Masihkah diperlukan kemampuan teknis?

Seminggu yang lalu, saya ketemu dengan pengajar yang selama ini mengajar dibidang manajemen dan keuangan. Dari obrolan ringan, berkembang menjadi serius, terutama melihat perkembangan masyarakat kita dewasa ini. Masih perlukah seseorang memahami kemampuan teknis, untuk mendukung perkembangan karirnya? Pertanyaan ini memang menggelitik, karena saya juga membaca beberapa komentar di blog, mengapa gaji seorang lulusan S2 tidak lebih tinggi dari lulusan S1?

Untuk menapaki jenjang karir, setiap perusahaan mempunyai persyaratan tertentu. Bahkan, ada beberapa perusahaan yang mendidik sendiri para fresh graduate ini, yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, agar segera bisa menyesuaikan diri dengan bidang kerja sesuai standar perusahaan. Bilamana para fresh graduate telah mendapatkan pendidikan dasar yang lebih banyak bersifat technical, perusahaan akan menempatkan masing-masing fresh graduate tadi pada unit kerja sesuai dengan kompetensinya. Disini, sebagai staf junior, harus rajin bertanya pada senior, serta tidak lupa untuk meningkatkan kemampuan diri. Salary pun berbeda-beda tergantung dari hasil kinerja, serta besarnya sumbangan bagi keuntungan sesuai target perusahaan. Jadi disini terlihat, betapapun seseorang latar belakang pendidikannya lebih tinggi, namun jika tak mencapai target, atau targetnya lebih rendah di banding yang pendidikan di bawahnya, bukan tak mungkin akan mendapatkan salary dan bonus yang lebih rendah.

Perusahaan yang SDM nya baik, akan membuat pendidikan berkelanjutan bagi para karyawannya, karena untuk membuat perusahaan berkembang pesat, maka harus didukung oleh strategi SDM yang berbasis kompetensi. Secara bertahap, para staf yang telah bekerja beberapa tahun mendapatkan penggodokan lagi di bidang konseptual, sehingga diharapkan mereka mampu menjadi seorang pimpinan yang mempunyai visi kedepan. Pendidikan konseptual dan leadership ini juga diikuti dengan pendidikan yang bersifat motivasi, serta pengenalan terhadap bawahan. Pada dasarnya, seseorang yang ingin berhasil harus mempunyai kemampuan di bidang:

  1. Technical knowledge. Pendidikan secara teknis ini biasanya dilakukan di dalam kelas, serta praktek langsung dilapangan.
  2. Conceptual knowledge. Melalui pendidikan ini diharapkan seseorang mampu berpikir secara konsep, membuat kebijakan untuk kepentingan perusahaan, serta mempunyai visi ke depan yang baik.
  3. Human knowledge. Pengetahuan ini sangat penting untuk bisa berhubungan dan berkomunikasi dengan sesama.

Bagaimana jika hanya kemampuan teknis saja yang baik? Jika hanya kemampuan teknis, maka seseorang akan sulit meningkat karirnya, karena untuk bisa berhasil, harus mampu menuangkan pemikirannya dalam bentuk konsep dan strategi implementasinya. Demikian juga kemampuan komunikasi, sangat diperlukan untuk mendukung ide-idenya. Bagaimana mungkin idenya akan di dukung para bawahan jika seseorang tak mampu menjelaskan konsepnya, dan kemudian tak bisa mengkomunikasikan baik pada atasan, rekan maupun bawahan, bahwa konsep yang dibuatnya akan mampu membuat perusahaan menekan biaya, misalnya.

Saya melihat, terjadi pergeseran atas peranan tiga hal tersebut. Saat ini terlihat bahwa yang paling menonjol dilihat adalah kemampuan komunikasi, namun kemampuan komunikasi tanpa didukung kemampuan teknis dan konsep yang kuat, ibarat membuat rumah-rumahan pasir, yang akan berantakan terkena gelombang.

Iklan

8 pemikiran pada “Masihkah diperlukan kemampuan teknis?

  1. keseimbangan di antara tiga hal itu bu, kebutuhan ataukah tuntutan?
    mungkin karena merasa tiga hal itu menjadi tuntutan, sehingga banyak yang hanya fokus pada satu bidang saja.
    tapi menyeimbangkan itu memang sukar ya hihi
    *ah, opo iki?*

    Goop,
    Keseimbangan tiga hal tadi sudah menjadi tuntutan, agar berhasil dalam karir…
    Memang sulit, tapi bisa dipelajari …..

  2. Disini, sebagai staf junior, harus rajin bertanya pada junior

    ralat bu……. seharusnya bertanya ke snior kan ?

    eniwei, makasih pencerahannya bu

    sepertinya sy cuma kemampuan teknis ajah……, paling lemah kemampuan komunikasi hiks……, cara ngasahnya gmn yak

    Adit,
    Makasih…sudah saya koreksi (salah cetak)
    Jika masih muda, kemampuan komunikasi memang belum semampu seniornya, tapi bisa dipelajari. Lihatlah bagaimana para senior berdiskusi, …tapi memang bidang teknis dan konsep juga harus dikuasai…karena saat komunikasi, kekurangan pemahaman akan semakin terlihat, apalagi jika yang diajak bicara pandai dalam hal mendapatkan data atau melakukan probing.

  3. Kalau di film ada istilah ‘ magang ‘….

    Mas Iman.
    Pada perusahaan ada istilah itu juga…namun bagi yang masuknya melalui jalur ODP (Officer Development Program), yang lebih dikenal adalah istilah…Classical (training di kelas), kemudian on the job training, terus ditempatkan di unit kerja namun masih atas bimbingan mentor, untuk menyiapkan agar apa yang diperoleh di kelas, dan latihan dilapangan, bisa dikerjakan pada pekerjaan yang sebenarnya. Saat job training belum boleh diberikan wewenang tanda tangan, kalaupun bekerja hanya membantu karyawan yang memang bertugas di bidangnya……karena kalau terjadi risiko yang menyebabkan kerugian finansial, yang dituntut adalah yang bertanggung jawab dan mempunyai wewenang.

  4. Faktor nekad dan luck, juga mempengaruhi. Di sini faktor nekad bukan berarti nekad korupsi, tapi nekad pindah kerjaan atau menciptakan pekerjaan.

    Juliach,
    Saya salut dengan orang yang bisa menciptakan pekerjaan, apalagi untuk sektor riil….

  5. Kalau kreativitas masuk yang mana bu?? Masuk yang Conceptual Knowledge bukan?? Karena menurut saya kreativitas juga perlu guna memecahkan masalah2 baru yang mungkin dihadapi perusahaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Menurut saya kreativitas2 yang menjurus pada pemikiran2 dinamis terkadang bukan hanya mampu membuat perusahaan survive tetapi juga bahkan mampu membuat perusahaan menjadi leader……..

    Kang Yari NK,
    Betul, ada pembelajarannya, baik pada teknikal maupun pada konseptual…. namun akhirnya tergantung pada individu masing-masing….tergantung bakat dan tingkat perjuangan seseorang untuk mau belajar terus menerus.
    Saya sendiri termasuk beruntung mendapatkan mentor dan bos yang baik, yang terus mendorong dan beliau mampu melihat kekuatan saya dibalik segudang kelemahan yang ada. Pimpinan memang harus jeli melihat kelebihan bawahan, dan mampu mendorong dan memotivasi…karena disinilah sebetulnya peran seorang leader untuk regenerasi dan mengantar perusahaan untuk terus maju dan berkembang…

    Pendidikan di kelas harus diteruskan pada kehidupan sehari-hari di perusahaan, untuk merangsang kreativitas, memperkuat rasa untuk memahami jika ada sesuatu yang tak pada tempatnya….dan juga berani mengeluarkan ide-ide baru untuk perbaikan.

  6. harus banyak tanya dan mencoba juga kemampuan untuk beradaptasi….agar cepat tune in dengan suasana kerja..

    Cewek tulen,
    Benar, harus mau belajar terus menerus, memperhatikan gaya teman sekerja, atasan…dan memetik pelajaran dari situ. Kadang kita sendiri tak tahu, apa sebetulnya kompetensi kita…dan apa jabatan atau pekerjaan yang tepat untuk kita. Hanya dengan belajar terus menerus, berani mencoba, tak malu bertanya….kita akhirnya akan memahami diri kita secara lebih baik…

  7. setuju, tanpa kemampuan teknis jadinya banyak yang omong doang, hehehe..

    Peyek,
    Betul…..ini memang tahap awal yang harus dipelajari….untuk bisa bekerja dengan baik, dan meminimalkan terjadinya kesalahan. Secara bertahap kita harus meningkatkan kemampuan, tak hanya bidang teknis, tapi juga bagaimana kita bisa lebih kreatif, berani memberikan ide…dan mengkomunikasikan ide kita sehingga meyakinkan banyak pihak….

  8. Okta Sihotang

    terkadang dari pihak koneksi juga berpengaruh juga, klo nggak ada koneksi ditempat yang mo kita rujuk…ya, banyak2 berdoa aja biar bisa masuk.. 🙂

    Okta Sihotang,
    Apa maksudnya? Net Working kah? Betapapun punya net working, kemampuan teknis dan konseptual tetap diperlukan.

    Kalau soal masuk kerja, menurut saya ada testnya..dan bagi perusahaan yang telah mapan, test dilakukan kerjasama dengan konsultan, hanya wawancara terakhir dengan Direksi atau GM perusahaan ybs…itupun yang benar adalah didampingi oleh assessor yang memang telah mempunyai sertifikat untuk mampu menilai orang, untuk mampu menilai assessee. Bagi saya, yang masuk bekerja di akhir tahun 70 an, hal seperti ini telah dilakukan, testnya melalui 6 tahap dan sistim gugur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s