Oleh: edratna | Maret 17, 2008

Mengapa perusahaan penerbangan itu berhenti beroperasi?

Dalam dua hari berturut-turut ini saya membaca berita di Kompas tentang Adam Air. Pertama kalinya mendengar tentang masalah yang menimpa Adam Air, dari seorang teman, yang mengatakan bahwa Adam Air mengurangi penerbangan beberapa hari ke depan, saat itu saya masih berpikir ada kemungkinan pengaruh cuaca. Tapi mengingat penerbangan lain tak ada masalah, saya sudah menduga bahwa ada hal-hal lain yang menjadi penyebabnya.

Kompas hari Minggu tanggal 16 Maret 2008 hal 1 memuat judul “Penerbangan: Calon Penumpang Adam Air Kebingungan.” Petugas Adam Air di konter Bandara Sukarno-Hatta, menjelaskan setidaknya 40 jadual penerbangan dari Jakarta ke kota lain pada hari Sabtu ditiadakan atau ditunda.

Dan hari ini, Senin tanggal 17 Maret 2008, kembali Kompas memuat tulisan “Adam Air berhenti beroperasi”. Saya terperangah membacanya, karena Adam Air termasuk salah satu penerbangan yang banyak penumpangnya, walaupun saya belum pernah menggunakan jasa penerbangan ini. Mulai hari Senin tanggal 17 Maret 2008, kegiatan operasional Adam Air berhenti. Kegiatan maskapai penerbangan akan dilanjutkan kembali sampai ada investor yang mau menalangi 50 persen saham, yang ditarik PT Global Transport Service dan PT Bright Star Perkasa dari Adam Air.

Dari cerita yang saya baca, ada perpecahan diantara pemegang saham. PT Bhakti Investama memutuskan cabut sehingga kondisi keuangan sangat berat karena saham Adam Air, yang dimiliki keluarga Suherman tinggal 50 persen. Adam Air, selama ini sahamnya dikuasai oleh keluarga Suherman 50 persen, sisanya sebesar 31 persen dikuasai PT Bright Star Perkasa (BSP) dan 19 persen oleh PT Global Transport Air Service (GTS) yang merupakan anak perusahaan Bhakti Investama (Kompas 17 Maret 2008).

Membaca berita ini membuat saya berpikir, semudah itukah untuk keluar dari perusahaan, karena kalau satu atau lebih perusahaan bergabung dan menjalankan usaha bersama, maka modal saham yang disetor tadi tentunya sudah masuk menjadi aset perusahaan, yang tak mudah sewaktu-waktu ditarik. Atau adakah hal lainnya? Kemungkinan memang perusahaan sedang dalam kesulitan, dan pemegang saham yang sekarang sebagian ingin keluar dari bisnis tersebut, atau tak ingin lagi menambah setoran modalnya, karena setelah dinilai tidak menguntungkan. Namun prosedur keluar bukankah seharusnya melalui suatu RUPS, karena keluarnya sebagian pemegang saham tentu akan mengurangi modal, yang berakibat pada operasional perusahaan. Dari laporan Kompas, dinyatakan bahwa Presdir Adam Air menegaskan, belum ada pemberitahuan resmi pengunduran diri PT GTS dan BSP.

Bisnis penerbangan memerlukan modal yang besar, dan terhambatnya operasional karena cuaca buruk atau karena hal lain akan mempengaruhi keuangan perusahaan ini. Kita mengetahui, beberapa bulan terahir, cuaca sering tak dapat di duga, bahkan bandara Sukarno Hatta pernah ditutup 5 jam pada tanggal 1 Februari 2008 karena cuaca buruk. Bisnis penerbangan juga merupakan bisnis yang fakor risikonya tinggi, serta diperlukan overhead cost yang besar. Persaingan yang ketat pada bisnis penerbangan di Indonesia memaksa beberapa perusahaan jasa penerbangan menurunkan harga tiket, yang juga mengakibatkan berkurangnya pendapatan. Apabila perusahaan dapat tetap beroperasi, dengan penjualan tiket yang rendah tersebut, jika terjadi gangguan penerbangan (pesawat rusak, jatuh, cuaca buruk sehingga penerbangan ditunda), maka akan langsung mengurangi perolehan pendapatan perusahaan, yang bila sering terjadi bukan tak mungkin mengakibatkan kerugian.

