Infotainment, acara yang diminati pemirsa televisi?

Pernahkah anda membayangkan sepuluh tahun yang lalu, ada acara yang membuka rahasia rumah tangga, dipertontonkan ke depan publik? Pada saat saya kecil, ajaran orangtua adalah bagaimana kita menjaga nama keluarga, dan tak sembarangan membuka aib keluarga. Kalaupun terjadi masalah, maka keluarga akan berusaha menyelesaikan, memperbaiki secara diam-diam, karena keburukan yang keluar akan mempengaruhi hubungan keluarga, serta mempengaruhi kehidupan anak-anak yang masih di bawah umur.

Apalagi, ada aturan tak tertulis, bahwa jika memilih calon pasangan maka harus memperhatikan bobot, bebet dan bibit. Jadi, lengkaplah, bahwa sebelum mengarungi kehidupan berkeluarga, orangtua wajib mengajarkan kepada anak-anaknya tentang “etika berkeluarga“. Era keterbukaan di masyarakat kita, juga membawa aturan-aturan baru, kebiasaan baru, yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Sekarang setiap hari kita disuguhi tontonan permasalahan rumah tangga, yang untungnya masih terbatas pada selebritis atau orang terkenal lainnya, baik dalam rangka hal-hal yang membahagiakan sampai dengan hal-hal yang menyedihkan (perceraian, rebutan anak, hutang piutang, kasus narkoba dan lain-lain).

Setiap pagi hari, saya menunggu kedatangan pengantar koran, yang akan mengantarkan Kompas. Sejak pindah ke rumah baru, koran datang agak siang, sekitar jam 6.00 sampai 6.30 pagi, padahal di rumah sebelumnya koran diantar paling lambat jam 5.30 wib. Saya jarang menonton televisi pada pagi hari, karena pada pagi hari, biasanya berkejaran dengan waktu berangkat ke kantor, dan anak-anak berangkat kuliah. Suatu ketika, sebelum jam 7 pagi, saya menyetel televisi dan acara yang ditayangkan adalah “infotainment“.

Saya kaget dan komentar…”Lho, kok pagi-pagi ada acara beginian…?”

Ah, ibu, biasanya bangun tidur juga udah ada.….mulainya jam 5 pagi,” jawab si mbak

Saya terbengong, sudah sebegitukah kebutuhan kita akan acara infotainment? Saya tidak anti acara ini, walaupun kadang masih kaget juga, melihat pertentangan kehidupan rumah tangga dipertontonkan di masyarakat luas. Dan ternyata acara “infotainment” ini termasuk acara yang diminati pemirsa televisi, terbukti dari hasil penelitian Agus Maladi Irianto, yang menyusun disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor Antropologi pada program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok. Judul disertasi Agus Maladi Irianto adalah ” Kontestasi tentang Program Tayangan Infotainment” yang dipromotori oleh Prof. DR. Achmad Fedyani Saefudin, serta lulus cum laude.

Menurut Agus Maladi Irianto, mengutip catatan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, sebagai berikut:

  • Pada tahun 2002 : Frekuensi tayangan infotainment 24 episode setiap minggu, atau 3 episode per hari, yang ditayangkan 10 stasiun televisi swasta di Tanah Air.
  • Pada tahun 2003 : Meningkat menjadi empat kali lipat, menjadi 101 episode per minggu atau 14 episode per hari.
  • Pada tahun 2004 : Meningkat menjadi 151 episode per minggu atau 22 episode per hari
  • Pada tahun 2005 : Meningkat menjadi 180 episode per minggu atau 26 episode per hari.
  • Selama penelitian bulan Januari sampai dengan Agustus 2007, jumlah penayangan infotainment menjadi 210 episode per minggu atau sebesar 15 jam per hari

Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa betapa televisi telah merasuki kehidupan kita sehari-hari, dari pagi sampai malam. Jika tak ada peminat, tentunya para pengelola televisi tak akan meningkatkan program tayangan infotainment tersebut. Saya hanya membayangkan, betapa sulitnya menjadi orangtua yang mempunyai anak kecil sekarang, karena disadari tayangan infotainment sering disertai adegan pertentangan, pertengkaran, rebutan anak, serta gaya hidup yang bebas.

Akankah kita membiarkan hal tersebut? Atau mengutip pendapat salah satu teman blogger, bahwa kita sebagai manusia mempunyai kewajiban untuk memperbaiki kualitas hidup, dan bahwa menulis blog pun setidaknya harus ke arah tujuan tersebut.

Tulisan ini tak bermaksud menghakimi, hanya mengajak kita berpikir, apa sebaiknya tayangan televisi yang bermanfaat? Apakah tayangan bisa bebas lepas seperti sekarang ini? Apakah kebebasan ini yang kita inginkan?

Bahan bacaan:

Televisi “Infotainment” 210 episode per minggu. Kompas, 4 Januari 2008 halaman 14.

Iklan

57 pemikiran pada “Infotainment, acara yang diminati pemirsa televisi?

  1. Perbanyak tayangan-tayangan dari PBS, NG, Discovery, BBC. Dan jangan cuma tentang buaya, dinosaurus, atau hewan. Beli tayangan tentang sejarah, teknologi, atau sains populer ( hmmm.. Mythbuster, anyone?).

    Jujur aja, aku suka konsep TPI waktu tahun 1994-1996 dan aku merindukan TPI lama (Mahabharata, lalu dokumentasi2 ilmu pengetahuan setiap pagi jam 8, lalu drama yang settingnya di desa, bukan di kota).

    Dan jangan terlalu ngikut-ngikut..
    Misalnya, waktu wisata kuliner populer, abis itu stasiun TV pada ikut2an bikin wisata kuliner. Atau infotainment populer, stasiun TV pada ikut2an bikin infotainment. Harus berani bikin acara unggulan, gak perduli ratingnya naik turun.. harus ada acara khas.

  2. hehehe..
    saya sebenarnya kl lagi males mikir demen juga nonton ini tayangan. dan jangan sampe saya yang ada di layar sana πŸ™‚
    susah memang. kl di protes ntar dianggap menentang kebebasan pers. bahkan di media indonesia beberapa hari lalu, posisi infotainment dianggap sangat perlu didukung karena berhasil membongkar banyak kebusukan, kasus bambang-halimah, dll.
    kadang saya berfikir, yang paling bisa dilakukan, kurangi saja menontonnya. ketika ratingnya turun, toh akhirnya juga prosentasenya berkurang

  3. Ngeri banget bu membaca data anda.. Saya juga termasuk korban infotainment yang diputar istri saya saat liburan. hehehehe..

    Sejujurnya, saya sendiri mengharamkan mengungkit-ungkit aib keluarga orang lain apalagi sampe media yang berbicara.. BISA BERUJUNG PEMBUNUHAN KARAKTER.. seperti kasus Rhoma Irama..

    Teringat teman saya yang yang wartawan sebuah harian besar nasional pernah berkata pada saya, beberapa wartawan senior dan yunir yang tergabung dalam PWI menolak wartawan infotainment disebut sebagai wartawan. Pasalnya, mereka tak sedang mengejar berita. Mereka mengejar AIB untuk dijadikan komoditas. Memang tipis perbedaannya, tapi yang konyol adalah ketika sesutu tak ada kemudian diada-adakan agar mnjadi berita. Menjadi Gosip dan akhirnya layak tayang. Bahkan beberapa kasus, masih kata teman saya, Gosip yag ditayangkan di infotainment itu gara-gara paparazzi infotainment.. Susah jadi manusia biasa..!!

    Saya lebih suka melihat MEtro tV dan tayangan kartun anak2 ketimbang infotainment atau sejenis AFI, IDOL dan yang lainnya. Kita butuh acara yang mendidik pada kebaikan bukan tayangan yang mengedukasi kita untuk ‘rasan-rasan’. Bayangkan jika gosip yang seharusnya hanya beredar di kalangan terbatas keluarga Artis saja lantas kemudian menjadi ‘Gosip Nasional’ – ‘Rasan2 Nasional’.. Dan itu terjadi di Ruang Guru tempat saya bekerja. Bahkan guru pun membicarakan Ahmad dani dan maia yang gak cerai2.. ribet amat urusannya.. hehehehehehe

  4. inilah budaya kita budaya infotainment…
    karena ini merepresent kehidupan manusia indonesia, suka gosip, ngerasani orang, bergunjing dsb..
    Mungkin kita males melihatnya, cuma menyedihkan masih banyak ( sebagian besar malah ) orang malah menikmati

  5. Yah, kenapa juga dipikir terlalu dalam, mbak? Sudah jelas namanya infotainment… ada kata ‘tainment’ kan ya…

    Emang itu kan hiburan saja. Bukannya (masyarakat) kita selalu terhibur dengan sajian perceraian, makian, saling hujat, pamer ini itu bla..bla.. Nggak peduli di sinetron atau di infotainment. Bagi penonton nggak ada bedanya.

  6. Kunderemp,
    Hmm ya….kadang jika ada yang banyak diminati penonton, yang lain ikutan.

    Tukang ketik,
    Ada waktu nggak? Atau sibuk banget?….masih sempat nonton infotainment?

    Edo,
    Benar juga…tapi saya kembali ingat, bahwa media juga ada tujuan moralnya. Sama dengan Bank, kan nggak boleh membiayai panti pijat, atau hal yang esek-esek…..Juga menulis blog, ada etika moralnya juga…..

    Gempur,
    Iya nih….saya bersyukur anak-anak sudah besar…ngeri membayangkan bagaimana cucu saya nanti? Saat anak-anak kecil, hanya ada televisi, kemudian ditambah RCTI dll….saya berusaha menangkal dengan membuat anak-anak sibuk di kegiatan lain, seperti les piano, membaca ….
    Masalahnya kan pembantu, ataupun baby sitter juga suka nongkrongi infotainment, jadi anak kecil bisa ikutan.

    Ario Dipojono,
    Dibalik efek negatif, pasti menguntungkan para pengelola program…karena jika tak untung, mereka akan menyetopnya.

    Iman Brotoseno,
    Sebagian orang menikmati, karena dianggap hiburan….susah juga…

    Anang Yb,
    Sebelumnya saya tak terlalu memikirkan, tapi begitu melihat datanya jadi ngeri. Pernah ke tempat saudara di Bogor, anaknya masih kecil, ayah ibunya dosen dan guru. Suatu ketika si anak mendekati ayah ibunya dan bertanya dengan polosnya…”Ma, mama selingkuhannya siapa? Keren nggak Ma, keren mana sama Papa?” Bayangkan….betapa kagetnya pasangan suami isteri itu…gara-gara si anak menonton sinetron, infotainment, yang digandrungi oleh pengasuhnya saat ayah ibunya bekerja di luar rumah.

  7. memang dilema bu, jaman sekarang acara2 spt itu yg justru mendatangkan banyak peminat, ditambah dengan sinetron2, gosip,mengungkap kejelekan dan permasalahan orang2 tertentu menarik bnyak penonton, yg menarik mungkin acara seperti oprah show gitu..di indo ada ga ya?saya ga pernah ntn tv soalnya sekarng T.T

  8. wah ya jangan ditonton semua nya dong bu .. masak 26 episode per hari ditonton semua. cukup 1 aja sesempatnya πŸ˜€ ….

    lagian semakin banyak episode di TV itu memfasilitasi semua penonton. jadi misalnya yang ndak bisa nonton pada jam kerja bisa tetap nonton pada malam hari ato sebelum berangkat πŸ™‚

    saya pas kerja di jakarta kalo ngga ngerti infotainment jadi ngga bisa ngikutin obrolan para OB dan staff di kantor πŸ™‚

    di sini ndak bisa nonton infotainment .. 😦

  9. rickisaputra

    infotainment << alasan kenapa akhir2 ini saya lebih sering menikmati stasiun berita dan menghabiskan waktu dengan browsing baca info di sana sini.. kalopun mau idupin tipi, paling langsung nyari siaran berita…

    tapi hanya Metro TV, yang paling sering nemenin saya dari pagi, hingga malam, kalau memang tidak ada aktivitas di luar kamar…

    bukannya bermaksud mendiskreditkan tayangan infotainment, hanya saja, menurut saya pribadi, tayangan seperti itulah yang kini menjadi ‘powerful’ untk membentuk opini masyarakat.. bahkan kadang ‘berhasil’ dan sukses ‘dimanfaatkan’ untuk tujuan2 yang tidak pada tempatnya..

    best regard.

  10. adipati kademangan

    Kalo ndak salah dalam sehari saya bisa melihat 1 gosip ditayangkan dalam 3 infotainment yang berbeda. Apakah ini gejala para wartawan kekurangan ide dalam mencari berita ? bisanya cuman copast doang …

  11. Sandy Eggie,
    Saya jarang kok nonton televisi, paling-paling Metro TV…kadang-kadang menonton yang lain kalau ada film cerita, biasanya juga bosen karena kebanyakan iklan….jadi malah tertidur ditengah iklan…gantian TV nya yang nonton orang tidur.

    Rickisaputra,
    Saya tak alergi terhadap tayangan infotainment, tapi saya tak mendapat manfaat dengan menontonnya. Setuju…lebih enakan nonton Metro TV atau TV luar, sekaligus melatih bahasa Inggris.

    Adipati Kademangan,
    Jika jenuh kemungkinan akan berkurang. Mudah2an pengelola program segera mendapatkan ide untuk tayangan lain yang lebih bagus dan bermanfaat.

  12. Infotainmen di sini ketularan acara serupa di Amerika. Karena orang-orang setiap hari nonton TV (yang kebanyakan acara hiburan), mereka jadi kenal berbagai figur publik. Mereka jadi penasaran tentang kehidupan berbagai figur publik tadi. Stasiun TV sukses menciptakan permintaan. Salam kenal!

  13. Mengapa orang suka nonton infotainment? Masih mudah dijawab,”untuk gosip kalau lagi gaul…”

    Lah kalau fashion TV gimana? Ini bisa bikin acara baju semua padahal aku ndak yakin orang yg nonton pingin lihat baju. πŸ˜›

  14. televisi tidak akan memutar acara infotainment tersebut kalau tidak ada penggemarnya. ternyata diluar dugaan kita, masyarakat kita ternyata sangat menyukainya terbukti hampir semua stasiun TV pasti ada acara ini. selain ladang iklan bagi televisi ternyata selebriti sendiri kadang juga sangat memerlukan acara ini untuk numpang populer juga

  15. Saya nggak tau ciri masyarakat seperti apa yang tengah “menjangkiti” Indonesia… πŸ™‚

    Masalahnya, seringkali rating dan banyaknya penggemar acara infotainment (berbanding lurus dengan iklan/income) yang menentukan arah pertelevisian kita.

    Menurut saya ada 5 jenis acara yg sekarang mendapat penggemar yg lumayan banyak : berita, sinetron, infotaiment, program musik, dan talk show/variety show (termasuk kontes-kontesan). Dan semua memang punya penggemar sendiri-sendiri.

    Infotainment dari asal katanya bisa berarti menggabungkan info (berita) dan entertainment (hiburan). Tapi yang saya lihat kok jadi kebanyakan mengumbar gosip yang sering jadi pembunuhan karakter. Dan sialnya, banyak juga selebritis yang justru senang kalau dirinya, walaupun masalahnya pribadi, diumbar di depan tivi dan ditonton jutaan pemirsa, tanpa merasa malu.

    pergeseran nilai atau sensation seeking ? πŸ™‚ ah, nggak terlalu ngerti saya, bu. televisi memang hidup dlm dunia permintaan-penawaran yg sangat kental.

  16. antarpulau

    memang kultur manusia selalu berkembang..
    yang jadi masalah adalah: seringnya perkembangan kultur mengarah keluar dari nilai-nilai hakiki, menyimpang jauh dari tujuan moral dasar dari setiap masyarakat di suatu daerah…..

    Melihat fenomena kultur yg sekarang, saya pribadi prihatin…
    Akan kemana masyarakat kita, bangsa dan negri ini dibawa oleh kultur yg sekarang…?

  17. perlu diingat kecenderungan kelurga sekarang dua orang tua bekerja. anak ditinggal dengan pengasuh. infotainment jadi santapan anak sehari-hari. untungnya saya langganan babytv dan sebangsanya. jadi, relatif gampang pilih tontonan buat anak saya.

  18. Mardies,
    Salam kenal juga…..hmm iya sih, banyak tayangan kita mendapat inspirasi dari budaya Barat, dan ternyata sambutan masyarakat meriah, jadi ya jalan terus.

    Bank_al,
    Kalau lagi tugas saya suka nonton tayangan fashion di TV (daripada sinetron terus ada hantu2an…lha di kamar hotel kan tidur sendiri), atau acara MTV….lebih aman. Musik cuma untuk didengarkan (Nggak bisa nyanyi) dan fashion hanya untuk dilihat (bajunya aneh-aneh dan menarik…tapi belum tentu cocok dengan badan saya). Lha infotainment….menontonnya sambil melongo…kok ada ya kejadian seperti itu.

    Totoks,
    Yang jelas selebritis memang ingin populer, kadang sengaja bikin gosip biar diingat orang…walau ada selebritis yang hidupnya lurus, tanpa gosip…seperti Christine Hakim….tapi dia emang lain kok.

    Pyrrho,
    Kalau musik saya masih tertarik, paling tidak seseorang berjuang untuk mendapatkan hasil yang baik, entah itu ajang AFI, Indonesian Idol, Mamamia dll. Sinetron aja kadang ceritanya kalau nggak nangis, teriak, marah-marah….akhirnya cuma nonton sinetronnya bang Dedy Miswar….

    Antarpulau,
    Selama masih menghasilkan, pengelola program masih akan melanjutkan programnya, entah itu berguna bagi masyarakat atau tidak.

    Sitijenang,
    Itu juga yang saya pikirkan….karena bekerja di rumah juga kadang bukan pilihan, karena tak semua orang mampu melakukannya. Kadang isteri bekerja di luar juga untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu, disamping memang jika hanya dari suami, gaji hanya pas untuk makan…jadi isteri perlu menambahkan agar anak-anak mampu mendapat pendidikan yang baik. Pilihan yang sulit…yang tak terjadi di zaman ibu saya masih ada…

    aRul,
    Menonton infotainment bukan hal dilarang, dan membuat kita tercengang-cengang…..tapi melihat data yang disajikan Kompas…berarti masyarakat sudah kecanduan tontonan itu…bayangkan 210 episode per minggu.

  19. waduh.. saya suka menonton infotainment. Saya suka berita keartisannya. Tapi Kalau berita kalau berita permasalahan pribadi, seperti kasus cerai, malas nontonnya. apalagi diulang2..

    @bank_al
    baju nomor 2.. hehehe ^^

  20. Iko

    Tontonan di televisi sekarang ini lebih banyak membawa dampak kebodohan bagi penontonnya, kurangnya tayangan yang bersifat edukasi salah satunya. Nah sekarang lebih banyak tayangan gosip dan cerita2 aneh yang gak jelas… :D. Dan sayangnya, rating tayangan itu tinggi, ckckckck… yang salah siapa yaaa???

  21. OPTIMIS VERSUS PESIMIS

    ORANG OPTIMIS BUKANLAH ORANG YANG KARENA MELIHAT JALAN MULUS DI HADAPANNYA, TETAPI ORANG YANG YAKIN 100% DAN BERANI UNTUK MENGATASI SETIAP TANTANGAN YANG MENGHADANG.

    Ada 2 macam manusia dalam menyikapi hidup ini, satu sikap orang yang pesimis dan ke-dua adalah orang yang bersikap optimis.

    Tipe pertama orang pesimis, bagi orang pesimis kehidupannya lebih banyak dikuasai oleh pikiran yang negatif, hidup penuh kebimbangan dan keraguan, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, kepercayaan dirinya mudah goyah dan mudah putus asa kalau menemui kesulitan atau kegagalan, selalu mencari alasan dengan menyalahkan keadaan dan orang lain sebagai proteksi untuk membenarkan dirinya sendiri, padahal di dalam dirinya dia tahu bahwa betapa rapuh mentalnya, orang pesimis lebih percaya bahwa sukses hanyalah karena kebetulan, keberuntungan atau nasib semata.

    Tentu orang dengan sikap mental pesimis seperti ini, dia telah mengidap penyakit miskin mental, jika mental kita sudah miskin, maka tidak akan mampu menciptakan prestasi yang maksimal dan mana mungkin nasib jelek bisa dirubah menjadi lebih baik.

    Tipe ke 2 adalah orang optimis, bagi orang yang memiliki sikap optimis, kehidupannya didominasi oleh pikirannya yang positif, berani mengambil resiko, setiap mengambil keputusan penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang mantap. orang optimis bukanlah karena melihat jalan mulus di hadapannya, tetapi orang yang mempunyai keyakinan 100% dalam melaksanakan apa yang harus diperjuangkan, orang optimis tahu dan sadar bahwa dalam setiap proses perjuangannya pasti akan menghadapi krikiil -krikil kecil ataupun bebatuan besar yang selalu menghadang!

    Orang optimis siap dan berani untuk mengatasi masalah atau kesulitan yang merintanginya, Bahkan disaat mengalami kegagalan sekalipun tidak akan membuat dia patah semangat, karena dia tau ada proses pembelajaran disetiap kegagalan yang dia alami.

    Tentu orang yang punya sikap mental optimis demikian adalah orang yang memiliki kekayaan mental. dan Hanya orang yang mempunyai kekayaan mental, yang mampu mengubah nasib jelek menjadi lebih baik.

    Jika anda, saya dan kita semua secara bersama-sama mampu membangun kekayaan mental dengan berkesinambungan, mampu menjalani hidup ini dengan optimis dan aktif, tentu secara langsung akan berpengaruh pada kehidupan kita pribadi serta kehidupan keluarga, dan dari kehidupan keluarga -keluarga yang semangat, optimis dan aktif akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas, yang pada akhirnya akan menjadi kekuatan sinergi sebagai kontributor dalam membangun Indonesia sekaligus mengembalikan jati diri bangsa! Kalau bukan kita yang membangun Indonesia, lalu siapa?

    http://www.lcc-ptc.com

  22. Justru berita-berita seperti itu yang bisa naik-in rating mereka di mata masyarakat kita yang masih di-buai dengan se-juta mimpi yang cenderung mem-benar-kan apa yang di-lihat, tanpa ada proses filterisasi.

    Aku setuju dengan ide-nya untuk lebih ber-hati-hati dengan kondisi ini πŸ˜‰

  23. Bagi kita mungkin acara infotainment itu gak penting, seperti halnya sinetron-sinetron gak mutu itu πŸ˜€ Tapi nyatanya memang ada peminatnya, dan itu banyak sekali. Tentu saja perbedaan pandangan itu menunjukkan demografi pemirsa TV kita berdasarkan jenis kelamin, kelas ekonomi, pendidikan, kota besar/kota menengah/kota kecil/desa, dll.

    Nah tayangan2 “gak mutu” itu mungkin diminati oleh masyarakat non blogger yang jumlahnya jauh lebih besar sehingga masih banyak diputar oleh stasiun TV, yang notabene berada di segmen berbeda dibanding rata-rata blogger.

    Yang diperlukan sekarang adalah ketegasan KPI dalam menyikapi hal2 yang sudah melanggar etika jurnalistik maupun norma2 yang berlaku di masyarakat.

  24. Iko,
    Adakah yang pernah meneliti, tayangan infotainment lebih banyak siang atau malam? Jika banyak siang hari, berarti penontonnya adalah orang-orang yang bekerja di rumah, yang punya waktu untuk menonton. Kalau pekerja kantoran, kan menontonnya hanya bisa hari libur.

    lccptc,
    Belum tentu dilihat dari optimis vs pesimis, kadang menonton hanya karena iseng. Sama seperti membaca majalah hiburan, karena sudah lelah bekerja seharian, ingin membaca yang santai, supaya pikiran ikut santai dan bisa tidur nyenyak.

    Extremusmilitis,
    Yup…kalau hanya dilihat sesekali nggak apa-apa, lha kalau terus menerus, rasanya kan nilai tambahnya nggak ada.

    Andri,
    Memang infotainment ada, karena ada yang melihat. Cuma bagaimanapun dalam marketing ada unsur mengedukasi konsumen, sehingga kalau kita punya etika…menganut falsafah Jawa..ngono ya ngono ning ojo ngono…jangan kebablasan. Terus terang saya kaget baca hasil penelitian pak Agus yang dimuat di Kompas, bayangkan 210 episode per minggu…..

  25. sebenernya aku gak gitu suka nonton infotaintment bu, tapi temen2 kantor pada suka terutama ibu2 dan tivi itu ada di depan meja saya….. jadi mau gak mau telingaku sering panas dijejali cerita ttg para selebritis itu

  26. Infotainment adalah salah satu acara yang saya tidak suka setelah itu baru Sinetron.
    Saya pikir memang kehidupan pribadi sesorang tidak patut dijadikan bahan cari duit alias kerjaan. Jika ingin menghargai hasil karya seni seseorang nikmatilah hasil karyanya bukan kehidupan pribadinya. Sayangnya, banyak artis yang ingin terkenal dengan memblow up kehidupan pribadinya. tau ah .. gelap … πŸ™‚

  27. wah, bu enny, agaknya infotainment yang ditayangkan TV itu sudah menjadi bagian dari sebuah industri yang dikibarkan oleh kaum kapitalis alias para pemilik modal. mengapa mereka tergerak utk menggarap acara sebar aib keluarga semacam itu? walah, menurut hemat saya karena masyarakat justru senang melihat tayangan spt itu. para pemilik modal mesti ndak mau buntung. banyaknya penonton berarti meningkatnya penghasilan karena banyak iklan. kalo menurut saya seh sebenarnya masyarakt perlu memiliki filter yang kuat untuk membentengi diri dari pengaruh2 yang kayak begituan biar ndak jadi korban kaum kapitalis yang hanya cari untung.

  28. Pinkina,
    Itulah, kadang kita terpaksa ikut mendengarkan. Sesekali lucu juga, tapi kalau kasusnya diulang-ulang terus, ya bosen banget. Entah kapan jenuhnya.

    Andi,
    Mudah2an yang masuk infotainment hanya artis saja. Saya pernah berkata pada anakku…”Untung kalian tak ada yang ingin jadi artis, jadi rumah ibu tenang…” Hehehe…nggak kebayang dikejar-kejar wartawan hanya untuk ditanya hal-hal tak masuk akal.

    Sawali Tuhusetya,
    Memang sulit pak, pengelola program hanya melihat dari segi keuntungannya saja….tak melihat kebutuhan pendidikan anak-anak di Indonesia, dan risikonya.

  29. pembantu saya di rumah, tiap jam 15.00 udah duduk manis di depan tv, alesannya nda mau ktinggalan kasak kusuk lah, cek dan ricek lah kabar kabari lah, duhhh sebegitu kuatkah pengaruh infotainment?

    bahkan anak tetangga saya juga smpi tahu gosip yg sedang in…..

    saya lantas bertanya kerja kpi apa?

  30. Kalau saya sih tetap berteori bahwa dengan posisi tv sekarang, apa pun yang mereka tayangkan akan diminati oleh banyak orang. Jadi, mereka sebetulnya nggak perlu takut dengan rating yang aslinya menyesatkan. Tinggal sekarang pihak TV-nya aja punya itikad baik atau tidak. Rasanya sih sampai sekarang, mereka belum niat untuk ganti acara. Padahal, sudah banyak pihak yang ‘menyesalkan’ secara terbuka content acara TV sekarang.

    Hanya opini, tanpa fakta, apalagi sampai penelitian…:D

  31. mungkin juga karena orang nonton karena pengen hiburan, bukan karena pengen punya ilmu. karena orang capek, orang butuh hiburan. butuh yang ringan. makanya salah satu waktu puasa saya suka nonton itu sinetron para pencari tuhan. ringan, menghibur, bermakna πŸ™‚

  32. dari kacamata industri kreatif, infotainment di Indonesia sangat menjanjikan dan membei harapan penghidupan lebih baik.

    Dari PH, driver, kameramen, artis, pengiklan, tabloid, hakim pengadilan agama, kaka ipar, ibu mertua, mantan teman kos, tetangga….si artis yang naik pamor.

  33. Aprikot,
    Yang berbahaya adalah anak kecil, yang belum terlalu paham, sehingga bisa dianggap apa yang ditayangkan TV wajar untuk kehidupan sehari-hari. Hmm ya…inforainment memang diminati para pembantu, …

    Nita,
    Nggak nonton tak ada ruginya kok….saya juga jarang nonton TV…..

    Donny Reza,
    Kita berharap pemilik stasiun TV juga memikirkan risiko untuk kemajuan bangsa…..dan ini perlu ulasan atau dorongan dari media cetak..yang saya lihat masih ada beberapa media cetak yang isinya masih bertanggung jawab, dan tak asal memuat berita apa saja.

    Edo,
    Kalau sinetron “Para Pencari Tuhan” memang bagus…menghibur, sekalian memberi penyuluhan tanpa terlihat menggurui….salut untuk bang Dedy Miswar.

    Don Kisot,
    Betul juga, tapi kita juga perlu adanya tanggung jawab moral, karena pendidikan masyarakat di Indonesia belum merata, tak semua orang bisa memilah apa tayangan tadi sekedar hiburan…bisa mempengaruhi kultur budaya apa tidak. Betapa banyaknya perusahaan yang sudah sadar diri, untuk meningkatkan budaya kerja, lha ini yang untuk masyarakat umum, tak memikirkan kesitu. Bagi orang berpendidikan, tayangan apapun risikonya kecil…ini kalau kita menilai dari sisi risiko.

    Mas Kopdang,
    Betul juga, jika hanya dilihat dari kacamata bisnis. Tapi apakah tak ada acara lain yang bisa menghibur? Atau, kalaupun ada tayangan infotainment, tak sebanyak sekarang….bayangkan 210 episode per minggu.

  34. Verlita,
    Kalau sesekali memang asyik juga, bahkan terbengong-bengong…ternyata apa yang ada dalam cerita sinetron, juga terjadi di dunia nyata. Cuma kalau terus-terusan, di ulang-ulang…ya bosen dan ga ada nilai tambahnya.

  35. saya juga baca artikel yang sama di Kompas. makin menghawatirkan. berita gossip sudah menjadi candu layaknya rokok dan narkotika.

    saya sendiri kadang seperti “dipaksa” untuk nonton tayangan seperti itu, karena memang ada jam-jam khusus yang seluruh TV entah kenapa jadi kompak. kalo nggak gosip, ya sinetron!

    jika ada koran atau buku atau DVD saya jadi punya pilihan lain, tapi kalo lagi nggak ada, ya saya nikmatin juga acara seperti itu…

  36. Isnuansa,

    Yang mengkawatirkan adalah jika yang menonton masih di bawah umur….jadi ingat ayah alm, dulu untuk membaca buku saja, ayah menyeleksi dulu bukunya. Anak-anak langganan majaalh juga masih diseleksi…lha kalau nonton? Pas siang dan ortu tak di rumah?

  37. Bagi saya infotainment sama saja dengan berita yang lain: politik, ekonomi, sosial, dll. Ada pelajaran yang bisa dipetik dari situ. Bisa membuat perenungan bagi banyak orang, tapi bisa juga cacian, hujatan… Sama seperti berita minyak tanah yang langka atau penggusuran gubuk-gubuk liar.
    Tapi memang, dibanding news yang lain, berita2 infotainment lebih banyak mengundang pergunjingan/ ghibah. Dengar saja pagi-pagi di tukang sayur…

  38. Nurussadad,
    Kalau tontonannya sih kadang kita cuma geli …kok ada ya kejadian seperti itu. Yang dikawatirkan efeknya bagi anak-anak.

    Dekisugi,
    Yup, kita ada di dunia fana. tiada yang abadi

    Ratna,
    Bagi orang dewasa, memang banyak pembelajaran yang didapat, tapi kan tak semua orang memahami hal itu. Apalagi, sebagian besar yang dilihat hanya gosipnya, bukan inti pembelajarannya.

  39. Kenyataan yang menyedihkan mungkin ya bu, tapi mau bagaimana lagi. Kan emang masyarakat kita suka mencari justifikasi, salah satunya ya dari acara2 infotainment itu.

  40. Undercover,
    Memang sulit, jadi paling aman adalah membentengi keluarga sendiri agar tak terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik. Walaupun menjadi ortu menjadi lebih berat lagi.

  41. Dulu waktu saya masih belum dapat kerja, sempat takjub juga. Tiap ganti channel TV, jam berapapun selalu ada acara gosip. Kalo cuma sedikit sih lumayan menghibur tapi lama-kelamaan bosan juga. Apalagi setelah makin lama beritanya makin diada-ada.

    Akhirnya sekarang channel favorit saya : Metro TV karena ga ada acara dangdut (yang goyangannya bikin malu sendiri saking sarunya, sinetron, mistis dan infotainment)

  42. ini adalah masalah klasik Media kita sekarang. Terutama elektronik (mungkin juga blog)..

    antara idealisme dan pasar…

    atau malah bisa jadi keduanya, Bu..
    IDEALISME PASAR :p

  43. Awan Sundiawan,
    Mungkin pak, tapi jangan sampai melebar, masyarakat umum juga sampai ingin mengikuti gaya hidup yang kurang baik. Karena diantara para selebritis saya yakin banyak juga yang gaya hidupnya wajar, tapi mungkin kurang menarik untuk diberitakan…

    Utaminingtyazzzz,
    Syukurlah, kami karena langganan Kabel Vision, selain bisa internet, dapat saluran TV dari berbagai negara. Anak-anak lebih menyukai film kartun atau acara lain selain infotainment….juga bisa improve bahasa Inggris.

    Leksa,
    Idealisme sering kalah dengan tuntutan pasar? Siapakah yang dimaksud pasar tsb? Sebetulnya segelintir orang yang punya kekuasaan dan uang untuk mempengaruhi pasar…padahal pasar juga bisa di edukasi…ini memang perlu usaha yang lebih keras sih.

    Blog? Mudah2an pemilik blog di Indonesia juga beritikad baik, untuk tak sekedar mengejar banyaknya trafik…

  44. Ping-balik: ThrowInside » Alkisah Indonesiaku : Merubah Budaya Negatif menjadi Positif

  45. nggak punya tipi! jadi jarang nonton gosip, tapi tiap pagi pasti mampir ke detikhot πŸ˜† dan klo pas di rumah yg ada tipinya, daripada nonton sinetron gak puguh, selalu nyari acara gosip aja deh… soalnya infotainment kita juga udah sama kayak sinetron gak puguh sih…

  46. Ruthwijaya,
    Udah balik lagi…bagaimana perjalanan pulang kampungnya.
    Infotainment memang menggelikan dan menyegarkan, asalkan pemirsanya telah dewasa dalam pemikirannya. Karena kita jadi memahami ternyata di dunia banyak kejadian yang aneh-aneh…tapi kalau dilihat dari nilai edukasi nya sangat kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s