Oleh: edratna | Maret 6, 2008

Pintar dan, atau pintar-pintar

Hampir setahun saya tidak mendengarkan radio Sonora di pagi hari, dan yang utama adalah mendengarkan cerita pak Gede Prama. Beliau adalah tokoh yang saya kagumi, banyak hal-hal kecil di sekeliling kita yang dapat kita pelajari, yang sebelumnya tak berarti apa-apa, menjadi menarik setelah dijelaskan oleh pak Gede Prama.

Pembahasan apa yang menarik pagi ini? Hanya dua kata yang seolah-olah tak ada artinya. Pernahkan anda bertanya pada diri sendiri, apa yang menyebabkan anda berhasil? Jawaban bermacam-macam, dari teori, pengalaman, maupun bersifat religius bahwa semua karena Allah.

Dari cerita pak Gede Prama pagi ini, keberhasilan seseorang adalah karena pintar dan pintar-pintar. Pintar, karena memang telah mempunyai ilmu yang cukup, sehingga kalau kita bekerja atau membuka usaha, ilmu yang kita pergunakan untuk melaksanakan pekerjaan tadi sudah memadai. Pintar-pintar? Ini mirip dengan kebijaksanaan, bahwa dalam kehidupan kita harus pintar-pintar dalam berhubungan dengan orang lain, pintar-pintar membagi waktu, serta pintar-pintar yang lain. Antara pintar dan pintar-pintar, ibaratnya adalah seperti dua sisi mata uang. Anda tak bisa cukup hanya pintar saja, karena anda harus bisa pintar-pintar dalam melihat sesuatu, serta pintar-pintar dalam mengambil keputusan. Bagaimana jika hanya pintar-pintar saja? Ini ibaratnya seperti hanya seperti main sulap, karena dasar ilmunya tak cukup, sehingga tak akan berhasil baik.

Jadi marilah kita berusaha pintar, dengan belajar giat, baik dari ilmu yang diperoleh di sekolah, maupun ilmu dari kehidupan…yang artinya belajar dari para senior yang lebih baik, lebih pandai dan lebih pengalaman. Namun kita juga harus pintar-pintar dalam segala hal, baik dalam berkomunikasi dengan orang lain, dalam membagi waktu, serta pintar-pintar dalam memanfaatkan kepintaran kita.

Semoga kita berhasil…….

Catatan:

Ide cerita berasal dari ceramah pagi hari, oleh bapak Gede Prama di radio Sonora.

Iklan

Responses

  1. cerita pak gede prama yang disiarkan melalui radio makin membuktikan bahwa sejatinya pendidikan tak hanya berlangsung di bangku sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga dari berbagai media, termasuk radio. terima kasih pencerhannya bu enny.

    Pak Sawali,
    Belajar dari kehidupan lebih banyak lagi manfaatnya, karena disinilah sebenarnya kita tak pernah berhenti belajar. Sebetulnya saya ingin menulis, apa yang saya alami selama sebulan kemarin, banyak sekali hal-hal baru, yang saya sendiri menjadi merasa banyak sekali mendapat pelajaran, yang membuat saya lebih memahami…..walau ada juga yang tak perlu diulangi…..
    Bergaul dengan orang lain, memerlukan komunikasi yang timbal balik, beda latar belakang, beda gaya hidup…apalagi jika beda kultur…memerlukan pemahaman yang kalau tidak disikapi dengan bijaksana, akan membuat sama-saa nggak nyaman. Cara pak Gede Prama, yang membawakan dengan gaya bahasa sederhana, mudah dimengerti….namun dalam sekali artinya…

  2. Yap. Selain hal yang bersifat teknis (dari pintar), kita juga membutuhkan hal-hal non-teknis (dari pintar-pintar) yang menunjang. 😉

    Effendi,
    Hmm…iya, kehidupan memang seperti dua sisi mata uang….harus ada timbal balik, agar seimbang….

  3. Ya… pintar-pintar lebih mengarah pada kearifan dan kebajikan individu dalam menyikapi keadaan… ini yang belajarnya lebih sulit dari pada belajar menjadi pintar.. belajar pintar-pintar itu setiap saat setiap waktu, bukan begitu ibu?!

    Gempur,
    Setuju…..belajar memang perlu kearifan……

  4. jd kita harus pintar dan juga pinta pintar yah buw??

    Aprikot,
    Ya, betul. Saya sepakat dengan Gede Prama, karena merasakan sendiri….

  5. Saya termasuk salah seorang fans Pak Gede Prama, Bu. Dulu suka membeli dan membaca buku yang beliau tulis.

    Sekarang, sejak jauh dari toko buku berbahasa Indonesia, susah menemukan cerita hasil pemikiran Pak Gede lagi. Ehh, ada tulisan ini. Ndalilah, pengobat kangen. 🙂

    Terimakasih Bu.

    Bangaip,
    Yang menarik, Gede Prama membuat contoh dari kehidupan sehari-hari…dan kalau kita pikirkan apa yang dikatakannya betul.
    Saya memang suka mendengarkan petikan komentar beliau di pagi hari…entah kenapa sejak pindah rumah, baru kemarin mulai mendengarkan….gara-gara lupa kalau punya radio, yang bisa ditenteng dekat tempat tidur…hahaha

  6. wah, sama. gede prama, mario teguh, 2 inspirator yang mampu menyampaikan sesuatu dengan sejuk. dan bener2 bikin hati suejuk 🙂
    *yang mengkoleksi tulisan pak gede prama dari tahun 1998

    Edo,
    Wahh ternyata Edo lebih hebat ya, mengkoleksi tulisan Gede Prama sejak lama. Btw kadang-kadang kok sulit ya masuk ke account blog mu?

  7. iya jugak bu. nggak cukup hanya pintar yang dibutuhkan. tapi juga pintar-pintar…

    Isnuansa,
    Gede Prama pandai memberikan cerita dengan contoh kehidupan sehari-hari. Dan ternyata yang dikatakan betul juga.

  8. Ya ya ya, setuju amat. Intinya, belajar, belajar, dan belajar.

    Ersis W. Abbas,
    Betul pak…belajar…belajar…belajar…sampai maut memisahkan tubuh kita.

  9. Dulu saya berfikir bahwa selepas sarjana saya akan terbebas dari belajar dan sekolah, ternyata manusia hidup harus selalu belajar dari waktu ke waktu yakni belajar ilmu kehidupan. long life education sampai keliang lahat. 😀

    Resi Bismo,
    Saya masuk Bank dengan pola pikir yang sama…udah capek ujian. Nggak tahunya? Tiap tahun ada ujian, pendidikan/training, seminar (mesti bikin laporan), presentasi…dikejar dead line dan lain-lain. Dan suatu ketika merasa kalau otak nih mandeg, tak bisa mencari solusi…jadi ya akhirnya kuliah lagi….dan lebih berat, karena sambil bekerja, anak-anak pas masa remaja yang harus lebih bisa dijaga, dan banyak masalah lain. Tapi ternyata, pengalaman belajar sambil bekerja ini yang justru membuat hidup saya kaya….banyak hal yang tak terduga, banyak ilmu yang tak mungkin saya pelajari di kantor, atau bila hanya bersama rekan-rekan yang homogen latar belakangnya. Dan setelah pensiun pun, ternyata banyak hal menarik yang harus dipelajari terus menerus dari kehidupan.

  10. Kalau agar tidak ditipu oleh orang atau tidak dikerjai oleh orang, atau jangan mudah disindir orang, itu namanya “pintar” atau “pintar-pintar” ya??

    “Pintar agar tidak ditipu orang” atau “piintar-pintar agar tidak ditipu orang”? ❓

    Yari NK,
    Keduanya memang seperti mata uang…pengertiannya pun bisa dilihat dari berbagai persepsi, antara lain seperti kata kang Yari di atas.

  11. Belajar dari kesalahan orang lain supaya kita tidak harus mengalaminya sudah merupakan usaha untuk menjadi pintar.

    Barry,
    Yup…setuju…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: