Mengapa menulis?

Ada berbagai ragam alasan seseorang, mengapa menulis. Bagi penulis sekaliber Clara Ng, menulis karena hidup lekang, sementara imaginasi seluas alam semesta. Juga karena tidak punya sayap, sementara komitmen seni dapat mengantar Clara terbang ke langit ketujuh. Bagaimana dengan Langit Kresna Hariadi, yang lebih banyak menulis cerita atau novel berlatar belakang sejarah? Dalam blognya , Langit menyatakan bahwa “imagination is more important than knowledge

Dari kedua pendapat pengarang yang telah mengeluarkan beberapa buku dan mendapat banyak sambutan dari pembaca, membuat saya memikirkan ulang pertanyaan tersebut, mengapa saya menulis, walau hanya menulis di blog? Apa yang saya inginkan? Apa tujuannya? Betulkah hanya sekedar untuk sharing pendapat, sharing pengalaman?

Menulis, walaupun hanya menulis di blog, tetap membutuhkan pertanggung jawaban, karena kita tidak tahu siapa saja yang membaca blog kita, berapa tingkatan umur pembaca, apa latar belakang pendidikannya, dan sampai dimana pemahaman dia terhadap budaya, pengetahuan, serta hal-hal lainnya. Apalagi menulis di blog, yang siapapun bisa bertamu dan memberikan jejak komentar disitu. Betulkah menulis blog adalah sederhana, apapun yang ada dipikiran kita dapat langsung dituliskan?

Sering saya mengagumi tulisan rekan-rekan yang begitu indah, ada tulisan yang mencerahkan, namun juga ada tulisan yang menimbulkan kontroversial. Semua adalah sah saja. Tapi betulkah menulis di blog tak perlu ada aturan tak tertulisnya? Orang bisa menulis apa saja? Jika menulis novel untuk dijual, maka penulis akan mempertimbangkan betul bahasa yang digunakan, disesuaikan dengan segmen pembacanya, serta apakah isu yang dibawakan menarik, karena menulis novel memerlukan waktu lama, serta melibatkan editor, penerbit, serta apabila tidak laku dijual atau tak diterima pembaca, maka akan menimbulkan kerugian.

Jujur saja, saya belum mempertimbangkan banyak hal saat mulai menulis di blog, karena pada saat itu hanya mencoba mencurahkan pengalaman hidup yang telah saya jalani, dan menyadari jika hidup saya tidak kekal, sehingga ada keinginan untuk memberikan sesuatu yang saya miliki, paling tidak buat anak-anak saya, keponakan-keponakan saya, murid-murid saya, siapa tahu pengalaman tersebut berguna. Namun pada akhir-akhir ini saya merenung kembali, betulkah hanya itu tujuannya, apakah saya tak ingin meningkatkan kualitas tulisan? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat menggoda, tapi juga memerlukan ruang dan waktu untuk membuat menjadi nyata.

Mudah-mudahan suatu ketika saya dapat mewujudkan angan-angan itu, tak sekedar menulis yang remeh temeh, namun bisa membuat tulisan yang memang berguna bagi para pembaca. Apapun, saya berterimakasih kepada para pembaca blog ini, yang ternyata menyebar diluar anak, teman-teman anak, keponakan ……dan banyak memberikan pencerahan bagi saya, serta membuat saya ingin terus menulis, betapapun ringannya tulisan tersebut.

Iklan

27 pemikiran pada “Mengapa menulis?

  1. coba nggambar aja bu πŸ˜€

    Sandy,
    Saya nggak bakat menggambar, makanya saat SMA seneng karena tak ada pelajaran menggambar lagi…
    Saya ga bakat menggambar, masih mendingan diajak berpikir matematika atau berhitung…..

  2. Betul bu, prioritas dalam menulis.
    ada kalanya kita memang tergoda dengan BOTD, koment dan hal lain.
    Namun ternyata blog adalah media, tempat penyampaian ide-ide kita πŸ˜€
    -maaf bila sok tahu-

    Goop,
    Makasih…kadang memang tergoda lihat botd…tapi biasanya saya sekedar pengin tahu penulis lain yang masuk botd untuk membaca tulisannya, bukan agar tulisanku masuk botd. Karena saya tak tahu juga apa kriteria masuk botd…kayaknya dari banyaknya pengunjung ya. Karena saya lihat banyak kok tulisan bagus, tak masuk botd.

  3. saya kadang beranggapan semua dalam proses bu. seperti saya sendiri yang pernah menanyakan pendapat orang di blog saya. sebagai orang yang malas menulis, target awal saya cuma 1 : just write. mulai suka, lalu terus menulis. hanya untuk konteks ejakulasi pemikiran pribadi, lalu mulai terasa blog tidak hanya bisa untuk mencurahkan, tapi berdiskusi. than, mulai mempertimbangkan efek terhadap pembaca, tanpa kehilangan jati diri.

    tapi saya bahkan berfikir lebih gila lagi. blog tidak hanya sebuah diary online. tapi bisa menjadi media to bring dan change.

    andai para pembaharu, orang2 yang bisa memberikan pencerahan dan membawa perubahan atas mind set terhadap masyarakat Indonesia agar terus tumbuh dan maju lebih baik. sebuah impian yang sangat indah…

    tapi yang jelas bu, blog adalah media silaturrahmi. ngga kebayang bagi saya mengenal dan diberi kesempatan berdiskusi dan belajar dengan ibu misalnya πŸ™‚

    honestly, saya bersyukur telah mengenal seorang ibu enny…

    Edo,
    Betul, blog adalah media silaturahmi, dan tanpa disadari kita akan memilih blog-blog tertentu yang kita kunjungi secara rutin jika punya waktu, dan biasanya adalah blog yang menurut kita punya life style yang sama.

  4. …ada keinginan untuk memberikan sesuatu yang saya miliki…

    sangat setuju dng poin itu πŸ™‚

    Edy,
    Makasih…..
    Memang betul, menulis adalah menuangkan pikiran kita, membagi pengalaman yang diharapkan berguna bagi pembaca…

  5. mewartakan sesuatu apapun dalam bentuk tulisan, menjadi sebuah kenikmatan sekaligus ibadah lho

    Mas Iman,
    Betul….saya jadi ingat pak Kamardy Arief, mantan Dirut BRI…beliau mengatakan agar saya terus menulis, terutama pengalaman dan ilmu yang bisa dibagi pada orang lain. Ini juga merupakan ibadah, apalagi jika saya mau menjawab pertanyaan orang yang ingin mengetahui lebih banyak dari apa yang pernah kita tulis. Memang perlu waktu untuk menjawab, tapi kalau punya waktu luang, saya senang bisa menjawab pertanyaan teman-teman melalui japri.

  6. klo aq, nulis untuk diriq dan dirinya dan diri2 yang lain..
    Dirimu juga koq…. he he he

    Nurussadad,
    Itu merupakan awal yang baik….dengan terus menulis diharapkan isi tulisan juga makin beragam.

  7. Ah, saya selain keinginan memberi sesuatu, juga ingin mengeluarkan sebagian isi kepala saya, daripada dipendam dan dikeluarkan secara oral, juga lewat tulisan. :mrgreen:

    Gunawan Lee,
    Yup saya setuju….bisa meringankan isi kepala, tapi menulis di blog tetap harus ditata ulang, agar tak menimbulkan persepsi yang jauh berbeda.

  8. Tukang Ketik

    nice post

    inspiratif

    kalau saya sih, menulis supaya membahagiakan orang lain dengan bikin yang lucu2. walaupun saya orangnya ga lucu

    hehe

    regards,
    http://adiwirasta.blogspot.com

    Adi,
    Iya nih gambarmu lucu-lucu, walau sebenarnya Adi pendiam. Tapi tak semuanya berbakat menggambar atapun melucu, juga menulis….

  9. terus terang saya ndak pernah memikirkan kenapa saya menulis? jadi saya sering bingung menjawab jika ada orang yang bertanya seperti itu. entahlah … mungkin karena ada semacam dorongan, gairah, dalam diri untuk menulis, untuk berbagi dengan orang lain mengenai apa saja. saya tak begitu yakin jawabannya. πŸ˜€

    Ndoro kakung,
    Betul ndoro…saya setuju, kadang ada semacam dorongan untuk menulis, untuk berbagi pada siapa saja. Bagi saya, ndoro sungguh hebat, selalu ada ide untuk ditulis…kemampuan ini yang tak saya miliki.

  10. bikin buku dong bu πŸ˜‰
    nampak seru sepertinya πŸ˜€
    klo saya mah nulis itu msh sebatas curhat dan berbagi pengalaman aja hehehe….

    Poppy,
    Bikin buku??….Lha mencoba menulis rutin aja sulit, apalagi buat buku. Tapi, siapa tahu?

  11. Mudah-mudahan suatu ketika saya dapat mewujudkan angan-angan itu, tak sekedar menulis yang remeh temeh, namun bisa membuat tulisan yang memang berguna bagi para pembaca

    si ibu merendah.. begini, ada banyak hal yang kita biasa, bahkan remeh temeh, tetapi bagi orang lain bukan hal biasa dan mereka dapat menangkap value dari hal yang ibu anggap biasa tsb. Saya pribadi merupakan satu bagian dari kata “mereka” barusan πŸ™‚ Terima kasih ya, sudah menulis banyak hal2x yang mencerahkan saya, semoga selalu sehat dan sukses, tercapai cita2 nulis sesuai dgn yg diidam-idamkan.

    Arie,
    Makasih ya, justru komentar seperti Arie ini yang membuat semangatku muncul lagi…..dan kadang kalau lagi malas, merasa ada yang menunggu tulisanku….ini yang membuat saya harus menyemangati diri sendiri untuk terus menulis.

  12. saya juga menulis diblog ini juga isinya masih remeh temeh, selain sharing apa yg menjadi pengalaman saya, saya juga berharap dapat meningkatkan kualitas menulis saya dengan berlatih menulis dan membaca tulisan orang lain. perkara nanti ternyata bisa dinikmati orang lain ya saya juga ikut senang dan bangga tentu saja πŸ˜€

    Totok,
    iya betul…kadang begitu nggak pedenya, sampai ingin menghapus tulisan yang udah di posting. Lha, ternyata kok udah ada yang menanggapi? Hal-hal seperti ini membuat saya lebih berani menulis.

  13. sapa tau dengan menulis, ada yang terinsiprasi lalu melakukan kebaikan. maka kita pun ikut mendapatkan kebaikan itu bu, insyaAllah πŸ™‚

    welcome back bu,
    and,
    saya berangkat ke field lagi hehe

    Trian,
    Iya, udah kembali hidup normal…semoga semuanya kembali lancar, seperti air mengalir dan sempat mengisi tulisan di blog, sempat berjalan-jalan ke tetangga kiri kanan.

  14. Kalau menurut saya sendiri, menulis menjadi medium yang efektif untuk mencurahkan pikiran dan opini saya. Tidak semua orang bisa bermain musik dan menggambar. Tapi siapa saja bisa menjadi penulis. Amat disayangkan kalau kita tidak mengembangkan hobi yang berguna seperti ini.

    Blog merupakan sarana yang sangat bagus untuk menyalurkan pendapat dan gagasan kita, karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menulis di surat kabar.

    Calvin Michel Sidjaja,
    Media blog memang sarana untuk mencoba menulis….dan semoga tulisan makin bagus….karena ini merupakan media untuk berani menulis.

  15. writing is fun ..
    dari sekedar “remeh temeh”, bagi2 cerita, curhat, sampe sharing knowledge ..

    apalagi klo nulis di majalahnya TSI Bu.. dikasi duit, hehehehe

    Aldi,
    Betul juga sih…nulis di majalah kantor ada honornya..kalau di blog untuk sharing pengalaman.

  16. jadi merenungi kembali tulisan-tulisan saya, apa memang bisa dipertanggung jawabkan ya!

    Peyek,
    Minimal tulisannya tak membuat orang saling berdebat kusir yang tak ada hasilnya. Tapi kalau perdebatan menghasilkan hal-hal yang positif dan membangun, hal itu layak diteruskan.
    Btw, thanks telah mampir.

  17. Fungsi blog saat ini mungkin bukan hanya sekedar pertukaran informasi melainkan juga sebagai salah satu alat sosialisasi. Tentu dalam hal bersosialisasi unsur2 emosi dan perasaan jadi terlibat dan seringkali dituangkan ke dalam tulisan, baik perasaan negatif maupun positif. Mungkin itulah yang menyebabkan tulisan2 di blog menjadi kompleks, unik dan tak jarang menarik dan bahkan membingungkan.

    Selama semua itu masih sah2 saja dan tak ada regulasi yang mengatur, tentu filter ada dalam diri kita sendiri dalam memilah2 mana informasi berupa fakta, mana opini pribadi, mana yang fiksi, dan lain-lainnya…. Mudah2an kita lama2 menjadi terbiasa dengan berbagai macam tulisan blog yang disajikan sehingga filter dalam diri kita dapat bekerja dengan baik…….

    Kang Yari NK,
    Membaca blog memang membuat ketagihan, tulisan sangat bervariasi, dipengaruhi sifat dan kondisi para penulisnya. Dan kita harus mempersiapkan mental juga, karena begitu bervariasi nya, kadang menimbulkan kebingungan dalam menafsirkan isi tulisannya. Btw semuanya menarik…..

  18. Setuju dengan Poppy. Bikin buku saja, Bu. Tulisan Ibu Enny bagus untuk dibagi pada publik yang lebih luas.

    Tulisan berjudul “mengapa menulis” ini saya bawa hingga malam sebelum tidur. Jadi sebuah renungan. Dan sukur sekali, ada hikmah yang bisa dipetik.

    Saya sampai googling, bertanya “mengapa menulis?” pada google.

    Dari hasil googling itu, saya terdampar di di dua buah tulisan. Satu tulisannya Pram (Pramudya Ananta Toer) yang amat terkenal, yaitu beliau menulis, “Menulis itu bekerja untuk keabadian…”.

    Satu lagi, saya terdampar ke websitenya Forum Lingkar Pena Sulawesi. Dimana ada judul tulisan “Aku Menulis Maka Aku Ada” (plesetan dari Cogito Ergo Sum Descartes). Isinya sebuah tulisan. Pendek dan menarik, yaitu;

    “Menulislah! Maka kamu ada”

    Pada intinya, saya yakin saya dapat kesempatan untuk berkenalan dengan Ibu dan pembaca blog ini karena saya menulis. Dan karena Ibu dan pembaca lainnya juga menulis.

    Terimakasih

    Bangaip,
    Wahh makasih…saya jadi terpacu nih, tapi akhir-akhir ini memang terlalu lelah untuk buka-buka buku atau membuat materi tulisan yang lebih baik. Jadilah cuma menulis yang santai aja….atau sekedar berbagi pengalaman.
    Betul…menulis memang diperlukan, saat bekerja saya harus bisa menulis, terutama untuk meyakinkan bos bahwa usulanku menarik ditinjau dari berbagai sudut Tulisan selanjutnya merupakan bahan untuk presentasi atau untuk dibawakan dalam seminar, sehingga harus bisa menarik audien. Cuma memang agak beda dengan menulis di blog, yang audiens nya lebih luas, dan sulit membuat segmentasinya.

  19. Mulanya memang untuk share, tapi kemudian pada akhirnya tulisan-tulisan yang ingin saya buat berusaha untuk ‘menyebarkan’ nilai-nilai yang saya anut…atau mendekati itulah. Bisa dikatakan arahnya untuk dakwah, meskipun sebetulnya tulisan-tulisan yang saya buat dirasa belum terlalu mencerahkan.

    Donny Reza,
    Tulisan memang bisa digunakan untuk pendidikan, dakwah dan untuk kebaikan.
    Dulu, para penulis sastra roman pun berbuat seperti ini, seperti halnya STA, Abdul Muis dan kawan-kawan.

  20. Dear Ibu Ratna,
    Salam kenal. Kalau boleh tahu apakah Ibu juga anggota milis iom-itb ?. Kalau ya, berarti saya adalah salah seorang yang selalu mendapat sharing tulisan Ibu melalui milis tersebut.

    Saya termasuk orang yang kagum kepada orang-orang yang suka menulis. Itulah sebabnya sebagian waktu saya, saya gunakan untuk BW walaupun tidak selalu meninggalkan jejak di blog yang saya kunjungi.

    Sebetulnya sudah pernah mengunjungi Ibu disaat Ibu bercerita tentang Gara-gara Menulis di Blog (?, agak lupa he..he..), tapi ketika akan meninggalkan pesan dikejutkan oleh teriakan manja mamanya anak-anak “Pa, ayo berangkat, nanti pestanya keburu bubar” langsung “Shut Down” he…he…

    Terus berkarya Bu, terus menulis……

    Herri,
    Hallo pak…iya, saya dulunya anggota milis iom_itb, sejak anak bungsuku diterima kuliah di kampus gajah tersebut. Terus setelah saya pensiun, saya nggak meneruskan ikutan milis (dulu milisnya melalui email kantor, dan langsung berhenti setelah pensiun). Anak bungsuku udah lulus dari ITB dan sekarang melanjutkan ke S2 di ITB juga, karena berhasil mendapatkan beasiswa dari Depdiknas.

    Berarti Bang Herri anggota milis iom_itb juga ya…hehehe…dulu saya sekedar sharing cerita-cerita lucu. Gara-gara anggota milis tsb, saya dan suami banyak punya teman, suka kopdar ….bayangin kopdarnya di Cafe dedaunan Kebun Raya Bogor dimalam hari…dan setelah kenyang makan, para ortu ini bergandengan tangan melihat Kebun Raya waktu malam….hehehe….lupa umur….

  21. Salam … saya sih menulis, menulis, dan menulis aja. Kadang ngak mikiran lain. Bena ngak sih cara sedemikian?

    Pak Ersis W. Abbas,
    Saat menulis, saya mengosongkan pikiran dan hanya fokus pada apa yang ditulis. Namun di malam hari, saya suka merenung, apa yang telah saya lakukan, bermanfaatkah bagi saya dan untuk orang lain…..

  22. kalo di blog mestinya kan mengetik, bukan menulis …. (ah sudahlah yg begini saja dipermasalahkan he he)

    kalo saya menulis di blog masih sesuka hati, makanya kalo orang sunda bilang, tulisannya acak kadut :D, kadang ingin juga sih diseriusi sebagai ajang latihan curah pikiran, juga ingin sekali menulis dengan membaca referensi terlebih dahulu agar tulisannya rada2 bagus dikit

    tapi apa daya, itu semua belum bisa hiks, mungkin memang perlu banyak belajar dari bu Edratna

    btw, saran aja bu, kapan2 bikin postingan ttng tips2 menulis bu…., pasti banyak pembaca yg mengingkan deh…… atau malah sudah pernah buat ya ?

    Adit,
    Lha kalau saya bikin tulisan tentang tip menulis, nanti diketawaian orang, karena saya baru sekedar menulis.

  23. endangpurwani

    …..bahkan saat pikiran kosong tanpa point pun, enak untuk menulis. Karena menurut saya, pada dasarnya menulis itu butuh hati, untuk membuat apa yang dipikirkan menjadi enak dibaca dan tidak bersikap sembarangan asal tulis. Karena kalau hanya mengandalkan pikiran, kan bisa sangat liar dan bahkan tak berperikemanusiaan….

    selamat pagi Bu……mencoba main kesini…

    Endang Purwani
    ,
    Memang menulis harus tetap menggunakan hati dan perasaan, karena terasa juga kok bagi pembaca….
    Thanks telah berkunjung

  24. tini

    Pertanyaan-pertanyaan ini sangat menggoda, tapi juga memerlukan ruang dan waktu untuk membuat menjadi nyata.

    Ibu, dengan melihat, membaca dan mempelajari semua tulisan ibu, ibu merupakan seseorang yang memiliki komitmen yang tinggi, juga seorang motivator (khususnya untuk saya) lho karena banyak hal yang saya dapatkan dari tulisan ibu.

    Tetap semangat ya bu… dan semoga harapan ibu menjada kenyataan.

    Tini,
    Syukurlah kalau tulisan ku bermanfaat. Saya masih mencoba menulis yang pas, agar semakin banyak manfaatnya bagi orang lain…walau kadang idenya cuma berputaran di kepala, tapi sulit untuk menuliskannya. Saya kemarin tergelitik dengan tulisan pak Ersis W. Abbas, bahwa walaupun berupa diary, tulisan bisa bermanfaat jika berguna untuk orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s