Oleh: edratna | Maret 11, 2008

Sekedar obrolan ringan sambil minum coklat panas

Tiap pagi setelah selesai sholat Subuh dan tak ada acara yang harus di kejar, saya punya kebiasaan baru, yaitu membuka komputer dan mulai blogwalking. Entahlah, kenapa kalau pagi hari, internet begitu lancar, walaupun kadang turun hujan gerimis. Kalau dulu masih bisa mencoba menulis pada malam hari, maka saat ini rasanya internet lemot…..Kebiasaan yang tak bagus, karena sebetulnya banyak hal lain yang lebih sehat untuk dikerjakan. Pagi ini seharusnya saya mulai membuat bahan ajar, karena nanti siang akan diambil, dan disatukan dengan bahan ajar teman lain, sehingga bisa disatukan dalam satu paket. Anehnya, saya malah menulis postingan ini.

Saat menulis ini saya teringat obrolan dengan seorang teman, apa ya yang perlu diperhatikan jika mau membuka usaha? Teman ini sudah bekerja di luar negeri, namun di hati kecilnya dia masih ingin suatu ketika dapat kembali ke Indonesia dan memulai usaha baru.

Tentu saja agak sulit menjawabnya, karena saya sendiri bukan seorang wirausaha, namun kalau saya ditanya, berdasar pengalaman saya, apa ya yang sebaiknya saya persiapkan, dan ilmu apa lagi yang harus saya pelajari. Pertama-tama, jelas harus menyiapkan modal yang cukup, tergantung dari usaha apa yang akan dijalankan. Selanjutnya, kalau saya ditanya, adalah pelajari dan pahami tentang Hukum, sebagai landasan kita dalam bertransaksi. Teman tadi telah mempunyai seorang lawyer, tapi saya menyarankan, dia tetap mempelajari hukum, tak perlu seperti seorang mahasiswa Hukum, tapi paling tidak memahami masalah hukum yang terkait dengan bidang usahanya, misalnya: Hukum perikatan, bentuk badan usaha, serta Bank Garansi, Stand by L/C dan sebagainya. Apabila diskusi dengan lawyer, maka diskusi tadi bisa digunakan untuk menambah ilmunya. Saya katakan, saya juga bukan dari Fakultas Hukum, tapi karena pekerjaan, saya harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan Hukum.

Apa lagi? Karena dia sudah ahli di bidang finance, tentunya soal hitung menghitung tak ada masalah lagi.Bagi saya, hal yang penting dipelajari adalah psikologi manusia. Mengapa? Saat saya menjadi seorang manajer, dan ketemu dengan psikolog (maklum di kantorku setiap kali ada test psikologi), saya manfaatkan dengan diskusi apa kelemahan saya sebagai pimpinan, dari hasil test psikologi tadi. Psikolog tadi melihat data yang tertulis, dan katanya…”Ibu harus bisa melihat gesture anak buah, jika di ajak berbicara.” Saya agak bingung, dan psikolog tadi dengan senang hati menjelaskan, dari hasil test saya bersifat result oriented, saya tak terlalu memikirkan apakah anak buah bekerja sambil bernyanyi, sambil bercanda, yang penting hasil akhirnya. Padahal tak semua anak buah bisa diberi tanggung jawab dengan cara seperti itu, karena pada dasarnya setiap manusia adalah “unik”. Jadi, sebaiknya saya mulai mengenal sifat dan karakter masing-masing anak buah, mengerti latar belakangnya, sehingga saya bisa menjalin komunikasi yang lebih baik. Beliau memberi contoh “Misalnya, anak buah ibu biasanya periang, namun suatu ketika dia jadi pendiam. Sebaiknya ibu mendekati yang bersangkutan, menanyakan apa masalahnya, sehingga ibu bisa membantu masalahnya.”

Dari hasil percakapan dengan ibu psikolog tadi (terimakasih bu, tapi saya lupa nama ibu), saya mulai membaca situasi, melihat dan mengamati tingkah laku anak buah saya, dan mencoba untuk mengerti apa yang dimaksudkan oleh psikolog tadi. Ternyata saya mendapatkan hal-hal yang menarik, saya lebih bisa berdiskusi dan mendapat masukan dari mereka, sehingga kinerja unit yang saya pimpin lebih baik. Dan pemahaman ini memudahkan saya bergaul dengan anak-anakku sendiri, karena saya juga menjadi mempelajari karakter mereka, yang berbeda satu sama lain, dan bisa menjadi sahabatnya.

Jadi, andaikata saya bisa kembali, dan disuruh memilih, akan belajar di bidang apa? Mungkin saya akan bingung memilih, antara ekonomi, hukum atau psikologi….


Responses

  1. saya usul, pilih sastra atau antropologi saja… semuanya pasti kena. Karena di sastra atau antropologi, semua pasti kena…. kena deh…..

    Birahi Islam
    ,
    Entahlah, walaupun saya senang membaca sastra, tapi rasanya kurang berbakat. Antropologi? Wahh..jaman masih mahasiswa, nilai sosiologi pedesaan ku …walau dapat bagus, tapi saya tak yakin atas jawabanku.

  2. Bu enny, psikologi manusia sepertinya menjadi basis dan dasar dalam melakukan kegiatan apa pun yang berkaitan dengan human resources. relasi antarpersonal inilah yang seringkali dilupakan oleh orang2 yang telah menduduki kursi pimpinan. mereka jarang lagi melihat ke bawah atau ke samping, tetapi selalu mendongak ke atas. dengan melibatkan dan melihat gelagat bawahan dalam setiap keputusan, bawahan agaknya akan berbalik “rumangsa melu handarbeni, memiliki “sense of belonging” sehingga berusaha untuk selalu meningkatkan kinerja demi meraih sukses.

    Pak Sawali,
    Ilmu psikologi sendiri sekarang jauh berkembang..ada psikologi industri (mas Pyrrho nih ahlinya) dll.
    Saya mau tak mau harus memahami psikologi, walau tak mendalam, karena untuk mengatur SDM dan mengelola bawahan, ilmu ini sangat diperlukan.

  3. hihi, ekonomi, hukum dan psikologi…
    bukankah semuanya bisa saling terhubung ibu?
    _______________________________________
    ah ya, itu juga tepat dengan apa yang ada dalam 7 habit covey, kemampuan mendengar, tentu bukan hanya suara, begitulah…
    -terima kasih-

    Goop,
    Pada akhirnya saya memahami, bahwa bila pekerjaan kita mengharuskan kita ketemu banyak orang, berkaitan dengan bisnis, pasti kita harus memahami ilmu tsb. Walaupun telah mempunyai tim Hukum, tapi kita tak setiap saat bisa ketemu atau menghubungi…jadi tetap perlu ilmu hukum. Ilmu psikologi diperlukan untuk lebih memahami orang-orang yang berhubungan dengan kita, baik anak-anak, pembantu, suami, saudara maupun lingkungan kerja. Ilmu ekonomi, diperlukan agar setiap langkah, kita bisa menghitung untung ruginya…tak sekedar hanya mengusulkan, tapi harus dianalisis. Ilmu matematik? Sangat diperlukan untuk memahami hitungan-hitungan yang rumit, sebagai dasar analisa kita.

    Sastra? Saya juga menyenangi, untuk melihat sisi keindahan, bisa berimaginasi bersama pengarangnya….tapi saya merasa kompetensi saya disini kurang….

  4. Hehehe Ibu ini…. pagi-pagi sudah online.

    Hmmm, terkadang saya suka takut jika berhadapan dengan seorang psikolog, karena kebanyakan dari mereka itu jago sekali “mengetahui” dibalik pribadi saya.

    Tapi lambat laun, saya suka juga curhat dengan dosen-dosen psikologi di tempat saya bekerja… dan dijamin bercerita dengan beliau, rahasia aman ^_^, Mereka banyak memberikan pengarahan.

    Iko,
    Iya Iko, kalau malam banyak pesaingnya….biasanya anakku lebih membutuhkan internet dibanding saya. Sedangkan saya suka bangun pagi, mengerjakan tugas, membaca laporan (walaupun udah dibaca malamnya)…entahlah udara segar membuat hati nyaman, dan rasanya otak lebih lancar. Apalagi pekerjaanku menuntut lebih banyak di depan komputer, dan sekarang kan hasil kerjaan bisa dikirim lewat email…dan baru ketemu, jika masing-masing telah siap, sehingga rapat tak berlarut-larut…serta tak terjebak kemacetan dibelantara jalan Jakarta. Koneksi internet di pagi hari juga sangat cepat…..

  5. mungkin kalo boleh ikut rembug adalah memahami local culture bu enny. mungkin agak matching, dengan cerita saya dengan kakak no 3 yang memang terbiasa lama di LN, dan nyaris cenderung apatis dan stress ketika kembali ke Ind. Dulu, waktu awal2 selesai membereskan doktornya di Jepang, dia selalu complain tentang budaya Ind yang jelas dimata dia kalah unggul. Saya hanya bisa bilang, ini Ind. jangan disamakan. Dan jangan terlalu terjebak dengan patron tersebut. jika ingin membawa budaya bagus dari LN ke Ind mulailah dengan memahami budaya Ind itu sendiri, lalu temukan “cara” agak nilai2 baik itu bisa terimplementasi. bukan sebaliknya. karena kalau sebaliknya isinya cuma akan memaki2 bangsa sendiri.
    terakhir kakak saya mendapatkan pilihan untuk benar2 memegang tanggungjawab di Ind dan tidak lagi keliling dunia. dia kembali dengan idealisme. Apa yang terjadi? teman kantornya terheran2 kenapa dia mau kembali sebagai pegawai negeri dengan gaji kecil dan bukannya di jepang atau jerman yang jelas2 menghargainya dengan amat sangat. semua heran dengan dia. ketika dia diminta atasannya memegang tanggungjawab atas sebuah pekerjaan, dan dalam rangka menemukan ritme, kepercayaan, semangat korps, dia berkeliling bertanya pada banyak orang. jawaban mereka ?
    “udah deh pak, ngga bakal sukses”.
    kesimpulan? stress lah dia heheheh…
    heran. ketika dia ingin kembali ke ind, teman2 satu korps malah heran. dia sendiri justru heran balik, bukankan kita harusnya kembali membangun bangsa ini? ketika dia di kantor ingin memperbaiki budaya korps, yang terjadi, mulai deputi sampai jajaran paling bawah pesimis.
    kakak saya sendiri akhirnya sempat berfikir untuk kembali ke LN dengan alasan biarlah dia berkarya disana, tapi tetap untuk Ind. Saya cuma bilang “hanya abang yang tau, itu sebenarnya cuma apologi tentara kalah perang atau benar-benar sebuah strategi”
    tidak sedikit orang2 pintar Ind di LN sana yang kehilangan idealismenya ketika dia kembali. berbenturan dengan budaya, berbenturan dengan banyak hal yang dimata mereka “salah”.
    dibutuhkan keutuhan niat untuk itu 🙂

    btw, meski saya jarak 8 tahun dengan kakak saya ini, untung budaya egaliter tercipta di keluarga kami. so saya bisa dengan santai bercerita. toh, mengingat dia juga di LN 9 tahun. artinya “umur” di Ind lebih tua saya toh?

    wah.. jadi panjang. maap ya bu 🙂

    Edo,
    Wah sorry, kenapa ya saya suka gagal jika berkunjung ditempatmu, jadinya jarang komentar di sana.
    Menurut saya, masing-masing orang telah memiliki kepribadian yang berbeda satu dan lainnya, walau berasal dari orangtua kandung yang sama. Saya suka kedisiplinan, jadi saya suka bangun pagi, jam kerja lebih pasti…tapi kreatifitas kurang (ini kata psikolog lho)….saya lebih rasional dibanding perasaan.

    Namun ada orang yang lebih ke arah otak kanan…orang-orang seperti ini terlihat lebih gembira, kadang memandang enteng sesuatunya…tapi stresnya kurang. Namun yang penting kita harus bisa menghargai perbedaan ini, dan malah menjadi hal yang menarik bergaul dengan orang yang berbeda sifat dan kemampuan….

  6. Wah, Mbak bisa pilih salah satu terus dalamin dan lain sambil belajar, 🙂 mang kadang bingung juga sih. karena saya wiraswasta jadi tidak pernah ikut test psikologi. sepertinya bidang psikologi menarik sekali. ini sih menurutku saja.

    Hanna,
    Secara bertahap, dalam perjalanan karir ku, saya juga harus belajar mengenai ilmu tsb, tapi hanya sekedar mendukung pengetahuan, bukan mendalam….

  7. wah pertanyaan sejuta dollar : mau dibawa kemana hidup ini ? hahaha kalau sy dalam posisi yang sama, mungkin sy akan mengambil hukum karena sy paling tidak mengerti hukum. ah maaf, bila asal pendapat 😀

    uwiuw,
    Thanks telah mampir. Ilmu hukum memang menarik, dan sebagai warganegara kita harus memahami hukum.
    Jika bekerja di perusahaan, paling tidak tahu hukum yang terkait dengan bisnis, seperti: hukum perikatan dll..Bukankah kalau mau membuat kebijakan, juga harus tahu hukumnya…Undang undang, peraturan yang terkait (oleh lembaga yang mengatur perusahaan tsb, misal uu PT), peraturan perusahaan (agar kita tak kena sanksi karena melanggar tak disengaja)….

  8. Hmm kalau dilihat dari blog ini sepertinya Ibu juga berbakat dalam kesusastraan, hihi.

    Salam kenal Bu 🙂

    Peri negeri internet,
    Yang jelas ayah alm dosen sastra di IKIP. Tapi kayaknya saya hanya berbakat memahami dan membaca novel yang ada di toko buku dan perpustakaan.
    Saam kenal juga….

  9. Ekonomi? Sudah berkecimpung.
    Psikologi? Sudah dilakukan.

    Mungkin hukum, kali ya Bu.

    Ikram,
    Hi..lama tak bersua…iya, hukum memang sangat menarik, apalagi setelah saya berkecimpung di dunia yang masalah hukumnya pelik.

  10. Nice post. Allow me to summarize it:

    So if we want to be an entrepreneur,

    1. Do have assets (depends on what kinds of a startup is that, ex. law),
    2. Learn Finance,
    3. Learn Psychology.

    Keep up the good work with your enlightening good posts! Thanks!

    Arie
    ,
    Jika mau berkecimpung sebagai entrepreneur, justru hukum sebagai landasan. Memang tak perlu sekolah atau kuliah hukum, tapi Arie harus mempelajari hukum yang terkait dengan bidang usaha yang digeluti. Tapi Arie juga arus memahami tentang finance, supaya tahu apa perusahaanmu berkembang apa tidak, dan jika tidak dimana letak kekurangannya, bagaimana memperbaikinya. Psikologi sangat diperlukan untuk memudahkan komunikasi dengan klien, dengan anak buah, untuk memotivasi dan mendorong anak buah agar ber kinerja baik.

    Dan bidang usaha apa yang akan dimasuki? Tentunya Arie lebih bisa menjawab, tentu saja bidang dimana Arie memang mempunyai kompetensi disitu.
    Semoga sukses.

  11. Sama bu, saya juga result oriented, dan bukan process-oriented. Kalau bekerja dalam tim, biasanya saya memilih tim yang pembagian kerjanya jelas dan tanggung jawabnya juga jelas. Terkadang memang merepotkan karena manusia bukan robot yang harus bekerja dengan target, tapi punya dinamika di dalamnya.

    Pilih psikologi saja, bu. Dengan psikologi, kita bukan saja mengenal orang lain lebih baik, tapi juga mengenal diri sendiri lebih baik.

    *promosi* 🙂

    Pyrrho,
    Dulu…saya tak tertarik masuk psikologi, karena tak paham dengan apa yang dimaksud dengan psikologi. Tapi sejak anakku kelas IV SD, dan mulai membuat pening, saya banyak diskusi dengan psikolog. Kebetulan di kantor, setiap kali ada test psikologi, jadi saya semakin tahu apa kelemahan saya, dimana saya harus memperbaiki diri.

    Diskusi dengan psikolog, membuat saya tahu, bagaimana menghadapi anak-anak, komunikasi dengan klien, memotivasi anak buah dsb nya. Bahkan suami juga ketularan, kalau mau menyekolahkan anak asuh, anaknya di test psikologi, sebaiknya akan mengambil bidang apa yang sesuai, supaya setelah lepas dari keluarga kami, mereka bisa bekerja dibidangnya masing-masing.

  12. saya punya pengalaman buruk ketika berhadapan dengan seorang lulusan psikologi, karena jika saya berkesempatan bertemu dengan dia ada saja tingkah laku atau kebiasaan saya yang dia kritisi, ada baiknya sehingga saya mendapat umpan balik dari peristiwa itu, cuma kok terkadang lulusan psikologi itu orang2nya agak aneh! seolah2 dia berhak mengatur sikap orang (ini pengalaman pribadi) 😀

    Resi Bismo,
    Temanmu aja yang aneh, seorang psikolog biasanya hanya mendengar dan tak mencampuri. Kalau dia seorang psikolog sejati, biasanya juga tak memberi saran jika tak diminta. Sarannya pun berupa pilihan, dan yang bersangkutan sendiri yang berhak memilih…ini pengalamanku dengan psikolog…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: