Sastra dan Novel Sejarah, sama-sama imajinatif?

Setelah menulis “Kecanduan cerita fiksi berlatar belakang Sejarah” yang mendapat
beberapa komentar dari teman-teman sesama blogger, terutama komentar yang menggelitik dari Ikram dan Iwan Rystiono, saya mulai berpikir untuk mencari nara sumber tentang kebenaran istilah fiksi sejarah atau novel sejarah. Pada saat menulis tulisan sebelumnya, saya mencoba mereka-reka nama apa yang tepat, karena novel yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi (LKH) ada kaitannya dengan sejarah.
Lanjutkan membaca “Sastra dan Novel Sejarah, sama-sama imajinatif?”

Kebahagiaan seorang ibu

Apa yang diharapkan seorang ibu? Anak-anak yang sholeh, yang rajin, sopan santun, berbakti pada orangtua serta berbuat baik untuk sesama. Kasih sayang seorang anak sepanjang galah, namun kasih sayang seorang ibu adalah sepanjang jalan. Peribahasa tersebut ada benarnya, walaupun anak-anak sudah besar, seorang ibu akan selalu memikirkan anak-anaknya, berdoa kepada Allah swt agar anak-anaknya selalu dilindungi oleh Nya, untuk selalu berjalan di jalan yang mendapat ridho Nya, serta agar selalu dibukakan hatinya, untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tak melanggar hukum.

Lanjutkan membaca “Kebahagiaan seorang ibu”

Kecanduan cerita fiksi berlatar belakang sejarah

Saat masih gadis saya senang membaca cerita silat karangan SH Mintardjo, seperti “Nogososro dan Sabuk Inten”, kemudian “Api di Bukit Menoreh” yang bersambung dan serial lanjutannya keluar setiap bulan. Saat itu saya begitu terpesona sama tokoh Mahesa Djenar, sang pahlawan. Setiap bulan menunggu terbitan baru, dan karena saat itu buku sangat mahal buat keluargaku, kami membaca bergantian, dan saling pinjam meminjamkan. Kadang harus iuran dulu untuk bisa membeli buku serial berikutnya.

Lanjutkan membaca “Kecanduan cerita fiksi berlatar belakang sejarah”

Sms yang menyebalkan

Saya menggunakan telepon seluler pasca bayar Telkomsel sejak tahun 1995, sebetulnya atas nama nya suami saya. Awalnya saya menggunakan Satelindo, dan suami saya Telkomsel. Karena saya sering bepergian ke daerah atau kota terpencil, yang sinyalnya sulit, maka saya bertukar provider dengan suami. Maklum saat itu, Telkomsel bisa mencapai pegunungan Dieng, bisa sampai bukit di atas kota Sorong, akibatnya kalau tugas, teman-teman sering menilpon melalui handphone milik saya, karena satu2nya yang bisa menerima akses dari luar.

Lanjutkan membaca “Sms yang menyebalkan”

Benarkah nenek moyangku tak kenal konsep ruang makan?

Tulisan di Kompas tanggal 14 Desember 2007, dengan judul “Orang Jawa tidak kenal konsep ruang makan” menggelitikku, untuk mengenang kembali masa kecilku yang dibesarkan di daerah dusun kecil di daerah Jawa Timur. Namun rupanya, tulisan yang yang dimaksudkan oleh Kompas adalah untuk orang Jawa yang bekerja di ladang, dan bukan bekerja di tempat lain.

Lanjutkan membaca “Benarkah nenek moyangku tak kenal konsep ruang makan?”

Bagaimana agar saya bisa mengelola berbagai usaha, dengan keuntungan memadai?

Disadari, pada awal mulai berwirausaha, ada sistim coba-coba dulu, mencoba berbagai jenis usaha, dengan harapan apabila yang satu gagal masih ada lainnya. Dalam perkembangannya, sering tak dinilai, apakah sebetulnya semua usaha tadi menguntungkan, dan layak diteruskan. Dan seringnya, usaha dikelola ala manajemen rumah tangga, semuanya tercampur jadi satu, sehingga tak ketahuan lagi, sebetulnya bagaimana perkembangan usaha tersebut, betulkah menguntungkan. Apalagi jika usaha yang satu membutuhkan dana, diambil dari usaha satunya tanpa pencatatan.

Lanjutkan membaca “Bagaimana agar saya bisa mengelola berbagai usaha, dengan keuntungan memadai?”