Apapun, banyaknya jasa usaha penerbangan yang beroperasi di negara kita juga membuat konsumen lebih mudah memilih, dengan harga tiket yang bersaing. Di satu sisi juga memaksa jasa usaha penerbangan meningkatkan pelayanannya, sehingga kita layak berharap, semoga Adam Air dapat mengatasi permasalahannya, minimal dapat dilakukan negosiasi dengan pemegang saham agar tak melepaskan sahamnya sebelum ada pengganti pemegang saham yang baru. Pemegang saham baru hendaknya juga mempunyai kekuatan di bidang finansial, yang dapat meningkatkan setoran modalnya. Karena saya menduga, permasalahan di Adam Air tak sekedar ingin keluarnya sebagian pemegang saham, namun ada hal lain yang juga penting untuk dibenahi.

Sumber bacaan:

  1. “Penerbangan: Calon Penumpang Adam Air Kebingungan”. Kompas hari Minggu, tanggal 16 Maret 2008, halaman 1.
  2. ” Adam Air Berhenti Beroperasi: Penumpang diminta kembalikan tiket”. Kompas, hari Senin, tanggal 17 Maret 2008 halaman 18.
Iklan

Responses

  1. pelajaran baru bu, makasih.. 🙂

    -yanglagimauberangkatnaekpesawat-

    Trian,
    Keliling terus ya….semoga sukses

  2. <blockquote?Namun prosedur keluar bukankah seharusnya melalui suatu RUPS… .

    rasanya tidak, karena adam air bukan perusahaan terbuka. tapi memang, maskapai itu dalam kemelut yang hebat. dan membuat harry tanoe hengkang.

    Ndorokakung,
    Ada peraturan PT dan AD perusahaan, yang mengharuskan untuk dilakukan melalui RUPS untuk beberapa hal tertentu…bedanya kalau untuk yang bukan go public, tak dilakukan secara terbuka, dan hanya pemegang saham yang hadir…tentu saja, apapun putusannya tidak wajib diumumkan ke masyarakat umum.
    Btw, saya menduga memang ada masalah serius (teknis dan keuangan), tapi tanpa data, saya hanya bisa memperkirakan saja.

  3. mungkin nanti akan muncul Hawa Air 😀

    *ngawur*

    Edy,
    Berminat punya perusahaan penerbangan? Inilah kesempatannya…menjadi pemegang saham baru, asalkan punya uang disetor sebagai saham.

  4. Ada bagusnya bila Adam Air dilikuidasi. Paling tidak bisa memberi pelajaran bahwa gara-gara deregulasi sektor penerbangan beberapa tahun lalu yang sembrono itu, tak serta merta membuat siapapun yang punya modal bisa mendirikan airlines baru. Lebih parah lagi bila soal maintenance dan safety sampai dilupakan demi mengejar profit.

    Di awal berdirinya, mereka cukup “pintar” dengan memasang Agung Laksono sebagai komisaris. Praktis rute-rute gemuk bisa dikuasai Adam Air. Rute Jogja-Jakarta misalnya, bisa 5-8 kali sehari, sementara maskapai lain hanya 1-3 kali. Sekarang terasa betul waktu melewati terminal C. Suasana jadi begitu sepi karena tinggal ditempati Mandala dan Jatayu.

    Apakah masalah ini bisa memengaruhi kerajaan bisnis keluarga Suherman? Nampaknya tidak. Sandra Ang gosipnya sedang berencana membangun maskapai baru yang full-service. Saya sekarang cuma memikirkan nasib Adam’s Angels dan karyawan lainnya.

    PS: Ralat bu, apakah yang dimaksud di paragraf 6 adalah overhead cost, bukan overheat cost?

    Mas Nofie Iman,
    Saya udah cek….yang betul Overhead cost (umum disingkat OHC), di http://www.ncvo-vol.org.uk/sfp/?id=2207….makasih koreksinya.

    Likuidasi juga tak mudah lho….paling tidak melalui proses yang bertele-tele, dan kasihan para karyawannya. Yang jelas dari beberapa pemberitaan, seperti http://en.wikinews.org/wiki/Adam_Air_hits_severe_financial_problems%3B_may_be_shut_down_in_three_week…..juga di Detik Finance, dll….masalahnya selain teknis operasional juga terjadi default pembayaran hutang.

    Pembelajarannya, bahwa untuk maskapai penerbangan dibutuhkan modal yang kuat, dan pemegang saham yang berani berjuang untuk mempertahankan dan memperbaiki perusahaan jika kondisi perusahaan menurun. Namun jika hanya berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan, maka usaha penerbangan termasuk usaha yang long yielding….dan risiko tinggi. Semoga ini menjadikan regulator berhati-hati dalam memberikan ijin usaha penerbangan, dan mengawasi apakah para pemegang saham adalah orang yang memang mempunyai kompetensi dibidang ini…tak sekedar yang punya modal besar.

  5. Aku kerja di travel hiks makin sepi 😦

    Landy,
    Bukankah masih ada klien lainnya yang masih sehat…juga untuk penerbangan ke luar negeri?

  6. Mungkin dampak dari berbagai kasus kecelakaan pesawat udara yang tak pernah tuntas investigasinya

    Ady,
    Akhirnya semakin terbuka apa yang menjadi masalahnya, bisa dilihat di http://en.wikinews.org/wiki/Adam_Air_hits_severe_financial_problems%3B_may_be_shut_down_in_three_weeks..juga berita terkait lainnya di detik finance. Melihat kenyataan tsb, memang berat sekali, andaikata di restrukturisasi, memerlukan jangka waktu yang cukup panjang. Kecuali ada investor baru membawa modal besar dan pembenahan besar-besaran (secara komprehensip), baik di bidang operasional, keuangan, marketing, struktur organisasi dll….

  7. wah..sepertinya bisnis pesawat sudah kayak bisnis bus kota saja. Suka suka menjalani trayek.
    Mestinya sekalian digulung saja Adam ini..
    Saya Masih kesel nih he he

    Mas Iman,
    Saya masih ingat postingan mas Iman tentang Adam Air…saat itu sebetulnya sudah menunjukkan gejala ada yang kurang wajar. Saya jarang menggunakan penerbangan selain Garuda untuk di dalam negeri, kecuali daerah-daerah yang tak dilayani Garuda…maklum perginya juga dalam rangka tugas. Kalau pulang kampung, masih lebih suka naik mobil, atau kereta api….masih menginjak tanah….(saya termasuk takut terbang)

  8. minimal dapat dilakukan negosiasi dengan pemegang saham agar tak melepaskan sahamnya sebelum ada pengganti pemegang saham yang baru.

    memangnya adam air punya hak untuk meminta ini dari para pemegang saham yg keluar itu ? bukankah bahaya menunggu di situasi seperti itu…bisa-bisa sahamnya anjlok lebih dulu kan ?

  9. adam air….

    saya gak pernah naek yang satu ini… takyut…

    mending naek angkot 🙂

    yah, semoga di likuidasi saja, lha wong dalam tempoh gak sampai 2 bulan, temen temen saya jurusan Makassar jakarta dan sebaliknya harus balik kucing gara gara naek adam ini, karena kacanya pecah..

    angkot apa adam aer yah?

    Masdhenk
    ,
    Saya juga belum pernah naik Adam Air…karena biasanya pergi dalam rangka tugas, tiketnya selalu Garuda….

  10. Saya juga pernah dengar dari teman yang bekerja di perusahaan penerbangan. Katanya, ditengah persaingan bisnis penerbangan dan tiket murah, selalu ada yang dikorbankan. Apalagi harga bahan bakar terus naik, sehingga biaya operasional juga naik.

    Biasanya yang dikorbankan itu konsumsi selama di pesawat alias nggak ada makanan atau maksimal cuma snack dan air mineral. Tapi ada juga katanya yang sedikit “bermain” dengan mengorbankan faktor keselamatan dan keamanan penerbangan. Padahal tanpa keselamatan dan keamanan penerbangan maka perusahaan penerbangan itu nggak punya arti lagi.

    Saya sendiri sejak jatuhnya pesawat Adam Air di perairan Sulawesi tahun lalu, tidak pernah naik Adam Air lagi. Alasannya sederhana : takut. 🙂

    Mungkin nasib Adam Air sama seperti Star Air atau Sempati.

    Pyrrho,
    Saya juga berpikiran begitu, kenapa kok tiket bisa murah sekali, hampir sama dengan kereta api…malah ada yang lebih murah. Berapa sih efisiensi dari makanan, menurut saya tak terlalu banyak. Jadi ada risiko hal-hal utama ikut dikorbankan.

  11. http://en.wikinews.org/wiki/Adam_Air_hits_severe_financial_problems%3B_may_be_shut_down_in_three_weeks

    Wow… bahkan jadi perhatian orang luar…

    Kunderemp,
    Yup…masalahnya kompleks…..

  12. Kalau melihat perusahaan yang tutup saya biasanya langsung memikirkan orang-orang yang bekerja untuk perusahaan tersebut. Kadang apa yang tertera di kertas seringkali melupakan kisah nyata dibalik headlines -yakni para pekerja.

    Barry,
    Saya berpikiran sama, maka jika memungkinkan restrukturisasi adalah jalan paling baik, agar perusahaan bisa berjalan kembali, dan meminimalkan kerugian. Dari melihat berita-berita yang ada, pembenahan dan pola restrukturisasi diperlukan secara keseluruhan (keuangan, organisasi, HRD, Manajemen, teknis dan operasional). Untuk pemegang saham, diperlukan pemegang saham yang memang punya modal, memiliki kompetensi di bidang penerbangan, serta tak sekedar mencari untung.

  13. Ya Harusnya dari kemaren2 tutupnya, karena udah sering banget kecelakaan, masa harus lanjut terus?
    Di tutup aja timbul masalah, ribut ama investornya bukti betapa manajemen nya kagak bagus…….

    Basuki34,
    Kelihatannya ada masalah juga antara manajemen, yang kemungkinan disebabkan masalah keuangan dan operasional…..
    Penutupan perusahaan tidak mudah, harus mengajukan dulu untuk dilikuidasi atau banckrupcy…namun tetap saja yang paling terpukul adalah para karyawannya.

  14. kalau kata dephub ada masalah dengan asuransi..jadi sblm masalah asuransi itu slsi tidak ada penerbangan..

    kalau yang saya baca dikoran kompas hari ini, karena Bhakti investama itu hanya investasi jadi dia bisa menarik modalnya jika dilihat bisnis itu sudah tidak menguntungkan..ah tapi saya tidak mengerti yang begini..

    yang saya prihatinkan adalah nasib karyawan yang jumlahnya ribuan..kasihan, hari gini kan cari kerja tidak gampang..salam kenal ya bu..

    Uknee,
    Iya…paling terpukul karyawan…kalau pemegang saham, jika perusahaan tak berkembang lancar, itu merupakan bagian dari risiko…
    Salam kenal kembali….

  15. selain ngomongin saham…mbok ya…o..ngomongin kualitas keamanan… pilotnya aja ada yang bilang peralatan navigasi adam memang kurang bagus,, mungkin ada benarnya saham dicabut…karena sdh byk kejadian fatal krn adam air…

    Arney,
    Untuk menilai perusahaan, yang dinilai secara keseluruhan, kemampuan personilnya dalam melayani (termasuk pemeliharaan dan kemampuan menerbangkan pesawat), teknik dan operasional perusahaan, marketing, Manajemen dll.
    Namun untuk perusahaan besar, dan jika telah go public, maka baik buruknya suatu perusahaan tercermin antara lain dari nilai sahamnya.

    Saya kira Adam Air bukan perusahaan publik, karena jika ya, kemerosotan perusahaan akan tergambar dari penurunan nilai sahamnya. Tulisan di media tentang masalah saham, karena adanya keinginan keluar dua pemegang saham, dari Manajemen Adam Air. Pencabutan saham juga tak semudah itu…..bisa dibaca pada tulisan media berikutnya, karena uang setoran modal tadi telah tertanam di aktiva.

  16. Perusahaan Adam Air tutup, apakah bisa dijadikan pelajaran bagi perusahaan penerbangan lain dalam meningkatkan kualitas keamanan dan kenyamanan penumpang?

    Jablay8990,
    Saya berharap masalah Adam Air ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita, dan bagi para pembuat kebijakan….

  17. Perusahan penerbangan domestik indonesia dapat belajar banyak dari maskapai eropa dari segala sisi. Walau murah tapi merka mengutamakan keselamatan penumpang, saya pernah naik, ryanair perusahaan asal inggris, 2 rute penerbangan, puasnya tidak kentara seperti ingin naik pesawat itu lagi.
    Mumpung ada kasus adam air, sudah saatnya pemerintah dan maskapai sama2 berbenah agar penumpang tidak selalu menjadi korban.

    Resi Bismo,
    Mudah2an ini waktunya untuk melakukan pembenahan dan meningkatkan disiplin, karena untuk penerbangan yang utama adalah jaminan keselamatan.

  18. Saya pernah lihat tayangan TV, hanya lupa TV mana. Di situ seorang Pilot Adam Air, diwanwancara oleh wartawan dan menyatakan, pernah suatu kali akan menerbangkan salah satu pesawatnya, dan seluruh penumpang telah berada di dalam pesawat. Namun ada kerusakan pada salahsatu perangkat di cockpit dan tidak bersedia terbang dgn kondisi seperti itu. Tapi ditelepon langsung oleh Direkturnya, bukan manager operasi yg juga berprofesi Pilot. Konon si Pilot yg tidak mau terbang tsb diancam, kalau masih teguh dgn pendiriannya, besok diminta hengkang dari maskapai tsb. Dgn keterpaksaan akhirnya Pilot tsb terbang dgn keadaan seperti apa adanya. Syukur alhamdullilah sampai di tujuan dgn selamat. Sebenarnya prosedur seperti ini telah menyimpang dari kaidah keselamatan pernerbangan yg baku. Dus apa bedanya pesawat terbang dgn metro mini…??

    Simbah,
    Memang kayaknya banyak masalah yang harus dibenahi di maskapai penerbangan tersebut….

  19. Well, buat saya sih berarti berkurang satu pilihan maskapai penerbangan buat pulang ke Jambi 😦

    Bagus,
    Sebetulnya semakin banyak maskapai penerbangan yang beroperasi di Indonesia, semakin memudahkan konsumen karena banyak pilihan. Tapi ya tentu saja, perusahaan harus sehat dan mengutamakan keselamatan penerbangan.

  20. link yang wikinews ko ga ada kontennya ya bu?

    Bagus
    ,
    Ada kok….ini saya pindahkan ya….

    http://en.wikinews.org/wiki/Adam_Air_hits_severe_financial_problems%3B_may_be_shut_down_in_three_weeks

    Adam Air hits severe financial problems; may be shut down in three weeks
    From Wikinews, the free news source you can write!
    Jump to: navigation, search

    Monday, March 17, 2008
    This B737-400 in standard Adam Air livery is roughly comparable to the aircraft involved in all the accidents mentioned in this story.
    This B737-400 in standard Adam Air livery is roughly comparable to the aircraft involved in all the accidents mentioned in this story.

    Indonesian budget airline Adam Air has been given a three-week ultimatum by the authorities to prove its economic stability or its license will be revoked, said Transportation Minister Jusman Djamal. This is because major financial difficulties have become apparant today, with two major shareholders pulling out of the company.

    PT Global Transport Service (GTS) and Bright Star Perkasa, who between them own a 50% stake in the company, have decided to sell back all their shares to their original owners, who control the other 50%. These are the family of founder Adam Suherman and Sandra Ang.

    The companies invested in the airline last year, when the company was struggling after the New Year’s Day disapearance of Adam Air Flight 574 with 102 on board. The Boeing 737 (B737) was ultimatly determined to have crashed into the sea near Sulawesi, and all on board are presumed dead. Shortly afterwards, Adam Air Flight 172, another B737, snapped in half during a hard landing, but held together preventing fatalities. These were not the first serious accidents for the company, as in February 2006 Flight 782 became lost for several hours after navigation systems failed and the plane entered a radar blackspot, forcing a subsequent emergency landing many miles from the intended route. The given reasons for the withdrawal are a lack of improvement in safety and financial irregularities.

    The company has now also defaulted on debt payments to aircraft lease firms, resulting in 12 of their 22 planes being seized, and has cut the number of routes served from 52 to 12. The remaining ten planes are also in default and at risk of seizure. Adam Air owes leasing companies US$14 million compared to free capital of $4.8 million of free capital. They have agreed to buy back shares gradually for $11 million (100 billion rupiah), $6 million less than the investment firms paid for them. The cost difference will be borne by Harry Tanoesoedibyo’s family, the founder of PT Bhakti Investama, of which GTS is a wholly owned subsiduary. The companies have also lost 157 billion rupiah worth of investment in the company since the April 2007 deal. 9,325 Rupiah are currently worth US$1.

    GTS director Gustiono Kustianto said that “Since we joined, our priority has been safety” but that Adam Air’s management had been unresponsive to pressure from the new investors to improve its poor record. Last weeek another company B737 shot off the runway during landing, damaging the plane and injuring five.

    Lawyer Marx Andryan of Hotman Paris Hutapea, representing the investment firms, said they have documents proving the company has not adequatly seen to pilot recruitment, maintenance and insurence.

    Suherman said “We have defaulted and the investors have done nothing about it. We’ll continue to operate as long as we have planes,” adding that there are no current plans to declare bankruptcy.

    “Out of 22 planes, now we only have 10 because 12 of them have been declared in default. The other 10 have been declared in default as well, but I’m still trying to work out a way to restructure the payments,” he told Reuters. He went on to say that a cash injection is required, and that “There is a possibility starting on March 21 Adam Air will temporarily cease operations until there is a decision from the shareholders regarding the insurance premium.”

  21. setuju dengan pernyataan diatas, seyogyanya perusahaan penanam modal menggunakan dana untuk pembenahan management, ketimbang mengejar keuntungan cepat. hal ini merugikan konsumen yang juga berdampak pada kinerja maskapai.

    Anggraito</em>.
    Kuncinya memang manajemen dulu…jika manajemen solid, targetnya jelas, maka bidang yang lain akan lebih mudah. Karena pada dasarnya manajemen lah yang mengendalikan operasi perusahaan.

  22. Capital dalam usaha operator penerbangan merupakan darah dalam tubuhnya. namun yang paling penting adalah usaha yang nyata untuk mewujudkan keselamatan penerbangan(aviation safety) . Keselamatan penerbangan inilah ruh dari usaha operasi penerbangan. Bayangkan jasad tanpa ruh, ZOMBIE.

  23. anggap Z ni pelajaran bwt Qt,,

    Semoga dumia penerbangan di Indonesia kedepannya akan semakin membaik,,
    AmieEeeN…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: