Oleh: edratna | Maret 17, 2008

Ketemu “saudara”

Pagi hari Sabtu tanggal 15 Maret 2008 saya diajak suami untuk menghadiri acara Konser Karawitan Muda Indonesia (KMI) ke III di Auditorium RRI Jakarta. Acara dibuka oleh Direktur Utama LPP RRI, bapak Parni Hadi. Banyak tamu yang hadir, antara lain tokoh pendidikan bapak Arief Rahman serta Profesor Edi Sedyawati.

Pas saya menikmati acara yang dibawakan oleh anak-anak muda itu, suami berbisik….. “Bu, kan pak Parni Hadi itu pernah sekolah di SPG Madiun, jangan-jangan pernah menjadi muridnya almarhum Bapak…” Saya pikir kemungkinan tersebut kecil, karena saat saya masih kecil, ayah pernah menjadi Guru SMA II Madiun, kemudian menjadi dosen IKIP Malang Cabang Madiun…kemudian IKIP Surabaya, serta setelah semakin sepuh putra putrinya menginginkan ayah bekerja di Madiun saja, biar nggak terlalu capek mondar mandir Madiun-Surabaya….ayah menurut, dan menjadi guru di SPG Madiun.

Selesai acara, saya sedang mengobrol dengan pimpinan rombongan Sanggar Musik Awi Bambu Awi Sada, Banjaran, Kabupaten Bandung, yang juga rekan kerja suami di Bandung, mendadak suami menarik lengan saya, dan dikenalkan kepada pak Parni Hadi. Yang tak disangka, pak Parni Hadi langsung memeluk saya, dan berkata…” Lho, kamu ini kan ponakanku, putranya mbak Sum di Madiun…” Kami mengobrol, bertukar kartu nama, dan geli kok bisa nggak pernah ketemu, padahal rumah beliau di daerah Ragunan, dan sangat dekat dengan Pusdiklat Bank, dimana saya pernah memimpin Pusdiklat ini selama 2 (dua) tahun….dan setiap kali ada rapat ke Kantor Pusat, saya sering melewati kantor “Republika” yang merupakan tempat beliau bekerja. Saat awal saya tinggal di Jakarta, kakak kandung pak Parni Hadi pernah menengok dan sempat tidur di rumah kontrakan saya di Rawamangun. Dan masa kecilku, saya sering naik sepeda ke rumah orangtua (adik nenek saya) pak Parni Hadi di Rejosari, yang juga merupakan tetangga nenek dari pihak ibu.

Saya akui, setelah ayah ibu tiada, saya jarang pulang ke Madiun, karena rasanya sedih sekali, hanya melihat makam dan rumah yang kosong. Dan saya termasuk percaya, bahwa berdoa bisa setiap saat, dan selalu saya lakukan seusai sholat lima waktu setiap hari, mendoakan arwah ayah ibu. Dan saya juga nggak ikut arisan “Madiunan”…jangan-jangan saudara saya di Jakarta cukup banyak kalau ditelusuri.

Kadang pada saat ada pertemuan seperti ini, tak terduga kita ketemu dengan seseorang, yang sebetulnya masih ada hubungan saudara, namun karena kesibukan masing-masing hubungan ini hanya sekedar saling bertukar kartu nama, dan mungkin sms untuk sekarang ini. Jakarta memang tak terlalu lebar, tapi bagi orang yang masih bekerja, waktu sangat terbatas, belum kemacetan yang semakin menjadi, membuat jarak terasa semakin jauh.

Iklan

Responses

  1. kadang, hal-hal tak terduga direncanakan oleh yang Di Atas tanpa kita sadari, tadi pagi saya juga ketemu tukang ojek yang kemarin waktu saya naik ojeknya, belum ada kembalian,. ternyata secara tak diduga ketemu Pak Tukang Ojeknya.

    Nurussadad,
    Iya, banyak hal-hal yang tak terduga…

  2. Nice story Bu.. saya ikut merasa senang membaca tulisan Ibu di atas.

    Yoga.
    Makasih…

  3. iya tante, silaturahim penting sekali sukur deh tante bisa bertemu kembali dengan saudara2 yang sempat ‘hilang’ :D. Saya juga pernah mengalami hal tersebut, punya teman lumayan kenal baik eh ternyata usut2 masih ada hubungan saudara.

    Resi Bismo,
    Silaturahim memang penting, tapi kita juga harus bisa mengatur waktu, karena tinggal di Jakarta, waktunya habis untuk kemacetan di jalan.

  4. Perasaan saya, kehidupan Ibu Edratna penuh makna. Lantas saya berpikir kalau semua figur2 pintar dan kaya akan potensi, pada ngumpul di Jakarta, yg di kampung, seperti Madiun kebagian apa ?
    Saya rasa Madiun, sangat memerlukan figur2 seperti Ibu.
    Barangkali nanti dari putra putri Ibu, bersedia membangun Madiun?

    Simbah,
    Teman saya masih ada kok yang tinggal di Madiun, suaminya dokter, ada juga yang Pemda, dan apoteker.
    Karena rumah saya sudah ada di Jakarta, dan kehidupan sosial di Jakarta, kalau kembali ke kampung halaman nantinya malah tak produktif.

  5. Maaf bu,..saya juga alumnus SPG Madiun yang terakhir lho!Saya juga mencari teman-teman alumnus,namun juga belum.Namun sedikit informasi mereka kebanyakan sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa rata-rata di Jawa Timur.Saya bangga mendengarnya.Hanya kapan ya bu,kita bisa reuni.matur nuwun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: