Oleh: edratna | Februari 24, 2008

Empat sekawan dan cita-citanya

Alkisah, terdapat empat perempuan bersahabat, yang setiap hari menyusuri jalan dari tempat kost nya ke kampus. Mereka sedang menempuh pendidikan di suatu universitas negeri di kota hujan. Saat itu kendaraan umum belum seramai sekarang, jalanan masih sepi, dan matahari malu-malu menerangi jalanan melalui celah pohon-pohon rindang di kiri kanan jalan, sehingga jalan nyaris sejuk setiap saat.

Keempat perempuan tadi bersahabat dekat sejak tingkat satu di fakultas yang sama. Di sela-sela kesibukan, mereka berkumpul, menikmati pisang goreng dan bubur kacang hijau di kantin Departemen Gizi, serta bercanda ria. Salah seorang berkata, “nanti kalau sudah menikah saya ingin menjadi ibu rumah tangga, mendidik anak, biarlah suami yang mencari nafkah”. Pernyataan itu disambut kedua teman perempuan lainnya, dan hanya satu yang termenung, menimbulkan pertanyaan teman-temannya. “Hei, kok kamu diam saja, bagaimana tujuan hidupmu nanti setelah menikah?”

Perempuan keempat, yang berasal dari keluarga sederhana, dan berniat melanjutkan kuliah agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, terbengong ditodong teman-temannya. Dia cuma tersenyum, namun dalam hati bergumam, mengapa saya harus bersusah payah belajar, jika nantinya setelah menikah hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Mengapa saya tak pacaran saja dengan senior yang hampir lulus, dan menikah tanpa perlu menyelesaikan kuliah? Pertanyaan perempuan keempat tadi, tentunya tak mungkin diungkapkan pada sahabat-sahabatnya, karena dia merasa tak enak hati.

Alkisah waktu berlalu, setelah penjurusan, maka keempat sahabat tadi tak bisa sedekat dulu lagi, karena memilih jurusan yang berbeda. Kedua perempuan memilih jurusan yang lebih banyak melakukan penelitian di laboratorium, sedang kedua teman lainnya lebih banyak dilapangan. Perjalanan hidup yang berbeda, penelitian yang mengharuskan tidur di rumah petani dan pagi-pagi buta sudah harus bangun dan ke ladang, membuat mereka tak bisa bebas bercanda ria lagi.

Empat tahun kemudian keempat perempuan tadi lulus dan di wisuda bersama-sama, kemudian masing-masing bekerja. Kesibukan dan lokasi yang cukup berjauhan membuat mereka tak bisa saling ketemu. Tibalah satu persatu dari keempat perempuan tadi menikah. Yang pertama, menikah dengan seorang dokter, sempat berhenti bekerja selama delapan tahun saat mengikuti suami ke daerah, dan membantu merawat pasien suami. Setelah suami mengambil spesialis, sang suami yang dokter ini mendorong isterinya melanjutkan kuliah di tingkat S2, dan mendorong sang isteri berkarir untuk mengaktualisasikan diri, sehingga sang isteri bekerja kembali sampai menjadi pejabat di suatu departemen sampai sekarang. Perempuan kedua, sejak awalnya memang pandai dalam hal urusan kewanitaan, dari mulai memasak, menjahit dan sebagainya, sehingga setiap ada acara di asrama atau fakultas, dia selalu mendapat bagian bertanggung jawab di bagian konsumsi. Awalnya dia bekerja, namun setelah menikah dia berhenti bekerja dan mengikuti suami dimanapun sang suami dipindahkan. Perempuan ketiga, awalnya berkarir di suatu departemen, dan sangat sibuk dengan pekerjaannya, tetapi setelah menikah, dia memilih untuk membesarkan anak-anaknya dan tidak bekerja. Perempuan keempat, yang memang sejak awal tak sependapat dengan temannya, namun tak berkomentar, tetap menjadi seorang wanita karir, dan bahagia bersama keluarga serta suami yang mendukung karirnya. Jadi hanya kedua perempuan dari empat sahabat tadi yang benar-benar dapat melanjutkan cita-citanya, menjadi seorang ibu rumah tangga, mendidik anak-anaknya sendiri dan mendampingi suaminya.

30 tahun kemudian……

Salah satu dari sahabat tadi dipanggil oleh Allah swt. Semasa hidupnya dia mengabdi pada suami, dan disetiap kota dimana suami dipindahtugaskan, dia mengisi waktunya dengan membuat kue-kue, walaupun dia bergelar S2. Kebetulan sahabat ini adalah benar-benar seorang perempuan yang patut dibanggakan, dia pandai memasak, menjahit serta segala tetek bengek kewanitaan lainnya. Saat ada reuni dan ketemu suaminya, terlihat sang suami begitu berduka, karena selama ini dia hanya bisa makan dari masakan isterinya, apalagi sang suami harus berdiet.

Sempat tercetus ucapan seorang teman, apakah sebaiknya para isteri memanjakan suami dengan selalu memasak sendiri, atau antara suami isteri harus tetap ada “room” sehingga masing-masing ada kemandirian.

Hal ini juga mengingatkan saya pada situasi berbeda, teman saya, merupakan suami yang begitu menyayangi isteri, bahkan sampai memilih baju pun, suami menemani isteri. Takdir tak dapat ditolak, sang suami mendadak dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa karena serangan jantung, dan tinggalah isteri yang bahkan tak tahu seberapa besar harta peninggalan suami,dan hutang piutang suami. Teman-teman mengajarkan, dari mulai bagaimana cara membuka rekening di Bank, dan cara mentransfer uang kuliah anak-anaknya. Cukup lama sang isteri berduka, dan belajar kembali meneruskan kehidupannya demi masa depan putra putrinya.

Cerita diatas, menunjukkan apapun pilihan hidup kita, sebaiknya diantisipasi bila terjadi sesuatu yang kurang dikehendaki. Karena keinginan kita kadang tak sesuai dengan harapan. Awalnya, saya sekedar ingin bekerja, karena ayah ibu keduanya bekerja, dan setelah menikah ada anak-anak yang harus dipersiapkan menyongsong masa depan. Kenyataannya, bekerja tak dapat hanya sekedar bekerja, ada tuntutan dari perusahaan, ada tanggung jawab untuk menghidupi keluarga lain, dan ada tanggung jawab pada masyarakat. Pada akhirnya, memang kita harus bisa menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan, terutama jika ada orang lain yang menjadi tanggung jawab kita.

Iklan

Responses

  1. wah, ini kisah hidup yang layak diteladani oleh siapa saja, bu enny. bukan hanya kaum perempuan, melainkan juga kaum lelaki. agaknya, jalan hidup itu termasuk pilihan juga ya, Bu. ada yang happy kalo istrinya bekerja sehingga secara ekonomi bisa tercukupi. namun, tak sedikit juga yang enjoy kalo istrinya murni menjadi ibu rumah tangga untuk mengurus anak dan rumah tangga. sang suami yang murni menjadi penyangga ekonomi keluarga. asalkan ada komitmen sejak awal, pilihan jalan hidup itu akan membuahkan kebahagiaan dan kesejahteraan buat keluarga. semoga postingan bu enny ini bisa menjadi renungan dan refleksi bagi anak2 muda yang kebetulan sudah siap utk memasuki jenjang rumah tangga atau bapak/ibu yang sudah “telanjur” menjadi nahkoda rumah tangganya. Pareng rumiyin, bu.

    Pak Sawali,
    Iya, cita-cita masa muda ternyata tak selamanya sesuai. Teman saya yang awalnya ingin di rumah, malah di dorong oleh suami, untuk mencapai karir ke jabatan yang tinggi. Dan karena dorongan suami, dan dukungannya, temanku behasil jadi wanita karir yang tangguh, putra putrinya pintar-pintar, karena selalu ada keluarga yang mendukung jika si ibu sedang bertugas meninggalkan rumah. Kuncinya adalah pada komitmen suami isteri, mau mengarahkan biduk rumah tangganya ke arah mana? Apapun keputusannya, merupakan tanggung jawab berdua….dan setiap rumah tangga mempunyai tujuan yang tidak harus sama satu sama lain.

  2. Tapi toh pada akhirnya si istri belajar kembali, memulai segalanya dari awal. 🙂

    Calon bini ane kudu baca ini fostingan… Salam ya Bu..

    Cabe rawit,
    Salam manis kembali…..

  3. wah bu Enny hueibaat, masih capek habis mantu, tapi sempat juga menulis bagi kaum ibu…saya pengen artikel tentang…”bagaimana membuat kehidupan berumah tangga tetap langgeng adem ayem seger sumyah”…sesudah usia mencapai 50th lebih….boleh dong ya, kalau ada yang punya artikel tsb…bisa sharing, matur nuwun..salam kagem pakDe pstk

    Pak Henky,
    Wahh suatu kehormatan nih dapat kunjungan dari jauh.
    Nggak terlalu capek kok, karena tugas didelegasikan, bahkan si mbak (pembantu) ikut terlibat…dan dibuat santai. Undanganpun hanya teman yang sangat dekat, sehingga memahami jika banyak kekurangan.
    Pesenannya udah saya catat, cuma bingung mulainya darimana…walaupun memang rasanya setelah menikah puluhan tahun rasanya jadi kayak teman, dan makin nyaman…hehehe

  4. Karena keinginan kita kadang tak sesuai dengan harapan.

    karena yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Tuhan.. 😀

    best regards

    Rickisaputra,
    Betul…kita tak tahu apa yang di depan kita, yang jelas keputusan Tuhan pasti yang terbaik bagi kita.

  5. Ah antisipatif dan bukan reaktif ya bu…
    -salam-

    Goop,
    Ya pak, antisipatif, karena menikah memerlukan tanggung jawab, ada anak-anak yang akan dilahirkan, yang harus dididik dan dibimbing dalam melakukan kebaikan. Bagi seorang ibu, harus mempunyai suatu kemampuan, agar jika ada apa-apa, anak-anak tak menjadi korban, dan putus sekolah….

  6. nice story, Bu. banyak yang bisa saya petik di sini 🙂

    Utaminingtyazzzz,
    Itu khayalan cewek-cewek umur duapuluhan, yang melihat dunia begitu indah……

  7. keliatannya saya bakal terus kerja sampei anak saya mapan. mudah2an setiap usaha kita barakah yach bu …

    Alin
    ,
    Jika kita menganggap bahwa bekerja adalah ibadah, dan kita bekerja secara halal, semoga kita juga diberikan rejeki yang baik dan anak-anak yang sholeh…

  8. Tambah semangat nih Bu, baca cerita ini, untuk jadi tetap working home mother. biar kata tetap di rumah tiap hari, mengurusi anak and keluarga, tp tetap bisa bekerja mengaktualisasikan diri ( waduh bahasanya..).. dapat uang lagi..

    Naning,
    Semua tergantung pada kedua pasangan. Teman saya yang udah pengin jadi ibu rumah tangga, malah di dorong suami untuk terus berkarir, meneruskan S2, dan sekarang menjadi pejabat di salah satu Departemen.
    Ada juga yang bosan kerja, keluar…ehh malah wirausaha, kliennya banyak, dan export oriented. Yah, jalan hidup tak bisa diduga, tetapi kita harus menjalani dengan niat baik…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: