanya, yaitu sebagai identitas bahwa si wanita ini sudah menikah.. jadi jangan digoda-goda lagi..

    CMIIW..

    salam kenal 😀

  10. Pak Sawali,
    Sebetulnya saya juga nggak masalah, cuma nama saya panjang sekali….hehehe. Dan mengurus urusan kantor ribet, toh nama suami juga tercatat di administrasi HRD, yang akan mendapatkan pensiun duda jika saya meninggal, jadi rasanya tak ada masalah. Urusan di luar kantor, baru deh pakai nama suami dibelakang nama isteri…atau bahkan cuma nama suami dengan embel-embel bu atau nyonya.

    Za,
    Kayaknya nggak ada deh yang kepikiran menambahkan nama isteri dibelakang namanya… tapi di kompleks saya, karena yang dikenal nama saya, dan suami kerja di Bandung…kalau guyonan…temen2 suka bilang…pak Enny, juga panggil yang lain ….pak Ninik, pak Ratih…hehehe….tapi kalau didepan orangnya jelas panggil nama sebenarnya.

    Dan kenyataannya suami-suami yang tinggal di kompleks rumah dinas senang-senang aja kok….lha nggak mikir urusan rumah (kalau rusak tinggal telepon kantor, air +listrik+telepon dibayarin kantor). Dan pasti nyaman meninggalkan anak isteri tugas di luar kota, satpamnya 24 jam, dan tetangga sangat dekat (maklum teman sekantor)

    Paman Tyo,
    Status hunian an ibu, untuk memudahkan orang kantor menanyakan sesuatu. Di samping kenikmatannya segudang, tinggal di rumah dinas ada juga nggak enaknya. Kalau Direksi nggak tahu telepon rumah kita, tinggal suruhan satpam untuk kasih tahu…..padahal udah tengah malam…huhuhu… Enaknya segala sesuatu masih dibayari kantor termasuk bayar satpam (walau kami akhirnya iuran juga untuk menambah, biar mereka semangat).

    Wibisono Sastrodiwiryo,
    Iya, kunderemp anak sulung saya (cowok)… nama lengkapnya Narpati Wisjnu Ari Pradana, kuliahnya di Computer Science UI. Dia senang baca tulisan mas Wibisono, karena senang tertarik dengan sejarah dsb nya.

    Pasti nama Sastrodiwiryo, nama orangtua ya. Soalnya zaman saya kuliah, kalau teman-temn namanya terdiri satu suku kata, suka ditambah nama orangtua…hal ini juga memudahkan untuk pergi keluar negeri.

    Lha saya kalau keluarga negeri…nulis family name: Ratnawati…hehehe..habis udah kepanjangan.

    Tridjoko,
    Pernah ada wanita yang dibelakang namanya menggunakan nama suami, terus cerai…nahh dia sibuk mengurus administrasi kantor, tapi kan nggak woro-woro (karena bukan selebritis dan tak masuk infotainment). Suatu ketika dipanggil pelatihan, dia marah-marah pada petugasnya, nama dibelakangnya minta dihapus…ya langsung pada heboh kasak kusuk…terus komentar teman-teman…makanya urusan kantor jangan bawa nama suami, kan jadi repot sendiri….

    Deteksi,
    Mungkinkah?…kayaknya wanita juga nggak menginginkan itu kok…jadi bukan soal feminisme atau apa, hanya untuk kemudahan aja.

  11. ntar ah suruh istri pasang nama suami dinamanya
    (kalo udah nikah tentunya 😀 )

  12. Menambahkan nama belakang suami sah-sah saja. Gak menambahi juga tidak apa-apa. Kayaknya kalau zaman sekarang sudah mulai jarang yang mau menambahi nama suami dibelakang namanya. Lebih girl power he…, kalau saya mau nambahin gak ya???lihat ntar deh kalau dah nikah

  13. Arul,
    Kalau ke dokter, entah kenapa, pasti yang ditulis namanya sendiri ditambah nama suami dibelakangnya…atau bahkan hanya nama suami.

    Fikriana,
    Iya sih, ga ada pengaruh apa-apa, mau ditambah apa tidak.

  14. Aduh, maaf ya, Bu, kalau saya harus mengatakan bahwa saya dalam kultur kami malah tidak pernah menambahkan nama suami di belakang nama kami. Tapi, sekarang beberapa di antaranya sudah mulai memakai nama suami di belakang nama mereka.

    Hm… saya masih menikmati nama saya tanpa embel-embel apapun, he he. Kalau boleh ingin protes sedikit sih, kenapa segala milik wanita harus direbut ya? Sampai nama pun harus di ubah? Waduh, maaf, ya, kok jadi OOT.

  15. Okey deng, Mba…
    Sekalian mau ucapin “Met Tahun Baru ya”
    Sukses selalu untuk Mba.

    Sampai ketemu tahun depan ya…..

  16. Repot kalo suami punya istri 3. Pas dipanggil buat ngambil jatah sembako

    “Ibu Priyadi silahkan maju..”

    tiba-tiba 3 wanita serempak nyahut

    “ya..sayaa…”

    :mrgreen:

  17. meskpun saya rada ngenes dengan gaya orang2 Jawa yang selalu menggaet nama suami tapi Bu Enny tidak yah…

    Ada tetangga saya bernama Bu Suradi padahal suaminya sudah meninggal. Kini ia tetap dipanggil Bu Suradi padahal stelah bersuamikan yang baru namanya tidak diganti.. duuh orang lain sih risih tapi dianya ok2 aja…

  18. Setuju dg Pak Sawali… 🙂
    Berdasar “perenungan” saya *wedew* ga masalah & malah baik aja memakai nama masing-masing.. Ya gmn yaa… Nama itu khan personal sekaligus juga menyatakan kepemilikan. Menambah nama misua emang menunjukkan “kepemilikan” si misua plus ikatan antar mereka berdua juga…
    Tetapi hemat saya, keadilan/keseimbangan mustine didulukan, toh keduanya “saling memiliki”. Masa’ sih cuma nama misua yg ditambahkan; knp tdk nama si istri juga ditambahin ke belakang nama suami?
    Wedew… repots Bu! :mrgreen:

  19. ”Alah, gitu aja kok repot!” (mengetuk-ngetukkan jari) ”Kalau nggak merasa nyaman dipanggil dg nama suami ya bilang aja to?!
    Tolong aku dipanggil dg namaku sendiri.” Suami yg bijaksana tak akan mempersoalkan masalah ini. Istriku bilang: mau dipanggil pakai nama sendiri, ok! Pakai namaku, ok! Tapi orang yg blm terlalu akrab, cenderung memanggilnya pakai namaku.
    nggak tahu mengapa?

  20. setahu saya kultur asli kita tidak mengenal nama belakang seperti itu, paling tidak bukan dari Jawa Tengah. sepertinya itu warisan Belanda. paman saya soalnya pernah tinggal di sana lalu punya anak. waktu memberi nama tidak ada nama belakang. tapi, administrasi di sana mengharuskan pemakaian tersebut. mungkin lebih memudahkan pendataan saja. kalau kultur Jawa kan mengacu ke makna khas, bukan makna turunan ortu. barangkali begitu… :mrgreen:

  21. Hehe, salah seorang dosen saya malah ditambahin nama istrinya :))

    Kalau di dunia arab sana, kecenderungannya malah ganti nama jadi anaknya…kayak Abu Hanif, yang berarti bapaknya Hanif 😀 Jadi, kemungkinan besar memang faktor budaya saja sih 🙂

  22. Hanna,
    Kalau dulu, di Jawa ada kebiasaan, pasangan suami isteri setelah menikah, diberi nama tambahan. Kemudian sang isteri dipanggil dengan nama suami (dengan embel-embel bu). Tapi ibu saya, saat masih Kepala SD sevelum pindah dipanggil dengan nama gadisnya (ditambah panggilan bu didepannya), dan setelah kami pindah rumah, yang sekaligus ibu pindah menjadi Kepala SD di kota, panggilan berubah menjadi bu+nama ayah.

    Karena ibu telah bekerja sebelum menikah, jadi orang-orang lebih mengenal nama panggilan semasa gadis…jadi sebetulnya sejak dulupun telah ada kebebasan.

    Selamat Tahun Baru juga, semoga tahun depan lebih damai, dan lebih bahagia.

    Rezco,
    Hahaha…lucu juga ya…jadi ingat film arisan….
    Tapi untuk urusan kantor, yang dianggap sebagai isteri, dan dapat tunjangan adalah nama isteri yang terdaftar dan hanya satu orang.

    Mas Kurtubi,
    Pake nama suami, risikonya jika suami meninggal, nama tetap nama suami…karena orang terlanjur mengenal nama tsb. Dan yang repot kalau berpisah, dan ganti suami baru…bayangkan kalau menikahnya lebih dari dua kali, kayak pasangan selebritis …kalau sekedar panggilan sih nggak apa-apa, tapi kalau ada embel-embel ganti KTP…jadi repot.

    Hyorinmaru,
    Ternyata banyak juga ya yang punya ide menambah nama isteri dibelakang nama suami…..tapi budaya Indonesia nggak memungkinkan itu deh kayaknya…..

    Masseko,
    Yup…suami saya juga membebaskan….wong ga ada untung ruginya kok.

    Sitijenang,
    Kayaknya betul…kemungkinan dari pertemuan budaya kita dengan budaya Barat…perlu diteliti nih…jangan-jangan mirip kultur, nenek moyang orang Jawa tak punya ruang makan.

    Donny Reza,
    Saat anak-anak masih kecil…terus ada tamu tetangga, dan dikenalkan…pertanyaannya adalah…”Ini mamanya siapa?”…jadi yang dikenal adalah nama anaknya…panggilannya adalah,…papa Yudi, Mama Yudi (Yudi, nama anak sulungnya).

    Panggilan dengan memanggil nama anak (biasanya anak sulung), pernah menjadikan adik-adikku merasa nggak punya ibu…karena nenek selalu membahasakan ibu saya…”ibune Enny, bapaknya Enny”…hehehe

  23. Apalgi ditambah nama Bapaknya pake
    Enny Dyah Ratnawati Priadi Dwi Hardjito binti………………

  24. Best Wishes for a Happy and Prosperous New Year.

  25. Nurussaadad,
    Iya…kayak kereta api……

    Wuryanano,
    Thanks, Happy New Year, January 1,2008

  26. waktu abege saya sering berkhayal apakah nama saya kelak akan jadi

    ‘Putri Utaminingtyas Saputra’

    atau

    ‘Putri Utaminingtyas Haryadi’

    atau siapapun… Tergantung yang lagi saya suka, hahahaha… Kalo diinget-inget sekarang rasanya konyol sekali.
    Tapi kayaknya saya malas nambah nama suami (siapapun itu). Ribet n ga ada untungnya kecuali untuk romantisme abege :p

  27. Utaminingtyazzzz,
    Bagi wanita karir memang ribet, apalagi karena kita bujangan saat diterima, dan kemudian menikah… akibatnya segala dokumen harus diganti, sampai kepada SK-SK…hehehe…. terbayang rumitnya.

    Lagipula, siapapun suami Utami, kan kalaupun sakit (termasuk anak-anak), biaya bisa memilih, dibiayai kantor suami atau kantor isteri…ini kan juga merupakan bentuk penghargaan dari manajemen perusahaan, yang notabene sebagian besar laki-laki.

  28. wah lagi online ya, Bu.

    Happy New Year, bu Enny. Wish U All The Best in 2008 🙂

  29. Utaminingtyazzzz,
    Hehehe…iya…tinggal berdua dengan suami. Si mbak pamit jalan-jalan dengan sesama temannya di kompleks dulu. Si sulung udah berangkat ke Yogya hari Sabtu kemarin, ingin merayakan Tahun Baru di Yogya bersama teman-temannya. Si bungsu juga jalan sama temen cowoknya….jadi deh, tinggal berduaan aja, malas kemana-mana karena hujan, dan baru aja datang…tadi seharian udah jalan..

    Happy New Year…semoga tahun mendatang lebih berbahagia dan sukses ya.

  30. […] Edratna, blogger yang banyak menginspirasikan akan sebuah kehidupan manajemen ini banyak ditemui dalam postingannya. Ibu ini banyak memberikan waktu untuk mengisi dan meluangkan dalam setiap tulisannya. Tidak satupun komentar dilewatkan untuk dijawab. Seorang ibu yang banyak pengalaman ini begitu low profile. Memang rupanya ibu Enny menganut filosofi padi. […]

  31. Kalau di kompleks saya sih banyakan karena gelar/ profesi suami. Jadi panggilannya Bu RT, Bu Dosen, Bu Warung, Bu Dokter… Salam kenal!

  32. Ratna,
    Hahaha…betul juga…ada juga yang memanggil berdasar profesinya. Kalau di kompleks rumah dinas, karena profesinya sama…jadi kalau ada perbedan ya cuma pak RT (dan inipun 2 tahun sekali ganti, dan bukan jabatn yang menarik untuk diperenutkan).

    Salam kenal juga, thanks telah mampir

  33. berbeda lagi dengan di sekolah playgroup anak saya, semua ibu2 wali murid disebut dengan panggilan mama+nama anaknya baik dalan keadaan informal maupun formal,
    juga di kompleks kami yang banyakan pasangan muda, kita lebih dikenal dengan sebutan mama/papa+nama anak pertama

  34. Nel,
    Bagi lingkungan murid, untuk memudahkan, guru atau wali kelas umum memanggil dengan nama anaknya…mama/papa nya + nama anak. Panggilan tsb tentunya untuk memudahkan.

  35. Kebiasaan orang jadul kalo sudah menikah akan mendapatkan nama tua (jeneng tuwo). Jadi Seperti ortu saya, bapak namanya subardo, ibu namanya sugiyem, setelah menikah namanya menjadi sujud purwoko, dan sampai sekarangpun dikampung selalu dipanggil/ di kenal dengan pak / bu pur ato pak / bu sujud. Untuk nama aslinya mungkin hanya orang2 tertentu yang tahu, dan tempat bapak saya bekerja dulu. Jadi ibu saya tidak pernah menambahkan nama suaminya dibelakang namanya, demikian pula dengan mertua saya. Tapi sepertinya sekarang sudah jarang ditemui bahkan tidak ada pemberian nama tua untuk keluarga baru. Saya sendiri setelah menikah juga tidak punya jeneng tuwo.

  36. Qutilang,
    Kapan ya berhenti pemberian nama seperti pada pasangan pengantin ini? Atau sejak nama anak-anak sekarang panjang?
    Jadi kalau ditambah lagi nama baru, akan makin panjang……kayaknya hanya kerabat keraton yang masih diberi nama baru, dan nama inilah yang dipakai. Nama saat muda hanya sekedar riwayat atau catatan saja.

  37. Memang bu untuk wanita karir lebih jarang menggunakan nama suami, mereka lebih suka memakai namanya sendiri.

    Pengalaman saya memakai atau panggilan dengan nama suami baru saya rasakan setelah saya pindah rumah sendiri pada saat saya masih tinggal di rumah ortu tapi status sudah menikah nama suami belum laku.

  38. Tini,
    Mungkin karena sebelum menikah sudah bekerja, sehingga namanya adalah nama sendiri. Dan setelah menikah, tak merasa perlu untuk mengubah atau menambah nama tsb, apalagi jika suami tak keberatan.

    Kalau keberatan malah jadi aneh…karena kalau bekerja di kantor kan tanggung jawab pribadi…kecuali urusan di lingkungan kompleks perumahan , atau di luar kantor.

  39. mbak enny…apa kabar ? saya ibu hermina mau beritahu mas dwi kalau pemerintah sedang cari ahli gamelan untuk diajukan ke UNESCO…mas dwi jagonya kan…LANGSUNG URUS YAAA…salam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: